Home Blog

Azab Mengerikan bagi Pencuri Sejengkal Tanah

Tongkrongan Islami – Kesalahan yang dianggap kecil dan sepele yang dilakukan berulang – ulang maka semakin lama akan terlihat benar dan maklum dilakukan. Bila diamati, telah banyak orang yang menganggap wajar penggunaan atau perampasan hak tanah orang lain sekalipun tanpa izin resmi ataupun nonresmi dari si pemilik tanah.

Tanah merupakan salah satu harta kekayaan yang banyak diminati orang sebagai ladang investasi, selain harganya yang jarang turun pemilik bisa memanfaatkan tanah dengan berbagai cara seperti bercocok tanam, membangun bangunan untuk disewakan, dan tanah juga bisa menjadi warisan kekayaan turun temurun bagi anak cucu.

Tingginya harga tanah membuat banyak orang tergiur untuk memilikinya dengan berbagai macam cara, baik dengan jalan yang halal ataupun dengan cara yang tidak halal.

Ketidakmampuan untuk memiliki dan lemahnya kadar keimanan menjadi penggelap mata pencuri untuk mengambil hak tanah orang lain walau hanya sejengkal tanah orang yang mengambil tanah orang lain kelak akan mendapatkan azab dari Allah SWT.

Aisyah ra menuturkan, Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa mengambil sejengkal tanah secara dzolim, maka kelak akan dikalungkan kepadanya tujuh lapis tanah. ” (HR Bukhari dan Muslim)

Dalam riwayat Muslim dari Abu Hurairoh, “seorang mengambil sejengkal tanah orang lain tanpa hak, pada hari kiamat kelak pasti Allah kalungkan kepadanya tujuh lapis tanah. ”

Jika diperhatikan penyerobotan tanah orang lain sudah menjadi hal maklum yang dianggap benar dilingkungan sosial sekitar kita, contohnya seorang tetangga yang membuat pagar rumah agar motor yang dimiliknya aman dari maling dengan ukuran pagar yang minim karena menyesuaikan ukuran tanah yang dimilikinya.

Setelah beberapa lama bergantilah yang dimilikinya dari motor menjadi mobil, karena sempitnya ruang yang dimilikinya untuk menyimpan mobil maka diperluaslah dengan mengganti ukuran luas pagar rumah demi menjaga keamanan mobil yang dimilikinya.

Namun ada hal yang dilewatkan, tetangga tersebut dengan dzolim menyerebot tanah yang bukan hak nya untuk perluasan pagar rumahnya sehingga mengganggu akses pejalan kaki ataupun yang berkendara ketika melewati rumahnya.

Betapa dianggap sepele hal yang dilakukan oleh tetangga tersebut namun ternyata telah mengganggu kenyamanan orang banyak, selain itu ia telah mengambil hak tanah orang lain dengan semena-mena tanpa izin.

Jika dikaitkan dengan sabda Nabi SAW maka akan sampailah azab allah kepadanya, yakni akan Allah kalungkan padanya 7 lapis tanah pada hari kiamat.

Perkara pengambilan tanah walau yang nampak hanya sejengkal dipermukaan namun sebenarnya yang dirampas juga adalah 7 lapisan tanah kedalam hingga dasar bumi.

Berkata Syaikh Salim: “Barangsiapa memiliki tanah, maka berarti dia memilikinya dari bawah sampai atas. Dan dia berhak melarang orang menggali bagian yang berada di bawah tanahnya, baik berupa lubang ataupun sumur tanpa meminta izin dan persetujuan darinya. Dan dia juga merupakan pemilik tambang dan barang-barang berharga berharga dibawahnya. Dia boleh memperdalam lubang di bawah tanahnya sekehendak hatinya selama tidak membahayakan orang lain yang bertetangga dengannya.” [Syarah Riyadush Shalihin, jilid hal. 522]

Para ulama berkata, ‘Seandainya tetanggamu memiliki pohon, kemudian dahannya memanjang ke tanahmu dan ranting-rantingnya menjadi menutupi tanahmu, maka sesungguhnya tetanggamu harus membenggokkan (dahan tersebut) dari tanahmu, jika tidak memungkinkan untuk dibengkokkan maka (dahan tersebut) harus dipotong, kecuali kamu mengizinkan keberadaannya, karena ruang udara (di atas tanahmu) adalah milikmu, mengikuti (kepemilikkan) apa yang tetap (tanah).”

Maka sudah jelas betapa kerasnya hukum Allah terhadap pencuri tanah orang lain, sekecil apapun kesalahan sepele yang kian lama dianggap wajar dan benar kelak akan tetap diperhitungkan dan dibalas dengan adil.

Oleh : Luthfiyyah (Mahasiswi STEI SEBI)

Benarkah Poligami Fasilitasi Para Pelakor?

Tongkrongan Islami – Benarkah Poligami Fasilitasi para Pelakor? Itu salah kaprah, Banyak orang yang mengatakan bahwa “Gara-gara Poligami, Pelakor jadi halal!”

Mana ada? “Pelakornya dinikahi, dan dijadikan istri ke-2!” Oh maksudnya itu pelakor jadi halal 😅”.

Banyak orang yang ngmong Islam itu nggak adil! Menindas wanita! Menyakiti istri pertama! Laki-laki boleh poligami, sedangkan wanita tidak boleh poliandri!”

Sabar bu… sabar.. stop jangan menghina Islam, bukan seperti itu yang dimaksud.

Tidak diragukan, Isu “POLIGAMI” adalah isu yang paling diserang oleh feminis, mereka menyatakan bahwa Islam memihak pria dan membenarkan poligami. Padahal dalam Islam, poligami bukanlah suatu yg diwajibkan, tetapi sesuatu yg dibolehkan (mubah) saja. Artinya, Islam tidak pernah memaksa wanita untuk dipoligami, juga mengharuskan pria berpoligami.

Wanita mana yang tidak sakit hatinya jika harus berbagi cinta?

Sakit hati itu hal yg wajar dear. Namun jagan jadikan Allah murka dengan ketidakikhlasanmu. Ada baiknya kita pahami dulu poligami dalam pandangan Islam.

وَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا تُقْسِطُوا فِي الْيَتَامَىٰ فَانْكِحُوا مَا طَابَ لَكُمْ مِنَ النِّسَاءِ مَثْنَىٰ وَثُلَاثَ وَرُبَاعَ

“Dan jika kamu takut tdk dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain), yang kamu senangi: dua, tiga, atau empat.”

Perintah Allah dalam ayat ini TIDAK menunjukkan wajibnya poligami, karena perintah tersebut dipalingkan dengan kelanjutan ayat ini, yaitu:

فَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا تَعْدِلُوا فَوَاحِدَةً أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ ۚ ذَٰلِكَ أَدْنَىٰ أَلَّا تَعُولُوا

“Kamudian jika kamu takut tidak dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki, yang demikian itu adalah lebih dekat dan tidak berbuat aniaya.” (QS. An-Nisa’:3)

Apabila dengan 1 istri saja belum bisa ia penuhi kewajibannya, apakah menambah istri menjadi sebuah solusi? Tidak dear.

Apabila seorang pria yang shalat tepat waktu saja masih males, nafkah pada keluarga minim, lalai, pelit sedekah, kasar, tiba2 mau poligami dengan alasan taat pada syariat? Tentu ANEH.

Tapi kalau semua kewajibannya telah ditunaikan, dan ia merasa memang perlu melakukan poligami sebab itu adalah ibadah, dan ia melakukannya dengan benar sesuai syariat, maka akan terasa hikmahnya.

Islam mengatur poligami dengan detail, sehingga laki-laki beriman akan berpikir dua kali untuk berpoligami, agar tidak terjebak fitnah dam memancing murka Allah.

Sebelum berpoligami Islam mmberikan hak-hak seorang istri dimana suami haruslah memenuhi hal-hal tersebut secara ADIL.

Secara biologis, Allah menciptakan laki-laki dan wanita memang berbeda. Syahwat laki-laki lebih tinggi. Maka dari itu Allah menghalalkan poligami untuk mencegah zina.

Pacaran sebelum menikah aja ngga boleh kan dear? Sama.. Setelah menikahpun ngga boleh.

Buat kamu yang menghantarkan pernikahan dengan pacaran, HATI-HATI.. Ketika menjadi suami, ia berpotensi pacaran setelah menikah. Maka pilihlah suami yang baik berdasarkan agama dan akhlaknya. Insyaa Allah rumahtanggamu tidak akan seperti drama pelakor di televisi.

Buat par wanita, janganlah takut soal poligami. Karena ketika dipoligami, Allah memberimu ladang pahala karena kesabaranmu diuji.

Jika kamu ikhlas dan sabar, maka pintu surga terbuka untukmu dear. Kamu mulia, lebih dari bidadari surga. Ingatlah, suamimu milik Allah. Tujuan pernikahanmu juga untuk ibadah kan?

Dikutip dari buku Wanita Berkarir Surga .

Hukum Undian Berhadiah Jalan Sehat, Apakah Dikategorikan Judi?

Undian Berhadiah Jalan Sehat, Apakah Judi?

Oleh: Kumairoh PAI-A, FITK
Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang

Peringatan hari kemerdekaan Indonesia, digelar dengan berbagai macam kegiatan perlombaan salah satunya adalah jalan sehat. Hal tersebut telah menjadi kebiasaan bagi masyarakat. Dikemas dengan hanya membayar iuran sebanyak sepuluh ribu rupiah akan diberikan sebuah kupon. Masyarakat diiming-iming dengan hadiah yang menarik seperti kipas angin, setrika, televisi, bahan sembako dll. Diakhir acara akan diadakan undian, barangsiapa yang nomor kuponnya sesuai, maka akan mendapatkan hadiah. Sedangkan bagi yang tidak muncul nomor kuponnya diundian, maka tidak akan mendapatkan hadiah.

Dalam permasalahan tersebut, bagaimana kacamata hukum islam mengenai undian berhadiah ini? Samakah dengan berjudi? menilik pengertian dari undian itu sendiri adalah membuang atau main, sederhananya menarik sebuah lot. Memiliki nama lain lotre atau lottery (dalam kamus Inggris).

Awalnya undian telah ada sebelum islam datang. Dahulu undian ini digunakan oleh orang Jahiliyah untuk mengundi nasib mereka didepan berhala, mengetahui suatu nasib apakah baik atau bahkan buruk. Selain itu, mereka juga berkumpul sepuluh orang kemudian membuat suatu lot sejumlah orang yang mengikuti undian tersebut dengan rincian tujuh yang mendapatkan undian dan yang tiga kosong artinya mereka harus membayar harga unta sebagai gantinya.

Kemudian lot tersebut diserahkan kepada orang yang dianggap adil oleh mereka setelah itu diundi satu per satu jika nama mereka keluar maka akan mendapatkan daging unta sebanyak urutan undian, misalnya urutan pertama al Fadz maka mendapat satu bagian daging unta, urutan undian keluar kedua, oleh at Tan’am maka mendapatkan dua bagian daging unta begitu seterusnya hingga urutan ketujuh. Namun tidak sekedar hanya demikian, mereka yang telah mendapatkan undian tidak diperbolehkan untuk memakan daging unta tersebut melainkan harus dibagikan kepada orang-orang miskin, hal ini menurut kebiasaan yang ada.

Mengenai undian berhadiah ini, berbagai pendapat dikemukakan:

Menurut Ibrahim Hosen bahwa undian harapan, sumbangan sosial berhadiah, dll bukan termasuk judi. Alasannya, judi dilakukan dengan adanya dua pihak atau lebih yang saling bertatap muka dengan disertai adanya taruhan. Sehingga dalam undian berhadiah tidak ada unsur bertatap muka dan taruhan sehingga bukan termasuk judi.

Menurut H.S Muchlis bahwa undian berhadiah tidak bisa dikatakan sebagai judi. Alasannya, sama seperti pendapat Ibrahim Hosen namun dengan syarat tambahan jika hadiah yang diberikan itu bukan dari seseorang yang mengikuti undian namun dari pihak sponsor hal ini diperbolehkan dan undian berhadiah ini disalurkan untuk kepentingan sosial dan agama, misalnya membangun sekolah, rumah sakit, dll agar masyarakat termotivasi untuk memberikan bantuannya.

Menurut Rasyid Ridho mengenai undian berhadiah ini memiliki dua pandangan yaitu pertama, undian tidak menjadi haram jika dialokasikan pada kepentingan umum dan negara dengan alasan manfaatnya lebih besar daripada mudharatnya kemudian diasumsikan tidak menimbulkan permusuhan diantaranya dan tidak ada unsur mengambilnya (harta) yang sama dengan memakan kekayaan pihak lain dengan cara baik (bathil) serta tanpa adanya lupa akan Allah SWT. Kedua, undian berhadiah adalah judi dengan alasan bahwa telah jelas keharamannya secara qath’i dilalah yang tidak bisa dipertanyakan. Sebagaimana dalam QS. al Maidah: 90:

يآيُّهَا الَّذِيْنَ امَنُوْآ اِنَّمَاالْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالْاَنْصاَبُ وَالْازْلاَمُ رِجْسٌ مِنْ عَمَلِ الشَّيْطاَنِ فاَجْتَنِبُوْهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ

“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamer, (berjudi untuk) berhala, mengundi nasib dengan anak panah, adalah termasuk perbuatan syaithan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan.”

Dalam ayat diatas, bahwa sudah jelas suatu perbuatan berjudi, minum khamer serta mengundi nasib dengan panah telah dilarang oleh Allah SWT. Baik itu menggunakan dadu atau tidak tetapi ketika mengandung unsur untung maupun rugi itu dinamakan judi, dan judi adalah suatu perbuatan syaithan yang manusia diperintah untuk menjauhinya.
Menurut Syekh Abu Sujak, dijelaskan sebagai berikut:

(وَاِنْ اَخْرَجَاهُ) أَيِ الْعِوِضَ اَلْمُتَسَابِقَانِ (مَعًا لَمْ يَجُزْ) أَيْ لَمْ يَصِحَّ اِخْرَاجُهُمَا لِلْعِوَاضِ (اِلاَّ أَنْ يُدْخِلَ بَيْنَهُمَا مُحَلَّلاً) بِكَسْرٍ اَللَّامِ الْأُوْلىَ

“Jika Iwadl (hadiah) dikeluarkan oleh keduanya bersama-sama, maksudnya dua orang yang berlomba, maka tidak diperbolehkan, maksudnya tidak sah jika keduanya mengeluarkan hadiah kecuali keduanya memasukkan Muhallil (orang ketiga) diantara keduanya. Lafad Muhallil dengan membaca kasrah huruf lamnya yang pertama.”

Dari penjelasan diatas bahwa bukan dikatakan judi dengan syarat, memasukkan seseorang (Mahalli) didalam kedua pihak yang bertaruh. Dan pihak tersebut tidak mengeluarkan uang sehingga apabila menang maka boleh untuk mengambil uang taruhan mereka. Dapat diilustrasikan sebagaimana contoh berikut:

A adalah peserta pertama ngeluarin uang, B adalah peserta kedua ngeluarin uang, dan C adalah peserta ketiga tidak mengeluarkan uang. Jika A atau B yang menang maka keduanya mengambil masing-masing uang yang dikeluarkan, jika C menang maka berhak mendapatkan uang dari A dan B.

Menurut Fatwa Majelis Ulama Indonesia oleh Ma’ruf Amin, dkk, (2011:385) mengemukakan bahwa untuk terhindar dari perilaku judi, maka dalam menentukan sebuah hadiah bagi pemenang dengan menghindari segala sesuatu yang menghasilkan untung maupun rugi, seperti menarik sebuah undian, memutar angka maupun nomor dan mengumumkan seorang yang menang. Kemudian syarat hadiah tersebut tidak boleh menggiurkan sehingga seseorang tertarik untuk membeli kupon.

Jadi dapat ditarik sebuah benang merah mengenai undian berhadiah pada kegiatan jalan sehat bahwa ketika sistem undian disertai pemerolehan hadiah tersebut diambil dari uang pembelian kupon maka sama dengan perilaku judi. Alasannya, karena bagi pemenang (nomor undiannya keluar) maka dia akan mendapatkan hadiah, sebaliknya yang nomor undiannya tidak keluar (kalah) maka dia tidak bisa mendapatkan hadiah. Disana tentunya terdapat pihak yang merasa untung dan rugi sebagaimana sesuai konsep dalam berjudi.

Pihak yang menang akan merasa senang (perkara halal) dan pihak yang kalah akan merasa tidak senang atau kecewa (perkara haram) maka sesuai dengan kaidah fiqhnya adalah sebagai berikut:

اِذَا اجْتِمَعَ الْحَلاَلُ وَالْحَرَامُ غُلِبَ الْحَرَامُ

“Apabila berkumpul antara perkara yang halal dan haram, maka yang dimenangkan adalah perkara yang haram.”

Dari kaidah tersebut bahwa apabila suatu perkara menimbulkan kehalalan dan keharaman maka yang dimenangkan adalah hukum yang menjelaskan bahwa perkara itu haram. Artinya dari undian berhadiah jalan sehat tersebut diharamkan karena menimbulkan unsur untung maupun rugi serta hasil akhirnya juga akan adanya pihak yang merasa senang dan kecewa sehingga hal tersebut diharamkan dan diasumsikan sama dengan judi.

Begitu pula dalam konsep judi yang memiliki banyak kemafsadatannya dibandingkan dengan kemaslahatanya sehingga judi menjadi diharamkan. Hal ini berdasarkan konsep Sadd Adzariah bahwa menghindari sebuah kemafsadatan (undian akan menimbulkan seseorang merasa dirugikan dan kecewa tidak mendapatkan hadiah padahal sama-sama membayar kupon) lebih didahulukan dari pada kemaslahatannya (seorang pemenang yang mendapatkan hadiah dari undian). Berdasarkan kaidah hukum islam sebagai berikut:

دَرْءُ الْمَفَاسِدِ مُقَدَّمٌ عَلىَ جَلْبِ الْمَصَالِحِ

“Menghindari kerusakan itu harus didahulukan, dari pada menarik kebaikan.”

Dari kaidah hukum islam tersebut menjelaskan bahwa undian berhadiah jalan sehat dengan sistem membayar kupon harus dihindari karena akan menimbulkan seseorang merasa rugi dan kecewa begitupula mendahulukan hal yang menimbulkan kemafsadatan (kerusakan) ini diutamakan daripada menimbulkan kemaslahatannya (kebaikan). Karena islam diturunkan membawa sebuah kemaslahatan yang sangat mengutamakan keselamatan dan kesejahteraan baik jiwa dan agama serta kemudahan tanpa adanya suatu kesukaran bagi umat.

Disamping undian berhadiah tersebut disamakan dengan judi, dapat dikatakan bukan judi (Sayid Sabiq:372) apabila seseorang yang mengikuti undian berhadiah jalan sehat itu tanpa membayar iuran untuk membeli kupon. Sehingga hadiah yang diperoleh dari undian berasal dari uang sponsor atau donator oleh seorang dermawan untuk memberikan sumbangan dalam acara jalan sehat tersebut.

Tidak banyak diketahui bahwa acara jalan sehat untuk memperingati HUT RI ini telah menjadi suatu kebiasaan di masyarakat. Oleh karena itu, bagi pihak penyelenggara harus benar-benar memahami sistem yang dipergunakan dalam jalan sehat tersebut. dipandang dari hukum islam bahwa jalan sehat ini merupakan sebuah ‘urf fashid jika sistem penggalangan dana untuk hadiah diperoleh dari penjualan kupon dan bertentangan dengan syariat agama (sama dengan judi). Dan dapat dikatakan ‘urf shahih apabila dana untuk hadiah diambil dari seorang donatur, sponsor dll dan menilik dari segi agama bahwa jalan sehat tidak membahayakan jiwa dan keselamatan justru malah menjadi sehat karena olahraga.

Daftar Pustaka

Amin Ma’ruf, dkk. 2011. Himpunan Fatwa Majelis Ulama Indonesia Sejak 1973. Jakarta: Penerbit Erlangga.

Bakry Nazar. 1994. Problematika Pelaksanaan Fiqh Islam. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Rokamah Ridho. 2007. Al-Qawa’id Al-Fiqhiyah: Kaidah-Kaidah Mengembangkan Hukum Islam. Ponorogo: STAIN Press.

Syekh Abu Sujak. Kitab Fathul Qarib.
Terjemah Alquran al Karim.

Zuhdi Majfuk. 1987. Masail Fiqhiyah. Jakarta: Haji Masagung.

Rajin Sholat tapi Masuk Neraka, Begini Penjelasannya!

Rajin Shalat tapi Masuk Neraka – Shalat adalah ibadah yang diwajibkan bagi kaum muslimin. Shalat juga menjadi amal perbuatan yang pertama kali akan dihisab pada hari kiamat. Perintah shalat dalam Al-Qur’an sering diulang-ulang dengan istilah ‘aqiimuu’ yang memiliki makna ‘dirikanlah’.

Dalam hal ini, shalat bukan hanya sekedar kewajiban belaka melainkan juga harus memenuhi syarat dan rukun shalat serta memberikan pengaruh yang baik bagi kehidupan seorang muslim. Jika seseorang rajin shalat, namun tidak mampu memberikan pengaruh yang baik bagi kehidupannya maka hal itu bisa menjadi sebuah kerugian.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya shalat bisa mencegah dari perbuatan keji dan munkar.” (QS. Al-‘Ankabut [29]:  45).

Sejatinya shalat bukan hanya ibadah yang menjadi rutinitas belaka, lebih dari itu shalat juga harus bisa membuat seseorang memiliki akhlak yang baik dan menjauhi kemaksiatan. Adanya golongan orang yang rajin menjalankan shalat namun tidak mampu mencegahnya untuk bermaksiat bisa menyebabkan mereka masuk ke neraka, sebagaimana golongan manusia berikut ini.

Golongan orang yang rajin shalat tapi suka berdusta

Salah satu ciri orang yang munafik adalah suka berdusta, dan balasan dari orang yang suka berdusta adalah siksa yang pedih di akhirat kelak. Sehingga ketika seseorang rajin shalat, namun dia tetap saja suka berdusta dan tidak segera bertaubat dengan perbuatannya tersebut, maka nerakalah balasannya.

Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:  “Sesungguhnya kejujuran menunjukkan kepada perbuatan baik, dan perbuatan baik menunjukkan kepada surga dan sesungguhnya seseorang yang membiasakan jujur ia akan dicatat di sisi Allah sebagai orang jujur. Dan sesungguhnya dusta menunjukkan kepada perbuatan dosa, dan perbuatan dosa menunjukkan kepada neraka, dan seseorang yang biasa berdusta ia akan dicatat di sisi Allah sebagai pendusta.” (HR. Bukhari Muslim).

Golongan orang yang shalat namun tetap suka minum khamr

Khamr atau minuman keras dan juga obat-obatan terlarang termasuk barang yang diharamkan karena memberikan efek kerusakan bagi tubuh maupun pikiran.

Allah SWT berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamr, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan anak panah adalah termasuk perbuatan syaitan.  Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapatkan keberuntungan.” (QS. Al-Maidah:  90).

Rasulullah SAW bersabda: “Allah melaknat (mengutuk) khamr, peminumnya, penyajinya, pedagangnya, pembelinya, pemeras bahannya, penahan atau penyimpannya, pembawanya dan juga penerimanya.” (HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah). 

Golongan orang yang shalat namun tetap percaya dukun

Percaya kepada perkataan ataupun ramalan dukun termasuk perbuatan dosa karena mengandung unsur syirik. Rasulullah melarang umatnya mendatangi dukun atau peramal, terlebih mempercayai perkataannya, sebagaimana sabda Rasulullah SAW berikut ini:

“Barangsiapa mendatangi peramal lalu bertanya kepadanya tentang sesuatu, maka tidak diterima shalatnya selama 40 hari.” (HR. Muslim dan Ahmad).

“Barangsiapa mendatangi dukun lalu mempercayai apa yang dikatakannya maka ia telah kafir dengan apa yang diturunkan kepada Muhammad.” (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad).

Golongan orang yang shalat namun tidak menjaga lisannya dari ghibah atau bergunjing

Berprasangka buruk atau menggunjingkan seseorang dengan membuka aib atau kejelekannya termasuk perbuatan dosa sehingga Allah melarang keras hamba-Nya melakukan ghibah, sebagaimana firman Allah SWT berikut ini:

“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka, karena sebagian dari prasangka itu dosa.  Dan janganlah mencari-cari keburukan orang. Jangan pula menggunjing satu sama lain.  Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Hujarat:  12).

Rasulullah SAW bersabda: “Berhati-hatilah kalian dengan tindakan berprasangka buruk, karena prasangka buruk adalah sedusta-dusta ucapan. Janganlah kalian saling mencari berita kejelekan orang lain, saling memata-matai, saling mendengki, saling membelakangi dan saling membenci.  Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara.” (HR. Bukhari Muslim).

Bergunjing dan berprasangka buruk merupakan akhlak yang tercela dan termasuk perbuatan yang bathil sehingga Allah melarang hamba-Nya berbuat demikian.

Golongan orang shalat namun mengabaikan anak yatim, fakir miskin dan orang lain yang membutuhkan

Seorang muslim yang beriman bukan hanya sibuk dengan ibadahnya kepada Allah SWT tetapi juga memiliki kepekaan terhadap lingkungan di sekitarnya. Tidak akan sempurna iman seseorang jika dia masih mengabaikan anak yatim maupun kaum miskin dan orang-orang yang membutuhkan pertolongannya, padahal dia mampu.

Allah SWT berfirman: “Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-Baqarah [2]: 195).

Sejatinya shalat merupakan tiang agama, shalat bisa menjadi pembeda kaum muslim dengan kaum kafir. Sudah seharusnya shalat mencegah kita dari perbuatan yang keji lagi munkar. Nah, sudah benarkah shalat kita?

Wallahu a’lam Bish-shawab.

Tips Agar Tetap Semangat dalam Menjalankan Puasa Ramadhan

Tongkrongan Islami – Bulan Ramadhan hadir kembali. Selama menjalani ibadah di bulan puasa, sering kali kita mengeluh karena lemas juga kurang bersemangat ketika bekerja. Lemas karena tak makan dan minum pada siang hari itu wajar, begitu juga dilanda kantuk karena bangun sahur pagi-pagi. Tapi jangan sampai itu semua mengganggu produktivitas kerja.

Marilah kita manfaatkan kegiatan pagi hari kita di bulan Ramadhan ini untuk hal yang lebih manfaat. Karena pagi hari itu didoakan berkah oleh Nabi. Doa berkahnya bagaimana? Nabi mendoakan: Allahumma baarik li ummati fii bukuriha, Ya Allah berkahilah umatku di waktu paginya.

Jika didoakan berkah seperti ini maka sebaiknya mari manfaatkan dengan ibadah . Sebelum kita mulai aktifitas duniawi seperti bekerja, berdagang, ngantor, sekolah, kuliah dan sebagainya. Apalagi di bulan Ramadhan pahala itu berlipat-lipat ketika kita melakukan amalan kebaikan.

Tips Agar Tetap Semangat dalam Menjalankan Ibadah Puasa Ramadhan

Sebelum mengawali aktivitas kantor. Sebaiknya pagi hari rajin baca dzikir pagi. Kemudian kita coba cicil target khatam quran karena di bulan Ramadhan sangat baik disibukkan dengan tadarus Al-Quran.

Kalau yang di masjid bada Shubuh mari coba diam sejenak hingga matahari meninggi (15 menit setelah matahari terbit) kemudian kita lakukan shalat isyroq. Jika ada majelis ilmu bada Shalat Shubuh, maka ikutilah majelis tersebut untuk raih ilmu yang bermanfaat. Jadi kurangi tidur di paginya yah.

Yang paling penting saat kita berpuasa, kita kurangi hal yang kurang manfaat, apalagi mata, pendengaran, hati turut maksiat. Hati-hati puasa anda sia-sia, lapar haus saja yang didapat. Pasti nggak mau kan?

Sama halnya pada bulan lainnya, aktivitas pekerjaan pada bulan ramadhan ini tetap dijalankan. Hanya sebagian besar kantor akan mengurangi jam kerja karyawan 1 hingga 2 jam supaya bisa berbuka serta menjalankan ibadah bersama dengan keluarga di rumah.

Jam kerja yang dikurangi ini diharapkan dapat tetap efektif sebagaimana biasanya. Tapi, tak jarang juga yang mengeluhkan rasa lelahnya. Biar tetap fit inilah tipsnya:

Sahur cukup dan tepat

Apa yang Anda konsumsi ketika sahur dan berbuka puasa dapat menentukan tingkat energi Anda. Jangan Anda melewatkan sahur, karena itu akan membuat Anda makin lemas. Saat sahur, makanlah secukupnya. Makan yang berlebihan akan membuat Anda merasa mengantuk. Pilih makanan yang mengandung karbohidrat dan protein juga serat, agar Anda bertenaga saat berpuasa sambil bekerja. Makanan berserat dapat membantu menahan rasa lapar. Perbanyak sayur dan buah.

Banyak konsumsi air putih

Meski tak memiliki rasa, ternyata air putih mempunyai manfaat yang bagus bagi kesehatan dan juga membangkitkan semangat juga kepercayaan diri. Karena manfaatnya ini, kita dianjurkan untuk konsumsi air putih delapan gelas perhari.

Cara minum 8 gelas air putih dalam sehari ketika puasa? Anda bisa membaginya menjadi dua waktu, empat gelas ketika sahur dan empat gelas saat berbuka.

Hindari tidur sesudah subuh

Setelah sahur dan menunaikan salat subuh, ada baiknya Anda tidak melanjutkan tidur. Kembali tidur akan menjadikan Anda bangun dengan keadaan tidak segar. Lebih baik jika Anda langsung bersiap bekerja.

Datang lebih awal ke kantor itu lebih baik. Semakin cepat mulai bekerja, semakin cepat pula Anda menyelesaikan pekerjaan Anda. Apalagi selama bulan puasa jam kedatangan juga kepulangan dimajukan, supaya umat Muslim memiliki waktu untuk berbuka puasa juga ibadah tarawih di malam hari.

Al-Hafiz Kids: Rekomendasi Al-Qur’an Hafalan untuk Anak-Anak

 Al-Hafiz Kids: Rekomendasi Al-Qur’an Hafalan untuk Anak-Anak

Al-Qur’an Hafalan Al-Hafiz Kids dirancang khusus untuk membantu para penghafal cilik yang ingin mendalami hafalan Al-Qu’an. Al-Qur’an ini dilengkapi kotak kontrol panduan menghafal cukup dengan baca ulang 30 kali, lalu dengan estimasi waktu 1 jam diharapkan anak-anak kita sudah bisa menghafalnya.Jadi Hafidz Junior dengan Al-Qur'an Hafalan Al-Hafiz Kids

Al-Quran ini dilengkapi Tema ayat ringkas untuk membantu memahami ayat-ayat yang sedang di hafal pada setiap halaman. Juga dilengkapi kolom Ayat Al-Qur’an atau hadist tentang motivasi belajar dan menghafal Al-Qur’an dan Penafsiran ayat-ayat dalam Al-Qur’an berdasarkan hadist-hadist sahih.

Al-Qur’an ini juga dilengkapi 3 pilihan Qori (Mishary Rashid, Abdul Rahman Al-Sudais, Maher Al-Mueqly) yang dipandu dengan pembagian ayat hafalan berdasarkan 5 blok warna berbeda untuk memudahkan dalam menghafal dan memperkokoh hafalan. Berikut informasi lengkap terkait Al-Qur’an Hafalan Al-Hafiz “Kids”:

Spesifikasi Al-Qur’an Hafalan Al-Hafiz “Kids”

  1. Lima Blok Warna,
  2. Full Color,
  3. Tawjid warna,
  4. Ukuran sedang (B5),
  5. Bisa dibaca dengan hafiz pen,
  6. Staff Ahli: Ustad H. Abdul Aziz Abdur Rauf, Lc. Al- Hafidz

Kelebihan Al-Qur'an Hafalan Al-Hafiz Kids

Panduan praktik Al-Quran Hafalan Al-Hafidz Kids

  1. Dibaca dan dihafal dengan 5 blok warna
  2. Dilengkapi terjemah kementrian agama RI
  3. Kotak kontrol panduan menghafal cukup dengan baca ulang 30 kali, menghafal 30 kali dalam blok dan waktu 1 jam
  4. Terdapat keyword awal dan akhir ayat
  5. Pilihan 3 qori (Mishary Rashid, Abdul Rahman Al-Sudais, Maher Al-Mueqly)
  6. Tema ayat ringkas untuk membantu memahami ayat-ayat yang sedang di hafal pada setiap halaman
  7. Ayat Al-quran atau hadist tentang motivasi belajar dan menghafal Al-Quran
  8. Penafsiran ayat-ayat dalam Al-Qur’an berdasarkan hadist-hadist sahih

Panduan Al-Qur'an Hafalan Al-Hafiz Kids

Feature & Benefit Al-Quran Mushaf Maqamat for Kids:

  1. Hafiz Pen
  2. Suara Qari & Qari’ah anak-anak
  3. Suara Ku
  4. Maqamat
  5. Waqaf Ibtida’
  6. Murattal 1 & 2
  7. Terjemah Bahasa Indonesia
  8. Terjemah Bahasa Inggris
  9. Tahsin Wa Tartil
  10. Kisah dalam Al-Qur’an
  11. Tahqiq
  12. Keutamaan Surah
  13. Penjelasan Ilmu Tawjid
  14. Rekam Suara
  15. Mutiara Juz 30
  16. Tanya Jawab
  17. Doa Khatmil Qur’an
  18. Penjelasan Ilmu Tawjid
  19. Contoh Bacaan Ilmu Tawjid

Informasi Harga dan Pemesanan Al-Qur’an Hafalan Al-Hafiz Kids

Keunggulan Al-Qur'an Hafalan Al-Hafiz Kids Harga Al-Qur'an Hafalan Al-Hafiz Kids

Informasi lain dan pemesanan Al-Qur’an Hafalan Al-Hafiz Kids bisa menghubungi nomor WhatsApp/Wa berikut: 085275366108

Doa Mohon Petunjuk Kebenaran & Kebaikan dari Masalah yang Dihadapi

Tongkrongan Islami – Doa mohon petunjuk kebenaran, kebaikan, pekerjaan, jodoh maupun segala permasalahan yang kita hadapi adalah bentuk ikhtiar dalam menghindari segala kesalahan yang akan kita putuskan, karena manusia sering dihadapkan pada dua pilihan sulit yang berpengaruh dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam kondisi demikian, kita dianjurkan untuk meminta petunjuk kepada Yang Maha Pasti, agar diberikan kemudahan dalam menentukan pilihan yang tepat. Allah SWT berfirman,

مَن يَهْدِ اللَّهُ فَهُوَ الْمُهْتَدِ وَمَن يُضْلِلْ فَلَن تَجِدَ لَهُ وَلِيّاً مُّرْشِداً

“Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk; dan barangsiapa yang disesatkan-Nya, maka kamu tidak akan mendapat seorang pemimpin-pun yang dapat memberi petunjuk kepadanya.” [QS. al-Kahfi:17].

Doa meminta petunjuk ada dua macam, yaitu permohonan yang bersifat umum berupa permohonan agar diberi kenikmatan Iman dan Islam, kedua permohonan yang bersifat khusus berupa rincian dari bagian-bagian Iman dan Islam seperti permintaan agar ditunjukkan kebenaran, diberi pilihan jodoh yang baik, pekerjaan yang berkah, hingga terhindar dari kesulitan.

Tidak mengherankan bila dalam sholat yang dikerjakan 5 kali sehari, kita selalu membaca surah Al-Fatihah ayat yang berbunyi  اهدِنَــــا الصِّرَاطَ المُستَقِيمَ “Tunjukilah kami jalan yang lurus”. Selain itu, dalam pembukaan shalat malam Nabi SAW, beliau senantia membaca doa berikut:

اهْدِنِي لِمَا اخْتُلِفَ فِيهِ مِنْ الْحَقِّ بِإِذْنِكَ إِنَّكَ تَهْدِي مَنْ تَشَاءُ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ

“Tunjukilah aku kepada kebenaran-kebenaran dengan izin Engkau, sesungguhnya Engkau menunjukkan siapa yang Engkau kehendaki kepada jalan yang lurus” [HR. Muslim].

Dalili-dalil di atas menunjukkan bahwa kita senantiasa dihadapkan pada kondisi yang membutuhkan pilihan yang tepat. Jadi sudah sewajarnnya, kita memasrahkan segala pilihan kepada Allah SWT.

Doa Diberi Jodoh yang Baik

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَٰجِنَا وَذُرِّيَّٰتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَٱجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

Rabbana hablana min azwaajina, wa dzurriyyatina qurrata a’yuniw, waj’alna lil muttaqiena imaamaa

“Ya Allah ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami jodoh (istri-istri) kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang2 yang bertakwa.” [QS Al-Furqaan 74]

رَبِّ لَا تَذَرْنِى فَرْدًا وَأَنتَ خَيْرُ ٱلْوَٰرِثِينَ

Rabbii Laa Tazarni Fardan Wa Anta Khairul Waaritsiin

“Ya Tuhanku janganlah Engkau membiarkan aku hidup seorang diri dan Engkaulah Waris Yang Paling Baik. [QS. Al-Anbiya’: 89]

Doa Agar Ditunjukkan Kebenaran

اهْدِنِي لِمَا اخْتُلِفَ فِيهِ مِنْ الْحَقِّ بِإِذْنِكَ إِنَّكَ تَهْدِي مَنْ تَشَاءُ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ

“Tunjukilah aku kepada kebenaran-kebenaran dengan izin Engkau, sesungguhnya Engkau menunjukkan siapa yang Engkau kehendaki kepada jalan yang lurus” [HR. Muslim].

Dan sungguh Nabi SAW telah memerintahkan Ali Ibnu Abu Thalib Ra untuk meminta kepada Allah petunjuk dan kebenaran:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالسَّدَادَ

Allahumma Inni Asalukaal Hudaa Was Sadad

Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu petunjuk dan kebenaran.” [HR. Muslim].

Doa Agar Dipilihkan Pekerjaan yang Berkah

اللَّهُمَّ رَبَّنَا أَنْزِلْ عَلَيْنَا مَائِدَةً مِنَ السَّمَاءِ تَكُونُ لَنَا عِيدًا لِأَوَّلِنَا وَآَخِرِنَا وَآَيَةً مِنْكَ وَارْزُقْنَا وَأَنْتَ خَيْرُ الرَّازِقِينَ

Allaahumma rabbanaa anzil ‘alainaa maaidatan minas samaai takuunu lanaa ‘idan liawwalinaa wa aakhirinaa wa ayatan minka warzuqna wa anta khairur raaziqiina

“Ya Tuhan kami turunkanlah kiranya kepada kami suatu hidangan dari langit (yang hari turunnya) akan menjadi hari raya bagi kami yaitu orang-orang yang bersama kami dan yang datang sesudah kami, dan menjadi tanda bagi kekuasaan Engkau; beri rezkilah kami, dan Engkaulah pemberi rezki Yang Paling Utama.” [QS. Al-Maidah : 114]

اللَّهُمَّ اكْفِنِى بِحَلاَلِكَ عَنْ حَرَامِكَ وَأَغْنِنِى بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ

“Allahumak-finii bi halaalika ‘an haroomik, wa agh-niniy bi fadhlika ‘amman siwaak”

“Ya Allah cukupkanlah aku dengan yang halal dan jauhkanlah aku dari yang haram, dan cukupkanlah aku dengan karunia-Mu dari bergantung pada selain-Mu” [HR. Tirmidzi & At Tirmidzi]

Doa Agar Ditunjukkan Kebaikan

رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ

“..Rabbi aw zi’niy an asykura ni’matakallatiy an’amta ‘alayya wa’alaa waalidayya wa an a’mala shaalihan tardhaahu wa ashlihliy fii dzurriyyatiy inniy tubtu ilayka wa inniy minal muslimiin..”

“Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri ni`mat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri”. [QS. Al-Ahqaf : 15]

اهْدِنِي لِأَحْسَنِ الْأَخْلَاقِ لَا يَهْدِي لِأَحْسَنِهَا إِلَّا أَنْتَ وَاصْرِفْ عَنِّي سَيِّئَهَا لَا يَصْرِفُ عَنِّي سَيِّئَهَا إِلَّا أَنْتَ

Ahdini Liahsanil Akhlaq laa yahdii liahsanihaa illaa anta washrif ‘anni sayahaa, laa yashrif ‘annii sayahaa illaa anta

Tunjukilah aku untuk berakhlak yang baik tidaklah ada yang mampu memberikan petunjuk untuk perbaikan akhlak kecuali Engkau dan jauhkanlah dariku kejelekannya tidaklah ada yang menjauhkan dariku kejelekannya kecuali Engkau.” [HR. Muslim].

اللهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الثَّبَاتَ فِي الْأَمْرِ، وَأَسْأَلُكَ عَزِيمَةَ الرُّشْدِ، وَأَسْأَلُكَ شُكْرَ نِعْمَتِكَ، وَحُسْنَ عِبَادَتِكَ، وَأَسْأَلُكَ قَلْبًا سَلِيمًا، وَلِسَانًا صَادِقًا، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا تَعْلَمُ، وَأَسْأَلُكَ مِنْ خَيْرِ مَا تَعْلَمُ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا تَعْلَمُ

‘Allahumma innii as-alukats tsabaata fil amri, wa as-aluka ‘aziimatar rusydi, wa as-aluka syukra ni’mataka, wa husna ‘ibaadataka, wa as-aluka qalban saliiman, walisaanan shaadiqan, wa astaghfiruka limaa ta’lamu, wa as-aluka min khoiri maa ta’lamu, wa a’uudzubika min syarri maa ta’lamu’

“Ya ALLAH,, aku memohon kepada-Mu keteguhan dalam perkara (keimanan), aku memohon kepada-Mu tekad bulat yang benar, aku memohon kepada-Mu rasa syukur atas nikmat-Mu dan ibadah dengan baik kepada-Mu, aku memohon kepada-Mu hati yang bersih dan lisan yang jujur. Aku memohon ampunan-Mua atas (dosa-dosaku) yang Engkau pasti mengetahuinya, aku memohon kepada-Mu dari kebaikan yang Engkau pasti mengetahuinya dan aku berlindung kepada-Mu dari keburukan yang Engkau pasti mengetahuinya.” (HR. Ahmad, Tirmidzi, An-Nasai, Ibnu Hibban, & Ath-Thabarani]

Doa Agar Terhindar dari Kesesatan

رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ

‘Robbanaa Laa Tuzigh Quluubanaa Ba’da Idz Hadaitanaa wa Hab Lanaa Min-Ladunka Rohmatan, innaka Antal-Wahhaab’

“Wahai Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Dzat yang Maha Pemberi (karunia).” [QS. Ali Imran: 8]

Pesan Rasulullah SAW dalam Menyambut Bulan Ramadhan

Pesan Rasulullah SAW dalam Menyambut Bulan Suci Ramadhan

Tongkrongan Islami – Memasuki bulan Ramadhan, sudah selayaknya bagi semua umat Islam untuk bergembira. Sebab Allah swt menjadikan bulan seperti ini hanya ada pada umat Nabi Muhammad saw. Pada bulan Ramadhan juga terjadi banyak peristiwa besar dalam sejarah umat Islam seperti turunnya al-Qur’an secara sekaligus ke langit dunia sebagaimana riwayat dari Ibnu ‘Abbas ra, beberapa peperangan dengan kaum kafir, dan tentu saja penaklukan kota Mekah pada tahun 8 Hijriyah. Semua peristiwa besar ini setidaknya menandakan bahwa lapar dan haus bukanlah sebab kita meninggalkan puasa. Sebab banyak rahmat yang Allah turunkan padanya.

Lantas sebagai umat Rasulallah saw, apa saja yang perlu kita lakukan untuk menyambut dan beramal di bulan Ramadhan?

Berikut beberapa amalan yang bisa kita lakukan di bulan Ramadhan, baik sebelumnya terlebih ketika berada di dalamnya sebagaimana yang dilakukan oleh para salaf ash-shalih.

Puasa Sunnah di Bulan Sya’ban

Hal ini sebagaimana seperti keterangan dari Aisyah ra:

عن عائشة زوجِ النبيَّ صلَّى الله عليه وسلم أنها قالت كان رسولُ الله صلَّى الله عليه وسلم يصُومُ حتى نقولَ لا يُفْطِرُ ويُفْطِرُ حتى نقولَ لا يصومُ وما رأيتُ رسولَ الله صلَّى الله عليه وسلم استكملَ صيامَ شهرٍ قطُّ إلا رمضانَ وما رأيتُه في شهرٍ أكثر صياماً منه في شعبان

“Dari ‘Aisyah, isti Nabi saw, beliau berkata: ‘Rasulallah saw (sering) berpuasa hingga kami berkata (mengira), beliau tidak berbuka. Pun berbuka hingga kami berkata, beliau tidak puasa. Aku tidak mengetahui Rasulallah saw puasa satu bulan penuh melainkan pada bulan Ramadhan. Dan aku tidak mengetahui beliau lebih banyak berpuasa kecuali pada bulan Sya’ban (H.R. al-Bukhari no. 1969 dan Muslim no. 1156).”

Dalam riwayat yang lain dikatakan:

عَنْ أُسَامَةَ بْنِ زَيْدٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ رَأَيْتُكَ تَصُومُ مِنَ الشَّهْرِ شَيْئًا مَا لَا تَصُومُهُ مِنَ الشُّهُورِ أَكْثَرَ إِلَّا رَمَضَانَ قَالَ أَيُّ شَهْرٍ قُلْتُ شَعْبَانُ قَالَ هُوَ شَهْرٌ تُرْفَعُ فِيهِ الْأَعْمَالُ إِلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ فَأُحِبُّ أَنْ يُرْفَعَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ

“Dari Usamah bin Zaid ra, ia berkata; ‘Aku berkata, ‘Wahai Rasulallah! Aku melihat puasa engkau pada bulan itu lebih banyak dari bulan-bulan yang lain, kecuali Ramadhan.’ Beliau bertanya, ‘Bulan yang mana?’ Aku menjawab, ‘Bulan Sya’ban.’ Beliau bersabda, ‘Bulan Sya’ban merupakan bulan diangkatnya amal kepada Rabb Semesta Alam. Dan aku senang ketika amalku diangkat aku sedang berpuasa (H.R. an-Nasa’i no. 2357, Ahmad no. 21753. Dinilai hasan oleh Syaikh al-Albani dalam kitab al-Irwa, IV: 103).”

Rasulalah saw selalu berpuasa Sya’ban pada sebagian besar harinya sebelum datang bulan Ramadhan. Sebab Sya’ban memiliki keutamaan, yaitu diangkatnya amal kehadapan Allah swt dan beliau merasa gembira ketika amal beliau dihadapkan pada Rabb semesta alam beliau sedang berpuasa sebagaimana halnya puasa pada hari senin dan kamis. Jika Rasul saw yang ma’shum begitu semangat dalam beramal, maka tentu umatnya harus berupaya untuk meneladani beliau dengan segenap tenaga.

Memperbanyak Amal Shaleh 

Berkaitan dengan hal ini, Rasulallah saw bersabda:

كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ يُضَاعَفُ الْحَسَنَةُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ إِلاَّ الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِى وَأَنَا أَجْزِى بِهِ يَدَعُ شَهْوَتَهُ وَطَعَامَهُ مِنْ أَجْلِى لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ فَرْحَةٌ عِنْدَ فِطْرِهِ وَفَرْحَةٌ عِنْدَ لِقَاءِ رَبِّهِ. وَلَخُلُوفُ فِيهِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللَّهِ مِنْ رِيحِ الْمِسْكِ

“Setiap amal anak cucu Adam dilipatgandakan dengan sepuluh sampai tujuh ratus kebaikan semisal, Allah swt berfirman: ‘Kecuali puasa, sebab puasa adalah untuk-Ku dan Aku yang akan membalasnya. Seseorang (ketika puasa) meninggalkan syahwat dan makanannya karena Aku’. Bagi orang puasa terdapat dua kebahagiaan; Bahagia ketika berbuka dan bahagia ketika bertemu dengan Rabbnya (di akhirat). Dan sungguh bau mulut orang yang puasa di sisi Allah lebih baik dari pada wangi minyak misk (H.R. al-Bukhari no. 1904, 5927 dan Muslim no. 1151).”

Maksud kalimat ‘puasa adalah untuk-Ku’ adalah karena manusia meninggalkan berbagai macam syahwat dan kesenangan di bulan Ramadhan karena Allah semata. Ibadah puasa berbeda dengan ibadah yang lain, dimana tidak banyak tuntutan dalam hal syahwat perut atau kemaluan. Kalau pun ada -seperti ihram dan shalat- maka durasinya hanya sebentar. Hal ini berbeda dengan puasa, utamanya Ramadhan. Karena itulah Allah swt menyebut ibadah puasa adalah ‘untuk-Ku’ seolah ingin menegaskan bahwa puasa merupakan ibadah yang istimewa.

Dalam sabdanya yang lain, Rasulallah saw menyatakan:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan dalam keadaan iman dan mengharap-harap pahala, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari, Kitab al-Iman/37).”

إِذَا كَانَ أَوَّلُ لَيْلَةٍ مِنْ شَهْرِ رَمَضَانَ صُفِّدَتِ الشَّيَاطِينُ وَمَرَدَةُ الْجِنِّ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ فَلَمْ يُفْتَحْ مِنْهَا بَابٌ وَفُتِّحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ فَلَمْ يُغْلَقْ مِنْهَا بَابٌ وَيُنَادِى مُنَادٍ يَا بَاغِىَ الْخَيْرِ أَقْبِلْ وَيَا بَاغِىَ الشَّرِّ أَقْصِرْ وَلِلَّهِ عُتَقَاءُ مِنَ النَّارِ وَذَلِكَ كُلَّ لَيْلَةٍ

“Pada awal malam bulan Ramadhan, syaitan-syaitan dan jin-jin jahat dibelenggu, pintu neraka ditutup dan tidak ada satu pun yang dibuka, sedang pintu surge dibuka dan tidak satu pun yang ditutup. Penyeru memanggil, ‘Wahai pencari kebaikan, terimalah. Wahai pencari keburukan, cukupkanlah. Dan Allah memiliki hamba-hamba yang terbebas dari neraka pada setiap malamnya (HR. Tirmidzi no. 682 dan Ibnu Majah no. 1642

Syaikh Ibrahim bin ‘Amir ar-Ruhaili mengatakan bahwa hadits ini menunjukkan keutamaan seluruh amal kebaikan yang ada di bulan Ramadhan (lihat Tajrid al-Ittiba’, hal. 118). Oleh karenanya, sudah selayaknya setiap muslim memperhatikan dan mengisi semua waktu di bulan Ramadhan dengan amalan yang bermanfaat mengingat tidak ada yang tahu sebatas mana ia akan berada di dunia ini sebelum Allah menjemputnya. Pun Allah swt membelenggu para pengganggu manusia yang selama ini aktif, sehingga amal ibadah yang dilakukan akan terasa lebih ringan dan bersemangat dalam mengerjakan.

Selain itu, mulianya bulan Ramadhan menjadi sebab suatu amal dilipat gandakan sebagaimana jika kita berada di tempat yang diberkahi (Mekah, Madinah, dan Masjid al-Aqsha) atau karena keikhlasan kita kepada Allah swt (lihat Lathaif al-Ma’arif, hal. 269-271).

Qiyam Ramadhan

Rasulallah saw bersabda:

مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Siapa saja yang melaksanakna qiyam (Shalat Tarawih) di bulan Ramadhan karena iman dan mengharap-harap pahala dari Allah swt, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu (H.R. al-Bukhari no. 37 dan Muslim no. 759).”

Qiyam Ramadhan atau yang lebih dikenal saat ini dengan nama shalat tarawih dilaksanakan selepas shalat isya’. Adapun pelaksanannya lebih utama dilakuklan secara berjama’ah sebagaimana keumuman dalil tentang shalat berjama’ah.

عن عبدِ اللهِ بن عُمَرَ أنَّ رسولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم قالَ صلاةُ الجماعةِ تفضُلُ صلاةَ الفذِّ بسَبعٍ وعشرينَ درجةَ

“Dari Abdullah bin Umar, bahwa Rasulallah saw bersabda: ‘Shalat berjama’ah melebihi (pahalanya) dari shalat sendiri dengan dua puluh tujuh tingkat (H.R. al-Bukhari dan Muslim).”

عَنْ عَائِشَةَ أُمِّ المُؤْمِنِينَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَّى ذَاتَ لَيْلَةٍ فِي المَسْجِدِ فَصَلَّى بِصَلاَتِهِ نَاسٌ ثُمَّ صَلَّى مِنَ القَابِلَةِ، فَكَثُرَ النَّاسُ ثُمَّ اجْتَمَعُوا مِنَ اللَّيْلَةِ الثَّالِثَةِ أَوِ الرَّابِعَةِ فَلَمْ يَخْرُجْ إِلَيْهِمْ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَلَمَّا أَصْبَحَ قَالَ قَدْ رَأَيْتُ الَّذِي صَنَعْتُمْ وَلَمْ يَمْنَعْنِي مِنَ الخُرُوجِ إِلَيْكُمْ إِلَّا أَنِّي خَشِيتُ أَنْ تُفْرَضَ عَلَيْكُمْ وَذَلِكَ فِي رَمَضَانَ

“Dari ‘Aisyah Ummul Mukminin r.a. (diriwayatkan) bahwa Rasulallah saw shalat pada suatu malam di masjid, lalu beberapa orang lelaki ikut shalat bersama beliau. Kemudian beliau shalat (lagi) pada malam berikutnya dan orang bertambah banyak. Kemudian mereka berkumpul pada malam ketiga atau keempat, namun Rasulallah saw tidak keluar kepada mereka. Ketika tiba waktu subuh, beliau berkata, ‘Saya melihat apa yang kamu lakukan. Aku tidak keluar menemui kalian bukan karena apa-apa, melainkan aku khawatir kalau hal itu menjadi wajib atas kalian.’ Hal ini terjadi di (bulan) Ramadhan (H.R. al-Bukhari no. 1129 dan Muslim no. 177).”

عَنْ أَبِي ذَرٍّ قَالَ صُمْنَا مَعَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَمَضَانَ ………. فَقُلْنَا يَا رَسُولَ اللهِ لَوْ نَفَّلْتَنَا بَقِيَّةَ لَيْلَتِنَا هَذِهِ قَالَ إِنَّ الرَّجُلَ إِذَا قَامَ مَعَ الْإِمَامِ حَتَّى يَنْصَرِفَ حُسِبَ لَهُ بَقِيَّةُ لَيْلَتِهِ

“Dari Abu Dzar (diriwayatkan bahwa) ia berkata: Kami berpuasa (pada suatu) Ramadhan bersama Rasulallah saw. ………. Lalu kami meminta, ‘Wahai Rasulallah, alangkah kiranya kalau engkau shalat sunat bersama kami pada sisa malam ini. Beliau menjawab: Sesungguhnya seseorang yang melakukan qiyam bersama imam hingga selesai, maka akan dihitung baginya (shalat) pada sisa malamnya (H.R. at-Tirmidzi no 806, Ahmad no. 21419, 21447, Ibnu Majah no. 1327).”

Beberapa riwayat ini menggambarkan bahwa shalat bersama imam lebih utama disbanding dengan shalat sendiri dalam kaitannya dengan qiyam Ramadhan.

Menghindari Hal-hal Yang Tidak Berguna

Rasulallah saw bersabda:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالعَمَلَ بِهِ وَالجَهْلَ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ

“Dari Abu Hurairah, dari Nabi saw beliau bersabda: Barang siapa yang tidak meninggalkan perkataan zuur dan (bahkan) melakukannya, serta melakukan hal-hal bodoh, maka Allah tidak berhajat dengan makan dan minum yang ia tinggalkan (H.R. al-Bukhari no. 6057).”

Makna az-zuur dalam hadits ini mencakup bohong, berkata kotor, senda gurau, dan sejenisnya. Memang sudah semestinya orang yang puasa Ramadhan menjauhi hal-hal yang tidak ada atau sedikit manfaatnya. Sebab puasa bukan hanya perkara menahan haus, lapar, dan libido di siang hari. Bahkan Nabi saw mengingatkan bahwa semata menahan haus dan lapar namun tidak meninggalkan perbuatan dan perkataan sia-sia, maka (dikhawatirkan) Allah tidak akan menerima puasanya meski sah secara hukum fikih.

Memperbanyak Sedekah

كَانَ النَّبِىُّ صلى الله عليه وسلم أَجْوَدَ النَّاسِ وَأَجْوَدُ مَا يَكُونُ فِى رَمَضَانَ حِينَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ وَكَانَ جِبْرِيلُ عَلَيْهِ السَّلاَمُ يَلْقَاهُ فِى كُلِّ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ فَيُدَارِسُهُ الْقُرْآنَ فَلَرَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم أَجْوَدُ بِالْخَيْرِ مِنَ الرِّيحِ الْمُرْسَلَةِ

“Nabi saw adalah orang yang paling gemar/demawan bersedekah. Dan beliau bertambah dermawan ketika ada di (bulan) Ramadhan. Ketika itu Jibril a.s. menemui beliau, dan Jibril a.s. menemui beliau setiap malam pada bulan Ramadhan kemudian mengajarkan al-Qur’an kepada Nabi saw. Dan Rasulallah saw adalah lebih dermawan dari angin yang bertiup (H.R. al-Bukhari no. 3554 dan Muslim no. 2307).”

Selain itu, sedekah juga berarti membantu orang yang berpuasa. Salah satu wujud sedekah adalah mengajak orang lain untuk berbuka bersama dimana Allah swt menjanjikan pahala yang besar. Hal ini sebagaimana sabda Rasulallah saw:

عَنْ زَيْدِ بْنِ خَالِدٍ الْجُهَنِيِّ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا كُتِبَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ إِلَّا أَنَّهُ لَا يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ شَيْءٌ

“Dari Zaid bin Khalid al-Juhaniy, dari Nabi saw beliau bersabda: Siapa memberi makan orang puasa, maka ditetapkan baginya pahala seperti orang yang puasa tanpa mengurangi pahala orang puasa tersebut sedikit pun (H.R. Ahmad no. 17033, 21676, Ibnu Majah no. 1746).”

Membaca al-Qur’an

Hal ini sebagaimana sabda Rasulallah saw:

كَانَ النَّبِىُّ صلى الله عليه وسلم أَجْوَدَ النَّاسِ وَأَجْوَدُ مَا يَكُونُ فِى رَمَضَانَ حِينَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ وَكَانَ جِبْرِيلُ عَلَيْهِ السَّلاَمُ يَلْقَاهُ فِى كُلِّ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ فَيُدَارِسُهُ الْقُرْآنَ فَلَرَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم أَجْوَدُ بِالْخَيْرِ مِنَ الرِّيحِ الْمُرْسَلَةِ

“Nabi saw adalah orang yang paling gemar/demawan bersedekah. Dan beliau bertambah dermawan ketika ada di (bulan) Ramadhan. Ketika itu Jibril a.s. menemui beliau, dan Jibril a.s. menemui beliau setiap malam pada bulan Ramadhan kemudian mengajarkan al-Qur’an kepada Nabi saw. Dan Rasulallah saw adalah lebih dermawan dari angin yang bertiup (H.R. al-Bukhari no. 3554 dan Muslim no. 2307).”

Hadits diatas secara tidak langsung merupakan anjuran bagi umat Islam untuk memperbanyak bacaan dan tadabbur al-Qur’an di bulan Ramadhan. Hal ini ditunjukkan oleh kegiatan Nabi Muhammad saw dan malaikat Jibril a.s. pada setiap malam Ramadhan untuk mengajarkan al-Qur’an. Selain itu, terdapat banyak riwayat hadits tentang keutamaan membaca dan mempelajari al-Qur’an. Beberapa diantaranya adalah:

عَنْ زَيْدٍ أَنَّهُ سَمِعَ أَبَا سَلَّامٍ يَقُولُ حَدَّثَنِي أَبُو أُمَامَةَ الْبَاهِلِيُّ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ اقْرَءُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيعًا لِأَصْحَابِهِ

“Dari Zaid (katanya) ia mendengar Abu Sallam berkata, Abu Umamah al-Bahiliy menceritakan kepadaku, ia berkata, aku mendengar Rasulallah saw bersabda: Bacalah al-Qur’an. Karena ia akan datang pada hari kiamat untuk member syafa’at bagi pembacanya (H.R. Muslim no. 252).”

عَنْ عُثْمَانَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ القُرْآنَ وَعَلَّمَهُ

“Dari ‘Utsman r.a., dari Nabi saw beliau bersabda: Sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari al-Qur’an dan mengajarkannya (H.R. al-Bukhari no. 5027).”

Kesimpulannya, Ramadhan merupakan kesempatan untuk beramal sebanyak dan sebagus mungkin. Sebab kesempatan yang langka belum tentu kita dapatkan untuk kedua kalinya. Adapun amalan yang terdapat dalam tulisan ini adalah yang dianggap utama untuk dilakukan selama Ramadhan dengan harapan agar berlanjut ketika berada di luar Ramadhan.

Wallahu a’lam bi ash-shawab.

Doa Agar Diberi Kenikmatan & Terhindar dari Kesenangan Sesaat

Tongkrongan Islami – Doa agar diberi kenikmatan berkesinambungan adalah salah satu bentuk ikhtiar kita agar terhindar dari kesenangan sesaat. Segala yang kita terima di dunia ini datang dari Allah SWT, semua adalah pemberianNya.

Kita dianjurkan untuk tidak sombong hingga lupa berdoa dan melalaikan segala bentuk ibadah saat dalam keadaan senang. Saat kita di beri kebahagiaan, dianjurkan untuk bersyukur dan berdoa, agar nikmat kebajikan yang diberikan Allah SWT senantiasa mengiringi kehidupan kita. Sebagaimana dalam Firman Allah SWT:

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”. [QS. Ibrahim: 7]

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : اُنْظُرُوْا إِلَى مَنْ أَسْفَلَ مِنْكُمْ، وَلاَ تَنْظُرُوْا إِلَى مَنْ فَوْقَكُمْ، فَهُوَ أَجْدَرُ أَنْ لاَ تَزْدَرُوْا نِعْمَةَ اللهِ عَلَيْكُمْ

“Lihatlah kepada orang-orang yang lebih rendah daripada kalian, dan janganlah kalian melihat kepada orang-orang yang berada di atas kalian, karena yang demikian itu lebih patut bagi kalian, supaya kalian tidak meremehkan nikmat Allâh yang telah dianugerahkan kepada kalian.” [Bukhari, Muslim, At-Tirmidzi & Ibnu Majah]

Doa Agar Diberi Kenikmatan dan Terhindar dari Kebahagiaan Sesaat

Doa Pertama

رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَىٰ وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَدْخِلْنِي بِرَحْمَتِكَ فِي عِبَادِكَ الصَّالِحِينَ

Rabii auzi’nii an asykuro ni’matakal-latii an’amta ‘alayya wa ‘alaa waalidayya wa an a’mala shaalihan thardhaahu, wa adkhilni bi rahmatika fii Ibaadikas Sholihiin.

“Ya Tuhanku berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakku dan untuk mengerjakan amal saleh yang Engkau ridhai; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh”. [QS. Al-Naml: 19]

Doa di atas merupakan doa yang diucapkan oleh Nabi Sulaiman AS ketika bersyukur atas segala kekayaan yang diberikan oleh Allah SWT kepadanya. Doa ini juga ditujukan bagi orang yang ingin senantiasa konsisten dalam menjalankan amal shaleh.

Doa Kedua

رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَىٰ وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي ۖ إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ

Rabii auzi’nii an asykuro ni’matakal-latii an’amta ‘alayya wa ‘alaa waalidayya wa an a’mala shaalihan thardhaahu, wa ashlih lii fii dzurriyatii, inni tubtu ilaika wa innii minal muslimiin. 

“Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri” [QS. Al-Ahqâf. 15]

Beberapa ahli tafsir menyebutkan bahwa doa di atas merupakan Doa Abu Bakar As-Shiddiq yang diucapkan saat kedua orang tuanya menyatakan masuk ke dalam agama Islam. Doa ini juga dianjurkan dibaca saat menginginkan keturunan yang shaleh.

Doa Ketiga

Nikmat yang paling agung adalah mendapatkan petunjuk kepada agama Allah (Islam) sebagaimana hadits Abu Hurairah ra bahwa Rasulullah berdo’a:

اللَّهُمَّ أَصْلِحْ لِي دِينِي الَّذِي هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِي وَأَصْلِحْ لِي دُنْيَايَ الَّتِي فِيهَا مَعَاشِي وَأَصْلِحْ لِي آخِرَتِي الَّتِي فِيهَا مَعَادِي وَاجْعَلْ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لِي فِي كُلِّ خَيْرٍ وَاجْعَلْ الْمَوْتَ رَاحَةً لِي مِنْ كُلِّ شَرٍّ

Allahumma ashlih li dinil-ladzi huwa ‘ishmatu amri, wa ashlih li dunyaya al-lati fiiha ma’asyi, wa ashlih li akhiratiyal-lati fiiha ma’adi, waj’alil-hayata ziyaadatan-li fai kulli khair, waj’alil-mauta raahatal-li min kulli syarr.

“Ya Allah, perbaikilah bagiku agamaku penjaga segala urusanku dan perbaikilah bagiku duniaku yang di dalamnya terdapat kehidupanku dan perbaikilah bagiku akhiratku yang merupakan tempat kembaliku, dan jadikanlah kehidupan ini bagiku tempat bertambahnya setiap kebaikan, dan jadikanlah kematian itu istirahatku dari setiap kejelekan.” [HR. Muslim].

Doa Keempat

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِكَ وَتَحَوُّلِ عَافِيَتِكَ وَفُجَاءَةِ نِقْمَتِكَ وَجَمِيعِ سَخَطِكَ

َALLAHUMMA INNII A’UUDZU BIKA MIN ZAWAALI NI’MATIK, WA TAHAWWULI ‘AAFIYATIK, WA FUJAA’ATI NIQMATIK, WA JAMII’I SAKHOTHIK

“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada Mu dan hilangnya nikmat-Mu dan berubahnya keselamatan, dan azab yang tiba-tiba datang, dan seluruh kemurkaan-Mu.” [HR. Muslim].

Doa Menyambut Ramadhan [Diucapkan Ketika Melihat Hilal]

Doa Menyambut Ramadhan – Umat Islam di seluruh belahan dunia memang selalu menantikan datangnya bulan suci Ramadhan, meski dengan kadar yang berbeda-beda. Sebagian begitu antusias hingga setiap saat hanya berdoa dan mengharap bertemu kembali dengan Ramadhan.

Mereka nampak antusias jika Ramadhan sudah mendekat. Namun sebagian ada juga yang biasa saja, bahkan cenderung tidak peduli pada bulan mana ia sedang berada. Untuk yang terkahir, kita berdoa agar Allah swt menjauhkan kita dari hal ini dan memberi hidayah kepada mereka yang masih enggan menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan.

Bagi mereka yang antusias tentu tidak hanya sebatas menunggu. Mereka berdoa kepada Allah agar kiranya masih punya kesempatan untuk bertemu dengan bulan Ramadhan yang akan datang mengingat barakah dan keutamaan yang ada di dalamnya. Pun mereka berharap agar amalan yang dilakukan diterima oleh Allah swt.

Lalu adakah doa khusus untuk menyambut bulan Ramadhan ini?

Sependek yang kami tahu, tidak didapati riwayat yang bersumber dari Rasulallah saw tentang doa seperti apa yang diucapkan ketika hendak memasuki Ramadhan. Hanya saja selepas beliau wafat, umat (Sahabat) begitu gembira menyambut datangnya bulan Ramadhan ini. Dan kegembiraan tersebut diwujudkan dalam bentuk doa dan harapan baik akan bulan mulia ini. Hal ini sebagaimana yang direkam oleh Ibnu Rajab al-Hambali dari Mu’alla bin al-Fadhl:

كانوا يدعون الله تعالى ستة أشهر أن يبلغهم رمضان يدعونه ستة أشهر أن يتقبل منهم

“Dahulu para Sahabat berdoa kepada Allah Ta’ala selama enam bulan agar menyampaikan mereka pada bulan Ramadhan. Dan berdoa selama enam bulan (juga) agar amal Ramadhan mereka diterima (lihat Lathaif al-Ma’arif, hal. 264).”

Hal ini merupakan sebuah gambaran luar biasa, betapa para Sahabat begitu antusian sebelum dan sesudah Ramadhan berlalu. Mereka berdoa agar Allah ‘azza wa jalla memberi kesempatan untuk berjumpa dengan Ramadhan, pun agar Allah berkenan menerima amal ibadah mereka. Suatu semangat yang sangat layak untuk kita ambil dan warisi.

Salah satu doa yang biasa mereka ucapkan -sebagaimana yang diriwayatkan oleh Yahya bin Abi Katsir- adalah:

اَللَّهُمَّ سَلِّمْنـِي إِلَى رَمَضَانَ وَسَلِّمْ لِـي رَمَضَانَ وَتَسَلَّمْهُ مِنِي مُتَقَبَّلاً

“Ya Allah, sampaikanlah aku di bulan Ramadhan, dan sampaikanlah Ramadhan kepadaku, serta terimalah amal ibadahku di dalamnya (lihat Lathaif al-Ma’arif, hal. 264).”

Meski demikian, terdapat doa yang bisa diucapkan di awal bulan manapun, termasuk Ramadhan. Doa tersebut adalah tatkala melihat hilal atau bulan baru sebagai pertanda berakhirnya hari pada bulan yang bersangkutan. Lafal doa tersebut adalah;

اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُمَّ أَهِلَّهُ عَلَيْنَا بِالْأَمْنِ وَالْإِيمَانِ وَالسَّلَامَةِ وَالْإِسْلَامِ وَالتَّوْفِيقِ لِمَا نُحِبُّ وَتَرْضَى رَبُّنَا وَرَبُّكَ اللَّهُ

“Allahu Akbar! Ya Allah, jadikanlah hilal itu nagi kami dengan aman dan iman, keselamatan dan Islam serta taufik kepada apa yang kami cinta dan Engkau ridla. Rabb kami dan Rabbmu (bulan) adalah Allah (HR. Ahmad 888, Ad-Darimi dalam Sunannya no. 1729, dan dinilai shahih oleh Syua’ib Al-Arnauth dalam Ta’liq Musnad Ahmad, 3/171).”

Oleh karenanya, bagi anda yang berkesempatan menyambut bulan baru, termasuk Ramadhan maka disunnahkan untuk mengucapkan doa ini. Dan berdoalah kepada Allah agar kita bisa berjumpa dengan Ramadhan dan menerima amalibadah yang kita lakukan selama berada di bulan mulia tersebut. Sebab jika generasi terbaik (Sahabat) melakukannya, maka tentu kita lebih wajib untuk berbuat hal demikian.

Wallahu a’lam bi ash-shawab.