Home Blog

Inilah Sebabnya Mengapa Dosa Selalu Menggelisahkan Hati

Dosa Selalu Menggelisahkan Hati
Photo by Meimiaw.blogspot.com

Tongkrongan Islami – Alangkah indahnya jika kita mempunyai hati yang bersih, pikiran yang positif, serta tindakan yang lurus. Kita bisa selalu memandang diri kita penuh dengan rasa syukur.

Apapun yang kita punya dan terima, semua pasti akan dikembalikan lagi pada Allah. Karena Allah akan memberi nikmat yang lebih banyak lagi jika hamba-Nya selalu bersyukur pada-Nya.

Kebaikan akan selalu menentramkan jiwa sebaliknya kejelekan atau dosa pasti akan selalu menggelisahkan jiwa. Itulah realita yang ada pada manusia.

Hadits Yang Berkaitan Dengan Dosa Selalu Menggelisahkan Hati

Dari cucu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Al Hasan bin ‘Ali, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tinggalkanlah yang meragukanmu dan beralihlah pada apa yang tidak meragukanmu. Sesungguhnya kejujuran lebih menenangkan jiwa, sedangkan dusta (menipu) akan menggelisahkan jiwa.” (HR. Tirmidzi no. 2518 dan Ahmad 1/200, shahih)

Dalam lafazh lain disebutkan, “Kebaikan selalu mendatangkan ketenangan, sedangkan kejelekan selalu mendatangkan kegelisahan.” (HR. Al Hakim 2/51, shahih).

Disebutkan dalam hadits lain, dari Nawas bin Sam’an, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Kebaikan adalah dengan berakhlak yang mulia. Sedangkan kejelekan (dosa) adalah sesuatu yang menggelisahkan jiwa. Ketika kejelekan tersebut dilakukan, tentu engkau tidak suka hal itu nampak di tengah-tengah manusia.” (HR. Muslim no. 2553).

An Nawawi rahimahullah menjelaskan, “Dosa selalu menggelisahkan dan tidak menenangkan bagi jiwa. Di hati pun akan tampak tidak tenang dan selalu khawatir akan dosa.” (Syarh Muslim, 16/111)

Sampai-sampai bila ada seseorang yang dalam keadaan bingung, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk menanyakan pada hatinya, apakah perbuatan itu termasuk dosa ataukah tidak. Ini terjadi ketika hati dalam keadaan gundah gulana serta belum menemukan bagaimana hukum dari suatu masalah.

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menasehatkan kepada Wabishoh, “Mintalah fatwa pada jiwamu. Mintalah fatwa pada hatimu (beliau mengatakannya sampai tiga kali). Kebaikan adalah sesuatu yang menenangkan jiwa dan menentramkan hati. Sedangkan kejelekan (dosa) selalu menggelisahkan jiwa dan menggoncangkan hati.” (HR. Ad Darimi 2/320 dan Ahmad 4/228, hasan lighoirihi)

Ibnu Rajab Al Hambali rahimahullah menjelaskan, “Hadits Wabishoh dan yang semakna dengannya menunjukkan agar kita selalu merujuk pada hati ketika ada sesuatu yang merasa ragu. Jika jiwa dan hati begitu tenang, itu adalah suatu kebaikan dan halal. Namun jika hati dalam keadaan gelisah, maka itu berarti termasuk suatu dosa atau keharaman” (Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam, hal. 304). Ingatlah bahwasanya hadits Wabishoh dimaksudkan untuk perbuatan yang belum jelas halal atau haram, termasuk dosa ataukah bukan. Sedangkan jika sesuatu sudah jelas halal dan haramnya, maka tidak perlu lagi merujuk pada hati.

Kegelisahan Hati Manusia Yang Berbuat Dosa

Begitulah yang namanya dosa, akan selalu senantiasa menggelisahkan jiwa. Selain itu juga membuat hidup tidak tenang. Bila seseorang mencuri, berbuat kecurangan, korupsi, menipu, melakukan dosa besar atau bahkan melakukan sebuah kesyirikan, jiwanya akan sangat sulit untuk tenang.

Lalu bagaimana bila ada yang melakukan dosa tapi hatinya tenang- tenang saja?

Jawabannya, bukan perbuatan dosa ataupun maksiat yang dibenarkan. Yang benar itulah keadaan hati yang penuh dengan kekotoran. Hati yang telah tertutupi noda hitam karena tak kunjung berhenti dari berbuat maksiat.

Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka.” (QS. Al Muthoffifin: 14).

Bila hati terus menerus tertutupi karena maksiat, maka sesungguhnya akan sulit mendapatkan petunjuk dan melakukan kebaikan.

Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, “Jika hati sudah semakin gelap, maka amat sulit untuk mengenal petunjuk kebenaran” (Ad Daa’ wad Dawaa’, hal. 107).

Baca Juga: Bila Allah Sudah Berjanji, itu Berarti Pasti. Mengapa Mesti Ragu Menikah?

Marilah kita senantiasa berdo’a agar kita terhindar dari perbutan buruk atau berbuat dosa dan selalu dimudahkan untuk berbuat kebaikan.

Allahumma inni as-aluka fi’lal khoiroot, wa tarkal munkaroot. Ya Allah, aku memohon kepada-Mu untuk mudah melakukan berbagai kebajikan dan meninggalkan berbagai kemungkaran (HR. Tirmidzi no. 3233, shahih).

Advertisement
Loading...

Bila Allah Sudah Berjanji, itu Berarti Pasti. Mengapa Mesti Ragu Menikah?

Mengapa Mesti Ragu Menikah
Photo by Kangaswad.wordpress.com

Tongkrongan Islami – Menjadi sepasang pengantin baru adalah kebahagiaan terindah bagi kedua mempelai. Meski banyak yang bilang jadi pengantin baru itu repot.

Biaya hidup tinggi bahkan mungkin sisa utang membengkak setelah menghelat pesta. Namun anda harus percaya, itu hanya efek samping.

Ya, efek samping yang bertahan lama, karena setelah pernikahan itu akan selalu ada seseorang di samping kita. Jangan takut menikah, karena menikah itu indah.

Kebahagian jadi pasangan pengantin baru akan terasa kian sempurna ketika telah melewati kebersamaan pada malam pertama yang penuh cinta.

Malam yang mana seseorang dapat menyalurkan hasratnya dengan jalan yang diridhai olehAllah.

Dengannya tak hanya sekedar kenikmatan yang didapat tapi juga pahala yang berlipat yang dapat diraih.

Nilai pahala semakin bertambah seiring dengan bertambahnya rasa kasih dan sayang kedua mempelai tatkala berhias dengan adab-adab ketika menuju peraduan cinta.

Menikah Siapa Takut…

Mari renungkan!

وَأَنكِحُوا اْلأَيَامَى مِنكُمْ وَالصَّالِحِينَ مِنْ عِبَادِكُمْ وَإِمَآئِكُمْ إِن يَكُونُوا فُقَرَآءَ يُغْنِهِمُ اللهُ مِن فَضْلِهِ وَاللهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

“Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, juga orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Bila mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.” Al-Qur’an Surat. An Nuur: 32.

Menikah itu ketaatan.

Tak mungkin Allah akan membiarkan hamba-Nya sengsara saat mereka ingin berbuat kebaikan seperti hanya menikah.

Dalam hadits lain disebutkan bahwa Allah akan senantiasa menolong orang yang akan menjaga kesucian dirinya dengan menikah.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda mengenai tiga golongan yang dipastikan akan mendapat pertolongan Allah. Di antaranya:

وَالنَّاكِحُ الَّذِي يُرِيدُ الْعَفَافَ

“… seorang yang menikah karena ingin menjaga kesuciannya.” HR. An Nasai no. 3218, At Tirmidzi no. 1655. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan.

Ahmad bin Syu’aib Al Khurasani An Nasai menjelaskan dalam Bab Pertolongan Allah bagi orang yang nikah yang ingin menjaga kesucian dirinya.

Bila Allah sudah benjanji, itu berarti pasti. Jadi mengapa anda mesti ragu Menikah?

Moga kita tidak takut lagi menyempurnakan separuh agama kita. Karena dengan menikah, separuh agama kita sempurna, semua kebaikan yang kita lakukan bernilai ibadah.

bukankah dengan dilangsungkanya akad pernikahan, merupakan cara terbaik menjaga kesucian diri?

Doa teruntuk setiap pasangan pengantin baru, semoga Allah selalu mudahkan segala urusannya dan mengangkat semua kesulitannya. Amiiin.

Menjadi Pengantin Baru Sakinah

Sakinah itu tenang. Bayangkan fikiran kita yang damai, wajah yang ceria, hati yang tenteram. Tapi bahagianya jangan sampai lebay, tapi bibirnya siap tersenyum kapan saja juga mana saja.

Demikianlah Allah telah menjadikan pasangan kita sebagai penyejuk hati.

Dengannya kita menjadi tenang dan sebaliknya ia menjadi tenang karena kita.

Motivasi Untuk Pengantin Baru

Tenang, tenanglah hai jiwa.

Pandangilah ia yang tengah pulas di sisimu, hadirkan doa-doa tulusmu baginya. Kemudian berjanjilah akan selalu menghargainya setinggi nilai kekasih.

Lakukanlah pengorbanan yang paling tulus untuknya.

Pengorbanan yang karenanya menjadikan dirimu sebagai kekasihnya, yang melayani, membela dan menjunjung tingginya atas nama cinta.

Tenanglah wahai jiwa

Ia tak mengancammu hanya karena murka, ia tak menjauhimu lantaran bosan.

Ia hanya sedang rapuh dan tidak mengerti, Hingga ia berfikir orang tulus akan merugi dan cinta itu hanya sebuah janji dusta.

Tenanglah wahai jiwa.

Nyalakanlah pelita ketenangan untuk esok, lusa dan selamanya.

Tatkala engkau membangunkannya, lalu menyiapkan makan paginya, dan membungkus bekal makan siangnya.

Tenanglah. Karena ia begitu berharga.

Advertisement
Loading...

Menggapai Seribu Kebaikan dalam Sehari, Apakah Mungkin?

Seribu kebaikan dalam sehari
Photo by Khazanahalquran.com

Tongkrongan Islami – Seribu kebaikan dalam sehari? Apakah itu mungkin?. Siapa yang bisa meraih amalan sebanyak itu? Ya,..mudah saja bagi mereka yang bersungguh-sungguh ingin meraihnya.

Orang yang mengharapkan ketika telah tiba hari hisab dihadapan Allah penuh dengan amal shaleh.

Bagi hamba Allah menjadikan akhirat sebagai tujuan utamanya maka apapun jalan untuk meningkatkan amal shaleh selalu dijalaninya.

Siapa sih yang tidak tergerak hatinya untuk tahu bagaimana setiap hari seorang hamba bisa meraih seribu kebaikan dengan mudah? Simak penjelasan di bawah ini!

“Bagaimana salah seorang di antara kami bisa menghasilkan seribu kebaikan?”. Beliau menjawab, “Yaitu dengan bertasbih (membaca subhanallah) seratus kali, maka dengan itu akan dicatat seribu kebaikan atau dihapuskan darinya seribu kesalahan.”

Hadits tentang Meraih 1000 Kebaikan dalam sehari

حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا مَرْوَانُ وَعَلِيُّ بْنُ مُسْهِرٍ عَنْ مُوسَى الْجُهَنِيِّ ح و حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ نُمَيْرٍ وَاللَّفْظُ لَهُ حَدَّثَنَا أَبِي حَدَّثَنَا مُوسَى الْجُهَنِيُّ عَنْ مُصْعَبِ بْنِ سَعْدٍ حَدَّثَنِي أَبِي قَالَ كُنَّا عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ أَيَعْجِزُ أَحَدُكُمْ أَنْ يَكْسِبَ كُلَّ يَوْمٍ أَلْفَ حَسَنَةٍ فَسَأَلَهُ سَائِلٌ مِنْ جُلَسَائِهِ كَيْفَ يَكْسِبُ أَحَدُنَا أَلْفَ حَسَنَةٍ قَالَ يُسَبِّحُ مِائَةَ تَسْبِيحَةٍ فَيُكْتَبُ لَهُ أَلْفُ حَسَنَةٍ أَوْ يُحَطُّ عَنْهُ أَلْفُ خَطِيئَةٍ

Abu Bakr bin Abi Syaibah menuturkan kepada kami. Dia berkata: Marwan dan Ali bin Mus-hir menuturkan kepada kami dari Musa al-Juhani. Sedangkan dari jalan yang lain Imam Muslim mengatakan: Muhammad bin Abdullah bin Numair menuturkan kepada kami dengan lafaz darinya, dia berkata: Musa al-Juhani menuturkan kepada kami dari Mush’ab bin Sa’d. Dia mengatakan: Ayahku menuturkan kepadaku, dia berkata: Dahulu kami berada di sisi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian beliau mengatakan, “Apakah salah seorang di antara kalian tidak mampu untuk menghasilkan pada setiap hari seribu kebaikan?”. Lalu ada seorang yang duduk bersama beliau bertanya, “Bagaimana salah seorang di antara kami bisa menghasilkan seribu kebaikan?”. Beliau menjawab, “Yaitu dengan bertasbih (membaca subhanallah) seratus kali, maka dengan itu akan dicatat seribu kebaikan atau dihapuskan darinya seribu kesalahan.” (HR. Muslim dalam Kitab adz-Dzikr wa ad-Du’a wa at-Taubah wa al-Istighfar)

Pelajaran Yang Dapat Dipetik dari Hadits Tersebut:

  1. Luasnya rahmat Allah ta’ala sehingga dengan melakukan amalan yang sedikit seorang dapat memperoleh balasan yang amat banyak.
  2. Manusia dapat melakukan seribu kebaikan tiap hari, bahkan lebih dari itu juga mampu, dengan izin Allah tentunya.
  3. Cara mengajar yang diajarkan oleh Nabi salah satunya adalah dengan metode tanya-jawab.
  4. Keutamaan dalam membaca tasbih.
  5. Amal salih kunci bertambahnya keimanan.
  6. Amal salih kunci terhapusnya dosa.
  7. Iman tentang hari pencatatan amal/ hisab.
  8. Keutamaan berkumpul bersama orang-orang salih.
  9. Pentingnya berdzikir pada Allah dan keutamaannya.

Untuk Kita Renungkan

Wahai hamba-hamba Allah yang masih asyik mengumpulkan dosanya. Sampaiah kini pada saatnya untuk menutupi dosa-dosamu dengan melafalkan tasbih kepada-Nya 100 kali saja. Dengan begitu maka 1000 kesalahan yang ada pada dirimu niscaya akan dihapus-Nya.

Tidakkah kalian ingin mengamalkannya??

Sungguh sebuah amalan yang begitu mudah dan murah.

Cukup dengan menggerakkan hati serta lidahmu untuk berdzikir mengingat-Nya maka Dia akan segera membalasnya.

Baca Juga: Kalau Sudah Nikah, Suka Dukanya Nikmati Ajah!

Mudah-mudahan dari hadits diatas dapat menjadi penyemangat hidup kita untuk memacu dan mengisinya dengan amal shaleh. Sehingga nantinya kita bisa menjadi orang yang beruntung dihadapan-Nya. Amiiin..

Advertisement
Loading...

Kalau Sudah Nikah, Suka Dukanya Nikmati Ajah!

5 Hal Yang Dapat Membuat Pernikahan Awet

Tongkrongan Islami – Dalam membina rumah tangga yang bahagia itu memang bukan hal yang gampang. Terbukti banyak orang lebih memilih untuk berpisah alias cerai karena sudah tidak memiliki kecocokan.

Selain itu alasan mereka karena sudah tidak lagi satu visi dan misi. Padahal Allah SWT sangat membenci perceraian. Tak seorang pun yang ingin bercerai dalam rumah tangganya. Ya, saat janji suci telah diucapkan, maka semua pasangan berharap hanya tangan Tuhan-lah yang bisa memisahkan mereka.

Pernikahan merupakan cara terbaik menjaga kesucian diri, meski di dalamnya terdapat banyak suka dan dukanya. Tapi bila kita bisa menyikapi itu semua dengan hati yang ikhas dan selalu ingat pada janji pernikahan kita, maka insyaallah kita bisa mempertahankan biduk pernikahan kita.

5 Hal Yang Dapat Membuat Pernikahan Awet

Ingat, sebelum lebih jauh melangkah ke jenjang pernikahan pasti kalian telah berjanji untuk saling menemani kala suka ataupun duka. Jadi, ketika ujian masalah datang, cobalah mengingat kembali janji tersebut. Lihat kembali wajah pasangan masing-masing. Cobal kenang kembali bagaimana kita dulu begitu mencintainya dan rela untuk melakukan apapun agar dia bahagia.

Berbagi Persoalan Bersama

Ketika persoalan datang melanda rumah tangga kalian, yakinlah bahwa kalian berdua pasti bisa melewati itu bersama. Ya, segala macam persoalan bila dihadapi bersama pastinya akan terasa jauh lebih ringan. Jangan pernah lari bahkan menghindar dari segala masalah yang datang, karena solusi dari permasalahan itu cuma satu, yaitu dihadapi.

Selalu luangkan kesempatan tertawa bersama

Dulu, ketika masih pacaran kamu selalu ingin lihat ia tersenyum juga tertawa. Ini karena bagimu senyumnya jadi kebahagiaanmu. Maka, sesudah nikah hal tersebut jangan sampai dihilangkan. Habiskan tengah malam anda dengan nonton bareng. Makan bersama di restoran juga bisa jadi momen yang tepat untuk kalian berbincang, bercanda dan tertawa. Membina rumah tangga tidak mudah, tapi akan lebih susah bila berjalan sendiri-sendiri.

Ungkapkan Cintamu Setiap Hari

Mencium dan memeluknya setiap hari, dan jangan lupa selalu bilang “I love you”. Mungkin kedengarannya mudah dan sederhana, namun banyak pasangan yang lupa tentang itu. Terlebih pasangan yang sudah menikah bertahun-tahun lamanya. Kembalikanlah rasa cinta yang dulu lagi, agar kehidupan rumah tangga juga berjalan sangat menyenangkan setiap hari.

Seolalu Berkomunikasi

Jika kalian sedang menghadapi masalah, maka hal pertama yang harus dilakukan adalah berkomunikasi. Selalu Bicarakan semua persoalan yang terjadi dan jangan ragu berkompromi. Karena dengan selalu setuju dan mengalah bukan solusi terbaik dalam kehidupan rumah tangga. Kalian harus belajar mengemukakan serta mendengarkan pendapat pasangan.

Pelajaran Pentring Dalam Rumah Tangga

Beberapa pelajaran pernikahan yang perlu dipahami untuk mereka yang ingin berumah tangga ataupun sudah berumah tangga.

• Tujuan dalam berkeluarga: senang dan susah dirasakan bareng.

Itu adalah hikmah dari doa yang diajarkan Rasullullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada pengantin: Barakallahu laka wa baraka ‘alaika wa jama’a bainakumaa fii khoir. Artinya: Semoga Allah berkahi engkau baik dalam senang maupun susah, semoga Allah kumpulkan kalian berdua didalam kebaikan.

• Suamilah yang harus memperhatikan nafkah kepada istri dengan melihat pada dua keadaan: kebutuhan istri, dan kemampuan suami.

• Istri harus banyak bersyukur pada pemberian suami baik sekecil apa pun itu. Ingat, wanita itu banyak yang masuk neraka, gara- gara banyak protes juga kurang bersyukur atas pemberian suami.

• Kewajiban istri paling besar adalah taat kepada suami.

• Didalam rumah tangga, saling mengajak dalam kebaikan serta mengingatkan ketika terjadi kekeliruan.

Mari kita sama- sama berdoa semoga keluarga kita bisa menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah wa rahmah.

Advertisement
Loading...

Jangan Biarkan Iman Memudar, lakukan 5 hal Ini untuk Mengatasinya..

Jangan Biarkan Iman Memuda

Tongkrongan Islami – Sebagai Muslim, iman adalah segalanya. Iman merupakan aset paling berharga. Iman telah menjadi kriteria pertama akan diterima atau tidaknya amalan kita di hadapan Allah. Tetapi, sebagaimana lazimnya aset yang berharga di dunia ini, selalu terancam bahaya.

Banyak sekali pihak yang mengintai juga ingin mencurinya. Maka, tak sedikit orang yang keimanannya memudar atau bahkan lenyap. Dan orang itu akhirnya mati dalam keadaan tidak memiliki iman lagi. Tentunya kita tiak ingin mengalaminya. Namun, bagaimana menjaga agar iman tidak hilang?

Di dalam kitab Ihya’ ‘Ulumiddin, Imam al-Ghazali telah menunjukkan bahwa keimanan itu sangat mudah goyah di awal mula pertumbuhannya. Terlebih lagi di kalangan anak kecil serta kaum awam. Oleh sebab itu, iman harus selalu diperkuat.

Pudarnya Iman Dalam Diri Manusia

Iman bisa semakin pudar di dalam hati kalian sebagaimana dengan pudarnya warna sebuah pakaian. Karenanya selalu minta pada Allah supaya iman kalian terus diperbaharui.”

Ash-Shahihah 1585.

للهم جددالإيمان في قلوبنا

“Allahumma jaddidil imaana fii qulubinaa”.

Artinya: “Ya Allah perbaruilah iman di hati-hati kami”.

Imam al-Ghazali mengibaratkan bahwa awal mula keimanan sama dengan menabur benih. Sementara itu semua amal yang dimiliki merupakan upaya menyiram serta merawatnya. Dan akhirnya ia tumbuh dan berkembang, menjadi pohon yang kuat dan meninggi.

Tumbuh menjadi pohon yang baik dan kokoh, akarnya teguh dan cabangnya menjulang ke angkasa. Kelak, hasil buahnya pasti lebat dan menguntungkan, sesuai dengan seizin Allah.

Naik Turunnya Iman

Keimanan yang ada dalam hati kita sering mengalami fluktuasi. Iman tersebut dapat bertambah kuat, namun juga bisa terkikis tanpa kita sadari. Naik turunnya iman tergantung pada diri kita sendiri sewaktu menjaganya.

Kita sebagai seorang muslim, pastinya selalu ingin agar iman yang kita miliki tak berkurang sedikitpun, tapi justru bertambah kuat. Oleh karena itu, kita harus mengetahui apa saja yang dapat mempengaruhi naik turunnya kadar keimanan kita.

Penyebab turunnya kadar iman

Ada beberapa hal yang bisa menurunkan kadar keimanan dalam diri kita. Sebab-sebab yang dapat menurunkan kadar keimanan bisa datang dari dalam diri kita sendiri, juga dari pihak luar. Hal-hal yang dapat menurunkan kadar keimanan dari dalam diri kita diantaranya yaitu:

  1. Kebodohan: Kebodohan adalah salah satu hal yang dapat mengakibatkan berbagai macam perbuatan buruk. Bisa jadi seseorang berbuat buruk karena dia tidak tahu bahwa perbuatannya itu sebenarnya dilarang oleh agama.
  2. Ketidak-pedulian, melupakan kewajiban dan sifat enggan. Keengganan seseorang pada diri seseorang saat berurusan dengan hal yang berbsifat ukhrowi akan membuatnya sulit untuk bisa melakukan kebaikan.
  3. Menyepelekan semua perintah dan larangan dari Allah Subhanahu wa ta’alaa.
  4. Jiwa seseorang yang selalu memerintahkan untuk berbuat jahat

Cara Untuk Meningkatkan keimanan Yang Memudar

1) Renungkan dan ucapkan arti dari Quran. Ketenangan akan turun dan hati kita akan menjadi lunak. Untuk memperoleh manfaat yang optimal, ingatkan diri kita bahwa Allah sedang berbicara pada kita.

2) Menyadari akan kebesaran Allah. Semuanya ada di bawah kendali-Nya. Terdapat tanda-tanda pada segala sesuatu yang kita lihat dan mengarahkan kepada kebesaran-Nya.

3) Berusaha agar mendapatkan pengetahuan. Pengetahuan itu setidaknya tentang hal-hal dasar dalam kehidupan sehari-hari seperti bagaimana cara berwudhu dengan benar. Tahu apa yang diperintah dan dilarang Allah SWT.

4) Satu perbuatan yang baik akan mengarah ke perbuatan baik lainnya. Allah pasti akan membuat cara mudah untuk seseorang yang memberi sedekah dan juga membuatnya mudah untuk dia agar dapat melakukan perbuatan baik. Perbuatan baik itu harus dilakukan secara terus menerus.

5) Kita harus memiliki rasa takut tentang akhir yang menyedihkan dalam hidup kita. Kita ingat kematian adalah perusak kesenangan.

6) Ingatlah berbagai tingkat akhirat, seperti ketika kita dimasukkan dalam kuburan kita, jika kita menerima hukuman, apa kita akan ada di surga ataupun neraka.

Advertisement
Loading...

Tata Cara Sholat Witir Sesuai Tuntunan Nabi SAW

Tata Cara Sholat Witir

Tata Cara Sholat Witir – Shalat Witir hukumnya sunah muakkad. Shalat Witir sebenarnya termasuk shalat Malam, Namun lebih tepat jika dikatakan penutup sholat malam (lail). Menurut Hanabilah: makruh meninggalkannya. Imam Ahmad berkata: orang yang meninggalkan shalat Witir secara sengaja, tidak sepantasnya persaksiannya diterima.

Jumlah rakaat minimalnya adalah satu rakaat. Setelah selesai mengerjakan shalat tahajud disunnahkan shalat Witir satu rakaat, atau tiga rakaat, atau lima rakaat, atau tujuh rakaat dengan duduk pada penghabisannya. Atau tujuh rakaat, atau sembilan rakaat dengan duduk tasyahud awal pada rakaat keenam dan kedelapan lalu salam pada rakaat terakhir (ketujuh dan ke sembilan).

Dalil untuk Sholat Witir 1 atau 3 Rakaat

“Karena hadis Aisyah istri Nabi saw. ia berkata: “Adapun Rasulullah saw. mengerjakn shalat pada waktu antara ia selesai shalat Isya’-yaitu yang orang namakan ‘atamah-hingga fajar sebelas rakaat dengan membaca salam antara dua rakaat lalu shalat Witir satu rakaat. Kemudian apabila muadzin telah selesai seruan subuhnya, dan terlihat olehnya akan fajar dan Bilal menghampirinya, ia lalu shalat dua rakaat singkat-singkat kemudian berbaring pada lambung kanan sampai muadzin datang kepadanya untuk seruan iqamah.” (Riwayat Bukhari dan Muslim).

Dalil sholat Witir 5 atau 7 Rakaat dengan Satu Salam.

“Karena hadis Abu Hurairah yang mengatakan bahwa Nabi saw. pernah berkata: “Jangan mengerjakan Witir tiga rakaat seperti shalat Maghrib (dengan tahiyat awal). Hendaklah kamu kerjakan lima atau tujuh rakaat.” (Riwayat Daruqutni , Ibnu Hibban dan Hatim dengan kata-kata yang berbeda. Kata al-Iraqi: Sanadnya sahih).

Dalil untuk Sholat Witir 7 rakaat dengan duduk tasyahud awal pada rakaat keenam dan salam pada rakaat terakhir.

“Karena hadis Sa’d bin Hisyam: Maka setelah ia bertambah berat badannya karena usia lanjut ia kerjakan Witir tujuh rakaat dengan hanya duduk antara yang keenam dan ketujuh untuk hanya membaca salam pada rakaat yang ketujuh.”

Dalil sholat Witir 9 rakaat dengan tasyahud awal pada rakaat kedelapan dan salam pada rakaat terakhir.

Berdasarakan hadis Aisyah yang menceritakan bahwa ia pernah ditanaya tentang shalat Rasulullah di tengah malam lalu ia mengatakan: “ia kerjakan shalat Isya’ dengan berjamaah kemudian ia kembali kepada keluarganya, lalu shalat empat rakaat kemudian ia pergi keperaduannya lalu tidur, di arah kepalanya terletak tempat air wudhu yang ditutupi dan sikat gigi, sampai ia dibangunkan Allah saat ia dibangunkan pada tengah malam, ia lalu menggosok giginya dan berwudhu dengan wudhu yang sempurna kemudian pergi ke tempat shalat lalu ia shalat delapan rakaat. Dalam rakaat-rakaat itu ia membaca Fatihah dan surat al-Quran dan ayat-ayat lainnya. Ia tidak duduk (untuk tahiyat awal) selama itu kecuali pada rakaat kedelapan dan tidak menutup dengan salam. Pada rakaat kesembilan ia membaca seperti sebelumnya lalu duduk tahiyat akhir membaca doa dengan macam-macam doa dan mohon kepada Allah serta menyatkan keinginan-keinginannya kemudian ia membaca salam sekali dengan suara keras yang hampir membangunkan seluruh isi rumah karena nyaringnya. Kemudian ia shalat sambil duduk dengan membaca Fatihah dan rukuk sambil duduk lalu ia kerjakan rakaat kedua seerta rukuk dan sujud sambil duduk kemudian membaca doa sepuas hatimya dan akhirnya menutup dengan salam dan lalu bangkit pergi. Demikianlah selalu shalat Rasulullah saw. Sampai akhirnya bertambah berat badannya. Maka lalu yang sembilan rakaat itu dikurangi dua sehinga menjadi enam dan tujuh[1] ditambah dua rakaat yang dikerjakan sambil duduk. Demikianlah dikerjakan sampai Nabi wafat. (HR. Abu Daud).

Waktu akhir shalat Witir adalah terbitnya fajar.

Berdasarkan hadis yang diriwayatkan Abu Dawud dan Nasa’i yang disahihkan oleh Abu Awanah dan yang lainnya dari jalur Sulaiman bin Musa, dari Nafi’ bercerita kepada Sulaiman bahwa Ibnu Umar pernah berkata: “barang siapa yang melaksanakan shalat Malam hendaklah ia menjadikan Witir sebagai akhirnya. Sebab Rasulullah saw. telah memerintahkan demikian. Apabila fajar telah terbit, maka habislah waktu shalat Malam dan Witir.”(Terj. Fathul Bari jild. 5, hal. 262-263).

Baca Juga: Tata Cara Sholat Sunnah Safar (bepergian)

 

Catatan Kaki

[2] Maksudnya Nabi saw. Mengajarkan shalat enam rakaat lalu duduk untuk tahiyat awal kemudian berdiri dan pada rakaat ketujuh menutupnya dengan salam. Lalu shalat dua rakaat sambil duduk. Demikianlah mudahnya mengerjakan shalat Lail sehingga tidak mengharuskan bilangan rakaat sebelas, asal jumlanya gasal.

Advertisement
Loading...

Bacaan Doa Sebelum dan Sesudah Adzan

Bacaan Doa Sebelum dan Sesudah Adzan

Bacaan Doa Sebelum dan Sesudah Adzan – Tidak ada satu riwayatpun yang menyuruh Muadzin mengucapkan lafaz tertentu sebelum adzan seperti bacaan Hauqalah, tasbih, tahmied, shalawat atau yang lainnya yang berkembang di masyrakat (baca: tuntunan adzan dan iqomat). Adapun bacaan basmalah itu disunahkan secara umum untuk mengawali segala perbuatan yang baik bukan semata – mata adzan.

Sementara sesudah adzan baik (Mu’adzin maupun Mustami’unnida’) disyariatkan  membaca doa

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ قَالَ حِينَ يَسْمَعُ النِّدَاءَ اللَّهُمَّ رَبَّ هَذِهِ الدَّعْوَةِ التَّامَّةِ وَالصَّلَاةِ الْقَائِمَةِ آتِ مُحَمَّدًا الْوَسِيلَةَ وَالْفَضِيلَةَ وَابْعَثْهُ مَقَامًا مَحْمُودًا الَّذِي وَعَدْتَهُ حَلَّتْ لَهُ شَفَاعَتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Jabir bin Abdullah berkata bahwasanya Rasulullah saw. Bersabda “Barang siapa yang ketika mendengar adzan mengucapkan ‘Allahumma Rabba………..wa’adttah’ niscaya akan mendapat syafa’atku pada hari kiamat. Diriwayatkan oleh Bukhari dalam al-Adzan bab Ad-Du’a inda an-Nida, hadis ke 579.

Ada sebagian orang yang menambah doa ini dengan lafaz:

و الشرف و الدرجة العالية الرّفيعة إنّك لا…الخ

Hadis tentang tambahan ini tidak ada asalnya. Karena hadis shahih yang diriwayatkan oleh Bukhari dan yang lainya sama sekali tidak ada tambahan tersebut, As-Sakhaawy mengatakan “aku tidak pernah dapati tambahan lafaz tersebut sama sekali”. Ada juga tambahan “Innaka laa tukhliful mii’ad” ini terdapat dalam sunan al-Baihaqi tetapi al-Albani mengatakan riwayat ini syadz (cacat).

Syaikh Muhammad Abdussalam Khadr Asy Syaqiry dalam Assunan wa Mubtada’at al Muta’alliqah bi al Adzkar wa as Shalawat yang diterbitkan oleh “Dar al-Fikr” mengatakan penambahan kata “Wa darajatarrafi’ah” di tengah shalawat adalah bid’ah dan penambahan kalimat “Innaka la tukhliful mii’ad” di akhir shalawat tidak memiliki dasar hadis yang shahih, hanya menisbatkan kepada Uwais al-Qarni semata dan itu salah besar.

Membaca shalawat yang dibuat-buat, ayat-ayat tertentu dengan redaksi atau susunan tertentu, syair atau semacamnya apalagi dengan jama’ah dan dikeraskan sama sekali tidak ada tuntunan dari Rasulullah saw. yang disunahkan adalah menirukan sebagaimana yang diucapkan Mua’adzin lalu membaca shalawat atau berdoa sesuai sabda dan tuntunan Rasulullah saw.

Disyari’atkan juga membaca shalawat/doa untuk Nabi saw.

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ أَنَّهُ سَمِعَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِذَا سَمِعْتُمْ الْمُؤَذِّنَ فَقُولُوا مِثْلَ مَا يَقُولُ ثُمَّ صَلُّوا عَلَيَّ فَإِنَّهُ مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلَاةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْرًا ثُمَّ سَلُوا اللَّهَ لِي الْوَسِيلَةَ فَإِنَّهَا مَنْزِلَةٌ فِي الْجَنَّةِ لَا تَنْبَغِي إِلَّا لِعَبْدٍ مِنْ عِبَادِ اللَّهِ وَأَرْجُو أَنْ أَكُونَ أَنَا هُوَ فَمَنْ سَأَلَ لِي الْوَسِيلَةَ حَلَّتْ لَهُ الشَّفَاعَةُ

Abdullah bin Amru bin Ash mendengar Rasulullah saw. Bersabda “Apabila mendengar seruan muadzin maka ucapkanlah seperti apa yang diucapkanya lalu bershalawatlah untuku, sesungguhnya barang siapa yang bershalawat untuku satu kali maka Allah memberikan rahmat padanya sepuluh kali kemudian mintalah wasilah untuku karena sesungguhnya wasilah itu suatu kedudukan di syorga yang hanya diberikan kepada seorang hamba dan aku mengharap akulah hamba itu” diriwayatkan oleh Muslim dalam kitab shalat Kutubuttis’ah hadis ke 577 juga terdapat dalam (HPT: 125).

Masalah adab berdoa Allah swt dalam al-Qur’an mensyari’atkan bagaimana tatakrama kita ketika berdoa kepadaNya, diantaranya dengan merendah diri dan rasa takut

اادعوا ربّكم تضرّعا و خفية انّه لا يحبّ المعتدين

Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. (al-A’raf [7] : 55)

واذكر ربّك في نفسك تضرّعا و خيفة و دون الجهر من القول بالغدوّ و الأصال ولا تكن من الغافلين

Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai. (al-A’raaf [7] : 205)

قل ادعواالله اودعاالرحمن ايّا ما تدعوا فله الأسمآء الحسنى ولا تجهر بصلاتك ولا تخافت بها وابتغ بين ذلك سبيلا

Katakanlah: “Serulah Allah atau serulah Ar-Rahman. Dengan nama yang mana saja kamu seru, Dia mempunyai al asmaaul husna (nama-nama yang terbaik) dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam shalatmu dan janganlah pula merendahkannya dan carilah jalan tengah di antara kedua itu.” (Al-Israa [17] : 110)

Baca Juga: Tata Cara Menjawab Adzan

Ada juga beberapa ayat lain yang senada dengan ayat ini, kiranya ini cukup menjadi dalil bagi kita bahwasanya dalam berdoa ada tatakrama yang tidak boleh dilanggar yaitu dengan merendah diri, penuh rasa harap dan khawatir, tidak perlu mengeraskan suara apalagi sampai berteriak-teriak histeris hal yang seperti ini tidak dicontohkan oleh Rasulullah saw.

Advertisement
Loading...

Bagaimanakah Tata Cara Menjawab Adzan?

Tata Cara Menjawab Adzan

Tata Cara Menjawab Adzan – Jawaban adzan sesuai dengan apa yang diucapkan Mu’adzin hal ini didasari pada beberpa hadi nabi SAW di bawah ini:

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا سَمِعْتُمْ النِّدَاءَ فَقُولُوا مِثْلَ مَا يَقُولُ الْمُؤَذِّنُ

Dari Abu Said Al-khudri bahwasanya Rasulullah saw. Bersabda “Apabila kalian mendengar adzan maka ucapkanlah sebagaimana yang diucapkan ileh Mu’adzin”

Diriwayatkan oleh Muslim dalam kitab As-Shalat bab Istihbabul qouli mistlil qoulil mu’adzin liman sami’ahu hadist ke 576. Kecuali pada lafaz حَيَّ عَلَى الصَّلَاةِ dan حَيَّ عَلَى الْفَلَاحِ. Dijawab dengan ucapan لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ Dengan dalil:

عَنْ حَفْصِ بْنِ عَاصِمِ بْنِ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا قَالَ الْمُؤَذِّنُ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ فَقَالَ أَحَدُكُمْ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ ثُمَّ قَالَ أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ قَالَ أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ ثُمَّ قَالَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ قَالَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ ثُمَّ قَالَ حَيَّ عَلَى الصَّلَاةِ قَالَ لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ ثُمَّ قَالَ حَيَّ عَلَى الْفَلَاحِ قَالَ لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ ثُمَّ قَالَ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ قَالَ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ ثُمَّ قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ مِنْ قَلْبِهِ دَخَلَ الْجَنَّةَ

Dari Hafs bin ‘Ashim bin umar bin Al-Khatab bahwasanya kakeknya berkata: Rasulullah saw bersabda “Apabila Mu’adzin mengucapkan ‘Allahu akbar – Allahu akbar’ maka kalian ucapkan ‘Allahu akbar – Allahu akbar’ kemudian jika ia (Mu’adzin) mengucapkan ‘Asyhadu anlaa Ilaha illAllah’ maka kalian ucapkan ‘Asyhadu anlaa Ilaha illAllah’ kemudian jika ia Mu’adzin) ucapkan ‘Asyhadu anna Muhammadan rasulullah’ maka kalian ucapkan ‘Muhammadan rasulullah’ kemudian jika ia (Mu’adzin) ucapkan ‘Hayya ‘alashshalah’ maka kalian ucapkan ‘Laa haula wa laa quwwata illa billah’ kemudian jika ia (Mu’adzin) mengucapkan ‘Hayya ‘alal falaah’ maka kalian ucapkan ‘Laa haula wa laa quwwata illa billah’ kemudian jika ia (Mu’adzin) mengucapkan ‘Allahu akbar – Allahu akbar’ maka kalian ucapkan ‘Allahu akbar – Allahu akbar’ kemudian jika ia (Mu’adzin) mengucapkan ‘Laa Ilaha illAllah’ maka kalian ucapkan ‘Laa Ilaha illAllah’ dengan hati, maka masuk syorga.

Diriwayatkan oleh Muslim dalam kitab As-Shalat bab Istihbabul qouli mistlil qoulil mu’adzin liman sami’ahu hadis ke 578.

Dan banyak hadis senada yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dan lainnya yang menjelaskan masalah ini, kemudian ada yang menambahkan kalimat ”Illa billahil ’aliyyil ’adzim” tambahan ini tidak ada dalilnya.

Imam Syafii, Maliki, dan Hanbali berpendapat menjawab adzan hukumnya sunah baik dalam keadaan suci maupun dalam keadaan junub, haid, atau nifas selama tidak sedang melakukan jimak atau sedang buang air.

Imam Hanafi tidak membolehkan orang yang sedang haid atau nifas menjawab adzan. (Al-fiqhu alal-madzhabil arba’ah, abdurrahman al-Jaziri, bab Adzan). Sementara A. Qadir Hasan melalui pendekatan Ushulfiqh mengatakan ‘Wajib’ Kemudian timbul permasalahan pada jawaban lafaz as-Shalatul- khairuminnaum sebagian orang ada yang menjawab lafaz ini dengan ucapan shadakta wa bararta wa ana dzalika minas-syahidin.

Insya Allah dengan segala keterbatasan kami akan menyampaikan sedikit pandangan kami sebagai berikut:

Menilik hadis-hadis tentang ucapan ketika mendengar adzan tidak ada satupun hadis yang menjelaskan secara khusus lafaz yang harus diucapkan ketika mendengar lafaz Tastwib, hadis-hadis tersebut hanya mengecualikan lafaz hayya ‘ala-shalah dan hayya ‘alal-falah.

Sementara yang lainya dijawab dengan lafaz sama yang diucapkan oleh Muadzin, jadi menurut kami jawaban Tastwib dengan lafaz itu juga.

Ringkasan Ucapan Adzan dan Jawabannya

Ucapan Muadzin Jawaban Mustami (pendangar)
Allahu akbar – Allahu akbar Allahu akbar – Allahu akbar
Asyhadu anlaa Ilaha illAllah Asyhadu anlaa Ilaha illAllah
Asyhadu anna Muhammadan rasulullah Muhammadan rasulullah
Hayya ‘alashshalah Laa haula wa laa quwwata illa billah
Hayya ‘alal falaah Laa haula wa laa quwwata illa billah
As-shalatul- khairuminnaum As-shalatul- khairuminnaum
Allahu akbar – Allahu akbar Allahu akbar – Allahu akbar

 

Baca Juga: Tuntunan Adzan dan Iqomah Berdasarkan Sunnah Nabi SAW

Dalil-dalil yang memerintahkan untuk menjawab adzan ditujukan kepada Mustami’ (orang yang mendengar) tidak ada dalil yang menyuruh Mu’adzin untuk menjawab adzanya sendiri dan jika ini terjadi namanya bukan menjawab melainkan mengulang lafaz adzan dan ini tidak disyari’atkan. WAllahul Muta’an, WAllahu A’lam bisshawaab

Advertisement
Loading...

Menggosok Seluruh Anggota Badan Saat Mandi Junub

Menggosok Seluruh Anggota Badan Saat Mandi Junub

عن ميمونة بنت الحارث رضي الله عنها زوجة النبي صلى الله عليه وسلم أنها قالت : وضعتُ لرسول الله صلى الله عليه وسلم وَضوء الجنابة ، فأكفا بيمينه على يساره مرتين أو ثلاثا ، ثم غسل فرجه ، ثم ضرب يده بالأرض أو الحائط – مرتين أو ثلاثا – ثم تمضمض واستنشق ، ثم غسل وجهه وذراعيه ، ثم أفاض على رأسه الماء ، ثم غسل سائر جسده ، ثم تنحّى فغسل رجليه ، قالت : فأتيته بخرقة فلم يُردها ، وجعل ينفض الماء بيده

Dari Maimunah binti Al-Harits radhiyallahu‘anha; dia mengatakan, “Saya menyiapkan air bagi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk mandi junub. Kemudian beliau menuangkan (air tersebut) dengan tangan kanannya di atas tangan kirinya sebanyak dua kali – atau tiga kali, kemudian beliau cuci kemaluannya, lalu menggosokkan tangannya di tanah atau di temboksebanyak dua kali – atau tiga kali. Selanjutnya, beliau berkumur-kumur dan ber-istinsyaq(menghirup air), kemudian beliau cuci mukanya dan dua tangannya sampai siku. Kemudian beliau siram kepalanya lalu seluruh tubuhnya. Kemudian beliau mengambil posisi/tempat, bergeser, lalu mencuci kedua kakinya. Kemudian saya memberikan kepadanya kain (semacam handuk, pen.) tetapi beliau tidak menginginkannya, lalu beliau menyeka air (di tubuhnya) dengan menggunakan kedua tangannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dari riwayat keduanya juga dinyatakan bahwa:

ثمّ افرغ علي فرجه وغسل بشماله ثمّ ضرب الارض…

Hadis di atas menunjukkan bahwa, menggosok anggota badan itu tidak wajib, karena yang dinamakan mandi itu bukanlah bermakna menggosok, karena Maimunah dalam hadis di atas menggunakan ungkapan al-Ghaslu dan Aisyah menggunakan lafad Ifadho, padahal makna keduanya satu. (Nailul Autor I:307)

Dalam hal ini al-Hadawiyah menambahkan dengan cara menggosok, hal ini dikarenakan apabila tidak diharuskan dengan cara menggosok maka tidak bisa dibedakan antara mandi “al-Ghaslu dan mengusab al-Mash, karena al-Mash berarti meratakan air atas sesuatu dengan tangan. Padahal makna antara al-Ghaslu dan al-Mash itu sama, yaitu al-Isalah atau mengalirkan. Mengalirkan air ke badan itu bukanlah berarti bermakna menggosokkan, dan begitu juga mandi, maka tidak diperlukan dengan cara menggosok. (Subulussalam I:93)

Dalam hadis lain dinyatakan;

قال أنس: قال رسول الله.ص. إذا اغتسل المرأة من حيضتها نقضت شعرها نقضا وغسلتها بخطميّ وأشنان. (رواه الدا قطني والبيهقي

Anas berkata; bahwa Rasulullah saw. bersabda; “Apabila perempuan mandi dari haidnya, supaya ia membuka rambutnya sama sekali dan mencucinya dengan kitmi dan usynan”. (HR.Daruqutni dan Baihaqi).

Berkata as-Syaukani; Hadis ini dijadikan dalil bagi orang yang tidak mewajibkan menggosok badan, baik dengan tangan atau selainya. (Nailul Autor I:312)

Tidak ada satu orang pun diantara Ulama yang mewajibkan menggosok seluruh badan ketika mandi, kecuali Malik dan al-Mujni, sedangkan yang lainya mengatakan bahwa menggosok itu sunah.( An Nawawi III: 556)

Al-Hanafiyah mengatakan bahwa mencuci semua anggota badan yang mungkin atau mudah untuk mencucinya itu wajib. Adapun bagi anggota badan yang sukar untuk dicuci itu hukumnya sunah. (Fiqh Islam Wa Adillatuh I:523)

Dan perhatikan juga hadis di bawah ini:

عن جبير بن مطعم قال: تذاكرنا غسل الجنابة عند رسول الله صلعم فقال: امّا أنا فأخذ ملئ كفّي فأصبّ علي رأسي ثمّ افيض بعد علي سائر جسدي. (رواه احمد).

Dari Jabir bin Mut’am, Ia berkata: kami pernah berbincang-bincang tentang tata cara mandi wajib di hadapan Rasulullah saw. Lalu Ia bersabda: ”Adapun Aku cukup mengambil air sepenuh dua tapak tanganku, lalu aku tuangkan di atas kepalaku, kemudian aku menyiram atas seluruh tubuhku.’ (HR. Ahmad).

As Syaukani berkata;” hadis ini dijadikan dalil oleh orang-orang yang tidak mewajibkan menggosok badan, berkumur-kumur dan menghirup air kehidung ketika mandi. (Nailul Autor I:310)

Advertisement
Loading...

Sholat Sunnah Safar (Bepergian)

Sholat Sunnah Safar

Sholat Sunnah Safar – Disunahkan bagi orang yang hendak bepergian untuk mengerjakan shalat dua rakaat. Begitu pula setelah kembali dari bepergian shalat dua rakaat di Masjid sebelum duduk.

Shalat dua rakaat di Masjid setelah pulang dari perjalanan adalah keputusan Ijma’. Nabi saw. Bersabda:

لحديث ابن مسعود رضي الله عنه قال: جاء رجل إلى رسول الله صليّ الله عليه وسلّم فقال: يارسول الله إنّي أن اخرج إلى البحرين فى تجارة فقال صليّ الله عليه وسلّم قم صلّ ركعتن

“Karena hadis Ibnu Mas’ud ra. Yang mengatakan: “pernah datang seorang laki-laki kepada Rasulullah saw. Dan berkata: Hai Rasulullah saya hendak pergi ke Bahrein untuk urusan dagang. Lalu Rasulullah menyuruh orang itu: “Pergilah shalat dua rakaat”. (HR. Tabrani dalam al-Kabir).

Baca Juga: Panduan Sholat Istikhoroh: Meminta Petunjuk Allah dari Berbagai Pilihan

Dalil yang menerangkan tentang shalat dua rakaat ketika pulang dari perjalanan.

لحديث جابربن عبد الله رضي الله عنه قال: كنت مع رسول الله صليّ الله عليه وسلّم فى سفرفلمّا قدِمنا المدينة قال لي: ادخل المسجد فصلّ ركعتين

“Karena hadis Jabir bin Abdullah yang mengatakan: Pernah aku bersama–sama Rasullah saw. Dalam perjalanan. Lalu setiba kami di Madinah beliau berkata: masuklah ke Masjid dan shalatlah dua rakaat.” ( HR. Bukhari dan Muslim)

Advertisement
Loading...

Tongkrongan Favorite

Dosa Selalu Menggelisahkan Hati

Inilah Sebabnya Mengapa Dosa Selalu Menggelisahkan Hati

Tongkrongan Islami - Alangkah indahnya jika kita mempunyai hati yang bersih, pikiran yang positif, serta tindakan yang lurus. Kita bisa selalu memandang diri kita...
Mengapa Mesti Ragu Menikah

Bila Allah Sudah Berjanji, itu Berarti Pasti. Mengapa Mesti Ragu Menikah?

Tongkrongan Islami - Menjadi sepasang pengantin baru adalah kebahagiaan terindah bagi kedua mempelai. Meski banyak yang bilang jadi pengantin baru itu repot. Biaya hidup tinggi...
Seribu kebaikan dalam sehari

Menggapai Seribu Kebaikan dalam Sehari, Apakah Mungkin?

Tongkrongan Islami - Seribu kebaikan dalam sehari? Apakah itu mungkin?. Siapa yang bisa meraih amalan sebanyak itu? Ya,..mudah saja bagi mereka yang bersungguh-sungguh ingin...
5 Hal Yang Dapat Membuat Pernikahan Awet

Kalau Sudah Nikah, Suka Dukanya Nikmati Ajah!

Tongkrongan Islami - Dalam membina rumah tangga yang bahagia itu memang bukan hal yang gampang. Terbukti banyak orang lebih memilih untuk berpisah alias cerai...
Jangan Biarkan Iman Memuda

Jangan Biarkan Iman Memudar, lakukan 5 hal Ini untuk Mengatasinya..

Tongkrongan Islami - Sebagai Muslim, iman adalah segalanya. Iman merupakan aset paling berharga. Iman telah menjadi kriteria pertama akan diterima atau tidaknya amalan kita...