Home Blog

Tips Move ON dari Mantan Pacar, Begini Ajaran Islam!

Tips Move ON dari Mantan Pacar
Photo by Buzzle.com

Tongkrongan Islami – Cinta keindahannya membuat kita buta. Karena putus cinta kadang kita bisa merana. Cinta, terkadang dihasilkan dari kekaguman mendalam hingga turun ke hati. Namun banyak orang yang tersesat dengan dalih cinta, mereka menjalin komunikasi dalam bentuk berpacaran.

Ingatlah pacaran tidak ada nikmat dan spesialnya. Dalam islam, ta’aruf bisa menjadi solusi terbaik. itupun, dilakukan dengan cara yang shar’i tidak bertentangan dengan ajaran Islam.

Ada di antara para remaja yang pernah punya mantan pacar dan sekarang sudah mengetahui bagaimana hukum pacaran. Namun sayangnya, bayangan wajah sang mantan pacar masih saja menggoda. Bahkan seringkali terbawa dalam mimpi.

Bagaimana cara untuk mengatasi hal ini?

Sekuat apapun upaya dan ikhtiar yang kita lakukan untuk mengejar cinta orang yang kita sayangi, jika memang Allah belum menghendaki maka tidak akan bersatu.

Melupakan mantan pacar memang bukanlah sebuah perkara yang mudah.

Perasaan cinta yang pernah kita punya tidak dapat hilang dengan begitu saja. Kecuali bila semuanya telah kita kembalikan hanya kepada Allah sang pemberi hati.

Orang Mukmin Harus Benci Kembali pada Maksiat yang dulu Pernah Dilakukan

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ثَلاَثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ حَلاَوَةَ الإِيمَانِ مَنْ كَانَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا ، وَمَنْ أَحَبَّ عَبْدًا لاَ يُحِبُّهُ إِلاَّ لِلَّهِ ، وَمَنْ يَكْرَهُ أَنْ يَعُودَ فِى الْكُفْرِ بَعْدَ إِذْ أَنْقَذَهُ اللَّهُ ، كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُلْقَى فِى النَّارِ

“Tiga perkara yang bisa seseorang memilikinya maka ia akan merasakan manisnya iman, yaitu: (1) Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai dari selain keduanya, (2) Ia mencintai saudaranya hanyalah karena Allah, (3) ia benci kembali pada kekufuran setelah Allah menyelamatkan darinya sebagaimana ia tidak suka jika dilemparkan dalam api.” (HR. Bukhari no. 21 dan Muslim no. 43).

Doa Untuk Melupakan Mantan Pacar

Jika selanjutnya perasaan cinta juga ingatan dengannya sangat sulit untuk dilupakan, walupun sudah berusaha untuk dapat menghapuskan semuanya, maka tak ada salahnya untuk selalu memohon petunjuk kepada Allah serta mohonkan pula doa untuk melupakan seseorang yang dicintai khususnya mantan pacar.

Doa untuk melupakan antan pacar yang masih membayangi hidup kita bisa Anda ucapkan dengan lafal apa saja.

Allah Maha Mengetahui dari semua bahasa, oleh karena itu tidak akan sulit untuk mencari apa doa yang pas. Lafalkan dengan niat dan hati yang tulus ikhlas.

Jadi semua ingatan dan bayangan yang terlintas tentang dia bisa dihapuskan. Walaupun begitu, jika Anda ingin munajat yang dipinta dapat lebih sempurn, maka Anda bisa membacakan doa agar melupakan mantan yang lafalnya terdapat pada QS Ar-Rad ayat 39 berikut ini:

يَمْحُو اللّهُ مَا يَشَاء وَيُثْبِتُ وَعِندَهُ أُمُّ الْكِتَاب

Allah menghapuskan apa yang Dia kehendaki dan menetapkan (apa yang Dia kehendaki), dan di sisi-Nya-lah terdapat Ummul-Kitab (Lauh mahfuzh).

Tips Melupakan Mantan Pacar Dengan Mudah

Daripada kita sibuk menulis status-status galau di sosial media, akan lebih baik jika kita lakukan hal-hal berikut ini supaya bisa melupakan mantan tanpa perlu meninggalkan kebencian. Dan pastinya kita akan siap untuk menerima cinta yang baru.

  1. Jalani hari- hari anda dengan taubat dan sesali selalu maksiat yang dulu pernah dilakukan.
  2. Sibukkan diri dengankegiatan dan hal yang manfaat. Karena kata Ibnul Qayyim, “Siapa yang tidak menyibukkan diri dengan hal yang manfaat pasti ia akan menyibukkan diri dengan hal-hal yang sia-sia.”
  3. Hijrah dari lingkungan yang penuh maksiat.
  4. Jauhi pergaulan dengan orang yang biasa dengan pacaran.
  5. Jika masih saja mengingat mantan pacar, usahakan mengalihkan pikiran ataupun bayangkan saja sifat-sifat jeleknya jadi mudah untuk melupakannya.
  6. Hindari sering berkumpul dengan lawan jenis kecuali jika perlu.
  7. Berniat serius menikah dan tidak ingin pacaran lagi. Cukup dan ta’aruf dengan jalan yang benar.

Inilah Fakta Pacaran Tidak ada Nikmatnya

Fakta Pacaran Tidak ada Nikmatnya
Photo by AboutIslam.net

Tongkrongan Islami – Dewasa ini, fenomena pasangan remaja putera puteri nongkrong di restoran, kafe, jembatan, pinggir jalan atau di mana saja dapat kita temui. Mereka begitu asyik mengumbar kebersamaan yang sering disebut kemesraan. Menunjukkan bahagianya mereka saling berbagi satu sama lain dibalik jalinan hubungan yang bernama pacaran.

Rasa cinta pada lain jenis adalah sesuatu yang alami bagi manusia. Karena cintalah, kehidupan umat manusia di dunia dapat terjaga. Oleh sebab itu, Allah Ta’ala telah menjunjung tinggi martabat wanita, bahkan dikatakan menjadi perhiasan di dunia.

Islam agama yang sempurna telah mengatur bagaimana caranya menyalurkan fitrah cinta dalam syariatnya yang rahmatan lil ‘alamin. Tetapi, bagaimanakah bila cinta itu disalurkan dengan cara yang tidak syar`i? Bermesraan layaknya suami istri?

Fenomena demikianlah yang melanda hampir dari sebagian besar anak muda sekarang ini. Penyaluran cinta yang berlebihan, yang mereka sebut dengan pacaran.

Ketahuilah Pacaran itu Tidak Nikmat & Tidak Spesialnya

Manakah yang lebih enak? Menyentuh wanita sesudah nikah ataukah sebelum nikah? Memandang wanita setelah nikah atau sebelum nikah? Berboncengan berdua sesudah nikah atau sebelum nikah? Jalan berduaan bergandengan tangan setelah nikah ataukah sebelum nikah? Kata-kata mesra lebih menyenangkan diucapkan setelah nikah ataukah sebelum nikah?

Kalau sudah disentuh sebelum nikah, pastilah sudah tidak ada nikmatnya lagi sesudah nikah. Kalau sudah puas dipandang sebelum nikah, sudah tidak ada deg-degannya lagi nanti setelah nikah. Kalau berboncengan sudah biasa sebelum nikah, tidak ada lagi spesialnya boncengan setelah nikah. Sama halnya dengan jalan berdua. Apalagi berzina lebih dulu.

“حفت الجنة بالمكاره وحفت النار بالشهوات”

“Surga itu dihiasi dengan perkara-perkara yang dibenci sedangkan neraka dihiasi dengan hal-hal yang disukai.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Baca Juga: 5 Hal yang Bisa Membuat Pernikahan Lebih Awet

Mari Kita Pikirkan!

Kalau demikian …Ngapain harus pacaran bertahun2?

Kalau gitu … Ngapain tidak segera dinikahi saja wanita pilihannya?

Biar bisa memperoleh hal spesial dan nikmat di atas, daripada kita terus menerus berada dalam kubangan dosa.

4 Bahaya Pacaran dalam Islam

Pacaran dalam Islam dilarang bukan tanpa sebab apapun. Selain mendekati zina yang bagian dari dosa besar, perilaku ini dapat memicu bermacam-macam bahaya yang tidak hanya menimbulkan kerugian bagi diri sendiri tapi juga berdampak pada kehidupan orang alain.

Wabilkhusus bagi remaja yang telah terjerumus dalam budaya pacaran itu. Bahaya yang semetinya mereka dan orang tua ketahui akibat berpacaran. Sehingga segera bisa meninggalkan perilaku tersebut. Juga untuk remaja yang tak melakukannya, supaya semakin berhati-hati agar tak terjerumus.

  1. Mendekali Zina
  2. Menimbulkan banyak kerugian
  3. Menghilangkan Konsentrasi
  4. Mengganggu kehidupan bermasyarakat

Pacaran Dilarang Dalam Islam Inilah Rahasia Ilmiahnya

Hasil riset mengemukakan, wajah biasanya akan memanas saat kita sedang mengalami tekanan atau stres, takut, ataupun marah. Emosi lain juga dapat memengaruhi perubahan suhu tubuh.

Peneliti telah melakukan eksperimen pada sejumlah laki-laki dan perempuan di Inggris. Mereka telah dibagi jadi dua kelompok. Kelompok pertama diberikan rangsangan dengan memperlihatkan foto dari perempuan heteroseksual.

Sambil diberi sentuhan pada beberapa bagian tubuh misalnya lengan, wajah, telapak tangan dan dada, dengan memakai sinar probe. Sedangkan di kelompok lain, responden mendapat sentuhan yang nyata dari pasangan pada bagian tubuh yang sama.

Ketika merasa sentuhan itu, perempuan mengalami peningkatan suhu kulit hingga 10 derajat Celcius. Efeknya tidak cukup besar memang, karena bagian tubuh yang disentuh lengan atau telapak tangan sedangkan bagian dada dan wajah paling banyak mengalami perubahan. Lonjakan suhu tiga kali lebih besar saat experimenter-nya pria.

Baca Juga: Menikah, Cara Terbaik Menjaga Kesucian Diri!

Tapi ketika pria menyentuh bagian dada dan wajah wanita, maka suhu tubuhnya akan meningkat lebih panas 0,3 derajat Celsius. Bagi pasangan lelaki dan perempuan yang sedang pacaran, inilah alasan dan sebab mengapa Anda tak perlu bersentuhan dengan yang bukan mahram.

Mengenal Nama-nama Neraka dan Kriteria Penghuninya, Na’udzubillah!

Nama-nama Neraka dan Kriteria Penghuninya
Photo by Arrisalah.net

Tongkrongan Islami – Siapapun tidak akan pernah mau jika dimasukkan ke dalam neraka, bahkan ahli maksiat sekalipun. Sebaliknya, siapapun menginginkan masuk surga. Banyaknya penjelasan yang mengungkapkan bagaimana dahsyatnya siksaan yang diterima di neraka membuat siapa pun ngeri dan takut menghadapinya.

Neraka adalah balasan bagi manusia yang durhaka kepada perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala. Beberapa ayat dalam Al-Qur’an maupun Al-Hadist menjelaskan tingkatan neraka dan bagaimana kriteria penghuninya. Berikut ini adalah nama-nama neraka yang bisa kita ketahui dan semoga Allah melindungi kita semua dari siksa api neraka.

  1. Neraka Jahanam

Neraka Jahanam diperuntukkan bagi manusia yang kafir, durhaka kepada Allah dan mengikuti syaithan. Dimana syaithan bukan hanya membujuk manusia untuk melakukan perbuatan yang keji maupun ingkar tetapi juga membuat manusia terjebak dalan ibadah yang tidak diterima oleh Allah. Oleh karena itu kita harus senantiasa berhati-hati dengan bujuk rayu syaithon yang seolah indah padahal menjauhkan kita dari jalan Allah yang lurus.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Dan sesungguhnya Jahanam itu benar-benar tempat yang telah diancamkan kepada mereka (pengikut-pengikut) syaithan semuanya.”  (QS. Al-Hijr: 43).

Allah juga berfirman: “Bahwasanya orang-orang kafir dan orang aniaya itu tidak akan diampuni oleh Allah, dan tidak pula ditunjuki jalan, melainkan jalan ke Neraka Jahanam.  Mereka kekal di dalam neraka itu selama-lamanya. Yang demikian itu mudah bagi sekali bagi Allah.”  (QS. An-Nisa’: 169).

Dalam sebuah riwayat juga disebutkan bahwa Malaikat Jibril memberitahukan kepada Nabi Muhammad Sallallahu ‘alaihi wa Sallam bahwa Neraka Jahanam dihuni oleh umat Nabi yang melakukan dosa besar dan mati sebelum bertaubat.  Na’udzubillah.

  1. Neraka Jahim

Neraka Jahim diperuntukkan bagi manusia yang sesat bahkan bisa dikategorikan dalam perbuatan syirik. Oleh karena itu kita harus senantiasa belajar dan meningkatkan pemahaman serta ilmu agama, sehingga mengetahui secara pasti mana yang benar dan mana yang salah agar tidak terjebak dalam perbuatan yang dimurkai Allah.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: Dan diperlihatkan dengan jelas Neraka Jahim kepada orang-orang yang sesat.”  (QS. Ay-Syu’araa: 91).

  1. Neraka Hawiyah

Neraka Hawiyah diperuntukkan bagi manusia yang ringan timbangan amal perbuatan baiknya. Dimana mereka mencampuradukkan amal perbuatan yang baik dengan yang munkar, seperti misalnya mencari rezeki dengan cara yang tidak halal, memakan riba dan perbuatan lainnya yang tidak sesuai dengan tuntunan agama Islam.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Dan adapun orang-orang yang ringan timbangan (kebaikan)nya, maka tempat kembalinya adalah Neraka Hawiyah. Tahukah kamu apa Neraka Hawiyah itu? (yaitu) api yang sangat panas.”  (QS. Al-Qari’ah: 8-11).

  1. Neraka Wail

Neraka Wail diperuntukkan bagi para pedagang atau pengusaha yang curang, yaitu dengan mengurangi takaran timbangan maupun mencampurkan dagangan yang tidak bagus ke dalam barang dagangannya.

Serta mencalokan barang dengan tujuan mendapatkan keuntungan yang berlipat. Neraka ini juga diperuntukkan bagi mereka yang riya’, suka menumpuk harta dan tidak mengeluarkan zakat serta lalai dalam shalatnya.

Allah SWT berfirman: “Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya, orang-orang yang berbuat riya’ dan enggan (menolong dengan) barang berguna.”  (QS. Al-Ma’un: 4-7).

  1. Neraka Sa’iir

Neraka Sa’iir diperuntukkan bagi orang-orang kafir dan mereka yang suka memakan harta anak yatim. Sebagaimana firma Allah SWT yang artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta anak yatim secara zalim, sebenarnya mereka itu menelan api sepenuh perutnya dan mereka akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka).”  (QS. An-Nisa’: 10).

  1. Neraka Saqar

Neraka Saqar diperuntukkan bagi orang-orang yang munafik serta mendustakan perintah Allah dan Rasul-Nya. Mereka sudah mengetahui tentang hukum Islam namun meremehkan syari’atnya,

Allah SWT berfirman: “Apakah yang memasukkanmu ke dalam Saqar (neraka)? Mereka menjawab:  ‘Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat, dan kami tidak (pula) memberi makan orang miskin, dan adalah kami membicarakan yang bathil, bersama dengan orang-orang yang membicarakannya, dan adalah kami mendustakan hari pembalasan, hingga datang kepada kami kematian’.” (QS. Al-Mudatsir: 42-47).

  1. Neraka Huthamah

Neraka Huthamah diperuntukkan bagi manusia yang kikir, selalu menumpuk-numpuk hartanya, menghitung-hitung dan tidak pernah membayar zakat karena takut akan mengurangi hartanya, serta orang-orang yang suka menghina dan mencela kekurangan orang lain.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Kecelakaanlah bagi setiap pengumpat lagi pencela, yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitung. Dia mengira bahwa hartanya itu dapat mengekalkannya. Sekali-kali tidak! Sesungguhnya dia benar-benar akan dilemparkan ke dalam Huthamah.” (QS. Al-Humazah: 1-4).

Baca Juga:

  1. Inilah Sebabnya Mengapa Dosa Selalu Menggelisahkan Hati
  2. Dahsyatnya Sakaratul Maut, Seperti Apa Persiapan Kita?
  3. Nama-nama Surga dan Calon Penghuninya, Apakah Kita Salah Satunya?

Semoga Allah melindungi kita dari siksa kubur dan siksa api neraka. Allahumma Aamiin.

Materi Kultum Terbaru Muslim Rahiim

Materi Kultum Terbaru Muslim Rahiim
Photo by AvePress.com

Tongkrongan Islami – Konsep menyeyangi dalam Islam bisa dilacak dari narasi sejarah perjalanan Nabi Muhammad SAW. pra-pewahyuan. Pelacakan ini akan memberikan kita pelajaran berharga terkait dengan sosok Nabi, sebagai manusia biasa yang santun, ramah, memiliki etos kerja yang baik, dan disayangi oleh penduduk Makkah.

Panutan masyarakat Makkah pada masa itu kalah populer dibandingkan Nabi Muhammad SAW, secara perlahan namun pasti nama Muhammad SAW dikenal oleh penjuru Arab-Makkah. Terlebih para ahl kitab yang sudah mengenai keagungan dan kelembutan Nabi dari narasi kitab Injil, akan datangnya nabi Muhammad SAW.

Dalam ajaran islam spesifik, istilah menyayangi biasanya difahami sebagai tasawwuf. Dan para pengikut tasawwuf biasanya menjadikan nabi sebagai puncak cerminan kehidupan beragama dan sosial, melipti: kesederhanaan, ketundukan, mengasihi, kelembutan dan kesabaran hati.

Dari ajaran-ajaran tasawuf secara nyata jelas berbeda dengan nuansa keberagamaan lain, mengingat pola keberagamaan Muslim juga banyak, apalagi konteks awal islam pasca wafatnya Nabi.  Istilah “menyatangi” mengacu pada sifat yang tidak hanya disukai oleh manusia, tetapi juga dicintai oleh Allah sendiri. Hadits populer yang menyebuttkan:

“الرَّاحِمُونَ يَرْحَمُهُمُ الرَّحْمَنُ, ارْحَمُوا مَنْ فِي الْأَرْضِ يَرْحَمُكُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ”

Persoalan yang melanda umat beriman sekarang ini diantaranya kurangnya rasa mengasihi. Dengan demikina, sangat perlu untuk melihat pengalaman iman dan cinta para sufi.

Sebagaimana yang telah disinggung di atas, pada dasarnya segala perbuatan atau sikap yang ditampilkan oleh para pemeluk agama dengan varian dan bentuk yang berbeda hendak menunjukkan pola kecintaannya kepada Sang Khaliq.

Hanya saja jika ekpresi cinta itu dilakukan dengan cara yang tidak baik, maka hasil yang akn dipetik tidak baik pula. Agam jika diresai dari perjalanan Nabi, akan didapatkan pemahaman “agama adalah kebaikan”, kebaikan yang ditempuh dengan cara baik, kebaikan yang akan dihasilkan dari prilaku baik.

Kebaikan Nabi merupakan uswah ideal, bahwa dalam posisi keseharaiannya beliau menampakkan iman dan cinta menyatu.  Hal tersebut mendorong jiwa beliau untuk melakukan apa yang diyakininya sebagai cinta dan kebenaran sejati. Allah telah berfirman dalam QS. Al-Baqarah: 165 tentang cinta karena iman.

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَتَّخِذُ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَنْدَادًا يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللَّهِ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ وَلَوْ يَرَى الَّذِينَ ظَلَمُوا إِذْ يَرَوْنَ الْعَذَابَ أَنَّ الْقُوَّةَ لِلَّهِ جَمِيعًا وَأَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعَذَابِ

Ayat diatas menerangkan iman yang penting dibarengi dengan cinta. Muslim seharusnya mengikuti liku demikian, tidak memisahkan iman dan cinta, keyakinan dan mengasihi, ketegasan dan niat untuk berlaku lembut.

Karena iman dan cinta, maka ajaran kekerasan itu tidak berarti dibenarkan dalam ajaran tasawuf. Sebaliknya, hal tersebut bertentangan dengan prinsip-prinsip dasar ajarannya, seperti kasih sayang, keindahan, kedamaian, dan toleransi antar sesama umat manusia.

Dalam alur keberagamaan Muslim kekinian, memahami agama harus menyadari adanya “wajah ganda agama”. Di satu sisi, agama menawarkan pengalaman ruhani yang dalam, misterius, dan sangat pribadi. Sementara di sisi lain, agama sering terekspresikan dalam wujud yang kaku, kering, dan formal.

Wajah ganda agama itulah yang, agaknya, menjadi alasan, mengapa tiap kali menulis tentang agama, seseorang harus meyakinkan dirinya bahwa subjek yang dibahasnya sebenarnya tidak ada, namun dirasakan, demikian disebut Ihsan.

Seolah kita merasa adanya kehadiran Allah dengan melihatnya, padahal sejatinya Ia lah yang nelihat kita dengan segala kuasaNya. Islam dan mengasihi, muslim yang mengasihi akan menjadi pilar keberagamaan yang kuat bagi peradaban Islami, yang akan memami agama Islam tidak hanya melalui jalur syar’i (formal), melainkan sebisa mungkin menghadirkan baginda Rasul dalam kehidupannya.

Materi Kultum Terbaru Takwa Sebagai Semangat Kehidupan Sosial

Materi Kultum Terbaru Takwa Sebagai Semangat Kehidupan Sosial
Photo by Palupiutami.wordpress.com

Tongkrongan Islami – Taqwa mengandung makna yang bervariasi di kalangan ulama. Namun, secara umum taqwa bisa difahami sebagai bentuk penghambaan dan penghayatan seorang Hamba kepada sang pencipta, Allah swt.  Karena itu, taqwa dapat dikatakan pula sebagai agama itu sendiri.

Takwa dan agama taubahnya dua sisi mata uang yang saling terkait. Bertaqwa berarti menyadari bahwa Allah men-syari’atkan agamaNya tidak hanya sebagai petunjuk bagi umat manusia dalam perkara-perkara kebahagiaan di akhirat saja, namun juga mensyari’atkan agama ini untuk menunjuki manusia dalam urusan kehidupan dan kebahagiaan mereka di dunia ini.

Agama Islam telah menyentuh segala segi kehidupan manusia, mulai dari segi aqidah, aspek politik, bidang ekonomi hingga lapangan sosial kebudayaan. Namun, lapangan realitas keagamaan ini di dunia yang modern, secara lebih spesifik realitas di Negara Kita, nampaknya semakin memprihatinkan.

Dalam segi aqidah banyak sekali umat Islam yang hingga kini masih sibuk menyalahkan orang lain, bahkan mengkafirkan orang lain. Kemudian dalam aspek politik, kita dipertontonkan pada permainan yang keruh penuh rekayasa, retorika semu dan praktik korupsi yang banyak dilakukan oleh mereka yang mengaku Muslim.

Begitu pula dalam bidang ekonomi, sistem keuangan yang menjerit rakyat jelata masih mendominasi kehidupan kita. Akibatnya, makin lebarnya jurang antara si kaya dan si miskin. Sementara itu, dalam lapangan sosial budaya, hampir setiap hari kita disuguhi kebobrokan moral. Setiap hari kita menyaksikan pemberitaan mengenai: perzinaan, pemerkosaan, pembunuhan, kasus narkoba dan sebagainya.

Realitas ini membuat kita bertanya, dimana wajah agama kita?  Pertanyaan ini meransang pemikiran kita untuk mehidupkan kembali konsep takwa, serta menjadikannya sebagai semangat dalam menjalani kehidupan didunia ini.

Al-Qur’an merupakan kitab suci yang berisi aturan-aturan yang mengatur segala aspak kehidupan manusia, baik itu hubungan kepada Sang Khaliq (hamlum minallah), maupun hubungan kepada sesama mahluk (hablum minan nas).

Adapun sikap taqwa lahir dari adanya kesadaran moral dan kepekaan nurani seorang Hamba. Manusia yang bertaqwa adalah manusia yang memiliki kepekaan moral yang teramat tajam untuk menngerjakan atau tidak mengerjakan  sesuatu perbuatan. Orang yang bertaqwa memiliki mata batin menembus jauh untuk melihat yang baik itu baik dan yangn buruk itu buruk.

Dalam al-Qur’an dinnyatakan, bahwa Kitab Suci Al – Qur’an menjadi pedoman dan penunjuk bagi orang – orang yang bertaqwa (atau هدا للمتقين). Betapa pentingnya nilai taqwa, hingga ia merupakan bekal yang terbaik dalam menjalani kehidupan di dunia. Dan betapa tinggi derajat taqwa, hingga manusia yang paling mulia di sisi Allah adalah orang yang paling taqwa. Sebagaimana hadits rasulullah, إن أكرمكم عند الله أتقاكم .

Berbicara masalah taqwa, maka contoh atau uswah yang paling nyata adalah baginda Rasulullah saw. Beliaulah seorang Nabi yang salih secara individual maupun sosial. Sikap ketaqwaannya telah membawa beliau menjadi seorang yang menanamkan nilai agama dalam segala segi kehidupan, mulai dari politik, ekonomi hingga sosial.

Dengan pondasi ketaqwaan, beliau mengubah roda ekonomi kapital menjadi ekonomi islami, dengan menghilangkan prinsip gulul (tipu daya) dan diganti dengan prinsip ­antaradin (negosiasi). Hal yang sama beliau lakukan dalam merubah pola fikir masyarakatnya, dari nafsu al-lawwamah jiwa yang keras dan suka memberonta menjadi nafsu al-muth’mainnah jiwa yang tenah, teduh dalam kehidupan. Sehingga, sebagai Muslim yang bertaqwa, Nabi bukan hanya seorang hamba yang ta’at beribadah (‘Abid), namun juga sebagai penggerak dalam semua lini kehidupan.

Ceramah Agama Memahami Makna Spiritualitas dalam Al-Qur’an

Ceramah Agama Memahami Makna Spiritualitas dalam Al-Qur'an

Tongkrongan Islami – Spiritualitas berasal dari kata spirit (ruh). Dalam al-Qur’an, term yang merujuk kata spirit antara lain adalah ruh. Kata ruh dengan berbagai ragam artinya terulang sebanyak dua puluh satu kali.

Itulah sebabnya, dalam bahasa Arab, kata ruhaniyyah bisa diartikan dengan spiritualitas, dan memang  persoalan spiritualitas memang ada hubungannya dengan potensi ruhani manusia untuk beriman dan komunikasi dengan Tuhan. Maka sebenarnya substansi spiritualitas adalah keimanan kepada Tuhan itu sendiri, sebagai ruh (spirit) dalam kehidupan ini dan  Dialah  sumber  energi spiritualitas.

Dalam kajian filsafat, spiritualisme merupakan istilah yang bisa dimaknai dua perspektif, filosofis dan agamis (religius). Secara filosofis, istilah spiritulisme sering diidentikan dengan idealisme. Sedangkan dalam kaitan religius, istilah spiritualisme dihubungkan dengan paham tentang penjelmaan roh.

Dalam Al-Qur’an, dijelaskan bahwa ruh ditiupkan langsung oleh Allah sewaktu menciptakan manusia: ‘Maka apabila Aku Telah menyempurnakan penciptaannya  (kejadiannya), dan Telah meniupkan kedalamnya ruh (ciptaan)-Ku, Maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud (Q.S. al-Hijr [15]: 29).

Itulah mengapa manusia, baik laki-laki maupun perempuan memiliki kecenderungan untuk berkomnikasi dan ‘berhubungan intim’ dengan Tuhan sebagai ekspresi spiritualitasnya.

Hal itu dilakukan dengan misalnya melalui ritual-ritual tertentu. Dalam dunia sufi, diyakini bahwa manusia memiliki unsur lahut (bersifat ilahiyah) dan nasut (unsur insaniyah). Unsur lahut itulah yang menyebabkan dirinya merasa perlu dekat dengan Tuhan. Terlebih di saat manusia dalam kondisi takut dan gelisah.

Naluri fitrahnya akan memanggil-manggil untuk menghampiri Dzat yang membawa kedamaian (al-Salam). Al-Qur’an pun menegaskan bahwa Tuhan  memang dekat dengan hamba-Nya, bahkan lebih dekat dari urat nadi. (Q.S. Qâf [50]: 16).

Dalam menghampiri spiritualitas, apa yang disyaratkan oleh al-Qur’an mengenai spiritualitas sesungguhnya punya banyak arti. Terlebih ketika istilah tersebut diletakkan dalam konteks yang berbeda-beda.

Siapa saja yang memandang Tuhan sebagai norma yang penting dan menentukan atau prinsip hidupnya, maka dapat disebut sebagai spiritualis, sedangkan aktifitasnya disebut dengan spiritualitas.

Tuhan dalam konteks spiritualitas harus dipandang sebagai sumber nilai kebaikan dan keindahan. Ini diisyaratkan dalam nama-nama-Nya yang baik al-asma’ al-husna yang bisa dijadikan sarana berdoa [Q.S. al-A`râf [7]: 179).

Lebih dari itu,  Tuhan mesti diletakkan sebagai spirit (jiwa, nafs) dalam setiap  perilaku dan tindakan kita dalam menjalani  kehidupan. Oleh sebab itu, seorang spiritualis sejati adalah seorang mengabdikan diri untuk menyemai nilai-nilai kebaikan, keindahan, keadilan, kejujuran, kesetiaan,  ketulusan, sebagai  bukti bahwa dirinya ingin membumikan nilai-nilai ketuhanan  dalam hidupnya. Jika demikian, maka bisa dikatakan bahwa keseluruhan al-Qur’an menyoroti pentingnya cara kerja dan prinsip orang beriman.

Dalam al-Qur’an, ada sekian banyak ayat yang bisa di kemukakan berkaitan spiritualitas tersebut, antara lain:

Pertama, Prinsip beriman kepada Allah Swt. Ada  lima belas ayat yang terbentang dalam al-Qur’an berkaitan dengan perintah  beriman Allah Swt.

Antara lain (Q.S. Ali Imrân [3]: 72,279, 193,  al-Nisâ’ [4]: 47, 136, 170, 171, al-Mâidah [5]: 111, al-A`râf [7]: 157,  al-Taubah [9]: 86, al-Isrâ’ [17]: 107,  al-Ahqâf [46] :31, al-Hadîd [57]: 7, 28,  dan al-Taghâbun [64]: 8.

Kedua, Prinsip tauhid dan tidak menyekutukan-Nya. Prinsip ini merupakan elemen ini dari spiritualitas. Ada sekian banyak ayat yang melarang menyekutukan Tuhan., antara lain  (Q.S Ali  Imrân [3]:  64, al-Hajj [22]: 26), dan al-Nisâ’ [4]: 48).

Ketiga, Membenarkan nilai-nilai  kebaikan dan beramal shaleh, antara lain  (Q.S. al-Kahfi 18]: 88, al-Najm [53]: 31,  al-Taubah  [9]: 121, al-Nahl [16] :96).

Keempat, Menjaga nilai-nilai humanisme, antara lain (Q.S. al-Anbiyâ’:[21]: 107).

Kelima, Menjaga alam sekitar dan tidak membuat kerusakan di muka bumi  antara lain ( Q.S. al-Maidah [5]: 32, al-A’râf [7]: 56, 85, al-Syu’arâ’ [26]: 152)

keenam Mempercayai adanya kehidupan akhirat, antara lain  (Q.S. al-Baqarah [2]: 62,  al-Mâ’ida [5]: 69,  al-Taubah [18]: 9).

Apakah Adzan dan Iqamah Harus dilakukan oleh Orang yang Sama?

Apakah Adzan dan Iqamah Harus dilakukan oleh Orang yang Sama
Photo by Jejakimani.com

Tongkrongan Islami – Di dalam masyarakat kita banyak yang mempertanyakan apakah adzan dan iqamah harus dilakukan oleh orang yang sama? atau bolehkah dilakukan oleh orang yang berbeda? mana yang lebih utama?

Atas dasar pertanyaan tersebut, di bawah ini kami kutipkan beberapa hadis yang berhubungan dengan permasalah di atas.

عن زياد بن الحارث الصدائي قال قال رسول الله صلى الله عليه وآله و سلم يا اخا صداء اذّن فأذنت و ذالك حين اضاء الفجر قال فلما توضأ رسول الله صلى الله عليه وآله و سلم قام الى صلاة فاراد بلال ان يقيم فقال رسول الله صلى الله عليه وآله و سلم يقيم اخو صداء فانّ من اذن فهو يقيم

Ziyad bin al-Harits ash-Shuda’iy berkata: Rasulullah saw. Bersabda ”Hai saudaraku Shuda adzanlah!” ia berkata ”lalu aku adzan” ketika fajar sudah bersinar ia berkata: kemudian tatkala Rasulullah saw. berwudlu kemudian berdiri hendak shalat tiba-tiba Bilal berkehendak iqamat lalu Rasululla saw. Bersabda ”Hendaklah saudaraku Shada yang iqamat karena siapa yang adzan dialah yang iqamat.” diriwayatkan oleh imam lima kecuali Nasa’i sedangkan lafadz hadis ini bagi Imam Ahmad.

Dari hadis di atas jelas bahwa adzan dan iqamat dilakukan oleh satu orang namun para ahli ilmu sepakat bahwa jika yang iqamat bukan dia yang adzan boleh saja, berpegang pada hadis Abdullah bin Zaid

عن عبدالله بن زيد أنه اري الأذان قال فجئت الى النبي صلى الله عليه وآله و سلم فاخبرته فقال القه على بلال فالقيته فاذّن فاراد ان يقيم فقلت يا رسول الله انا رايت اريد ان اقيم قال فاقم انت فاقم هو و اذن بلال

Sesungguhnya Abdullah bin Zaid bermimpi adzan. Ia berkata:” lalu aku pergi ke tempat Nabi saw. untuk menceritakan hal itu. Kemudian Nabi saw bersabda “Sampaikanlah hal itu kepada Bilal” lalu aku sampaikan kepadanya. Kemudian Bilal adzan. Kemudian ketika ia hendak iqamat aku berkata “Ya Rasulullah aku mimpi hendak iqamat” lalu Nabi saw. manjawab ”kalau begitu qamatlah.!” kemudian Abdullah iqamat sedang Bilal adzan. (HR. Ahmad).

Baca Juga:

  1. Bacaan Doa Sebelum dan Sesudah Adzan
  2. Bagaimanakah Tata Cara Menjawab Adzan?

Namun mereka berbeda pandangan mengenai mana yang lebih utama, sebagian besar mengatakan tidak ada bedanya. Berpegang pada riwayat Ziyad bin al-Harits Ashadai lebih utama karena hadis Abdullah bin Zaid terjadi pada permulaan disyari’atkanya adzan sedang hadis Ziyad bin Al Harits terjadi sesudahnya.

Kultum Islam Ajaran Dasar Agama Cinta

Kultum Islam Ajaran Dasar Agama Cinta

Tongkrongan Islami – Kasih sayang merupakan anugerah dari Allah bagi setiap manusia, termasuk diantaranya adalah kaum Muslim sebagai hambanya. Kasih sayang seseungguhnya melampaui pemikiran, karena itu hewan sebagai ciptaan Allah juga memiliki kasih sayang, walaupun ia tidak dianugerahiNya sebuah pemikiran.

Dalam Islam, hal demikian menjadi ajaran fundamental agama, sebagaimana yang sering kita dengan Agama Islam sebagai agama kasih, dan Nabi Muhammad adalah hamba yang selalu mengasihi, juga sebagai Rasul yang mengajarkan cinta kasih.

Paradigma Islam agama rahmat ini sejalan dengan paradigma ketuhanan dalam Islam. Allah  dalam al-Qur’an menyatakan bahwa Dia mewajibkan diri-Nya untuk memiliki sifat kasih (Q.S. al-An’am, 6: 12):

قُلْ لِمَنْ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ قُلْ لِلَّهِ كَتَبَ عَلَى نَفْسِهِ الرَّحْمَةَ لَيَجْمَعَنَّكُمْ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ لَا رَيْبَ فِيهِ الَّذِينَ خَسِرُوا أَنْفُسَهُمْ فَهُمْ لَا يُؤْمِنُونَ

Katakanlah, ”Kepunyaan siapakah apa yang ada di langit dan di bumi?” Katakanlah, ”Kepunyaan Allah.” Dia telah menetapkan atas diri-Nya kasih sayang. Dia sungguh-sungguh akan menghimpun kamu pada hari kiamat yang tidak ada keraguan terhadapnya. Orang-orang yang merugikan dirinya, mereka itu tidak beriman.

Ayat di atas menjelaskan bahwa sifat dasar-Nya adalah cinta-kasih. Sifat-sifat yang lain dan perbuatan-perbuatan-Nya didasarkan pada sifat dasar itu, sehingga ketika memperkenalkan diri-Nya dalam al-Fatihah, surat pertama dan bagian dari al-Qur’an yang paling banyak dibaca umat Islam, Dia sampai dua kali menyebut diri-Nya sebagai Maha Pengasih dan Maha Penyayang (rahman-rahim).

Pertama dalam ayat pertama sebagai perkenalan pertama dan kedua dalam ayat ketiga  sebagai penegasan cinta-kasih-Nya dalam menciptakan dan memelihara alam semesta. Karena itu wajar jika risalah Islam yang diwahyukan sebagai bagian dari perbuatan-Nya memelihara alam semesta pun merupakan agama rahmat, agama cinta kasih. Dalam Q.S al-Anbiya’ ayat 107, Allah juga menegaskan:

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ

“dan tiadalah kami mengutusmu (Muhammad) kecuali untuk memberi rahmat kepada seluruh alam”

Dalam ayat 107 S. Al-Anbiya itu ditegaskan bahwa Islam  menjadi rahmat bagi seluruh alam (al-’alamin). Al-’Alamin adalah jamak dari ’alam (alam). Alam adalah semua wujud selain  Tuhan.

Semua wujud itu disebut alam (dalam bahasa Arab ’alam juga berarti tanda), karena mereka menjadi media untuk mengenal Allah, penciptanya. Namun jika dihubungkan dengan istilah lain yang akar katanya sama (’-l-m), ’ilm, (ilmu), maka bisa dipahami bahwa alam itu diciptakan dengan ilmu.  Alam yang sedemikian kompleks tidak mungkin diciptakan tanpa berdasar ilmu.

Penyataan bahwa risalah Nabi itu  menjadi rahmat bagi seluruh alam, apapun pengertian  alam yang dirujuk, menegaskan  Islam sebagai agama universal yang diperuntukkan bagi umat manusia di seluruh dunia di sepanjang   zaman.

Nabi memang orang Arab dan bahasa al-Qur’an pun bahasa Arab, namun risalahnya melampaui ruang dan budayanya sehingga menjangkau bangsa-bangsa di kawasan lain. Secara teologis merupakan hak dan rahasia Allah untuk memilih aktor dan latar belakang Arab sebagai media pewahyuan agama universal yang  diturunkan-Nya, namun secara sejarah hal itu merupakan sesuatu yang rasional.

Bahasa Arab ketika itu merupakan bahasa yang sangat indah dan kaya sehingga sangat sesuai untuk mengekspresikan pesan-pesan yang universal dan abadi dalam ungkapan-ungkapan penuh makna.

Karena universalitas merupakan karakteristik Islam, maka sejak awal para pemeluknya tidak hanya berasal dari bangsa Arab, tetapi juga dari bangsa-bangsa di luar yang sudah mendengar dakwahnya.

Karena itu pula setelah dakwah di kalangan bangsanya sendiri berkembang, Nabi berdakwah kepada raja-raja di sekitar Arabia (Romawi Timur, Persia dan Ethiopia) dengan mengirimkan surat berisi seruan kepada Islam yang dibawa langsung oleh utusan-utusannya. Islam yang hadir dalam sejarah dengan latar belakang budaya Arab pada awal abd ke-7 M, karena universalitasnya, harus berjumpa dengan budaya-budaya lain.

Dalam perjumpaan antarbudaya pasti terjadi akulturasi. Akulturasi adalah  perubahan besar dalam kebudayaan yang terjadi sebagai akibat dari kontak antarkebudayaan yang berlangsung lama. Dengan demikian, dasarnya sebagai agama cinta adalah perekat yang akan menyatukan Islam sebagai ajaran dan nilai dengan segala ragam kehidupan manusia, hingga Islam akan hadir dan berjalan lintas etnis, budaya dan generasi.

Mengenang Kisah Wafatnya Rasulullah SAW

Kisah Wafatnya Rasulullah SAW
Photo by Penjagawahyu.com

Tongkrongan Islami – Sekembalinya dari ibadah haji perpisahan, pikiran dan perhatian Muhammad tertuju ke bagian utara, sebab daerah selatan sudah tidak perlu dikuatirkan lagi. Sebenarnya sejak terjadinya ekspedisi Mu’ta, dan Muslimin kembali dengan membawa rampasan perang dan sudah merasa puas pula melihat kepandaian Khalid bin’l-Walid menarik pasukan, sejak itu pula Muhammad sudah memperhitungkan pihak Rumawi matang-matang.

Ia berpendapat kedudukan Muslimin di perbatasan Syam itu perlu sekali diperkuat, supaya mereka yang dulu pernah keluar dan jazirah ini ke Palestina, tidak kembali lagi menghasut perang dan mengerahkan penduduk daerah itu. Oleh karena itu ia menyiapkan pasukan perangnya yang cukup besar, seperti persiapannya yang dulu, tatkala ia mengetahui rencana Rumawi hendak menyerbu perbatasan jazirah itu dan dia sendiri yang memimpin pasukan sampai di Tabuk. Tetapi waktu itu pihak Rumawi sudah menarik pasukannya sampai ke perbatasan dalam negeri dan ke dalam benteng mereka sendiri.

Sungguh pun begitu daerah utara ini harus tetap diperhitungkan, kalau-kalau kenangan lama – di bawah lindungan Kristen dan pihak yang merasa berkuasa di bawah Imperium Rumawi waktu itu – akan bangkit kembali dan mengumumkan perang kepada pihak yang pernah mengeluarkan orang-orang Nasrani di Najran dan di luar Najran di bilangan Semenanjung Arab itu.

Pasukan Usama

Selesai ibadah haji perpisahan di Mekah, belum lama lagi kaum Muslimin tinggal di Madinah, Nabi mengeluarkan perintah supaya menyiapkan sebuah pasukan besar ke daerah Syam, dengan menyertakan kaum Muhajirin yang mula-mula, termasuk Abu Bakr dan Umar. Pasukan ini dipimpin oleh Usama b. Zaid b. Halitha.

Usia Usama waktu itu masih muda sekali, belum melampaui duapuluh tahun. Kalau tidak karena terbawa oleh kepercayaan yang teguh kepada Rasulullah, pimpinan Usama atas orang-orang yang sudah lebih dahulu dan atas kaum Muhajirin serta sahabat-sahabat besar itu, tentu akan sangat mengejutkan mereka. Tetapi ditunjuknya Usama b. Zaid oleh Nabi dimaksudkan untuk menempati tempat ayahnya yang sudah gugur dalam pertempuran di Mu’ta dulu, dan akan menjadi kemenangan yang dibanggakan sebagai balasan atas gugurnya ayahnya itu, di samping semangat yang akan timbul dalam iiwa pemuda-pemuda, juga untuk mendidik mereka membiasakan diri memikul beban tanggungjawab yang besar dan berat.

Muhammad memerintahkan kepada Usama supaya menjejakkan kudanya di perbatasan Balqa’ dengan Darum di Palestina, tidak jauh dari Mu’ta tempat ayahnya dulu terbunuh, dan supaya menyerang musuh Tuhan itu pada pagi buta, dengan serangan yang gencar, dan menghujani mereka dengan api. Hal ini supaya diteruskan tanpa berhenti sebelum berita sampai lebih dulu kepada musuh. Apabila Tuhan sudah memberi kemenangan, tidak usah lama-lama tinggal di tempat itu. Dengan membawa hasil dan kemenangan itu ia harus segera kembali.

Nabi mulai sakit

Sekarang Usama dan pasukannya berangkat ke Jurf (tidak jauh dari Madinah). Mereka mengadakan persiapan hendak berangkat ke Palestina. Tetapi, dalam pada mereka sedang bersiap-siap itu tiba-tiba Rasulullah jatuh sakit, dan sakitnya makin keras juga, sehingga akhirnya tidak jadi mereka berangkat.

Bisa jadi orang akan bertanya: Bagaimana sebuah pasukan yang persiapan dan keberangkatannya diperintahkan oleh Rasulullah, tidak jadi berangkat karena dia sakit? Ya, Perjalanan pasukan ke Syam yang akan mengarungi sahara dan daerah tandus selama berhari-hari itu bukan soal ringan, dan tidak pula mudah buat kaum Muslimin – dengan Nabi yang sangat mereka cintai melebihi cinta mereka kepada diri sendiri – akan meninggaIkan Madinah sedang Nabi dalam keadaan sakit, dan yang sudah mereka sadari pula apa sebenarnya dibalik sakitnya itu. Ditambah lagi mereka memang belum pernah melihat Nabi mengeluh karena sesuatu penyakit yang berarti.

Penyakit yang pernah dideritanya tidak lebih dari kehilangan nafsu makan yang pernah dialaminya dalam tahun keenam setelah Hijrahnya nabi SAW, tatkala ada tersiar berita bohong bahwa ia telah disihir oleh orang-orang Yahudi, dan satu penyakit lagi yang pernah dideritanya sehingga karenanya ia berbekam, yaitu setelah termakan daging beracun dalam tahun ketujuh Hijrah.

Cara hidupnya dan ajaran-ajarannya memang jauh dari gejala-gejala penyakit dan akibat-akibat yang akan timbul karenanya. Dalam membatasi diri dalam makanan, dan makannya yang hanya sedikit; kesederhanaannya dalam berpakaian dan cara hidup; kebersihannya yang dipeliharanya luar biasa dengan mengharuskan wudu yang sangat disukainya, sampai pernah ia berkata: kalau tidak karena kuatir akan memberatkan orang ia ingin mewajibkan penggunaan siwak2 lima kali sehari, – kegiatannya yang tiada pernah berhenti, kegiatan beribadat dari satu segi dan kegiatan olah-raga dari segi lain, kesederhanaan dalam segalanya – terutama dalam kesenangan; keluhurannya yang jauh dari segala hawa nafsu, dengan jiwa yang begitu tinggi tiada taranya; komunikasinya dengan kehidupan dan dengan alam dalam bentuknya yang sangat cemerlang, dan tiada putusnya, – semua itu menjauhkan dirinya dari penyakit dan dapat memelihara kesehatan. Bentuk tubuh yang sempurna tiada cacat, perawakan yang tegap kuat, seperti halnya dengan Muhammad, akan jauh selalu dari penyakit.

Jadi kalau sekarang ia jatuh sakit, wajar sekali menjadi kekuatiran sahabat-sahabat dan orang-orang yang mencintainya.

Mengeluh sakit kepala

Keesokan harinya bila tiba waktunya ia ke tempat Aisyah, dilihatnya Aisyah sedang mengeluh karena sakit kepala: “Aduh kepalaku!” Tetapi ia berkata – sedang dia sudah mulai merasa sakit: “Tetapi akulah, Aisyah, yang merasa sakit kepala.”

Tetapi sakitnya belum begitu keras dalam arti ia harus berbaring di tempat tidur atau akan merintanginya pergi kepada keluarga dan isteri-isterinya untuk sekedar bergurau. Setiap didengarnya ia mengeluh Aisyah juga mengulangi lagi mengeluh sakit kepala.

Setelah rasa sakitnya terasa agak berkurang, ia mengunjungi isteri-isterinya seperti biasa. Tetapi kemudian sakitnya terasa kambuh lagi, dan terasa lebih keras lagi. Ketika ia sedang berada di rumah Maimunah ia sudah tidak dapat lagi mengatasinya. Ia merasa perlu mendapat perawatan. Ketika itu dipanggilnya isteri-isterinya ke rumah Maimunah. Dimintanya ijin kepada mereka, setelah melihat keadaannya begitu, bahwa ia akan dirawat di rumah Aisyah. Isteri-isterinya mengijinkan ia pindah.

Demam

Pada hari-hari pertama ia jatuh sakit, demamnya sudah terasa makin keras, sehingga ia merasa seolah seperti dibakar. Sungguh pun begitu, ketika demamnya menurun ia pergi berjalan ke mesjid untuk memimpin sembahyang. Hal ini dilakukannya selama berhari-hari. Tapi tidak lebih dari sembahyang saja.

Ia sudah tidak kuat duduk bercakap-cakap dengan sahabat-sahabatnya. Namun begitu apa yang dibisikkan orang bahwa dia menunjuk anak yang masih muda belia di atas kaum Muhajirin dan Anshar yang terkemuka untuk menyerang Rumawi, terdengar juga oleh Nabi.

Meskipun dari hari ke hari sakitnya bertambah juga, tapi dengan adanya bisik-bisik demikian itu rasanya perlu ia bicara dan berpesan kepada mereka. Dalam hal ini ia berkata kepada isteri-isteri dan keluarganya:

Menyuruh Abu Bakar memimpin sembahyang

Ia kembali ke rumah Aisyah. Tetapi energi yang digunakannya selama ia dalam keadaan sakit itu, telah membuat sakitnya terasa lebih berat lagi. Sungguh suatu pekerjaan berat, terutama buat orang yang sedang menderita demam, ia keluar juga setelah disirami tujuh kirbat air; ia keluar dengan membawa beban pikiran yang sangat berat: Pasukan Usama, nasib Anshar kemudian hari, nasib orang-orang Arab yang kini telah dipersatukan oleh agama baru itu dengan persatuan yang sangat kuat. Itu pula sebabnya, tatkala keesokan harinya ia berusaha hendak bangun memimpin sembahyang seperti biasanya, ternyata ia sudah tidak kuat lagi. Ketika itulah ia berkata:

“Suruh Abu Bakr memimpin orang-orang sembahyang.”

Kemudian Abu Bakr datang memimpin sembahyang seperti diperintahkan oleh Nabi.

Pada suatu hari karena Abu Bakr tidak ada di tempat ketika oleh Bilal dipanggil hendak bersembahyang, maka Umarlah yang dipanggil untuk memimpin orang-orang bersembahyang sebagai pengganti Abu Bakr. Oleh karena Umar orang yang punya suara lantang, maka ketika mengucapkan takbir di mesjid, suaranya terdengar oleh Muhammad dari rumah Aisyah.

“Mana Abu Bakr?” tanyanya. “Allah dan kaum Muslimin tidak menghendaki yang demikian.”

Dengan demikian orang dapat menduga, bahwa Nabi menghendaki Abu Bakr sebagai penggantinya kemudian, karena memimpin orang-orang bersembahyang sudah merupakan tanda pertama untuk menggantikan kedudukan Rasulullah.

Berpulang ke rahmatullah.

Dalam hal ini beberapa sumber masih sangat berlain-lainan sekali keterangannya. Sebagian besar menyebutkan bahwa pada hari musim panas yang terjadi di seluruh semenanjung itu – 8 Juni 632 – ia minta disediakan sebuah bejana berisi air dingin dan dengan meletakkan tangan ke dalam bejana itu ia mengusapkan air ke wajahnya; dan bahwa ada seorang laki-laki dari keluarga Abu Bakr datang ke tempat Aisyah dengan sebatang siwak di tangannya.

Muhammad memandangnya demikian rupa, yang menunjukkan bahwa ia menginginkannya. Oleh Aisyah benda yang di tangan kerabatnya itu diambilnya, dan setelah dikunyah (ujungnya) sampai lunak diberikannya kepada Nabi. Kemudian dengan itu ia menggosok dan membersihkan giginya. Sementara ia sedang dalam sakratulmaut, ia menghadapkan diri kepada Allah sambil berdoa, “Allahumma ya Allah! Tolonglah aku dalam sakratulmaut ini.”

Aisyah berkata – yang pada waktu itu kepala Nabi berada di pangkuannya, “Terasa olehku Rasulullah s.a.w. sudah memberat di pangkuanku. Kuperhatikan air mukanya, ternyata pandangannya menatap ke atas seraya berkata, “Ya Handai Tertinggi dari surga.”

“Kataku, ‘Engkau telah dipilih maka engkau pun telah memilih. Demi Yang mengutusmu dengan Kebenaran.’ Maka Rasulullah pun berpulang sambil bersandar antara dada8 dan leherku dan dalam giliranku. Aku pun tiada menganiaya orang lain. Dalam kurangnya pengalamanku9 dan usiaku yang masih muda, Rasulullah s.a.w. berpulang ketika ia di pangkuanku. Kemudian kuletakkan kepalanya di atas bantal, aku berdiri dan bersama-sama wanita-wanita lain aku memukul-mukul mukaku.”

Benarkah Muhammad sudah meninggal? Itulah yang masih menjadi perselisihan orang ketika itu, sehingga hampir-hampir timbul fitnah di kalangan mereka dengan segala akibat yang akan menjurus kepada perang saudara, kalau tidak karena Tuhan Yang menghendaki kebaikan juga untuk mereka dan agama yang sebenarnya ini.

Umar tidak percaya Rasul wafat

Setelah mengetahui hal itu cepat-cepat Umar ke tempat jenazah disemayamkan. Ia tidak percaya bahwa Rasulullah sudah wafat. Ketika dia datang, dibukanya tutup mukanya. Ternyata ia sudah tidak bergerak lagi. Umar menduga bahwa Nabi sedang pingsan. Jadi tentu akan siuman lagi. Dalam hal ini sia-sia saja, Mughira hendak meyakinkan Umar atas kenyataan yang pahit ini. Ia tetap berkeyakinan, bahwa Muhammad tidak mati. Oleh karena Mughira tetap juga mendesak, ia berkata:

“Engkau dusta!”

Kemudian ia keluar ke mesjid bersama-sama sambil berkata: “Ada orang dari kaum munafik yang mengira bahwa Rasulullah s.a.w. telah wafat. Tetapi, demi Allah sebenarnya dia tidak meninggal, melainkan ia pergi kepada Tuhan, seperti Musa bin ‘Imran. Ia telah menghilang dari tengah-tengah masyarakatnya selama empat puluh hari, kemudian kembali lagi ke tengah mereka setelah dikatakan dia sudah mati. Sungguh, Rasulullah pasti akan kembali seperti Musa juga. Orang yang menduga bahwa dia telah meninggal, tangan dan kakinya harus dipotong!”

Teriakan Umar yang datang bertubi-tubi ini telah didengar oleh kaum Muslimin di mesjid. Mereka jadi seperti orang kebingungan. Memang, kalau memang benar Muhammad telah berpulang, alangkah pilunya hati! Alangkah gundahnya perasaan mereka yang pernah melihatnya, pernah mendengarkan tutur katanya, orang-orang yang beriman kepada Allah Yang telah mengutusnya membawa petunjuk dan agama yang benar! Rasa gundah dan kesedihan yang sungguh membingungkan, sungguh menyayat kalbu! Apabila Muhammad telah pergi menghadap Tuhan – seperti kata Umar – ini sungguh membingungkan. Dan menunggu dia kembali lagi seperti kembalinya Musa, lebih-lebih lagi ini mengherankan.

Mereka semua datang mengerumuni Umar, lebih mempercayainya dan lebih yakin, bahwa Rasulullah tidak meninggal. Belum selang lama tadi mereka bersama-sama, mereka melihatnya dan mendengar suaranya yang keras dan jelas, mendengar doanya dan pengampunan yang dimohonkannya.

Betapa ia akan meninggal, padahal dia adalah Khalilullah yang dipilihNya untuk menyampaikan risalah, risalah yang sekarang sudah dianut oleh Arab se]uruhnya, tinggal lagi Kisra dan Heraklius yang akan menganut Islam! Betapa ia akan meninggal, padahal dengan kekuatannya itu selama duapuluh tahun terus-menerus ia telah menggoncangkan dunia dan telah menimbulkan suatu revolusi rohani yang paling hebat yang pernah dikenal sejarah!

Tetapi di sana wanita-wanita masih juga memukul-mukul muka sendiri sebagai tanda, bahwa ia telah meninggal. Sungguh pun begitu Umar di mesjid masih juga terus menyebutkan bahwa dia tidak wafat, dia sedang pergi kepada Tuhan seperti Musa bin ‘Imran, dan mereka yang berpendapat bahwa ia sudah meninggal, mereka itu golongan orang-orang munafik, orang munafik, yang tangan dan kakinya oleh Muhammad nanti akan dihantamnya setelah ia kembali. Mana yang mesti dipercaya oleh kaum Muslimin?

Mula-mula mereka cemas sekali. Kemudian kata-kata Umar itu masih menimbulkan harapan dalam hati mereka, karena Muhammad masih akan kembali. Hampir saja angan-angan mereka itu mereka percayai, menggambarkan dalam hati mereka sendiri hal-hal yang hampir-hampir pula membawa mereka jadi puas karenanya.

Kedatangan Abu Bakar

Sementara mereka dalam keadaan begitu tiba-tiba Abu Bakr datang. Ia segera kembali dari Sunh setelah berita sedih itu diterimanya. Ketika dilihatnya Muslimin demikian, dan Umar sedang berpidato, ia tidak berhenti lama-lama di tempat itu melainkan terus ke rumah Aisyah tanpa menoleh lagi ke kanan-kiri. Ia minta ijin akan masuk, tapi dikatakan kepadanya, orang tidak perlu minta ijin untuk hari ini.

ila ia masuk, dilihatnya Nabi di salah satu bagian dalam rumah itu sudah diselubungi dengan burd hibara. Ia menyingkapkan selubung itu dari wajah Nabi dan setelah menciumnya ia berkata:

“Alangkah sedapnya di waktu engkau hidup, alangkah sedapnya pula di waktu engkau mati.”

Kemudian kepala Nabi diangkatnya dan diperhatikannya paras mukanya, yang ternyata memang menunjukkan ciri-ciri kematian.

Kemudian dikembalikannya kepala itu ke bantal, ditutupkannya kembali kain burd itu kemukanya. Sesudah itu ia keluar. Ternyata Umar masih bicara dan mau meyakinkan orang bahwa Muhammad tidak meninggal. Orang banyak memberikan jalan kepada Abu Bakr.

“Sabar, sabarlah Umar!” katanya setelah ia berada di dekat Umar. “Dengarkan!”

Tetapi Umar tidak mau diam dan juga tidak mau mendengarkan. Ia terus bicara. Sekarang Abu Bakr menghampiri orang-orang itu seraya memberi isyarat, bahwa dia akan bicara dengan mereka. Dan dalam hal ini siapa lagi yang akan seperti Abu Bakr! Bukankah dia Ash-Siddiq yang telah dipilih oleh Nabi dan sekiranya Nabi akan mengambil orang sebagai teman kesayangan tentu dialah teman kesayangannya?! Oleh karena itu cepat-cepat orang memenuhi seruannya itu dan Umar ditinggalkan.

Barangsiapa akan menyembah Muhammad, Muhammad sudah meninggal

Setelah mengucapkan puji syukur kepada Tuhan Abu Bakr berkata: “Saudara-saudara! Barangsiapa mau menyembah Muhammad, Muhammad sudah meninggal. Tetapi barangsiapa mau menyembah Tuhan, Tuhan hidup selalu tak pernah mati.”

Kemudian ia membacakan firman Tuhan: “Muhammad hanyalah seorang rasul. Sebelum dia pun telah banyak rasul-rasul yang sudah lampau. Apabila dia mati atau terbunuh, apakah kamu akan berbalik ke belakang? Barangsiapa berbalik ke belakang, ia tidak akan merugikan Tuhan sedikit pun. Dan Tuhan akan memberikan balasan kepada orang-orang yang bersyukur.” (Qur’an, 3:144)

Ketika itu Umar juga turut mendengarkan tatkala dilihatnya orang banyak pergi ke tempat Abu Bakr. Setelah didengarnya Abu Bakr membacakan ayat itu, Umar jatuh tersungkur ke tanah. Kedua kakinya sudah tak dapat menahan lagi, setelah ia yakin bahwa Rasulullah memang sudah wafat.

Baca Juga:

  1. Meneladani Akhlak Rasulullah SAW dalam Kehidupan Sehari-hari
  2. Nasab, Kelahiran dan Pekerjaan Nabi Muhammad SAW

Ada pun orang banyak, yang sebelum itu sudah terpengaruh oleh pendapat Umar, begitu mendengar bunyi ayat yang dibacakan Abu Bakr, baru mereka sadar; seolah mereka tidak pernah mengetahui, bahwa ayat ini pernah turun. Dengan demikian segala perasaan yang masih ragu-ragu bahwa Muhammad sudah berpulang ke rahmat Allah, dapat dihilangkan.

Hukum Berdoa dengan Bahasa Non Arab

Hukum Berdoa dengan Bahasa Non Arab
Photo by Yawadud.blogspot.co.id

Tongkrongan Islami – Sebagai umat Islam, kita setiap hari pasti berdo’a untuk beribadah dan memohon kepada Allah SWT. Ibadah Sholat sendiri termasuk salah satu cara umat muslim berdo’a kepada Allah. Namun dalam kehidupan kita sehari- hari masih sering ada yang bertanya, “Bolehkah berdo’a dengan bahasa non Arab?” Karena dengan itulah do’a yang bisa ia pahami.

Mengenai do’a dengan bahasa non Arab ini akan kita kupas tuntas penjelasan dan hkumnya. Berikut penjelasan singkatnya.

Syaikh Sholih Al Munajid hafizhohullah dalam situs beliau Al Islam Sual wa Jawab memberikan penjelasan, “Jika orang yang shalat mampu berdoa dengan bahasa Arab, maka ia tidak boleh berdo’a dengan bahasa selainnya. Namun jika orang yang shalat tersebut tidak mampu berdo’a dengan bahasa Arab, maka tidak mengapa ia berdo’a dengan bahasa yang ia pahami sambil ia terus mempelajari bahasa Arab (agar semakin baik ibadahnya, -pen).

Do’a Dengan Bahasa Non Arab Boleh Jika Diluar Shalat

Adapun do’a di luar shalat, maka tidak mengapa jika menggunakan bahasa non Arab. Do’a sesudah sholat saat kita memohon kepada Allah seperti ini sama sekali tidak ada masalah. Terlebih lagi jika hatinya bisa semakin hadir atau dalam artian lain semakin memahami do’a yang ia panjatkan.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menerangkan,

وَالدُّعَاءُ يَجُوزُ بِالْعَرَبِيَّةِ وَبِغَيْرِ الْعَرَبِيَّةِ وَاَللَّهُ سُبْحَانَهُ يَعْلَمُ قَصْدَ الدَّاعِي وَمُرَادَهُ وَإِنْ لَمْ يُقَوِّمْ لِسَانَهُ فَإِنَّهُ يَعْلَمُ ضَجِيجَ الْأَصْوَاتِ بِاخْتِلَافِ اللُّغَاتِ عَلَى تَنَوُّعِ الْحَاجَاتِ .

“Berdo’a boleh dengan bahasa Arab dan bahasa non Arab. Allah subhanahu wa ta’ala tentu saja mengetahui setiap maksud hamba walaupun lisannya pun tidak bisa menyuarakan. Allah Maha Mengetahui setiap do’a dalam berbagai bahasa pun itu dan Dia pun Maha Mengetahui setiap kebutuhan yang dipanjatkan”.

Hukum Membaca Doa Selain Bahasa Arab

Hukum membaca doa dengan selain bahasa Arab dapat dirinci sebagai berikut:

• Bila doa yang diucapkan merupakan sebuah doa yang sifatnya umum serta lafalnya tidak ada dalam Alquran juga Sunah maka kita boleh memakai bahasa selain bahasa Arab. Contoh: bahasa Indonesia. Seperti Doa meminta tambahan rezeki ataupun meminta agar disegerakan untuk berjumpa dengan jodoh.

• Bila doanya terkait dengan amalan tertentu dan lafalnya sudah ada dalam Alquran ataupun Sunah maka kita harus berdoa dengan memakai bahasa Arab. Misalnya: Doa setelah berwudhu, doasetelah adzan, doa masuk kamar mandi, dan sebagainya.

Kesalahan- Kesalahan Dalam Berdoa

Putus asa dari dikabulkannya do’a dan terlalu tergesa-gesa ingin dikabulkan. Perbuatan ini termasuk penghalang dikabulkannya sebuah do’a. Hadits Riwayat Imam Al-Bukhary dan Muslim bahwa Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda:

يُسْتَجَابُ أَحَدُكُمْ مَا لَمْ يَعْجَلْ, يَقُوْلُ: دَعَوْتُ فَلَمْ يُسْتَجَبْ لِي

“Akan dikabulkan do’a salah seorang di antara kalian sepanjang dia tidak tergesa-gesa (dalam berdo’a), dia mengatakan, “Saya sudah berdo’a tapi belum dikabulkan”.

Selain itu orang yang berdo’a hendaknya yakin do’anya dikabulkan. Karena dia berdo’a kepada Yang Maha Pemurah dan Maha Baik. Allah -Ta’ala- berfirman:

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ

“Dan Tuhanmu berfirman: “Berdo`alah kepada-Ku, niscaya akan Kukabulkan bagi kalian”. (QS. Ghafir: 60)

Melampaui batas dalam berdo’a, misalnya dia berdo’a untuk suatu dosa atau untuk memutuskan silaturahmi. Kesalahan dalam berdoa seperti ini termasuk menjadi penghalang dikabulkannya sebuah do’a. Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam- telah bersabda:

سَيَكُوْنُ قَوْمٌ يَعْتَدُوْنَ فِي الدُّعَاءِ

“Kelak akan ada kaum yang melampaui batas dalam berdo’a”.

Riwayat Ahmad, Abu Daud, dan selain keduanya, dan hadits ini hasan.

Allah -Ta’ala- berfirman:

ادْعُوا رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ

“Berdo`alah kepada Tuhan kalian dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas”. (QS. Al-A’raf: 55).

Baca Juga:

  1. Jangan Pernah Bosan Meminta Doa Pada Ibu Jika Ingin Selamat Dunia Akhirat
  2. Tujuh Manfaat Doa yang Selalu Diabaikan, Berikut Keutamaan dan Waktu Tepat Membacanya!

FOLLOW US HERE

4,575FansLike
342FollowersFollow
0SubscribersSubscribe

Tongkrongan Favorite

Tips Move ON dari Mantan Pacar

Tips Move ON dari Mantan Pacar, Begini Ajaran Islam!

Tongkrongan Islami - Cinta keindahannya membuat kita buta. Karena putus cinta kadang kita bisa merana. Cinta, terkadang dihasilkan dari kekaguman mendalam hingga turun ke...
Fakta Pacaran Tidak ada Nikmatnya

Inilah Fakta Pacaran Tidak ada Nikmatnya

Tongkrongan Islami - Dewasa ini, fenomena pasangan remaja putera puteri nongkrong di restoran, kafe, jembatan, pinggir jalan atau di mana saja dapat kita temui....
Nama-nama Neraka dan Kriteria Penghuninya

Mengenal Nama-nama Neraka dan Kriteria Penghuninya, Na’udzubillah!

Tongkrongan Islami - Siapapun tidak akan pernah mau jika dimasukkan ke dalam neraka, bahkan ahli maksiat sekalipun. Sebaliknya, siapapun menginginkan masuk surga. Banyaknya penjelasan yang...
Materi Kultum Terbaru Muslim Rahiim

Materi Kultum Terbaru Muslim Rahiim

Tongkrongan Islami - Konsep menyeyangi dalam Islam bisa dilacak dari narasi sejarah perjalanan Nabi Muhammad SAW. pra-pewahyuan. Pelacakan ini akan memberikan kita pelajaran berharga terkait...
Materi Kultum Terbaru Takwa Sebagai Semangat Kehidupan Sosial

Materi Kultum Terbaru Takwa Sebagai Semangat Kehidupan Sosial

Tongkrongan Islami - Taqwa mengandung makna yang bervariasi di kalangan ulama. Namun, secara umum taqwa bisa difahami sebagai bentuk penghambaan dan penghayatan seorang Hamba kepada...