Ketentuan Nisab dan Pengertian Zakat Mal

Advertisement

Gambaran Umum tentang Zakat dan Zakat Mal

Pengertian Zakat
Didin Hafidhuddin (2002: 7) mengungkapkan dalam Majma Lughah  al-Arabiyyah,  al-Mu’jamal  Ditinjau dari segi bahasa, kata zakat mempunyai beberapa arti, yaitu al-barakatu ‘keberkahan’,al- namaa’ pertumbuhan dan perkembangan. Sedangkan secara istilah, meskipun para ulama mengemukakan dengan redaksi yang agak berbeda antara satu dan lainnya, akan tetapi pada prinsipnya sama, yaitu bahwa zakat itu adalah bagian dari harta dengan persyaratan tertentu, yang Allah SWT mewajibkan kepada pemiliknya, untuk diserahkan kepada yang berhak menerimanya,dengan persyaratan tertentu pula.
Sedangkan menurut istilah yang lain dalam syariat, zakat ialah sejumlah harta (berupa uang atau benda) yang wajib dikeluarkan dari milik seseorang, untuk kepentingan kaum fakir miskin serta anggota masyarakat lainnya yang memerlukan bantuan dan berhak menerimanya.  Disebut  demikian,  karena  ia  menyebabkan keberkahan dan kebaikan  dalam harta   tersebut. Seperti   halnya tumbuhan  yang  dibersihkan  dari  hama  sehingga  tumbuh  dengan subur.

Sjechul Hadi Permono (1992: 34-39).mengungkapkan bahwa zakat juga merupakan ibadah kepada Allah dan sekaligus merupakan amal sosial kemasyarakatan dan kemanusiaan dalam wujud mengkhususkan  sejumlah harta atau nilainya dari milik perorangan atau  badan  hukum  untuk  diberikan  kepada  yang  berhak  dengan syarat-syarat  tertentu,  untuk  mensucikan  dan  mempertumbuhkan harta serta  jiwa  pribadi  para wajib  zakat,  mengurangi  penderitaan masyarakat,  memelihara  keamanan  serta  meningkatkan pembangunan.

Sehubungan ini, ada istilah yang membaginya ke dalam ibadah badaniyyah dan ibadah maliyyah, dan ada pula yang membaginya ke dalam  ibadah  syakhsiyyah dan  ibadah  ijtima’iyyah.  Ibadah syakhsiyyah adalah ibadah individual, ibadah yang tidak berhungan dengan masyarakat, yaitu ibadah pribadi. Kewajiban-kewajiban yang bersifat   perseorangan,   yang   dapat   dilaksanakan   setiap   muslim dengan sendirinya terlepas dari sesama manusia dalam masyarakat, seperti salat dan puasa. Jadi ibadah syakhsiyah adalah ibadah badaniyah,    karena  dibebankan  atas  perbuatan  orang  itu  sendiri. Dalam pelaksanaan ibadah ini, turut sertanya orang lain tidak menentukan wujudnya. Dalam ibadah syakhsiyyah   ini terdapat hubungan langsung antara manusia dan Tuhannya, yang dengan demikian  disebutkan  pulah  ibadah  mahdah  (ibadah  murni),  yaitu hubungan langsung kepada Tuhan, tanpa campur tangan pihak lain. Yang dalam hal ini adalah ibadah salat, puasa dan haji.

Sedangkan ibadah ijtima’iyyah tidak dilaksanakan tersendiri, tetapi harus dalam hubungan dengan sesama manusia dalam masyarakat. Ibadah ijtima’iyyah ialah kewajiban-kewajiban yang bersifat sosial (furudun ijtima’iyyatun), yang dilakukan terhadap masyarakat. Ibadah ini tidak merupakan hubungan lansung antara manusia dengan Tuhannya, tetapi manusia sesame manusia. Melalui amalnya terhadasp sesama manusialah maka manusia dapat melaksanakan ibadah ijtima’iyyah atau ibadah sosial ini. Maka oleh karenalah  ibadah maliyyah yaitu ibadah dalam bidang harta benda termasuk dalam kategori ibadah ijtima’iyyah,  ibadah dalam bidang harta  benda  ini  tidak  akan  terlaksana  melainkan  harus  melalui amalnya terhadap sesama manusia.

Pengertian Zakat Mal

Zakat   mal  atau  harta  (kekayaan)   merupakan   terjemahan tunggal dari amwal (Arab), yang dapat diartikan sebagai segala sesuatu yang diinginkan sekali oleh manusia untuk memiliki dan menyimpannya.  pada  mulanya  kekayaan(harta)  sepadan  dengan mas  dan  perak,  namun  kemudian  berkembang  menjadi  segala barang  yang  dimiliki  dan  disimpan.  Menurut  pengikut  mazhab Hanafi  menyatakan  bahwa  harta  (kekayaan)  merupakan  segala sesuatu   yang   dapat   dipunyai   dan   dipergunakan   sebagaimana umumnya (Mursyidi, 2003: 89).

Teungku  Muhammad  Hasbi  Ash Shiddieqy  ( 1987:  10-11) Zakat mal, atau zakat harta benda, telah difardhukan  Allah SWT sejak permulaan Islam, sebelum Nabi Saw., berhijrah ke kota Madinah.  Tidak heran urusan ini amat cepat diperhatikan  Islam, karena  urusan  tolong-menolong,  urusan  yang  sangat  diperlukan oleh pergaulan hidup, diperlukan oleh segala lapisan rakyat. Pada awalnya zakat difardhukan  tanpa ditentukan kadarnya tanpa jelas pula   diterangkan    dengan    jelas   harta-harta    yang   dikenakan zakatnya. Syara’ hanya menyuruh mengeluarkan zakat. Banyak sedikitnya  terserah  kepada kemauan  dan kebaikan  para penzakat sendiri. Hal ini berjalan hingga tahun kedua Hijrah. Mereka yang menerima  pada  masa  itu,  dua golongan  saja,  yaitu:  fakir  dan miskin.  Pada  tahun  kedua  Hijrah  bersamaan  dengan  tahun  623 Masehi,  barulah  syara’  menentukan  harta-harta  yang  dizakatkan, serta kadarnya masing-masing.
Zakat termasuk salah satu diantara kelima rukun Islam. Disebutkan  sebanyak  tiga  puluh  dua  kali  dalam  Al-Qur’an,  dan juga dalam banyak  hadits  Nabi Saw.  Dianrtaranya  firman  Allah Swt adalah surat Al-Baqarah ayat 43.

dalil menunaikan zakat mal

Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat, dan ruku’lah bersama Orang-orang yang ruku’ (QS. 2: 43).
Surat An-Nur ayat 56
zakat mal harus dibarengi sholat
Dan  dirikanlah  shalat,  tunaikanlah  zakat,  dan  taatlah  kepada Rasul, agar kamu diberi rahmat  (QS. 24: 56). 

Hubungan antara pengertian zakat menurut bahasa dan pengertian  menurut  istilah,  sangat  nyata  dan  erat  sekali,  yaitu bahwa harta yang dikeluarkan zakat akan menjadi berkah,tumbuh, berkembang dan bertambah,suci dan beres (baik). Hal ini sebagaimana dinyatakan dalam surat at-Taubah: 103 dan surat ar-Ruum: 39. 
Ambillah  zakat  dari  sebagian  harta  mereka,  dengan  zakat  itu kamu  membersihkan  dan  menyucikan  mereka  dan  mendoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu menjadi ketentraman jiwa buat mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. 9: 103).
“Dan sesuatu riba (tambahan) yang kamu berikan agar dia bertambah pada harta manusia, maka riba ini tidak menambah pada sisi Allah. Dan kamu berikan berupa zakat yang kamu maksudkan   untuk   mencapai   keridhaan   Allah,   maka   (yang berbuat  demikian)  itulah  orang-orang  yang  melipatgandakan hartanya”  (QS. 30: 39).
Macam-macam Zakat
Al-Qur’an hanya memerintahkan orang-orang yang beriman untuk mengeluarkan zakat. Perintahnya bersifat umum dan ringkas, tidak menjelaskan apa saja yang harus dizakatkan itu. Demikian juga tentang juga tentang jumlah serta kadar zakat yang harus dikeluarkan tidak ada penjelasan. Akan tetapi para Fuqoha  memahaminya, zakat yang wajib dikeluarkan  melalui hasil usaha, jasa, hasil bumi, atau yang lainnya ( Muhammad Daud Ali, 1988:188).
Para Fuqoha menetapkan dan menyebutkan jenis-jenis harta kekayaan  yang  wajib  di  zakati  dan  berikut  nishab,  kadar  dan presentasi zakatnya, antara lain:
Zakat Barang Tambang
Kewajiban  membayar zakat emas dan perak melalui syarat-syarat  yang  berlaku  bagi  keduanya,  baik  berupa logam cair maupun  gumpalan.  Pengertian  harta kekayaan yang berupa mas dan perak wajib dizakati bila sampai satu nishab,  yaitu  20 dinar  yang  menurut  perhitungan  jumhur fuqoha sama dengan 91 23/25  gram atau dibulatkan menjadi 92  gram.  Zakatnya  sebanyak  2  1/2     persen  atau  1/40  dari jumlah  harta  tersebut  dengan  syarat  telah  berlalu  selama satu tahun dimilikinya.
Mengingat alat tukar atau alat bayar kebanyakan diperankan oleh uang, maka jika harta kekayaannya dalam bentuk uang kertas dan mata uang lainnya dikenakan wajib zakat. Dalam hal ini tentu jka sampai satu nishab dan presentasi zakatnya yaitu disamakan dengan emas yaitu 20 dinar,  dengan  zakatnya  2,5  persen  (Jalaluddin  Rahmad, 2003: 190).

Zakat Harta Perniagaan
Harta perniagaan  adalah segala harta kekayaan yang dipersiapkan   untuk   diperdagangkan,   Para   fuqoha   telah sepakat menetapkan bahwa kewajiban zakat atas harta perniagaan. Zakat perniagaan dikiaskan kepada harta emas dan  perak  karena  nishabnya  diperhitugkan  dengan  nilai, maka  zakatnya  dikeluarkan  dalam  bentuk  nilai,  dengan dasar pemikiran bahwa tujuan utama dari zakat ialah untuk menutupi  kebutuhan     orang-orang     fakir  miskin.  Oleh karena itu tidak mesti dengan benda-benda yang diperhitungkan  nishabnya (ibid: 191).

Zakat Hewan
Kamil Muhammad (1997: 286) mengatakan menurut jumhur  Ulama,  syarat  bagi  dikenakan  zakat  bagi  hewan adalah  setelah  mencapai  nishab  dan  haulnya  serta digembalakan (dikembang biakkan). Secara jelas mengkhususkan bagi binatang yang digembalakan, artinya binatang tersebut dicarikan  makanan dari pengembala.  Dari ketentuan-ketentuan  tersebut dapat dirumuskan  sebagai berikut;
Nishab Zakat Unta
nisab zakat mal hewan unta
Nisab Zakat Sapi dan Kerbau
nisab zakat mal hewan kerbau
Nisab Zakat kambing
nisab zakat kambing jantan
Zakat Makanan dan Tumbuh-tumbuhan

Wahbah al- Zuhaily (2000: 186-187) mengatakan bahwa zakat tanaman dan yang tumbuh dari tanah, para fuqaha  mempunyai  dua  pendapat.  Pertama,  zakat  yang wajib  dikeluarkan  dari  tanaman  yang  tumbuh  dari  bumi, baik  dalam  jumlah  sedikit  maupun  banyak  / kayu  bakar, rumput, bambu, pelepah pohon kurma, tangkai pohon dan setiap tanaman yang tumbuh tidak dikehendaki. Tetapi tanaman-tanaman yang tumbuh dan dipelihara oleh manusia wajib dikeluarkan  zakatnya,  yaitu 1/10 kewajiban zakat. Kedua, zakat tanaman dan buah-buahan  hukumnya tidak wajib kecuali tanaman dan buah-buahan yang mengenyangkan, bisa disimpan, bisa dikeringkan, bertahan lama, dan bisa ditakar.

Syarat-syarat Wajib Zakat Mal

Syarat-syarat wajib zakat bagi harta benda yang dikenakan zakat adalah cukup nishab, artinya apabila keadaan harta itu   jumlahnya/ banyaknya   cukup  nishab     (minimal, nishab). Harta benda   yang dikenakan wajib zakat itu tidak semuanya disyaratkan    cukup haul (cukup   tahun),   karena   ada   harta   benda   yang   walaupun   baru didapatkan  hasilnya,  tapi  sudah  wajib  zakat    misalnya    tanaman, barang   logam   yang   ditemukan   dari   galian.   Harta-harta   yang jumlahnya  sampai  senishab  (cukup  nishab)  dan  harus  pula  cukup haul atau sampai setahun adalah seperti: binatang, emas dan perak, harta perniagaan (Timur Djaelani, 1982: 252-253) .

Syarat-syarat Harta Menjadi Sumber atau Obyek Zakat

Didin Hafidhuddin (2002: 18-26) menjelaskan bahwa sejalan dengan ketentuan ajaran Islam yang selalu menetapkan ketentuan standar umum pada setiap kewajiban yang dibebankan kepada umat- Nya, maka dalam penetapan harta menjadi sumber atau obyek zakat pun terdapat beberapa ketentuan yang harus dipenuhi. Apabila harta seorang  muslim  tidak  memenuhi  salah  satu  ketentuan,  misalnya belum mencapai nishab, maka harta tersebut belum menjadi sumber atau  obyek  yang  wajib  dikeluarkan  zakatnya.  Adapun  persyaratan harta menjadi sumber atau obyek zakat, adalah sebagai berikut :
1. Harta tersebut harus didapatkan dengan cara yang baik dan halal. Artinya harta yang haram, baik substansi bendanya maupun cara mendapatkannya, jelas tidak dapat dikenakan kewajiban zakat, karena  Allah  Swt  tidak  akan  menerimanya.   Hal  ini  sejalan dengan  firman  Allah  Swt  dalam  surah  al-Baqarah:  267  yang artinya sebagai berikut : “Hai orang-orang yang beriman nafkahkanlah (dijalan Allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu. Dan janganlah kamu memilih yang buruk-buruk lalu kamu nafkahkan darinya, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya  melainkan  dengan  memicingkan  mata terhadapnya.  Dan  ketahuilah  bahwa  Allah  Maha  Kaya  lagi Maha Terpuji.

2. Harta tersebut berkembang atau berpotensi untuk dikembangkan, seperti melalui kegiatan usaha, perdagangan, melalui pembelian saham, atau ditabungkan, baik dilakukan sendiri   maupun bersama-sama orang atau  pihak lain. Dalam  sebuah   hadits riwayat  Imam  Bukhari   dari  Abu  Hurairah, Rasulullah  Saw bersabda  yang  artinya: “Tidaklah  wajib  sedekah  (zakat)  bagi seorang muslim yang memiliki hamba sahaya dan kuda.”
3. Milik penuh, yaitu harta tersebut  berada di bawah kontrol  dan didalam kekuasaan pemiliknya, atau seperti menurut sebagian ulama bahwa harta itu berada ditangan pemiliknya, di dalamnya tidak tersangkut  dengan  hak orang  lain, dan ia dapat menikmatinya. Sebagaiman firman Allah Swt dalam surah al- Ma’aarij : 24-25 yang artinya : “Dan orang-orang yang dalam hartanya tersedia bagian tertentu bagi orang (miskin) yang meminta dan orang yang tidak mempunyai apa-apa (yang tidak mau meminta).”

4. Harta tersebut, menurut pendapat jumhur ulama, harus mencapai nishab, yaitu jumlah minimal yang menyebabkan  harta terkena kewajiban zakat. Misalnya hadits riwayat Imam Bukhari dari Abi Said bahwa Rasulullah Saw bersabda yang artinya “Tidak wajib sedekah  (zakat)  pada  tanaman  kurma  yang  kurang  dari  lima ausaq. Tidak wajib sedekah (zakat) pada perak yang kurang dari lima awaq. Tidak wajib sedekah (zakat) pada unta yang kurang dari lima ekor.”
5. Sumber-sumber  zakat tertentu, seperti perdagangan, peternakan, emas dan perak, harus sudah berada atau dimiliki ataupun diusahakan oleh muzakki dalam tenggang waktu satu tahun. Sebagaimana hadits yang diriwayatkan Abu Dawud dari Ali bin Abi Thalib, Rasulullah saw. Bersabda yang artinya : “Jika Anda memiliki  dua ratus dirham dan dinar telah berlalu waktu satu tahun, maka wajib dikeluarkan zakatnya sebanyak lima dirham. Anda  tidak  punya  kewajiban  apa-apa  sehingga  Anda  memiliki dua puluh dinar dan telah berlalu waktu satu tahun, dan Anda harus berzakat sebesar setengah dinar. Jika lebih, maka dihitung berdasarkan kelebihannya. Dan tidak ada zakat pada harta sehingga berlalu waktu satu tahun.”

6. Sebagian ulama mazhab Hanafi mensyaratkan  kewajiban zakat setelah terpenuhi kebutuhan pokok, atau dengan kata lain, zakat dikeluarkan  setelah  terdapat  kelebihan  dari  kebutuhan  hidup sehari-hari  yang  terdiri  atas  kebutuhan  sandang,  pangan  dan papan.  Sebagaiman  firman  Allah Swt dalam surah al-Baqarah: 129. yang artinya : “ … Dan mereka bertanya kepadamu,  apa yang akan mereka nafkahkan. Katakanlah: Yang lebih dari keperluan’….”

Daftar Penerima Zakat Mal

Sulaiman Rasjid (1994: 212-215) mengatakan dalam Fiqh Islam bahwa orang-orang yang berhak menerima zakat hanya mereka yang telah ditentukan Allah Swt dalam Al-Qur’an. Mereka itu terdiri atas delapan ashnaf menurut Mazhab Syafi’I antara lain yaitu:

a. Fuqoro’ adalah   orang yang tidak mempunyai harta dan usaha, atau mempunyai harta atau usaha yang kurang dari seperdua kecukupannya, dan tidak ada orang yang berkewajiban memberi belanjanya.
b. Masakin adalah orang yang mempunyai harta atau  ausaha sebanyak seperdua kecukupan atau lebih, tetapi tidak sampai mencukupi.  Yang  dimaksud  dengan  kecukupan  ialah  menurut umur biasa, 62 tahun.

c. Amilin adalah semua orang yang bekerja mengurus zakat, sedangkan dia tidak mendapat upah selain dari zakat itu.

d. Muallaf ada empat macam:
  1. Orang yang baru masuk Islam, sedangkan imannya belum teguh.
  2. Orang Islam yang berpengaruh dalam kaumnya, dan kita berpengharapan kalau dia diberi zakat, maka orang lain dari kaumnya akan masuk Islam.
  3. Orang  Islam  yang  berpengaruh  terhadap  kafir.  Kalau  dia diberi zakat, kita akan terperlihara dari kejahatan kafir yang ada di bawah pengaruhnya.
  4. Orang yang menolak kejahatan orang yang anti

e. Riqob /  hamba  yang  dijadikan  oleh  tuannya  bahwa  dia boleh menebus dirinya. Hamba itu diberi zakat sekedar untuk menebus dirinya.
f. Ghorim / Berhutang ada tiga macam:
  1. Orang yang berhutang karena mendamaikan dua orang yang sedang berselisih.
  2. Orang  yang  berhutang  untuk  kepentingan  dirinya  sendiri pada keperluan yang mubah; atau yang tidak mubah, tetapi dia sudah tobat.
  3. Orang   yang   berhutang   karena   menjamin   orang   lain, sedangkan  dia dan orang yang dijaminnya  itu tidak dapat membayar hutang.

g. Sabilillah adalah balatentara yang membantu dengan kehendaknya sendiri, sedangkan dia tidak mendapat gaji yang tertentu   dan   tidak   pula   mendapat   bagian   dari   harta   yang disediakan  untuk  keperluan  peperangan  dalam  kesatuan balatentara. Orang ini diberi zakat meskipun dia kaya sebanyak keperluannya  untuk masuk ke medan peperangan,  seperti biaya hidupnya, membeli senjata, kuda, dan alat perang lainnya.
h.  Musafir adalah orang yang mengadakan  perjalanan zaakat atau melalui negeri zakat. Dalam perjalanan itu dia diberi zakat untuk  sekedar  ongkos  sampai  pada  yang  dimaksudnya,  atau sampai pada hartanya dengan syarat bahwa ia memang membutuhkan bantuan.

Tujuan Pensyariatan Zakat Mal
Zakat sebagai salah satu rukun Islam mempunyai kdudukan yang sangat penting. Hal ini dapat dilihat dari segi tujuan dan fungsi zakat dalam meningkatkan martabat hidup manusia dan masyarakat. Zakat mempunyai  tujuan yang banyak (multi purpose). Tujuan-tujuan  itu dapat ditinjau dari berbagai aspek:
a. Hubungan manusia dengan Allah SWT
Zakat sebagai sarana beribadah kepada Allah sebagaimana halnya  sarana-sarana  lain  adalah  berfungsi  mendekatkan  diri kepada Allah. Makin taat manusia menjalankan perintah dan meninggalkan   larangan  Allah,maka   dia  makin  dekat  kepada Allah SWT.
b. hubungan manusia dengan dirinya
Zakat menggambarkan kaitan manusia dengan harta benda. Adakalanya manusia memandang harta benda itu sebagai alat mencapai tujuaan hidup. Manusia melaksanakan tugasnya sehari- hari  beribadah  kepada  Allah  untuk  mencapai  kehidupan  yang diridhoi Allah menjadi tujuan hidup manusia. Untuk melaksakan tugas hidupnya melaksanakan ibadah kepada Allah SWT dengan sebaik-baiknya,  manusia membutuhkan  harta benda. Membantu manusia  lain  yang  membutuhkan  bantuan  adalah  merupakan tugas   ibadah.   Orang   yang   mempunyai    pandangan    hidup semacaam ini, memandang harta benda itu sebagai alat. Ia tidak mungkin    diperalat    oleh   harta   benda,   tapi   sebaliknya    ia menjadikan  harta  benda  itu  sebagai  alat  untuk  melaksanakan tugas hidupnya.  Bahkan  ia memandang  harta benda itu adalah milik Allah yang dititipkan kepadanya, bukan hak milik mutlak, karena harta benda itu mempunyai fungsi sosial.

Disamping pandangan hidup diatas, ada pula manusia yang memandang materi atau benda itu sebagai tujuan hidupnya. Didalam  pandangannya  materi  atau  harta  benda  adalah merupakan  kunci  segala-galanya.  Dunia  ini bisa  dibeli  dengan harta benda. Kedudukaan, pangkat dan kemulyaan bisa dibeli dengan harta benda atau materi. Dalam keadaan demikian tanpa disadarinya, ia telah dikuasai oleh materi, karena demi untuk mendapatkan materi, ia biarkan dirinya melakukan hal-hal yang tidak halal, yang sekaligus merusak jiwa.
Zakat merupakan salah satu cara memberantas  pandangan hidup materialisme, dengan melaksanakan zakat, manusia dididik untuk  melepaskan  sebagian  harta  benda  yang  dimilikinya,  dan secara pelan-pelan menghilangkan pandangan hidupnya yang menjadikan materi sebagai tujuan hidup. Dengan demikian zakat mempunyai peranan menjaga dari kerusakan jiwa.

c. Hubungan manusia dengan masyarakat/manusia lain
Didalam masyarakat selalu terdapat perbedaan tingkat kemampuan dalam bidang ekonomi, sehingga melahirkan adanya golongan ekonomi lemah dan golongan ekonomi kuat. Dalam keadaan perbedaan ekonomi yang lebih menyolok terdapat pula dalam masyarakat  adanya golongan  fakir miskin dan golongan kaya. Biasanya golongan fakir miskin merupakan golongan masyarakat  terbanyak  dan  golongan  kaya  bagian  terkecil  saja dari anggota  masyarakat. 

Diantara  kedua golongan  ini terdapat jurang perbedaan yang tidak hanya dalam bidang ekonomi tapi juga dalam pergaulan  dimasyarakat,  bahkan  sering timbul  rasa dengki  dan iri dari miskin  terhadap  orang yang kaya dan rasa memandang  rendah  atau  kurang  menghargai  diri  yang  kaya terhadap yang miskin. Zakat berperan dapat mengecilkan jurang perbedaan ekonomi antara sikaya dengan simiskin.
d. hubungan manusia dengan harta benda
Pada umumnya  manusia beranggapan  bahwa semua harta kekayaan yang dimilikinya di dunia adalah hak miliknya mutlat, tidak  dapat  diganggu  gugat.  Ia dapat  mempergunakan  seluruh harta miliknya itu menurut sekehendak  hatinya. Tidak ada hak orang lain atas harta benda itu. Pandangan  hidup semacam  ini adalah pandangan hidup seculer yang menjadikan materi sebagai tujuan  hidupnya.  Islam  mengajarkan  kepada  manusia  bahwa harta kekayaan itu statusnya bukan hak milik mutlak dari orang yang memilikinya, tapi merupakan amanat Allah yang dititipkan kepada  manusia  untuk  mengelolahnya,  untuk  diambil manfaatnya, oleh yang memiliki dan oleh masyarakat seluruhnya. Harta itu menurut Islam mempunyai fungsi sosial untuk kepentingan masyarakat, kepentingan umum, dan kepentigan perjuangan agama, disamping fungsinya untuk memenuhi kepentingan  pribadi.  Hak  milik  mutlak  hanya  ditangan  Allah Swt, manusia hanya mempunyai hak pakai atau hak guna sejauh tidak  bertentangan  dengan  kepentingan  yang  bersifat  umum, seperti untuk masyarakat banyak, fakir miskin, perjuangan agama atau fisabilillah dan sebaainya (Timur Djaelani,1982: 233-238).

Hikmah Diperintahkanya Zakat Mal
Wahbah al- Zuhaili (1997: 1790) menyatakan bahwa adanya kesenjangan  antara manusia yang satu dengan lainnya, baik dalam perolehan rizqi, status, dan perolehan mata pencaharian, adalah suatu yang   nyata,   sebagai   sunnatullah   (hukum   alam).   Sebagaimana dijelaskan  dalam  QS.  Al-Nahl,  17:71    Dan  Allah  melebihkan sebagian  dari  mereka  atas  sebagian  yang  lain  dalam  rizqi  ….”. karena  itu  Allah  mewajibkan  kepada  yang  kaya  untuk  memberi kepada yang fakir sebagai kewajiban, bukan sunnah, dan juga bukan pemberian   biasa.  Islam  menganjurkan   kepada  pemeluknya   agar supaya mencari rizqi sebanyak-banyaknya  dengan cara yang halal. Karena dengan demikian, mereka yang kaya dapat membantu kepada yang  fakir  dan yang  miskin,  baik  dengan  cara yang  wajib  seperti zakat, maupun cara yang sunnah, seperti sadaqah dan infaq. Ada tiga hikmah utama zakat, yaitu sebagai berikut :
  1. Memelihara  harta  dan  membentengi  dari  pandangan  mata  dan tangan panjang orang-orang pendosa dan durhaka.
  2. Menolong orang-orang fakir yang membutuhkan, dengan tangan mereka untuk memulai pekerjaan dan kesungguhan sekiranya mereka  mampu,  membantu  mereka  untuk  menempatkan kehidupan yang mulia jika mereka lemah.
  3. Membersihkan jiwa dari segala penyakit kikir dan bakhil, membiasakan  diri orang yang beriman  akan sifat kesungguhan dan kedermawanan.

Fungsi Penetapan Zakat Mal


Berdasarkan pengertian di atas maka zakat mempunyai fungsi pokok sebagai berikut :
  1. Membersihkan jiwa muzakki
  2. Membersihkan harta muzakki
  3. Fungsi sosial ekonomi. Artinya bahwa zakat mempunyai misi meratakan kesejahteraan dan kebahagiaan dalam bidang sosial ekonomi. Lebih jauh dapat berperanserta dalam membangun perekonomian mendasar yang bergerak langsung ke sektor ekonomi lemah.
Fungsi ibadah. Artinya bahwa zakat merupakan sarana utama nomor  tiga dalam pengabdian  dan rasa syukur  kepada  Allah Swt (Mursyidi, 2003:77).

Pengertian dan Latar belakang pengelolaan Zakat Secara Umum

Pada   awal  Islam   manajemen   zakat   dikelolah   oleh  pemerintah. Sejarah  mencatat  bahwa  sejak  Rasulullah  Saw  melakukan  migrasi  atau hijrah  dari  Makah  ke  Madinah,   beliau  diposisikan   sebagai  Nabi  dan Negarawan (The Prophet and Statesmen). Dengan demikian, keberadaan meliau selain sebagai pemimpin agama, juga sebagai pemimpin negara dan pemerinyah (Ahmad Rofiq, 2004: 298-299).

Manajemen   disini   diartikan   sebagai   :  keseluruhan   usaha   yang dilakukan  oleh  pimpinan  dalam  mengerahkan,  menggerakkan,  dan megarahkan seluruh personel, sarana, dan fasilitas yang ada untuk mencapai tujuan dasn sasaran yang telah ditetapkan.  Dihubungkan  dengan zakat, ia akan  berarti  keseluruhan  usaha  uang  dilakukan  oleh  pimpinan  institusi zakat,  untuk  mengatur  mekanisme  pengurusan,  pengumpulan, pendistribusian, dan pendayagunaan zakat sesuai fungsi dan tujuan (Musta’in, 2004: 6).

Untuk itu manajemen  dapat didefinisikan  sebagai aktivitas untuk mengatur kegunaan sumber daya bagi tercapainya tujuan organisasi secara efektif. Pimpinan yang mengatur aktivitas disebut manager (manajer) dan anggota yang terlibat dalam pelaksanaan disebut management staff (staf manajemen). Pencapai tujuan organisasi ditempuh melalului pemanfaatan sumber daya dan sasaran serta kerjasama sejumlah orang sebagai pelaksana (Zaini Muchtarom, 1997: 37).

Definisi  manajemen  yang  lain  mengatakan  bahwa  manajemen adalah  proses  perencanaan,  pengorganisasian,  penggerakkan  serta mengawasi   aktivitas-aktivitas   sesuatu   organisasi   dalam   rangka   upaya mencapai  suatu  koordinator  sumber-sumber  daya  manusia  dan  sumber- sumber daya alam dalam hal pencapaian sasaran secara efektif serta efisien (Winardi, 2000: 5).

Penerapan   manajemen   perlu   didasari   terlebih   dahulu   adanya kesadaran  bersama  bahwa  sudah  saatnya  umat  Islam  bersatu  menggali potensi dana umat untuk dapat dikelola bersama secara produktif. Setelah adanya  kebersamaan  diperlukan  konstruk  baru  manajemen  Badan  Amil Zakat.  Konsep  yang  sedang  berlaku  saat  ini  adalah  sistem  manajemen terbentuk dari beberapa bagian utama yaitu :
  1. Merencanakan (planning)
  2. Mengomunikasikan (communicating)
  3. Mengkoordinasi (coordination)
  4. Memotivasi (motivating)
  5. Mengendalikan (controlling)
  6. Mengarahkan (directing)
  7. Memimpin (leading)
Paradigma  manajemen  ini  dapat  menjadi  langkah  langkah  yang baik dalam membentuk Lembaga Amil Zakat yang dipercaya. Artinya dari konsep  dasar  pengurus  BAZ  adalah  upaya  untuk  sama-sama  membuat lembaga  tersebut  mampu  memperdayakan,  ssekaligus  dapat  bekerjasama, serta  membimbing  dan  mendukung  setiap  langkah  strategis  penggunaan zakat, infaq dan shadaqah produktif (Suyitno, dkk, 2005: 145-156).

Demikianlah artikel mengenai Ketentuan Nisab dan  Pengertian Zakat Mal. Mudahan Bermanfaat