Nilai-Nilai Pendidikan Sosial Yang Terkandung Dalam Ibadah Zakat

Advertisement
Tongkronganislami.net,-  Sebagimana yang telah kami singgung pada postingan pengertian zakat, disana disebutkan bahwa zakat adalah mengeluarkan sebagian harta untuk diperuntukkan kepada orang yang memiliki hak atas harta yang kita miliki.

Dalam ibadah zakat banyak memuat nilai-nilai pendidikan sosial, namun dalam ulasan berikut, kami akan membatasi dengan menyajikan beberapa  diantaranya  yang  dipandang  penting  dan  dapat  menerangkan berbagai nilai-nilai yang ada pada ibadah zakat. yaitu antara lain:

Nilai-Nilai Pendidikan Sosial Yang Terkandung Dalam Ibadah Zakat

a.  Nilai taqwa

Dalam Islam zakat merupakan pondasi yang sangat terpenting dalam mewujudkan tatanan masyarakat dan perilaku dalam masyarakat, zakat dapat diasumsikan sebagai manifestasi kehidupan seseorang yang tergambarkan dengan gerak langkahnya dalam kehidupan sehari-hari.

Zakat adalah barometer seseorang apakah dirinya taqwa kepada Allah  ataukah  durhaka  kepada  Allah. Seseorang  bisa  dikatakan  sebagai orang yang taqwa, apabila dirinya telah memahami dan menyadari bahwa kewajiban melaksanakan ibadah zakat merupakan keharusan yang tidak perlu dipaksa.

Menjalankan perintah zakat adalah bagian yang terpenting dari berbagai ibadah yang disyariatkan oleh agama. Ibadah ini mempunyai keistimewaan yang lebih, yaitu ibadah yang bisa berfungsi sebagai investasi di dunia dan bisa berfungsi sebagai investasi besok pada hari akhir. Ini bisa dilihat bahwa apabila seseorang yang enggan melaksanakan zakat maka orang  tersebut  menjadi  bahan  gunjingan  dan  bahasan  orang  lain,  dan menjadi cemoohan orang lain, bisa dikatakan bahwa orang tersebut adalah orang yang kikir, bakhil dan sebagainya. Berbeda manakala orang yang telah menyadari bahwa zakat merupakan perintah Allah SWT yang harus ditunaikan bagi yang dianggap sudah memenuhi persyaratannya, orang itu akan disebut sebagai orang yang dermawan, baik hati, penyayang dan banyak orang yang menyenanginya (baca: Perintah Zakat).

Dari dimensi ubudiyah bisa dipahami bahwa zakat tidak sekedar berhubungan dengan pertanggungjawaban di dunia, melainkan juga ada pertanggung jawaban di akhirat, seseorang tidak melaksanakan zakat padahal kaya dan termasuk orang yang diwajibkan untuk mengeluarkan zakat maka  orang  tersebut  akan  mendapat  balasan  di  akhirat,  kelak  di akhirat semua hartanya menjadi tungku dan arang yang akan membakar dirinya dan menyiksa dirinya sendiri.

Dilihat dari fungsi zakat sebagai barometer taqwa maka seseorang harus benar-benar memahami esensial dari perintah tersebut. Zakat jangan hanya dipahami sebagai sebuah ibadah yang sakral saja tetapi lebih dilihat dari fungsi dan manfaatnya bagi masyarakat. Seseorang yang sudah memenuhi syarat untuk mengeluarkan zakat maka akan berfikir tentang bagaimana nasib orang-orang yang sedang kekurangan dan mengharapkan uluran tangan dari orang-orang  yang berlebihan harta.

Demikianlah  harta  yang  dimiliki  seseorang  hanyalah  sebuah titipan dari  Allah,  mereka  disuruh  untuk  membelanjakan  ke  jalan  yang diridhai-Nya, dan apabila tidak dibelanjakan harta itu pada jalan yang semestinya maka Allah akan menjadikan harta kekayaannya menjadi alat untuk menyiksa dirinya.

Apabila dikaji secara mendalam bahwa seluruh harta benda yang dimiliki adalah sebuah bayangan karena orang yang dianggap memiliki tetapi sebenarnya  tidak memiliki.  Semua  harta  yang  dianggap  miliknya hanya  sekedar  titipan  belaka,  semua  itu  ada  hak  Allah  yang  harus dijalankan sesuai dengan kehendak-Nya. Maka   bisa direnungkan apa sebenarnya nilai taqwa dalam ibadah zakat itu, seseorang bisa dikatakan bertaqwa apabila dirinya sudah merasa tidak mempunyai tanggungan hak- hak  hablum  minallah  dan  hablum  minan  nas  yaitu  hak  kepada  Allah dengan  menjalankan  ketaqwaannya  dan  hak  kepada  manusia  dengan dirinya telah menjalankan kewajiban membayar zakat. Itulah sebenarnya taqwa yang dikehendaki oleh Allah yang mana  keseimbangan antara hak di dunia dan hak di akhirat adalah sama (baca: Syarat Zakat).

b. Nilai ukhuwah atau  persaudaraan

Sebagaimana yang diajarkan oleh para pendidik bahwa nilai yang paling banyak didengungkan adalah nilai ukhuwah atau persaudaraan, karena nilai inilah dianggap sebagai penyelamat agama bangsa dan negara, mengapa? Dengan nilai ukhuwah mewujudkan rasa persatuan dengan terwujudnya persatuan maka akan menguatkan dan  memperkokoh agama bangsa dan negara. Begitu juga nilai ukhuwah yang terkandung dalam ibadah zakat, dengan melaksanakan zakat maka seseorang akan terpupuk rasa sepersaudaraan sehingga memunculkan sikap rela membantu dengan mengorbankan segala yang dimilikinya. Selain itu dengan zakat akan memupuk  untuk  merasakan  penderitaan  sesama  saudara  muslim  yang merasa kekurangan dengan memberikan bantuan modal supaya simiskin bisa bangkit dari keterhimpitannya. Itulah tujuan pelaksanaan zakat yang paling esensi.

Dengan demikian  bahwa  persaudaraan  adalah  ikatan  kejiwaan yang mewarisi perasaan mendalam tentang kasih sayang. Kecintaan dan penghormatan terhadap setiap  orang yang diikat oleh perjanjian-perjanjian aqidah Islamiyah, keimanan, dan ketaqwaan. Perasaan persaudaraan yang benar ini melahirkan perasaan yang mulia didalam jiwa muslim untuk membentuk sikap-sikap sosial yang positif, seperti tolong-menolong, mengutamakan  orang  lain,  kasih  sayang  dan  pemberian  maaf  serta menjauhi sifat-sifat negatif.

Allah telah menegaskan dalam al-Qur’an surat al-Hujurat ayat 10 bahwa seorang mu’min dengan mu’min lainnya adalah saudara. ini Bisa dipahami, seseorang tidak hanya mengakui orang itu saudaranya tetapi membiarkannya menderita, merasa kelaparan, merasa kekurangan dan sebagainya. Dalam ayat tersebut memberikan tuntunan agar sesama muslim harus saling bantu membantu dalam hal kebaikan dan bertaqwa kepada Allah karena pada dasarnya manusia berasal dari satu keturunan, antara seorang dengan orang lainnya terdapat pertalian darah, dekat atau jauh, tua maupun muda, kecil atau besar, tinggi maupun rendah, hitam atau putih kaya atau miskin, semuanya adalah bersaudara.

Kewajiban  untuk  mengeluarkan  zakat  itu  pada  mulanya  lahir karena adanya persamaan diantara pihak-pihak yang bersaudara, sehingga makna tersebut kemudian berkembang dan pada akhirnya ukhuwah diartikan sebagai “setiap persamaan dan keserasian dengan pihak lain, baik persamaan keturunan dari segi ibu, bapak, atau keduanya, maupun dari segi persusuan”. Hubungan persaudaraan menuntut bukan hanya sekedar mengambil dan menerima atau pertukaran manfaat, tetapi melebihi itu semua,  yakni  memberi  tanpa  menanti  imbalan  atau  membantu  tanpa dimintai bantuan.

Kebersamaan dan persaudaraan inilah yang mengantarkan kepada kesadaran menyisihkan sebagian sebagian harta kekayaan untuk diberikan kepada orang yang membutuhkannya. Dengan demikian seseorang yang telah mengeluarkan zakat, maka secara sadar maupun tidak sadar orang tersebut telah membentuk kepribadiannya manjadi orang yang andil dalam menciptakan dan melestarikan nilai-nilai ukhuwah atau persaudaraan. Sperti layaknya zakat fitrah yang ditunaikan tiap bulan ramadhan, dimaksudkan untuk berbagi kesesama yang tidak memiliki pendapatan yang sama.

c. Nilai solidaritas sosial

Nilai solidaritas sosial adalah nilai yang mengandung berbagai aspek norma, baik itu norma masyarakat dan norma agama, dari norma masyarakat, bahwasanya manusia  tidak bisa lepas dari masyarakat karena manusia adalah mahuk sosial yang satu dengan lainnya saling membutuhkan dan hidup saling berdampingan, norma yang ada dalam masyakat ada yang tertulis dan ada pula yang tidak tertulis. Ini bisa dilihat dengan kebiasaan seseorang yang gemar mengeluarkan zakat maka orang tersebut tergolong orang yang mematuhi norma agama dan masyarakat, orang lain pasti akan memberikan predikat orang yang pemurah dan budiman. Dengan demikian seseorang yang sadar dan ihklas melaksanakan zakat maka termasuk telah mematuhi norma yang terkandung dalam agama dan masyarakat.

Zakat merupakan ibadah dalam bidang harta yang mengandung hikmah dan manfaat yang begitu besar dan mulia baik yang berkaitan dengan orang yang memberi zakat maupun dengan sipenerima zakat. Harta yang dikeluarkan zakatnya adalah harta yang benar-benar harta yang bersih yang sudah tercuci dari hak-hak orang-orang yang berhak menerimanya. Dengan sikap sadar mengeluarkan zakat maka hal itu telah menunjukkan rasa  senasib  sepenanggungan  kepada  masyarakat  yang  kurang mampu, maka dalam masyarakat akan tercipta dan terwujud rasa persatuan dan kesatuan yang kokoh. Pada pernyataan di atas menunjukkan bahwa manusia adalah mahluk sosial yang saling membutuhkan. Kebersamaan antara beberapa individu  dalam  satu  wilayah  membentuk masyarakat yang  walaupun berbeda sifatnya  dengan individu-individu tersebut, namun ia tidak dapat dipisahkan darinya.

Dengan demikian bahwa pada dasarnya manusia terlahir didunia mempunyai sifat solidaritas karena manusia   tidak   mungkin   dapat mencukupi kebutuhan dirinya sendiri namun mereka membutuhkan orang lain untuk memenuhi kebutuhannya itu. Dalam hal ini zakat merupakan suatu hal yang sangat relefan sebagai sebuah tauladan hidup bermasyarakat, bahwasanya  dalam kehidupan  di  dunia  tidak  mungkin  sama.  Ada  yang miskin dan ada yang kaya, sehingga bagaimana sikaya bisa membantu simiskin dengan hartanya, dan simiskin bisa membantu dengan tenaganya, maka ada keseimbangan antara simiskin dan sikaya, sehingga masing- masing tahu hak dan kewajibannya, maka akan tercipta rasa solidaritas sosial yang tinggi dalam hidup bermasyarakat. Rasa solidaritas sosial juga merupakan perwujudan keimanan kita kepada kepada Allah SWT.

Nilai Solidaritas tidak hanya mencakup aspek hidup berdampingan saja tetapi lebih pada konteks bahwa hidup mempunyai makna yang lebih bermanfaat bagi masyarakat tersebut. Nilai solidaritas yang terkandung dalam ibadah zakat memberikan suatu tuntunan bahwa dalam kehidupan bermasyarakat   diharuskan   saling   menyadari   masing-masing   hak   dan kewajibannya.  Sehingga  apa  yang  dilakukan  membuahkan  hasil  dan bermanfaat bagi masyarakat.

d. Nilai Keadilan

Menurut Islam bahwa pemikiran yang melandasi konsep keadilan itu berdasarkan pada asumsi bahwa, seorang individu bukanlah sepotong jiwa yang terisolir dan bebas melakukan apa saja yang ia sukai, tetapi seseorang yang terikat dalam sebuah tatanan universal yang harus menundukkan keinginan pribadinya kepada kesatuan organik keseluruhannya yang secara jelas dan transparan.

Keadilan dalam Islam memiliki fundamental Illahiah dan berakar pada moralitas. Prinsip pertama dalam keadilan adalah berhubungan dan mengakui Tuhan sebagai pencipta. Kedua, adil adalah persamaan manusia dalam  kehidupan  sosial,  politik,  ekonomi  dan  kultural  yang  didasarkan pada seperangkat nilai dan moral.

Nilai keadilan itu bisa dirasakan agung dan berarti apabila sudah berinteraksi antara dua kutub yang saling membutuhkan, walaupun kebutuhan  itu  berbeda  sifatnya  antara  yang  satu  dengan  yang  lainnya, seperti orang miskin membutuhkan bantuan harta benda orang kaya, sementara  orang  kaya  yang  mempunyai  rasa  spiritual  keimanan  akan merasa  berkewajiban  untuk  memberikan  zakat  sebagai  hak  bagi  orang- orang miskin. (baca: Sasaran Zakat)

Inilah sebenarnya konsep keadilan yang ditawarkan oleh Islam, yaitu perimbangan bagi simiskin dan sikaya. Kalau menyadari perkembangan pada dekade ini sudah banyak melihat lembaga-lembaga yang menangani zakat, diantaranya adalah Bazis yang berfungsi untuk menampung, mengelola, dan menyalurkan harta zakat. Lebih jauh sebenarnya fungsi badan ini adalah meningkatkan kualitas dan pemerataan bagi perekonomian umat Islam. Maka dalam berbagai  ayat  Allah telah memperingatkan manusia agar jangan tergoda untuk hanya sekedar menumpuk-numpuk harta tanpa mau mengeluarkan   zakat   sebagai pensucian harta mereka, karena dengan memberikan zakat itulah dirinya telah terlepas dari siksa api neraka yang akan membakar dirinya besok di hari dipanaskan harta benda mereka, seperti firman Allah dalam surat at- Taubah ayat 34-35

"Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih. Pada hari dipanaskan emas perak itu dalam neraka Jahanam. Lalu dibakar dengannya dahi mereka, Lambung dan punggung mereka (lalu dikatakan)  kepada  mereka.  “inilah  harta  bendamu     yang  kamu simpan untuk dirimu sendiri, maka rasakanlah sekarang (akibat dari) apa yang kamu simpan itu”. (QS. At Taubah: 34-35)

Ayat di atas memberikan gambaran bagi mereka yang terlalu membangga-banggakan hartanya sehingga mereka merasa keberatan untuk mengeluarkan harta mereka. Maka Allah memberikan balasan bagi mereka dengan menjadikan semua harta yang ditimbunya itu menjadi api yang membakar dan menyiksa mereka sendiri, itulah balasan setimpal bagi mereka yang terlalu  mencintai  harta  mereka  dan  enggan  mengeluarkan zakat (Baca: Dasar Hukum Zakat).

Dalam konteks ayat tersebut maka nilai keadilan memberikan pemahaman pada bahwa seseorang diajak untuk menseimbangkan antara kebutuhan dan keinginan di akhirat adalah sama, sehingga ada keselarasan di dunia dan di akhirat. Dengan demikian hidup di dunia merasa lebih bermakna dan berarti bagi orang lain. Dengan menseimbangkan kehidupan didunia maka orang menyadari hak-haknya dalam masyarakat.

Pada kenyataannya   manusia akan berada dalam keberagaman, bahkan akan terbagi kepada kaya dan miskin, kefakiran dan kemiskinan tidaklah mesti dapat dihilangkan, kecuali manusia mempunyai kekuatan yang sempurna (Ittihadah al-quwwah), memperoleh faktor-faktor penghasilan yang sama, berada dalam struktur lingkungan fisik dan pemikiran yang sama.

Kesamaan   dalam   hal-hal   tersebut   adalah   suatu   yang   sulit diterapkan kalau tidak dikatakan mustahil. Karena manusia diciptakan oleh Allah mempunyai kemampuan yang berbeda-beda, disamping lingkungan fisik yang tidak selalu sama. Oleh karena itu wajarlah kalau dalam masyarakat terjadi perbedaan dan kesenjangan dalam tingkat ekonomi.

Jadi keadilan disini adalah keadilan yang melingkupi beberapa aspek pendidikan, ekonomi dan sosial. Mengapa karena keadilan ekonomi menurut Islam sangatlah penting karena sebagai pondasi pengembangan dan syi’ar Islam pada era globalisasi dan capitalisasi, yang mana ekonomi sebagai pertimbangan pertama untuk mengembangkan syi’ar Islam. Kekayaan yang diperoleh dari hasil usaha sendiri baik berupa profesi (baca: Zakat Profesi) mapun dari harta lainya adalah kekeayaan yang bersifat sementara, dan didalamnya terdapat hak orang lain.

Maraji’

DR. K.H. Didin Hafidhuddin, M.Sc., Zakat Dalam Perekonomian Modern, Gema Insani Press, Jakarta, 2002.
Abu Bakar Jabir El-Jazairi, Pola Hidup Muslim, Alih Bahasa Prof. Dr. Rachmat Djatnika dan Drs. A. Sumpeno, PT Rosda Karya, Bandung, 1997.
Prof. R.H.A. Soenarjo S.H., Al-Qur’an dan Tarjamahnya, CV Toha Putra, Semarang, 1989.
Drs.  Sudarsono,  SH.,  Sepuluh  Aspek  Agama  Islam,  Rineka  Cipta,  Jakarta,  1984.
Dr. Yusuf Qardawi, Hukum Zakat, Penerbit Litera AntarNusa dan Mizan, Bandung, 1996.
Drs. H. Ibrahim Lubis, Agama Islam Suatu Pengantar, Ghalia Indonesia, Jakarta, 1982.
Teungku   Muhammad   Hasbi   As-Shiddieqi,   Al-Islam,   PT   Pustaka   Rizki   Putra, Semarang, t. th.

Demikianlah artikel mengenai Nilai-Nilai Pendidikan Sosial Yang Terkandung Dalam Ibadah Zakat. mudahan artikel ringkas ini dapat dilahami dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.