Tahapan Hukum Perintah dan Pelaksanaan Zakat dari Masa ke Masa

Advertisement
Allah SWT adalah pemilik seluruh alam raya dan segala isinya, termasuk  pemilik  harta  benda.  Seseorang  yang  beruntung  memperolehnya pada hakekatnya hanya menerima titipan sebagai amanat untuk disalurkan dan dibelanjakan sesuai dengan kehendak pemilik-Nya, yaitu Allah SWT. Nas al-Qur’an tentang zakat diturunkan dalam dua periode (tahapan), yaitu periode Mekah sebanyak delapan ayat, diantaranya terdapat dalam surat 73/al-Muzammil ayat 20, surat 98/al-Bayyinah ayat 5. Selebihnya ayat tentang zakat diturunkan dalam periode Madinah. Ayat-ayat tentang zakat tersebut terdapat dalam berbagai surat antara lain terdapat dalam surat 2/al-Baqarah ayat 43, surat 5/al-Maidah ayat 12.

Perintah  zakat  yang  diturunkan  pada  periode  Mekah,  sebagaiman terdapat dalam kedua ayat tersebut di atas baru merupakan anjuran untuk berbuat  baik  kepada  fakir  miskin  dan  orang-orang  yang  membutuhkan bantuan. Sedangkan yang diturunkan pada periode Madinah, perintah tersebut telah telah menjadi kewajiban mutlak (ilzami).

Kewajiban zakat sangat penting dalam Islam. Menunaikannya tidak hanya diserahkan kepada kesadaran pribadi yang akan menyerahkan, tetapi pemimpin masyarakat diperintahkan untuk memungutnya, dan jika mereka enggan mengeluarkannya, maka yang bertugas berhak mengambilnya secara paksa. Sebagaimana yang terjadi pada masa pemerintahan Abu Bakar Ash Shiddiq ra.

Tahapan Hukum Perintah dan Pelaksanaan Zakat dari Masa ke Masa

Kewajiban mengeluarkan zakat bukan hanya menjadi kewajiban yang ditaklifkan kepada umat sebelumnya. Ia adalah rukun dari setiap agama samawi. Adapun tahapan perintah dan pelaksanaan zakat dapat diuraikan sebagai berikut:

1. Perintah Zakat Pada masa Rasulullah SAW

Pelaksanaan zakat didasarkan pada firman Allah SWT dalam surat 9 at-Taubah ayat 60:

Sesungguhnya zakat itu hanyalah untuk orang-orang fakir, orang- orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para muallaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan)  budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan, sebagai sesuatu ketetapan yang diwajibkan Allah; dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. (QS. 09: 60)

Ibadah zakat terdiri atas dua konsep, yaitu konsep teoritik dan operasional. Pada konsep operasional secara umum telah digariskan dalam al-Qur’an antara lain termaktub dalam surat 9/at-Taubah ayat 103.


Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu mensucikan85 dan mentazkiyahkan mereka, dan berdoalah untuk mereka, sesungguhnya do’a kamu itu (menjadi) ketentraman jiwa bagi mereka, dan Allah Maha Mendengar lagi Maha mengetahui. (QS.09:103)

Demikian pula petunjuk yang telah dicontohkan oleh Nabi sendiri serta para Khulafa al-Rasyidin. Ibadah zakat tidak sekedar amal karitatif (kedermawanan), tetapi ia suatu kewajiban otoritatif (ijbari). Oleh karena itu pelaksanaan zakat tidak seperti ibadah-ibadah lainnya seperti shalat, puasa dan haji yang telah dibakukan dengan nas yang penerapannya dipertanggungjawabkan kepada masing-masing. Ibadah zakat dipertanggungjawabkan kepada pemerintah, karena dalam pengamalannya lebih berat dibanding ibadah- ibadah lain.

Syari’at zakat pada masa Rasul SAW baru diterapkan secara efektif pada tahun kedua hijriyah. Ketika itu Nabi SAW telah mengemban dua fungsi, yaitu sebagai Rasullah dan Pemimpin Umat. Zakat juga mempunyai dua fungsi, yaitu ibadah bagi muzakki (pemberi zakat) dan sumber utama pendapatan negara. Dalam pengelolaannya Nabi sendiri turun tangan memberikan contoh dan petunjuk operasionalnya.

Tentang prosedur pengumpulan dan pendistribusiannya, untuk daerah  di  luar  kota  Madinah,  Nabi  mengutus  petugas  untuk mengumpulkan dan menyalurkan zakat. Di antara petugas itu adalah Muaz Ibn Jabal untuk memungut dan mendistribusikan zakat dari dan untuk penduduk Yaman.

Para petugas yang ditunjuk oleh Nabi itu dibekali dengan petunjuk-petunjuk teknis opersional dan bimbingan serta peringatan keras dan ancaman sanksi agar dalam pelaksanaan dan pengelolaan zakat benar- benar dapat berjalan dengan sebaik-baiknya.

2. Perintah Zakat Pada masa Khalifah Abu Bakar 

Khalifah  Abu  Bakar  melanjutkan  tugas  Nabi,  terutama  tugas- tugas pemerintahan (Khilafah) khususnya dalam mengembangkan ajaran agama Islam, termasuk menegakkan syariat zakat yang telah ditetapkan sebagai sendi (rukun) Islam yang penting dan strategis.

Khalifah Abu  Bakar  memandang  masalah  ini  sangat  serius, karena fungsi zakat sebagai pajak dan sumber utama pendapatan negara. Pada masa Nabi masih hidup zakat berjalan dengan baik dan lancar, sehingga tugas-tugas Nabi, baik sebagai Rasul maupun sebagai Pemimpin negara dan masyarakat dapat berjalan lancar karena dukungan keuangan dari berbagai sumber pendapatan, terutama dari sektor zakat.

Dalam pelaksanaan dan pengelolaan zakat, Khalifah Abu Bakar langsung turun tangan dan mengangkat beberapa petugas (amil zakat) di seluruh wilayah kekuasaan Islam waktu itu, sehingga pemungutan dan penyaluran harta zakat berjalan dengan baik.

3. Perintah Zakat Pada masa Khalifah Umar Ibn Al-Khattab

Pemungutan dan pengelolaan zakat pada masa Khalifah Umar Ibn al-Khattab ini makin diintensifkan sehingga penerimaan harta zakat makin meningkat, karena semakin banyak jumlah para wajib zakat dengan pertambahan dan perkembangan ummat Islam di pelbagai wilayah yang ditaklukkan.

Perhatian Khalifah Umar terhadap pelaksanaan zakat sangat besar. Untuk itu ia selalu mengontrol para petugas amil zakat dan mengawasi keamanan gudang penyimpanan harta zakat, khususnya harta- harta zahirah (terlihat). Untuk itu beliau tidak segan-segan mengeluarkan ancaman akan menindak tegas petugas yang lalai atau menyalahgunakan harta zakat.

Program  pengentasan  kemiskinan  dengan  menempuh  praktek zakat itu ternyata membawa hasil yang gemilang. Bahkan masyarakatnya tidak ada lagi yang mau menerima zakat lantaran penduduknya telah hidup berkecukupan semua.

Meskipun   penerimaan   harta   zakat   melimpah   ruah,   karena semakin luasnya wilayah Islam, namun kehidupan ekonomi Khalifah tetap sederhana seperti sebelum ia menjabat sebagai Khalifah.

4. Perintah Zakat Pada masa Khalifah Usman Ibn Affan 

Dalam periode ini, penerimaan zakat makin meningkat lagi, sehingga gudang Baitulmal penuh dengan harta zakat. Untuk itu Khalifah sekali-kali, memberi wewenang kepada para wajib zakat untuk atas nama Khalifah menyerahkan sendiri zakatnya langsung kepada yang berhak.

Bagi Khalifah, urusan zakat ini demikian penting, untuk itu beliau mengangkat pejabat yang khusus menanganinya yaitu Zaid Ibn Tsabit, sekaligus  mengangkatnya  mengurus  lembaga  keuangan  negara (Baitulmal).

Pelaksanaan pemungutan dan pendistribusian zakat makin lancar dan meningkat. Harta zakat yang terkumpul segera terbagi-bagi kepada yang berhak menerimanya, sehingga hampir tidak terdapat sisa harta zakat yang tersimpan dalam Baitulmal.

5.   Perintah Zakat Pada masa Khalifah Ali Ibn Abi Thalib 

Ali Ibn Abi Thalib dibai’at menjadi khalifah setelah lima hari terbunuhnya Khalifah  Usman Ibn Affan. Sejak awal pemerintahanya, ia mengahaapi persoalan yang sangat kompleks, yaitu masalah politik dan perpecahan dalam masyarakat sebagai akibat terjadinya pembunuhan atas diri Khalifah Utsman.

Meskipun dalam situasi politik yang goncang itu, Ali Ibn Abi Thalib tetap mencurahkan perhatian yang besar mengenai permasalahan zakat yang merupakan urat nadi kehidupan pemerintahan dan agama; bahkan pada suatu ketika ia sendiri yang turun tangan mendistribusikan zakat kepada orang-orang yang berhak menerimanya.

Dalam penerapan dan pelaksanaan zakat, Ali In Abi Thalib telah mengikuti  kebijakan  khalifah-khalifah  pendahulunya.  Harta  zakat  yag sudah terkumpul beliau perintahkan kepada petugas supaya segera membagikan kepada mereka yang berhak dan sangat membutuhkannya dan jangan sampai terjadi pertumpukan harta zakat dalam Baitulmal.88

6.   Perintah Zakat Pada masa Umar Ibn Abdul Aziz

Dalam periode Daulah Bani Umayyah yang berlangsung selama hampir selama sembilan puluh tahun (41-127 H), tampil salah seorang khlaifahnya yang terkenal yaitu Umar Ibn Abdul Aziz (99-101 H). Dia terkenal karena kebijakan dan keadilan serta keberhasilannya dalam memajukan dan mensejahterakan masyarakat, termasuk berhasil dalam penanganan zakat sehingga dana zakat melimpah ruah dalam Baitulmal sampai menimbulkan kesulitan bagi petugas amil zakat mencari golongan fakir miskin yang membutuhkan zakat tersebut.

Pola kepemimpinan dan sistem yang diterapkannya banyak mencontoh para Khalifah al-Rasyidin sebelumnya. Khalifah mempunyai perhatian yang besar terhadap petugas zakat, sewaktu-waktu beliau sendiri turun tangan membagi-bagikan harta zakat kepada mereka yang berhak menerimanya, bahkan   mengantarkannya   ke   tempat   mereka   masing-masing.

Pada   masa   Khalifah Umar Ibn Abdul Aziz, sistem   dan manajemen zakat sudah mulai maju dan profesional. Jenis ragam harta dan kekayaan yang dikenakan zakat sudah bertambah banyak. Yusuf al Qordhawi,  menuturkan  bahwa  Khalifah  Umar  Ibn  Abdul  Aziz  adalah orang pertama yang mewajibkan atas zakat harta kekayaan yang diperoleh dari   penghasilan   usaha   atau   hasil   jasa   yang   baik,   termasuk   gaji, honorarium, penghasilan berbagai profesi, dan berbagai maal al Mustafa lainnya.

Daftar Maraji’

Sayyid Sabiq, Fiqih Sunnah, Jilid III, Alih Bahasa: Mahyuddin Syaf, PT. Al-Ma’arif, Bandung, 1996.

Dr. Abdurrachman Qadir, MA, Zakat Dalam dimensi Mahdhah dan Sosial, PT Raja Grafindo, Jakarta, 1998.

Mensucikan maksudnya adalah zakat itu dapat membersihkan dan mensucikan mereka dari kekiran, dan cinta harta yang berlebih-lebihan terhadap harta benda. Sedang mentakziyahkan maksudnya  adalah  zakat  itu  dapat  menyuburkan  sifat-sifat  kebaikan  dalam  hati  orang  yang berzakat dan memperkembangkan harta bendanya.

Drs. Nipan Abdul Halim,  Mengapa Zakat Disyari’atkan, M2S, Bandung, 2001, halaman 38-39.