Makalah Sejarah Perkembangan Lembaga Pendidikan Islam di Indonesia

Advertisement
Makalah Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia Masa Awal - oleh (Lathif 1320510039) - Berbicara tentang pendidikan Islam di Indonesia, sangat erat kaitannya dengan kedatangan Islam itu sendiri ke Indonesia. Dalam konteks ini, Mahmud Yunus mengatakan bahwa sejarah pendidikan Islam sama tuanya dengan masuknya Islam ke Indonesia. Hal ini disebabkan karena pemeluk agama tersebut sudah barang tentu ingin mempelajari dan mengetahui, lebih mendalami tentang ajaran-ajaran Islam. Ingin pandai salat, berdoa, dan membaca Al-Qur’an yang menyebabkan timbulnya proses belajar, meskipun dalam pengertian yang sangat sederhana. Dari sinilah mulai timbul pendidikan Islam, di mana pada mulanya mereka belajar di rumah-rumah, langgar/surau, masjid dan kemudian berkembang menjadi pondok pesantren. Setelah itu, baru timbul sistem madrasah yang teratur sebagaimana yang kita kenal sekarang ini.[1]

Baca Juga Artikel Sejarah Indonesia Lainna
  1. Potret Sejarah Singkat Kerajaan Sriwijaya terbesar di Indonesia
  2. Makalah Sejarah Perkembangan Kajian Hadis Islam di Indonesia pada Masa Awal
  3. Potret Sejarah Singkat Kerajaan Islam Samudera Pasai dan Kesultanan Malaka

Kendatipun pendidikan Islam dimulai sejak pertama Islam itu sendiri menancapkan dirinya ke pulau Nusantara, namun secara pasti tidak dapat diketahui bagaimana cara pendidikan pada masa permulaan Islam di Indonesia, tentang buku yang dipakai, pengelola dan sistem pendidikan. Hal ini disebabkan karena bahan-bahan yang terbatas. Yang dapat dipastikan, pendidikan Islam waktu itu telah ada, tetapi dalam bentuk yang sangat sederhana.

Masuknya Islam di Indonesia

Berita Islam di Indonesia telah diterima sejak orang Venesia (Italia) yang bernama Marcopolo singgah di kota Perlak dan menerangkan bahwa sebagian besar penduduknya telah beragama Islam.[2] Sampai sekarang belum ada bukti tertulis tentang kapan tepatnya Islam masuk ke Indonesia, namun banyak teori yang memperkirakannya. Pada umumnya teori-teori tersebut dikaitkan dengan jalur perdagangan dan pelayaran antara Dunia Arab dengan Asia Timur. Pulau Sumatra misalnya, karena letak geografisnya, sejak awal abad pertama Masehi telah menjadi tumpun perdagangan antarbangsa dan pedagang-pedagang yang datang ke Sumatra.[3]

Dari sekian perkiraan, kebanyakan menetapkan bahwa kontak Indonesia dengan Islam sudah terjadi sejak abad 7 M. Ada yang mengatakan bahwa Islam pertama kali masuk ke Indonesia di Jawa, ada yang mengatakan di Barus. Ada yang berpendapat bahwa Islam masuk Indonesia melalui pesisir Sumatra. Para saudagar muslim asal Arab, Persia, dan India ada yang sampai di kepulauan Indonesia untuk berdagang sejak abad ke 7 M yang berlayar ke Asia Timur melalui selat Malaka singgah di pantai Sumatra Utara untuk mempersiapkan air minum, dan perbekalan lainnya. Mereka yang singgah di pesisir Sumatra Utara membentuk masyarakat Muslim dan mereka menyebarkan Islam sambil berdagang. Pada perkembangan berikutnya terjalinlah hubungan perkawinan dengan penduduk pribumi atau menyebarkan Islam sambil berdagang.[4]

Sejarah perkembangan sekolah agama islam Indonesia

Selanjutnya, siapa yang memperkenalkan Islam di Indonesia? Ada yang mengatakan bahwa Islam dibawa ke Indonesia oleh para pedagang. Ada yang mengatakan bahwa kekuasaan (konversi) keraton sangat berpengaruh bagi pengislaman di Indonesia. Masuknya Islam penguasa akan diikuti oleh rakyatnya secara cepat. Dapat dikatakan bahwa Islam pada mulanya diperkenalkan oleh para pedagang Muslim yang melakukan kontak dengan penduduk setempat yang pada akhirnya dapat menarik hati penduduk setempat untuk memeluk Islam. Pada masa awal, saudagar-saudagar muslim dikenal cukup mendominasi perdagangan dengan Indonesia. Saudagar muslim itu mampu memperkenalkan nilai-nilai Islam terutama ketentuan-ketentuan hukum Islam mengenai perdagangan yang memberikan keuntungan ekonomi secara maksimal, sekaligus mereka membatasi adanya pilihan terhadap agama-agama lain. Ada yang mengatakan bahwa para ulama memiliki peranan yang besar bagi penyebaran Islam di Indonesia. Para pedagang msulim datang ke Indonesia untuk berdagang dan mengumpulkan kekayaan, setelah mereka menetap maka datanglah guru-guru (ulama) yang bertujuan menyebarkan dan mengajar penduduk setempat.[5]


Kendatipun para saudagar muslim tidak dapat dikatakan sebagain instrumen penyebaran Islam, namun peranannya tidak dapat diabaikan bagi proses Islamisasi di Indonesia. Kehadiran pedagang-pedagang muslim melahirka fenomena kota-kota perdagangan sebagai pusat ekonomi, yang pada akhirnya mendukung kegiatan bagi pengembangan Islam. Kegiatan perdagangan yang maju memungkinkan terselenggaranya pengajaran Islam dan pembangunan lembaga-lembaga pendidikan Islam sehingga menciptakan kehidupan agama yang dinamis. Dengan adanya dinamika umat Islam di perkotaan akhirnya mampu memperkuat penetrasi Islam sampai ke pelosok tanah air.[6]

Pendidikan Islam Indonesia Masa Awal; Potret Lembaga Pendidikan di Indonesia

Sejak awal perkembangan Islam, pendidikan mendapat prioritas utama masyarakat muslim Indonesia. Di samping karena besarnya arti pendidikan, kepentingan Islamisasi mendorong umat Islam melaksanakan pengajaran Islam kendatipun dalam sistem yang masih sangat sederhana, di mana pengajaran diberikan dengan sistem halaqah yang dilakukan di tempat-tempat ibadah semacam masjid, mushala, bahkan juga di rumah-rumah ulama. Kebutuhan terhadap pendidikan mendorong masyarakat Islam di Indonesia mengadopsi dan mentransfer lembaga keagamaan dan sosial yang sudah ada (indigenous religious adan social institution) ke dalam lembaga pendidikan Islam di Indonesia. Di Jawa umat Islam mentransfer lembaga keagamaan Hindu-Budha menjadi pesantren, umat Islam di Minangkabau mengambil alih surau sebagai peninggalan adat masyarakat setempat menjadi lembaga pendidikan Islam, dan demikian pula masyarakat Aceh dengan mentransfer lembaga masyarakat meunasah sebagai lembaga pendidikan Islam.[7]

Perkembangan pendidikan Islam di Indonesia antara lain ditandai oleh munculnya berbagai lembaga pendidikan secara bertahap, mulai dari yang sangat sederhana, sampai dengan tahap-tahap yang sudah terhitung modern dan lengkap. Lembaga pendidikan Islam telah memainkan fungsi dan peranannya sesuai dengan tuntutan masyarakat dan zamannya.

1. Lembaga Pendidikan Islam di Surau

Pembahasan tentang surau sebagai lembaga pendidikan Islam di Minangkabau hanya dipaparkan sekitar awal pertumbuhan surau samapi dengan meredupnya pamor surau. Kondisi ini dilatarbelakangi dengan lahirnya gerakan pembaharuan di Minangkabau yang ditandai dengan berdirinya madrasah sebagai pendidikan alternatif.

Istilah surau di Minangkabau sudah dikenal sebelum datangnya Islam. Surau dalam sistem adat Minangkabau adalah kepunyaan suku atau kaum sebagai pelengkap rumah gadang yang berfungsi sebagai tempat bertamu, berkumpul, rapat, dan tempat tidur bagi anak laki-laki yang telah akil baligh dan orang tua yang uzur.[8] Fungsi surau ini semakin kuat posisinya karena struktur masyarakat Miangkabau yang menganut sistem Matrilineal[9], menurut ketentuan adat bahwa laki-laki tidak punya kamar di rumah orang tuanya sendiri, sehingga mereka diharuskan tidur di surau. Kenyataan ini menyebabkan surau menjadi tempat amat penting bagi pendewasaan generasi Minangkabau, baik dari segi ilmu pengetahuan maupun ketrampilan praktis lainnya.[10]

Fungsi surau tidak berubah setelah kedatangan Islam, hanya saja fungsi keagamaannya semakin penting yang diperkenalkan pertama kali oleh Syekh Burhanuddin di Ulakan, Pariaman. Pada masa ini, eksistensi surau di samping sebagai tempat shalat juga digunakan Syekh Burhanuddin sebagai tempat mengajarkan ajaran Islam, khusunya tarekat (suluk).

Sebagai lembaga pendidikan tradisional, surau menggunakan sistem pendidikan halaqah. Materi pendidikan yang diajarkan pada mulanya masih seputar belajar huruf hijaiyah dan membaca al-Qur’an, di samping ilmu-ilmu keislaman lainnya, seperti keimanan, akhlakdan ibadah. Pada umumnya pendidikan ini dilaksanakan pada malam hari.[11]
Secara bertahap, eksistensi surau sebagai lembaga pendidikan Islam mengalami kemajuan. Ada dua jenjang pendidikan surau pada masa ini, yaitu: 1) Pengajaran al-Qur’an yang mencakup pendidikan untuk memahami ejaan huruf al-Qur’an dan membaca al-Qur’an sampai pendidikan membaca al-Qur’an dengan lagu, kasidah, berzanji, tajwid, dan pengajian kitab; dan 2) Pengajian Kitab yang meliputi materi tentang ilmu nahwu dan saraf, ilmu fikih, ilmu tafsir, dan lain sebagainya. Cara mengajarkannya adalah dengan membaca sebuah kitab Arab dan kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Melayu. Setelah itu baru diterangkan maksudna. Penekanan pada jenjang ini adalah pada aspek hafalan.

Metode pendidikan yang diterapkan di surau bila dibandingkan dengan metode pendidikan modern, metode pendidikan surau memiliki kelebihan dan kekurangan. Kelebihannya terletak pada kemampuan menghafal muatan teoritis keilmuannya. Sedangkan kelemahannya terdapat pada lemahnya kemampuan memahami dan menganalisis teks. Di sisi lain, metode pendidikan ini diterapkan secara keliru. Siswa banyak yang bisa membaca dan menghafal isi suatu kitab, akan tetapi tidak bisa menulis apa yang dibaca dan dihafal[12]

Surau sebagai lembaga pendidikan Islam mulai surut peranannya karena disebabkan oleh beberapa hal. Pertama, selama perang Padri banyak surau yang musnah terbakar dan syekh banyak yang meninggal, kedua, Belanda mulai memperkenalkan sekolah negeri, ketiga, kaum intelektual muda muslim mulai mendirikan madrasah sebagai bentuk ktidaksetujuan mereka terhadap praktik-praktik surau yang penuh dengan khurafat bid’ah dan takhayul.[13]

Dalam posisinya sebagai lembaga pendidikan Islam, poisis surau sangat strategis bai dalam proses pengembangan Islam maupun pemahaman terhadap ajaran-ajaran Islam. Bahkan surau telah mampu mencetak para ulama besar Minangkabau dan menumbuhkan semangat nasionalisme, terutama dalam mengusir kolonialisme Belanda.

2. Lembaga Pendidikan Islam di Meunasah
Meunasah merupakan tingkat pendidikan Islam terendah. Meunasah berasal dari bahasa Arab madrasah. Meunasah merupakan satu bangunan yang terdapat di setiap kampung/desa. Bangunan ini seperti rumah tetapi tidak mempunyai jendela dan bagian-bagian lain. Bangunan ini digunakan sebagai tempat belajar dan berdiskusi serta membicarakan masalah-masalah yang berhubungan dengan kemasyarakatan. Di samping itu, meunasah juga menjadi tempat bermalam para anak-anak muda serta orang laki-laki yang tidak mempunyai istri. Setelah Islam mapan di Aceh, meunasah juga menjadi tempat shalat bagi masyarakat dalam satu gampong/desa.[14]

Di antara fungsi meunasah itu adalah:

a. Sebagai tempat upacara keagamaan, penerimaan zakat dan tempat penyalurannya, tempat penyelesaian perkara agama, musyawarah dan menerima tamu.

b. Sebagai lembaga pendidikan Islam di mana diajarkan pelajaran membaca al-Qur’an. Pengajian bagi orang dewasa diadakan pada malam hari tertentu dengan metode ceramah dalam satu bulan sekali. Kemudian pada hari Jum’at dipakai ibu-ibu untuk shalat berjama’ah zhuhur yang diteruskan pengajian yang dipimpin oleh seorang guru perempuan.[15]

Dalam perkembangan lebih lanjut, meunasah bukan hanya berfungsi sebagai tempat beribadah saja, melainkan juga sebagai tempat pendidikan, tempat pertemuan, bahkan juga sebagai tempat transaksi jual-beli, terutama barang-barang yang tidak bergerak. Yang belajar di meunasah umumnya anak laki-laki yang umumnya di bawah umur. Sedangkan untuk anak perempuan pendidikan diberikan di rumah guru.

Pendidikan meunasah ini dipimpin oleh Teungku Meunasah. Pendidikan untuk anak perempuan diberikan oleh Teungku perempuan yang disebut Tengku Inong. Dalam memberika pendidikan kepada anak-anak, Tengku Meunasah dibantu oleh beberapa orang muridnya yang lebih cerdas yang disebut sida.[16]

Keberadaan meunasah di Aceh sebagai lembaga pendidikan tingkat dasar sangat mempunyai arti di Aceh. Semua orang tua memasukkan anaknya ke meunasah. Dengan kata lain, meunasah merupakan madrasah wajib belajar bagi masyarakat Aceh masa lalu. Oleh karena itu, tidaklah mengherankan apabila orang Aceh mempunyai fanatisme agama yang tinggi.[17]

3. Lembaga Pendidikan Islam di Pesantren

Pesantren atau pondok pesantren, atau sering disingkat pondok atau ponpes, adalah sebuah asrama pendidikan tradisional, di mana para siswanya semua tinggal bersama dan belajar di bawah bimbingan guru yang lebih dikenal dengan sebutan Kiai dan mempunyai asrama untuk tempat menginap santri. Santri tersebut berada dalam kompleks yang juga menyediakan masjid untuk beribadah, ruang untuk belajar, dan kegiatan keagamaan lainnya. Kompleks ini biasanya dikelilingi oleh tembok untuk dapat mengawasi keluar masuknya para santri sesuai dengan peraturan yang berlaku.[18] Pondok Pesantren merupakan dua istilah yang menunjukkan satu pengertian. Pesantren menurut pengertian dasarnya adalah tempat belajar para santri, sedangkan pondok berarti rumah atau tempat tinggal sederhana terbuat dari bambu. Di Jawa termasuk Sunda dan Madura umumnya digunakan istilah pondok dan pesantren, sedang di Aceh dikenal dengan istilah dayah atau rangkang atau menuasa, sedangkan di Minangkabau disebut surau.[19] Pesantren juga dapat dipahami sebagai lembaga pendidikan dan pengajaran agama, umumnya dengan cara nonklasikal, di mana seorang kiai mengajarkan ilmu agama Islam kepada santri-santri berdasarkan kitab-kitab yang ditulis dalam bahasa Arab oleh Ulama Abad pertengahan, dan para santrinya biasanya tinggal di pondok (asrama) dalam pesantren tersebut.[20]

Kehadiran pesantren tidak dapat dipisahkan dari tuntutan umat. Karena itu, pesantren sebagai lembaga pendidikan selalu menjaga hubungan yang harmonis dengan masyrakat sekitar sehingga keberadaannya di tengah-tengah masyarakat tidak menjadi terasing. Dalam waktu yang sama segala aktifitasnya pun mendapat dukungan dan apresiasi penuh dari masyarakat sekitarnya. Semuanya memberi penilaian tersendiri bahwa sistem pesantren adalah merupakan sesuatu yang bersifat “asli” atau “indigenos” Indonesia, sehingga dengan sendirinya bernilai positif dan harus dikembangkan.[21]

Dari perspektif kependidikan, pesantren merupakan satu-satunya lembaga pendidikan yang tahan terhadap berbagai gelombang modernisasi. Dengan kondisi demikian itu, kata Azyumardi Azra, menyebabkan pesantren tetap survive sampai hari ini. Sejak dilancarkannya perubahan atau modernisasi pendidikan Islam di berbagai dunia Islam, tidak banyak lembaga-lembaga pendidikan tradisional yang mampu bertahan. Kebanyakan lenyap setelah tergusur oleh ekspansi sistem pendidikan umum dan sekuler.[22] Nilai-nilai progresif dan inovatif sebagai suatu strategi untuk mengejar ketertinggalan dari model pendidikan lain. Dengan demikian, pesantren mampu bersaing dan sekaligus bersanding dengan sistem pendidikan modern.

Di sisi lain, ciri-ciri pesantren berikut unsur-unsur kelembagaannya tidak bisa dipisahkan dari sistem kultural dan tidak dapat pula dilekatkan pada semua pesantren secara uniformitas karena setia pesantren memiliki keunikan masing-masing, tetapi pesantren secara umum memiliki karakteristik yang hampir sama, di antara karakteristik pesantren itu dari segi:

a. Materi pelajaran dan metode pengajaran pesantren Indonesia


Sebagai lembaga pendidikan Islam, pesantren pada dasarnya hanya mengajarkan agama, sedangkan kajian atau mata pelajarannya adalah kitab-kitab dalam bahasa Arab (kitab kuning). Pelajaran agama yang dikaji di pesantren ialah al-Qur’an dengan tajwid dan tafsirnya, aqa’id dan ilmu kalam, fikih dan ushul fikih, hadis dengan mustalah hadis, bahasa Arab dengan ilmunya, tarikh, mantiq dan tasawuf.

Adapun metode yang lazim digunakan dalam pendidikan pesantren adalah:

1) Wetonan atau di sebut juga metode bandongan adalah metode pengajaran dengan cara ustadz/kiai membaca, menerjemahkan, menerangkan dan mengulas kitab/buku-buku keislaman dalam bahasa arab, sedangkan santri mendengarkannya. Mereka memperhatikan kitab/bukunya sendiri dan membuat catatan-catatan (baik arti maupun keterangan) tentang kata-kata yang diutarakan oleh ustadz/kiai.

2) Sorogan merupakan metode yang ditempuh dengan cara ustadz menyampaikan pelajaran kepada santri secara individual. Sasaran metode ini biasanya kelompok santri pada tingkat rendah yaitu mereka yang baru menguasai pembacaan al-Qur’an. Melalui sorogan, pengembangan intelektual santri dapat ditangkap oleh kiai secara utuh. Dia dapat memberikan bimbingan penuh sehingga dapat memberikan tekanan pengajaran terhadap santri-santri tertentu atas dasar observasi langsung terhadap tingkat kemampuan dasar dan kapasitas mereka.

3) Hafalan, yaitu suatu motode di mana santri menghafal teks atau kalimat tertentu dari kitab yang dipelajarinya.[23]

b. Jenjang Pendidikan Pesantren Indonesia


Jenjang pendidikan dalam pesantren tidak dibatasi seperti dalam lembaga-lembaga pendidikan yang memakai sistem klasikal. Umumnya, kenaikatn tingkat seorang santri ditandai dengan tamat dan bergantinya kitab yang dipelajari. Jadi jenjang pendidikan tidak ditandai dengan naiknya kelas seperti dalam pendidikan formal, tetapi pada penguasaan kitab-kitab yang telah ditetapkan dari yang paling rendah sampai yang paling tinggi.[24]

c. Fungsi Pesantren

Pesantren tidak hanya berfungsi sebagai lembaga pendidikan, tetapi juga berfungsi sebagai lembaga sosial dan penyiaran keagamaan. Sebagai lembaga pendidikan, pesantren menyelenggarakan pendidikan formal (madrasah, sekolah umum, perguruan tinggi) dan non-formal. Sebagai lembaga sosial, pesantren menampung anak-anak dari segala lapisan masyarakat muslim tanpa membeda-bedakan status sosial. Sebagai lembaga penyiaran keagamaan, masjid pesantren juga berfungsi sebagai masjid umum, yakni sebagai tempat belajar agama dan ibadah bagi para jama’ah.[25]

Di samping fungsi di atas, pesantren juga mempunyai peranan yang sangat besar dalam merespons ekspansi plotik emperialis Belanda dalam bentuk menola segala sesuatu yang berbau barat dengan menutup diri dan menaruh sikap curiga terhaadap unsur-unsur asing. Dan lebih dari itu, pesantren sebagai tempat mengobarkan semangat jihad untuk mengusir penjajah dari tanah air.

d. Kehidupan Kyai dan Santri Indonesia


Berdirinya pondok pesantren bermula dari seorang kyai yang menetap/bermukim di suatu tempat. Kemudian datanglah santri yang ingin belajar kepadanya dan turut pula bermukim di tempat itu. Sedangkan biaya kehidupan dan pendidikan disediakan bersama-sama oleh para santri dengan dukungan masyarakat sekitar. Hal ini memungkinkan kehidupan pesantren bisa berjalan stabil tanpa dipengaruhi oleh gejolak ekonomi di luar.

Eksistensi kyai dala pesantren merupakan lambang kewahyuan yang selalu disegani, dipatuhi dan dihormati secara ikhlas. Para santri dan masyarakat sekitar selalu berusaha agar dapat dekat dengan kyai untuk memperoleh berkah, sebab menurut anggapan mereka seperti yang dikatakan oleh Zanakhsyari Dhofier, “Kyai memiliki kedudukan yang tak terjangkau, yang tak dapat sekolah dan masyarakat memahami keagungan Tuhan dan rahasia alam.” Tegasnya, kyai adalah tempat bertanya, tempat menyelesaikan segala urusan dan tempat meminta nasihat dan fatwa.[26]

Dalam perkembangannya, dinamika dan kemajuan zaman telah mendorong terjadinya perubahan terus menerus pada sebagian besar pesantren. Maka pada akhir-akhir ini akan sulit ditemukan sebuah pesantren yang bercorak tradisional murni. Karena pesantren sekarang telah mengalami transformasi sedemikian rupa sehingga menjadi corak yang berbeda-beda.

Dilihat dari proses transformasi tersebut, sekurang-kurangnya pesantren dapat dibedakan menjadi tiga corak, yaitu pertama, pesantren salaf, pesantren yang masih tetap mempertahankan nilai-nilai tradisionalnya dalam arti tidak mengalami transformasi yang berarti dalam sistem pendidikannya atau tidak ada inovasi yang menonjol dalam corak pesantren ini. Umumnya pesantren model ini masih eksis di daerah pedalaman-pedalaman atau pedesaan. Sehingga bisa dikatakan bahwa desa adalah benteng terakhir dalam mempertahankan tradisi-tradisi keislaman. Kedua, pesantren tradisional. Corak pendidikan pada pesantren ini sudah mulai mengadopsi sistem pendidikan modern, tetapi tidak sepenuhnya. Prinsip selektifitas dalam menjaga nilai tradisional masih terpelihara. Misalnya, metode pengajaran dan beberapa rujukan tambahan yang dapat menambah wawasan para santri sebagai penunjang kitab-kitab klasik. Manajemen dan administrasi sudah mulai ditata secara modern meskipun sistem tradisionalnya masih dipertahankan. Ketiga, pesantren modern. Pesantren corak ini telah mengalami transformasi yang sangat sinifikan baik dalam sistem pendidikannya maupun unsur-unsur kelembagaannya. Materi pelajaran dan metodenya sudah sepenuhnya menganut sistem modern. Pengembangan bakat dan minat sangat diperhatikan sehingga para santri dapat menyalurkan bakat dan hobinya secara proposional. Sistem pengajaran dilaksanakan dengan porsi sama anatara pendidikan agama dan umum, penguasaan bahasa asing (bahasa Arab dan Inggris) sangat ditekankan.[27]

4. Lembaga Pendidikan Islam di Madrasah

Sejarah dan perkembangan madrasah akan dibagi dalam dua periode, yaitu:

a. Periode Sebelum Kemerdekaan

Pendidikan dan pengajaran agama Islam dalam bentuk pengajian al-Qur’an dan pengajian kitab yang diselenggarakan di rumah-rumah, surau, masjid, pesantren, dan lain-lain. Pada perkembangan selanjutnya mengalami perubahan bentuk baik dari segi kelembagaan, materi pengajaran (kurikulum), metode maupun struktur organisasinya sehingga melahirkan suatu bentuk baru yang disebut madrasah.[28]

Madrasah sebagai lembaga pendidikan Islam berfungsi menghubungkan sistem lama dengan sistem baru dengan jalan mempertahankan nilai-nilai lama yang masih baik yang masih dapat dipertahankan dan mengambil sesuatu yang baru dalam ilmu, tekhnologi, dan ekonomi yang bermanfaat bagi kehidupan umat Islam. Oleh karena itu, isi kurikulum madrasah pada umumnya dalah apa yang diajarkan di lembaga-lembaga pendidikan Islam (surau dan pesantren) ditambah dengan beberapa materi pelajaran yang disebut dengan ilmu-ilmu umum.[29]

Latar belakang pertumbuhan madrasah di Indonesia dapat dikembalikan pada dua situasi yaitu:

1) Gerakan Pembaruan Islam di Indonesia

Gerakan Pembaruan Islam di Indonesia muncul pada awal abad ke-20 yang dilatarbelakangi oleh kesadaran dan semangat yang kompleks sebagaimana diuraikan oleh Karel A Steenbrink dengan mengidentifikasi empat faktor yang mendorong gerakan pembaruan Islam di Indonesia, antara lain:

a) Keinginan untuk kembali kepada al-Qur’an dan hadis

b) Semangat nasionalisme dalam melawan penjajah

c) Memperkuat basis gerakan sosial, budaya, dan politik

d) Pembaruan pendidikan Islam di Indonesia

Bagi tokoh-tokoh pembaruan, pendidikan kiranya senantiasa dianggap sebagai aspek yang strategis untuk membentuk sikap dan pandangan keislaman masyarakat. Oleh karena itu, pemunculan madrasah tidak bisa lepas dari gerakan pembaruan Islam yang dimulai oleh usaha beberapa orang tokoh-tokoh intelektual Islam yang selanjutnya dikembangkan oleh organisasi-organisasi Islam.[30]
Respons Pendidikan Islam terhadap Kebijakan Pendidikan Hindia Belanda

Awal mula bangsa Belanda datang ke Nusantara hanya untuk tujuan berdagang, tetapi karena kekayaan alam Nusantara yang sangat banyak maka tujuan utama tadi berubah untuk menguasai wilayah Nusantara dan menanamkan pengaruh di Nusantara sekaligus dengan mengembangkan pahamnya yang terkenal dengan semboyan 3G, yaitu Glory (kemenangan dan kekuasaan), Gold (emas atau kekayaan bangsa Indonesia), dan Gospel (upaya salibisasi terhadap umat Islam di Indonesia).[31]

Dalam menyebarkan misi-misinya, Belanda mendirikan sekolah-sekolah Kristen. Misalnya di Ambon yang jumlah sekolahnya mencapai 16 sekolah dan 18 sekolah di sekitar pulau-pulau Ambon, di Batavia sekitar 20 sekolah, padahal sebelumnya sudah ada sekitar 30 sekolah. Di samping itu, sekolah-sekolah ini pada perkembangannya dibuka secara luas untuk rakyat umum dengan biaya yang murah. Dengan demikian, melalui sekolah-sekolah inilah Belanda menanamkan pengaruhnya di daerah jajahannya.[32]

Dengan terbukanya kesempatan yang luas bagi masyarakat umum untuk memasuki sekolah-sekolah yang diselenggarakan oleh Belanda, maka kalangan Islam mendapat tantangan dan saingan berat, terutama karena sekolah-sekolah pemerintah Hindia Belanda dilaksanakan dan dikelola secara modern terutama dalam hal kelembagaan, kurikulum, metodologi, sarana, dan lain-lain.

Perkembangan sekolah yang demikian jauh dan merakyat menyebabkan tumbuhnya ide-ide di kalangan intelektual Islam untuk memberikan respons dan jawaban terhadap tantangan tersebut dengan tujuan untuk memajukan pendidikan Islam. Mereka mendiirikan lembaga pendidikan baik secara perorangan maupun kelompok/organisasi yang dinamakan madrasah atau sekolah.

Periode Sesudah Kemerdekaan Indonesia


Setelah kemerdekaan Indonesia tanggal 17 Agustus 1945, kemudian pada tanggal 3 Januari 1946 dibentuklah Departemen Agama yang akan mengurus masalah keberagamaan di Indonesia termasuk di dalamnya pendidikan, khususnya madrasah. Namun pada perkembangan selanjutnya, madrasah walaupun sudah berada di bawah naungan Depag tetapi hanya sebatas pembinaan dan pengawasan.[33]

Sungguhpun pendidikan Islam di Indonesia telah berjalan lama dan mempunyai sejarah panjang, namun dirasakan, pendidikan Islam masih tersisih dari sistem Pendidikan Nasional. Keadaan ini berlangsung sampai dengan dikeluarkannya SKB 3 Menteri tanggal 24 Maret 1975 yang berusaha mengembalikan ketertinggalan pendidikan Islam untuk memasuki mainstream pendidikan nasional.[34] Kebijakan ini membawa pengaruh yang sangat besar bagi madrasah, karena pertama, ijazah dapat mempunyai nilai yang sama dengan sekolah umum yang sederajat, kedua, lulusan sekolah madrasah dapat melanjutkan ke sekolah umum yang setingkat lebih tinggi, dan ketiga, siswa madrasah dapat pindah ke sekolah umum yang setingkat.

Makalah Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia

Dengan SKB tersebut, madrasah memperoleh definisi yang semakin jelas sebagai lembaga pendidikan yang setara dengan sekolah sekalipun pengelolaannya berada di bawah Departemen Agama. Namun pada perkembangan selanjutnya akhir dekade 1980-an dunia pendidikan Islam memasuki era integrasi dengan lahirnya UU No. 2/1989 tentang sistem Pendidikan Nasional, eksistensi madrasah sebagai lembaga pendidikan yang bercirikan Islam semakin mendapatkan tempatnya.[35]

D. Penutup

Dalam tinjauan historis, sejarah pendidikan Islam dimulai bersamaan dengan awal berkembangnya sejarah Islam, yaitu sejak masa Rasulullah Saw. Dalam perjalanan panjang sejarah Islam, pendidikan Islam juga mengalami berbagai dinamika fluktuatif seiring dengan fluktuasi sejarah Islam sendiri. Begitupun dengan sejarah pendidikan di Indonesia, sangat erat kaitannya dengan kedatangan Islam itu sendiri ke Indonesia.

Perkembangan pendidikan Islam di Indonesia antara lain ditandai oleh munculnya berbagai lembaga pendidikan secara bertahap, mulai dari yang sangat sederhana, sampai dengan tahap-tahap yang sudah terhitung modern dan lengkap.

Surau bagi masyarakat Minangkabau mempunyai banyak fungsi. Tidak hanya sebagai tempat untuk berkumpul, rapat, ataupun tempat tidur, surau juga berfungsi sebagai lembaga pendidikan Islam. Dari surau telah melahirkan banyak ulama-ulama besar yang disegani.

Mueunasah merupakan lembaga pendidikan tingkat rendah yang ada di Aceh. Fungsinya hampir sama dengan surau di Minangkabau. Sebagai lembaga pendidikan Islam tingkat rendah, materi pelajaran yang diberikan pun masih seputar pengantar dan pengetahuan tentang bagaimana cara membaca al-Qur’an, kemudian diberikan materi-materi tambahan lainnya. Lembaga pendidikan ini telah mampu mencetak masyarakat Aceh yang mempunyai fanatisme tinggi dalam agama.

Pesantren merupakan lembaga pendidikan Islam yang tumbuh dan berkembang di pulau Jawa dan dapat bertahan sampai hari ini. Dalam pesantren, terdapat unsur yang harus dipenuhi, yaitu kyai, santri masjid, pemondokan, serta pengajaran kitab kuning.

Madrasah di Indonesia mengalami pertumbuhan dan perkembangan. Hal ini ada dua faktor yang berpengaruh, yaitu adanya gerakan pembaharuan di Indonesia dan sebagai respons terhadap kebijakan pendidikan Belanda. Setelah Indonesia merdeka, kebijakan pemerintah terhadap madrsah belum terlihat jelas dan madrasah menemukan momentumnya ketika dikeluarkan SKB 3 Menteri tahun 1975 dan UUSPN tahun 1989, yaitu mendapatkan tempatnya di dalam Sistem Pendidikan Nasional.

Daftar Pustaka


Asrahah, Hanun. Sejarah Pendidikan Islam. Jakarta: Logos Wacana Ilmu. 1999.

Azra, Azyumardi. Pendidikan Islam Tradisi dan Modernisasi Menuju Millenium Baru. Ciputat: Logos. 1999.

Daud Ali, Muhammad. Lembaga-Lembaga Islam di Indonesia. Jakarta: Raja Grafindo Persada. 1995.

Dhofier, Zamakhsyari. Tradisi Pesantren Studi tentang Pandangan Hidup Kyai. Jakarta: LP3S. 1983.

Dirjen Bimbaga Islam. Sejarah Pendidikan Islam. Jakarta: Depag. 1984.

Fadjar, Malik. Madrasah dan Tantangan Modernitas. Bandung: Mizan. 1998.

Ibrahim Alfian, Teuku. Kontribusi Samudra Pasai terhadap Studi Islam Awal di Asia Tenggara. Yogyakarta: Ceninnets. 2005.

Madjid, Nurcholis. Bilik-Bilik Pesantren Sebuah Potret Perjalanan. Jakarta: Paramadina. 1997.

Maksum. Madrasah, Sejarah, dam Perkembangannya. Jakarta: Logos. 1999.

Mansur dan Mahfud Junaedi. Rekonstruksi Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia. Jakarta: Departemen Agama RI. 2005.

Mansur, Peradaban Islam dalam Lintasan Sejarah. Yogyakarta: Global Pustaka Utama. 2004.

Nata, Abuddin (Ed). Sejarah Pertumbuhan dan Perkembangan Lembaga-Lembaga Pendidikan Islam di Indonesia. Jakarta: Grasindo. 2001.

Nizar, Samsul. Sejarah dan Pergolakan Pemikiran Pendidikan Islam. Ciputat: Quantum Teaching. 2005.

_____, Samsul. Sejarah Pendidikan Islam: Menelususri Jejak Sejarah Pendidikan Era Rasulullah sampai Indonesia. Jakarta: Kencana Prenada Group. 2007.

Prasodjo, Sudjono. Profil Pesantren. Jakarta: LP3S. 1982.

Putra Daulay, Haidar dan Nurgaya Pasa, Pendidikan Islam Dalam Lintasan Sejarah; Kajian dari Zaman Pertumbuhan Sampai Kebangkitan. Jakarta: Kencana. 2013.

Zulhandra, “Pola dan Kebijakan Pendidikan Islam Pada Masa Awal Kemerdekaan Sampai Pada Orde Lama (ORLA)” dalam Samsul Nizar, Sejarah Pendidikan Islam: Menelususri Jejak Sejarah Pendidikan Era Rasulullah sampai Indonesia. Jakarta: Kencana Prenada Group. 2007.

[1] Zulhandra, “Pola dan Kebijakan Pendidikan Islam Pada Masa Awal Kemerdekaan Sampai Pada Orde Lama (ORLA)” dalam Samsul Nizar, Sejarah Pendidikan Islam: Menelususri Jejak Sejarah Pendidikan Era Rasulullah sampai Indonesia (Jakarta: Kencana Prenada Group, 2007), hlm. 341.

[2] Mansur, Peradaban Islam dalam Lintasan Sejarah (Yogyakarta: Global Pustaka Utama, 2004), hlm. 111.

[3] Teuku Ibrahim Alfian, Kontribusi Samudra Pasai terhadap Studi Islam Awal di Asia Tenggara (Yogyakarta: Ceninnets, 2005), hlm. 25.

[4] Mansur dan Mahfud Junaedi, Rekonstruksi Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia (Jakarta: Departemen Agama RI, 2005), hlm. 42.

[5] Mansur dan Mahfud Junaedi, Rekonstruksi Sejarah, hlm. 42.

[6] Dapat dikatakan bahwa jalan yang ditempuh oleh para pedagang muslim dalam menyebarkan Islam di Indonesia antara lain melalui jalur atau saluran perdagangan, perkawinan, tasawuf, pendidikan, kesenian, dan politik. Mansur dan Mahfud Junaedi, Rekonstruksi Sejarah, hlm. 43-45.

[7] Hanun Asrahah, Sejarah Pendidikan Islam (Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1999), hlm. 144.

[8] Surau dibangun oleh suku Indu untuk berkumpul, rapat, dan tempat tidur bagi pemuda-pemuda, kadang-kadang bagi mereka yang sudah kawin, dan orang-orang yang tua yang sudah uzur. Anak laki-laki pada saat itu menurut adat yang berlaku, tidak memiliki kamar di rumah ibunya, oleh karena itu harus tidur di surau. Dia akan merasa malu jika tidur di rumah ibunya dan akan diolok-olok oelh teman-temannya jika tetap tidur di rumah ibunya, khususnya bila saudara-saudara perempuannya telah menikah. Anak laki-laki pulang ke rumah ibunya hanya untuk makan, selanjutnya tinggal di surau. Setelah menikah seorang laki-laki hanya dianggap sebagai tamu di rumah istrinya. Adapaun orang tua yang sudah uzur dan suami yang telah cerai dengan istrinya harus juga tinggal di surau. Lihat Mansur dan Mahfud Junaedi, Rekonstruksi Sejarah, hlm. 47.

[9] Samsul Nizar, Sejarah dan Pergolakan Pemikiran Pendidikan Islam (Ciputat: Quantum Teaching, 2005), hlm. 280.

[10] Samsu Nizar, Sejarah Pendidikan, hlm. 280.

[11] Samsu Nizar, Sejarah Pendidikan, hlm. 281.

[12] Samsu Nizar, Sejarah Pendidikan, hlm. 282.

[13] Samsu Nizar, Sejarah Pendidikan, hlm. 283.

[14] Abuddin Nata (Ed), Sejarah Pertumbuhan dan Perkembangan Lembaga-Lembaga Pendidikan Islam di Indonesia (Jakarta: Grasindo, 2001), hlm. 42.

[15] Lihat Samsu Nizar, Sejarah Pendidikan, hlm. 284.

[16] Samsu Nizar, Sejarah Pendidikan, hlm. 285.

[17] Abuddin Nata (Ed), Sejarah Pertumbuhan, hlm. 42.

[18] Zamakhsyari Dhofier, Tradisi Pesantren Studi tentang Pandangan Hidup Kyai (Jakarta: LP3S, 1983), hlm.18.

[19] Nurcholis Madjid, Bilik-Bilik Pesantren Sebuah Potret Perjalanan (Jakarta: Paramadina, 1997), hal. 5.

[20] Sudjono Prasodjo, Profil Pesantren (Jakarta: LP3S, 1982), hlm. 6.

[21] Nurcholis Madjid, Bilik-Bilik Pesantren, hlm. 103.

[22] Azyumardi Azra, Pendidikan Islam Tradisi dan Modernisasi Menuju Millenium Baru (Ciputat: Logos, 1999), hlm. 95.

[23] Abuddin Nata (Ed), Sejarah Pertumbuhan, hlm. 42. Haidar Putra Daulay dan Nurgaya Pasa, Pendidikan Islam Dalam Lintasan Sejarah; Kajian dari Zaman Pertumbuhan Sampai Kebangkitan (Jakarta: Kencana, 2013), hlm. 181.

[24] Samsu Nizar, Sejarah Pendidikan, hlm. 288.

[25] Samsu Nizar, Sejarah Pendidikan, hlm. 288.

[26] Zamakhsyari Dhofier, Tradisi Pesantren, hlm. 56.

[27] Samsu Nizar, Sejarah Pendidikan, hlm. 290.

[28] Samsu Nizar, Sejarah Pendidikan, hlm. 290.

[29] Muhammad Daud Ali, Lembaga-Lembaga Islam di Indonesia (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1995), hlm. 149.

[30] Maksum, Madrasah, Sejarah, dam Perkembangannya (Jakarta: Logos, 1999), hlm. 82.

[31] Lihat juga dalam Mansur dan Mahfud Junaedi, Rekonstruksi Sejarah, hlm. 99.

[32] Samsu Nizar, Sejarah Pendidikan, hlm. 292.

[33] Samsu Nizar, Sejarah Pendidikan, hlm. 293.

[34] Terbitnya SKB 3 Menteri bertujuan antara lain untuk meningkatkan mutu pendidikan di lembaga-lembaga pendidikan Islam khususnya untuk bidang non-agama. Di dalam usaha meningkatkan komponen pendidikan non-agama perlu dicermati agar tidak jatuh ekstrim yang satu ke ekstrim yang lain. Oleh karena itu, diperlukan pengelolaan yang baik supaya selalu terdapat keseimbangan antara cri kahs pendidikan Islam dengan niat untuk mengingkatkan mutu pendidikan yang diminta oleh perubahan zaman. Lihat Dirjen Bimbaga Islam, Sejarah Pendidikan Islam (Jakarta: Depag, 1984), hlm. 196.

[35] Malik Fadjar, Madrasah dan Tantangan Modernitas (Bandung: Mizan, 1998), hlm. Xi.

Demikianlah Makalah Sejarah Perkembangan Lembaga Pendidikan Islam di Indonesia yang dapat pemakalah sajikan. Salam hangat


0 Response to "Makalah Sejarah Perkembangan Lembaga Pendidikan Islam di Indonesia "

Post a Comment

Berkomentarlah yang Bijak! Hanya komentar yang sopan yang Kami terbitkan di situs ini. Baca Kebijakan Situs

No Sara, No Spam!