Khutbah Idul Fitri Terbaru 2016: Meningkatkan Persatuan dan Kesatuan Umat Islam

Advertisement
Khutbah Idul Fitri Terbaru 2016
Meningkatkan Persatuan dan Kesatuan Umat Islam

Assalâmu ‘Alaikum Wr. Wb.

الله اكبر الله اكبر الله اكبر
الله الله اكبر كبيرا و الحمد لله كثيرا و سبحان الله بكرة وأصيلا

لا أله الا الله هو ألله اكبر, الله أكبر ولله الحمد الله اكبر, صدق وعده و نصر عبده و اعز جنده و هزم الاحزاب وحده لا اله الا الله هو الله اكبر , الله اكبر و لله الحمد الله اكبر ذو الملك المتأبد بالخلود و السلطان الله اكبر ذو القهر الممتنع بغير جنود و لا اعوان نشهدك ربنا ,اننا نشهد ان لا اله الا انت , انت القائم بالقسط , انت العدل فى الحكم ,انت الصادق فى الوعد و انت العزيز الحكيم و نشهد ربنا انك بعثت محمدا رسولا, بشيرا و نذيرا , سيرته القصد و سنته الرشد, كلامه العدل و حكمه الفصل و هو بالمؤمنين رؤوف رحيم، فاللهم اعل على كل بناء البانين بنائه و اكرمه لديك فوق كرم المكرمين نزله و صل اللهم على محمد و على آله و صحبه و من تبعه ، عباد الله اوصيكم و نفسي بتقوى الله فانه النجاة غدا و المنجاة ابدا

Allâhu Akbar Allâhu Akbar wa Lillâhil Hamd,

Demikian suara takbir dan tahmid bertalu-talu melepas bulan Ramadhan. Demikian juga kita menyambut hari Raya Idul Fithri, hari kemenangan kita meraih kembali kesucian fithrah.

Kalimat Allahu Akbar itu kita kumandangkan tidak saja sekarang - tetapi setiap saat- guna mengasah dan mengasuh jiwa kita, sehingga Allah Yang Maha Besar itu menjadi pangkalan tempat kita bertolak serta pelabuhan tempat kita bersauh. Kalimat-kalimat itu kita ucapkan di masa damai dan tenteram, serta kita suarakan pula saat-saat kritis dan bahaya yang mencekam. 

Kalimat-kalimat itulah yang dikumandangkan oleh para pahlawan bangsa kita 10 Nopember ’45, ketika menghadapi agresi penjajah yang hendak merebut kemerdekaan kita.

Kalimat Takbir yang melambangkan keagungan dan kebesaran Allah itulah yang mempersatukan bangsa kita bahkan umat beragama di seluruh persada bumi. Karena, pada kandunganya terpancar aneka kesatuan, seperti kesatuan alam semesta, kesatuan dunia dan akhirat, kesatuan natural dan supranatural, kesatuan ilmu, kesatuan agama-agama samawi, kesatuan umat, kesatuan bangsa, kesatuan kemanusian, kesatuan kepribadian manusia, dan lain sebagainya.

Dengan kesatuan alam semesta, maka segala wujud di alam raya ini dari .yang terkecil sampai dengan yang terbesar, benda-benda bernyawa atau tak bernyawa, kuman dan virus, baik yang terdeteksi maupun tidak, tumbuhan yang berakar tunggang atau serabut, kecil atau besar, layu maupun yang segar, dan manusia seluruhnya, bahkan jin dan malaikat, atau apa dan siapapun yang kita kenal atau tidak kita kenal. 
Materi Khutbah Idul Fitri Terbaru 2016
Ilustrasi Gambar Idul Fitri Via Arrahma.com
Semuanya berada dalam satu kesatuan. Semua dicipta, diatur, dan dikendalikan oleh Satu Pengendali Yang Maha Esa – Allah Swt yang kita agungkan nama-Nya itu. Alam raya dengan segala isinya bergerak atas dasar satu sistem yang ditetapkan-Nya. Tidak satupun yang dapat mengelak dari ketetapan Yang Maha Esa itu.

وَلِلَّهِ يَسْجُدُ مَنْ فِي السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ طَوْعًا وَكَرْهًا وَظِلَالُهُمْ بِالْغُدُوِّ وَالْآصَال 

Hanya kepada Allah saja patuh segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan kemauan sendiri maupun terpaksa, dan bayang-bayang mereka pun patuh (Itu terlihat dengan jelas ) di waktu pagi dan petang (QS. Ar-Ra’d [15]:13).

Manusia yang beragam warna kulit, jenis dan sukunya, yang berbeda-beda agama, kepercayaan dan pandangan hidupnya, kesemuanya berasal dari satu, dari Adam. Lalu semua yang hidup, memiliki satu kebutuhan pokok yang sama dan dari yang satu itu, mereka diciptakan Tuhan dan dengannya mereka dapat melanjutkan hidup:

وَجَعَلْنَا مِنَ الْمَاءِ كُلَّ شَيْءٍ حَيٍّ أَفَلَا يُؤْمِنُونَ

Kami jadikan semua yang hidup dari air (atau) Kami jadikan air kebutuhan pokok semua yang hidup … ( Q.S. Al-Anbiyâ’ (21): 30)

Dalam kesatuan alam raya itu seluruh makhluk harus bekerja sama dalam kebajikan dan dari sinilah rasa aman dan damai memperoleh pijakan yang sangat kuat. Manusia sebagai khalifah di bumi harus mewujudkan kedamaian itu, bermula dari dirinya, lalu keluarga, dan lingkungan masyarakat, hingga menyebar ke seluruh persada bumi, bahkan ke seluruh jagad raya dan berlanjut hingga ke negeri kekal di akhirat nanti yang dinamai Allah sebagai Dâr As-Salâm (Negeri Kedamaian).

Saudara, kedamaian bermula dari jiwa manusia. Tidak akan ada kedamaian kalau ada cekcok atau perselisihan, bahkan ia sirna saat terjadi sengketa, walau dengan diri sendiri. Karena itu, kesatuan kepribadian setiap individu haruslah dapat diwujudkan dan ini dalam pandangan kitab suci Al-Qur’an tidak dapat tercapai kecuali dengan tunduk dan patuh kepada satu Penguasa, satu Pengendali, yakni Allah Tuhan Yang Maha Esa. Dia Yang Maha Besar itu.

ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا رَجُلًا فِيهِ شُرَكَاءُ مُتَشَاكِسُونَ وَرَجُلًا سَلَمًا لِرَجُلٍ هَلْ يَسْتَوِيَانِ مَثَلًا الْحَمْدُ لِلَّهِ بَلْ أَكْثَرُهُمْ لَا يَعْلَمُونَ 

Allah membuat perumpamaan (yaitu) seorang laki-laki (budak) yang dimiliki oleh beberapa orang yang berserikat yang selalu dalam perselisihan dan seorang budak yang menjadi milik penuh dari seorang (saja). Adakah kedua budak itu sama halnya? Segala puji bagi Allah, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui. (QS. Az-Zumar [39]: 29).

Ayat di atas bermaksud menggambarkan bagaimana keadaan seseorang yang harus tunduk kepada sekian banyak pihak yang memilikinya, tetapi pihak-pihak itu saling berselisih lagi buruk perangainya. Orang semacam ini akan merasa risau dan pada akhirnya mengidap kepribadian ganda. Bandingkanlah keadaannya dengan budak yang hanya dimiliki oleh satu pihak. 

Ia pasti tidak akan bingung, apalagi yang dipatuhinya menyandang sifat-sifat terpuji. Demikian juga keadaan seorang yang mempersekutukan Tuhan dan percaya bahwa ada tuhan-tuhan pengatur dan pengendali selain atau bersama Allah. Bandingkanlah keadaannya dengan seorang yang percaya dan hanya patuh kepada satu Tuhan Yang Mahaesa.

Saudara, demikian kita menemukan keutuhan kepribadian dan kesatuannya di balik kalimat Takbir yang dikumandangkan. Karena itu pula, kehadiran Allah harus dirasakan setiap saat dan di manapun, bukan saja ketika berada di masjid atau di mushalla, tapi juga di kantor, di pasar, dan di sekolah.

Saat gembira atau duka, benci atau cinta, ketika berbicara atau berbisik tanpa suara, ketika bergerak atau diam, ketika berdiri, duduk, atau berbaring, dalam keramaian atau sendirian. Itulah makna pesan Allah: وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ (Janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam (QS. Âli ‘Imrân [3]: 102).

Apabila makna Allah Akbar telah bersemai di dalam dada, maka akan lahir pribadi yang utuh, menyatu jiwa dengan raganya, menyatu bisikan hati dengan ucapannya, menyatu kata dan perbuatannya, juga menyatu langkah dan tujuannya. Anda akan menemukannya teguh dalam keyakinan, teguh tapi bijaksana, senantiasa bersih dan menarik walau miskin, selalu hemat dan sederhana walau kaya, murah hati dan murah tangan, tidak menghina dan tidak mengejek, tidak menghabiskan waktu dalam permainan, tidak menuntut yang bukan haknya, dan tidak menahan hak orang lain. 

Ucapannya melipur lara dan membawa manfaat, diamnya pertanda tafakkur, dan pandangannya alamat i’tibar. Bila beruntung ia bersyukur, bila diuji ia bersabar, bila bersalah ia istighfar, kalau ditegur ia menyesal, dan kalau dimaki ia menjawab seraya berucap : “Bila makian Anda benar, maka semoga Allah mengampuniku dan bila keliru, maka kumohon Tuhan mengampunimu”. 

Demikian menyatu seluruh tuntunan kebaikan dalam dirinya, lahir dan batin. Sehingga, pada akhirnya “tatkala diam ia dengan Allah, tatkala berbicara ia demi Allah, tatkala bergerak ia atas perintah Allah, tatkala terlena ia bersama Allah. Sungguh, ia selalu dengan, demi, dan bersama Allah.”

Demikian kalimat Allahu Akbar. Jika dihayati makna dan pesannya menjadikan kita bersatu dan menyatu, sehingga ke manapun langkah diayunkan dan ke manapun angin membawa biduk, betapapun besar ombak dan gelombang, kendati pantai hanya sayup-sayup terlihat, namun semua itu kecil selama makna Allahu Akbar telah bersemai di dalam hati sanubari kita, selama persatuan dan kesatuan kita terpelihara.

Itu semua merupakan salah satu sebab mengapa Allah memerintahkan kita bertakbir, antara lain setelah selesainya bilangan puasa Ramadhan:

وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur. (QS. Al-Baqarah [2]: 185).

Tanpa bertakbir, tanpa mengagungkan Allah, tanpa bersatu, kita tidak dapat dinamai bersyukur dan tanpa bersyukur siksa Allah menanti kita. Dengan bersatu kita utuh dan dengan bercerai kita runtuh. Dengan bertakbir kita utuh sebagai pribadi, utuh sebagai kelompok, utuh sebagai bangsa dan keluarga umat manusia.

Allâhu Akbar Allâhu Akbar wa Lillâhil Hamd,

Dengan selesainya puasa Ramadhan, kita mengharap kiranya kita telah berhasil meraih taqwa. Taqwa adalah istilah yang menyatu di dalamnya aneka macam kebajikan. Ia adalah buah dari iman yang juga merupakan kesatuan yang tidak terpisahkan. Iman adalah kesatuan dari ketulusan hati menerima kebenaran, disertai dengan pernyataan lidah mengakuinya serta dibuktikan oleh kesungguhan anggota badan menjalankannya. 

Bila kesatuan itu tidak terpenuhi, maka tidak terpenuhi pula hakekat keimanan. Karena itu, tidak jarang Al-Qur’an menggunakan kata îman dalam arti persatuan dan kesatuan, dan kata kufur menunjuk perpecahan dan perselisihan. Ini karena iman membuahkan persatuan dan kesatuan sedang kufur mengantar kepada perselisihan dan perpecahan, atau karena persatuan mengantar kepada iman (percaya) dan rasa aman serta perpecahan mengantar kepada kekufuran dan rasa terancam. 

Ketika sekelompok kaum muslimin pada masa Nabi Saw. hampir-hampir terpengaruh oleh bisikan pemecahbelah, turun peringatan Allah yang menamai persatuan dengan iman dan perpecahan dengan kufur. Allah memperingatkan mereka yang nyaris berpecah belah itu dalam firman-Nya:

َ وُجُوهٌ وَتَسْوَدُّ وُجُوه تَبْيَضُّ ٌيَوْم 

(Renungkanlah) hari di mana akan ada muka-muka putih berseri dan ada pula muka-muka hitam muram. (QS. Âli ‘Imrân [3]: 106).

Hari yang dimaksud adalah dalam kehidupan dunia ini dan di akhirat kelak. Dalam kehidupan dunia akan berseri wajah mereka yang mengandalkan persatuan dan kesatuan, yang membulatkan tekad untuk bekerja sama demi kemaslahatan bangsa dan masyarakat mereka. Keceriaan wajah mereka itu akan nampak dengan jelas ketika mereka memetik buah upaya mereka.

فَأَمَّا الَّذِينَ اسْوَدَّتْ وُجُوهُهُمْ أَكَفَرْتُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ فَذُوقُوا الْعَذَابَ بِمَا كُنْتُمْ تَكْفُرُون َ 

Adapun orang-orang yang muram wajah mereka (maka mereka itu adalah yang berselisih dan bercerai berai, dan pada saatnya akan tampil kawan atau lawan yang berkata kepada mereka ) : 

"Apakah kamu kafir (yakni bertengkar dan bercerai berai) sesudah kamu beriman (yakni sesudah kamu bersatu)? Karena itu, rasakanlah siksa (yakni kemelaratan dan penderitaan) disebabkan kekafiran (yaitu perpecahan dan perselisihan kamu itu). (QS. Âli ‘Imrân [3]: 106).

Allâhu Akbar Allâhu Akbar wa Lillâhil Hamd,

Saudara, Idul Fithri pun seharusnya mengantar kita kepada persatuan dan kesatuan. Fithri yang terambil dari kata “fithrah” berarti agama yang benar, suci, dan asal kejadian.

Jika kita memahami fithrah dalam arti agama, maka perlu diingat sabda Nabi Saw. yang menyatakanالدّينُ المُعامَلة (Agama adalah interaksi harmonis). Semakin baik interaksi seseorang, semakin baik keberagamaannya. Dalam konteks kehidupan bermayarakat kita dapat berkata, “tidak mungkin satu masyarakat dapat maju dan berkembang tanpa jalinan yang harmonis antar anggotanya, jalinan yang menjadikan mereka bekerja sama, sehingga yang ringan sama dijinjing dan yang berat sama dipikul.

Semakin harmonis interaksi satu masyarakat, maka semakin banyak manfaat yang dapat mereka raih serta semakin berhasil mereka dalam perjuangannya. Semakin baik hubungan manusia dengan alam, semakin terpelihara alam dan semakin banyak pula rahasianya yang dapat diungkap dan dengan demikian semakin sejahtera kehidupan mereka. Namun, perlu diingat bahwa kemajuan satu bangsa tidak diukur dengan kekayaan alamnya tetapi dengan nilai-nilai yang mereka anut bersama dan yang menjalin hubungan harmonis mereka. 

Sekian banyak negara yang kalah dalam peperangan namun berhasil bangkit, bahkan lebih maju dari sebelumnya, karena mereka memiliki nilai-nilai yang merekatkan hubungan mereka. Disisi lain, satu masyarakat, kecil atau besar, akan runtuh dan mencapai ajalnya ketika hubungan mereka tercabik, karena ketercabikan menguras tenaga dan fikiran, sehingga bukan saja mereka tidak dapat melangkah bersama tetapi tidak dapat melangkah maju sama sekali. Allah mengingatkan :

وَلَا تَنَازَعُوا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ وَاصْبِرُوا إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِين َ

Janganlah kamu tarik-menarik (bertengkar memperebutkan keuntungan pribadi atau kelompok), karena itu menyebabkan kamu gagal dan hilang kekuatan kamu, (tetapi tabah) dan bersabarlah (menghadapi setiap persoalan). Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. QS. Al-Anfâl [8]: 46.

Saudara, seorang yang beragama harus selalu merasa bersama orang lain, ia harus memiliki kesadaran sosial. Nabi saw bersabda :"Hendaklah kamu selalu bersama, karena serigala hanya menerkam domba yang sendirian". Keakuan seorang muslim harus lebur secara konseptual bersama keakuan yang lainnya, sehingga setiap muslim menjadi seperti yang digambarkan oleh Nabi Saw :

كَالْجَسَدِ الْوَاحِدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ اْلأَعْضَاءِ بِالسَّهْرِ وَ الْحُمَّى مِنْهُ 

"Bagaikan satu jasad, bila satu organ merasakan penderitaan maka seluruh tubuh, merasa demam dan tak dapat tidur”.

Kebersamaan sangat menentukan dalam bangun runtuhnya satu masyarakat. Kalau nilai ini terabaikan, sampai-sampai yang menonjol adalah ego masing-masing, maka akan terjadi bagi masyarakat itu apa yang diistilahkan oleh Al-Quran denga (habithat a’mâluhum), yakni terjadi “pembengkakan” pada sosok masyarakat, yang secara lahiriah diduga sebagai tanda kesehatan atau kemajuan padahal pembengkakan itu adalah tumor ganas yang mengantar kematiannya. 

Memang setiap kali ego menonjol pada anggota masyarakat, maka pada saat yang sama menonjol pula keretakan hubungan antara mereka dan ketika itu semakin parah pula penyakit yang dideritanya. Ketika itu, problema atau krisis apapun yang dihadapi akan diusahakan penanggulangannya dengan pertimbangan kepentingan ego masing-masing pribadi atau kelompok kecil, dan dari sini lahir budaya mumpung bagi yang menangani problema itu. Krisis ketika itu menjadi lahan meraih keuntungan pribadi sebanyak mungkin, bukan lagi untuk menanggulanginya.

Bagi seorang muslim kesadaran akan kebersamaan ini bukan terbatas hanya antar sesama muslim atau sebangsa, tetapi mencakup seluruh manusia apapun agama dan bangsanya, bahkan mencakup seluruh makhluk, karena

وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا طَائِرٍ يَطِيرُ بِجَنَاحَيْهِ إِلَّا أُمَمٌ أَمْثَالُكُمْ 

Dan tiadalah binatang-binatang yang melata di bumi dan burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan umat-umat (juga) seperti kamu” (QS. Al-An'âm [6]: 38).

Kesadaran tersebut ditanamkan dalam diri setiap pribadi atas dasar prinsip bahwa seluruh manusia adalah satu kesatuan. Semua kamu berasal dari Adam, sedang Adam diciptakan dari tanah” dan semua makhluk adalah ciptaan Tuhan. 

Rasa inilah yang menghasilkan "Kemanusiaan yang adil dan beradab", sehingga pada akhirnya seseorang yang diperkaya dengan kesadaran menyangkut keterikatan dengan sesamanya akan merasakan derita umat, serta akan berupaya mewujudkan kesejahteraan bersama. 

Ia akan berkawan dengan kemerdekaan, keadilan, pengetahuan, kesehatan, keramahan dan sebagainya, serta akan berseteru dengan musuh-musuh kemanusiaan, seperti penganiayaan, kebodohan, penyakit, kemiskinan,dan lain-lain.

Itu salah satu sebab mengapa dalam rangkaian puasa, setiap muslim, kecil atau besar, kaya atau miskin, berkewajiban menunaikan zakat fithrah yang dijadikan sebagai pertanda kepedulian sosial dan lambang kesediaan memberi hidup bagi orang lain.

Allâhu Akbar Allâhu Akbar wa Lillâhil Hamd,

Jika kita memahami Fithrah dalam arti suci, maka kesucian adalah gabungan yang menyatu di dalamnya, indah, benar, dan baik. Mengekspresikan keindahan melahirkan seni, menemukan kebenaran menghasilkan ilmu, dan memperagakan kebaikan membuahkan budi. Gabungan ketiganya jika direkat oleh nilai spiritual akan menghasilkan peradaban. 

Dengan ber-’idul fithri seorang muslim menjadi seniman, ilmuan, sekaligus budiman. Dengan menghayati dan mengamalkan nilai-nilai yang dikandung dalam ‘Idul Fithri kita dapat membangun peradaban.

Sementara pakar berkata bahwa untuk mewujudkan peradaban diperlukan tiga unsur yang menyatu , yaitu manusia + tanah/wilayah + waktu. Wujud ketiganya saja belum berarti kecuali kalau tidak ada zat perekatnya yaitu agama atau nilai–nilai spiritual. 

Lima belas peradaban besar yang dikenal dalam sejarah, dimulai dari Peradaban Sumaria hingga Peradaban Amerika dewasa ini, kesemuanya lahir dari upaya mempertahankan nilai-nilai tersebut yang terpaksa mereka lakukan dengan berhijrah. Begitu nilai-nilai tersebut ditinggalkan, maka peradaban tersebut berangsur punah.

Umat Islam dewasa ini memiliki ketiga unsur peradaban di atas. Umat Islam pun memiliki ajaran agama, namun keadaan kita tidak seperti yang kita harapkan. Jika demikian, kita harus mencari kekeliruan kita pada penerapan unsur-unsur peradaban itu yakni manusia, tanah dan waktu, serta pemahaman dan pengamalan ajaran agama kita. Kita harus bertanya, “adakah yang keliru di sana?”

Apakah manusia-nya telah mampu dan terjalin hubungan harmonis antar mereka? Apakah tanah yang menampung kekayaan alam telah kita olah dengan baik dan benar? Apakah kita menghargai waktu yang tepat, sehingga menggunakannya dengan baik sekaligus tidak tergesa-gesa menuntut hasil konkrit hanya dalam waktu beberapa saat. 

Dan, yang tidak kurang pentingnya apakah kita memahami dan mengamalkan ajaran agama secara benar dan utuh. Allah mengecam mereka yang mengamalkan ajaran agama setengah-setengah dan mengancam mereka dengan kenistaan hidup di dunia dan di akhirat;

أَفَتُؤْمِنُونَ بِبَعْضِ الْكِتَابِ وَتَكْفُرُونَ بِبَعْضٍ فَمَا جَزَاءُ مَنْ يَفْعَلُ ذَلِكَ مِنْكُمْ إِلَّا خِزْيٌ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ يُرَدُّونَ إِلَى أَشَدِّ الْعَذَابِ وَمَا اللَّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ 

Apakah kamu beriman kepada sebahagian Al-Kitab dan ingkar terhadap sebahagian yang lain? Tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikian darimu, melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia, dan mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat berat pada hari kiamat. Allah tidak lengah dari apa yang kamu perbuat. (QS. Al-Baqarah [2]: 85).

Allâhu Akbar Allâhu Akbar wa Lillâhil Hamd,

Selanjutnya, ketika seorang ber-‘idul fithri dalam arti kembali ke asal kejadian-nya, maka ini menimbulkan kesadaran tentang jati diri kita sebagai manusia. Jati diri kita sebagai makhluk dwi dimensi yang merupakan kesatuan atau perpaduan dari ruh dan jasad, tak ubahnya dengan air yang terpadu dari oksigen dan hidrogen dalam kadar-kadar tertentu. 

Perpaduan ruh dan jasad dalam diri manusia mengantarnya menjadi manusia utuh, sehingga tidak terjadi pemisahan antara aqidah (keimanan) dan syariah (pengamalan agama), tidak juga antara perasaan dan prilaku, perbuatan dengan moral, idea dengan kenyataan, dunia dengan akhirat, tetapi masing-masing merupakan bagian yang tak terpisahkan dan saling melengkapi. 

Jasad tidak mengalahkan ruh dan ruh pun tidak merintangi kebutuhan jasad. Kecenderungan individu memperkukuh keutuhan kolektif dan kesatuan kolektif mendukung kepentingan individu. Pandangan tidak hanya terpaku di bumi dan tidak juga hanya mengawang-awang di angkasa. Demikian makna-makna yang dikandung dalam ‘Idul Fithri.

Baca Juga Edisi Khutbah Idul Fitri Lainya:
  1. Khutbah Idul Fitri Lengkap Kesan dan Pesan Ramadhan yang Harus Dipegang Teguh Bersama
  2. Materi Khutbah Idul Fitri Membangun Masyarakat Sejahtera dengan Ketakwaan
  3. Khutbah Singkat Mewujudkan Solidaritas Sosial

Allâhu Akbar Allâhu Akbar wa Lillâhil Hamd,

Akhirnya, marilah kita jadikan hari raya ‘Idul Fithri ini sebagai momentum untuk membina dan memperkukuh ikatan kesatuan dan persatuan kita, menyatupadukan hubungan kasih sayang antara kita semua, sebangsa dan setanah air. Saudaraku, kalau bukan sekarang, kapan lagi? Tantangan terbentang sangat besar di hadapan kita dan ancaman Tuhan pun menanti kita.

Ketika sementara orang pada masa Nabi Saw. merasa sangat tersinggung dan sakit hati karena diperlakukan tidak wajar, dicemarkan nama baiknya, sehingga enggan memberi maaf, turun firman Allah menegur mereka :

وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا أَلَا تُحِبُّونَ أَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيم 

Hendaklah mereka mema`afkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampuni kamu? (QS. An-Nûr [24]: 22).

Marilah dengan hati terbuka, dengan dada yang lapang, dan dengan muka yang jernih, serta dengan tangan terulurkan, kita saling maaf-memaafkan, sambil mengibarkan panji-panji persatuan dan kesatuan, bendera kedamaian dan As-salam, sambil berdoa:

اَللهُمَّ أَنْتَ السَّلَامُ وَمِنْكَ السَّلَامُ وَاِلَيْكَ يَعُوْدُ السَّلَامُ فَحَيِّنَا رَبَنَا بِالسَّلَامِ وَأَدْخِلْنَا الْجَنَّةَ دَارَ السَّلَامِ . أَنْتَ رَبَّنَا ذُو الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ 

Ya Allah Engkaulah Yang Maha Damai, dari-Mu bersumber kedamaian, kepada-Mu kembali kedamaian. Tuhan kami, hidupkanlah kami dengan penuh kedamaian dan masukkanlah kami kelak ke surga negeri yang penuh kedamaian. Engkau Pemelihara kami, lagi Pemilik Keagungan dan Kemuliaan.

جَعَلَنَا اللهُ وَإِيَّاكُمْ مِمَّنْ يَسْتَمِعُوْنَ الْقَوْلَ وَيَتَّبِعُوْنَ اَحْسَنَهُ . اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ وَِللهِ الْحَمْدُ .

Teks Khutbah idul fitri 1437 H ini pernah disampaikan di mesjid Istiqlal Jakarta oleh M. Quraish Shihab. Mudahan Bermanfaat