Khutbah Idul Fitri Singkat: Fitrah dan Islah

Advertisement
Khutbah Idul Fitri Singkat 1437 H / 2016 M
Fitrah dan Islah (Prof. Dr. H. Azyumardi Azra)

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, wa lillahi l-hamd;

Alhamdulillah, puji syukur ke hadirat Allah SWT karena kita kaum Muslimin dan Muslimat yang beriman telah berhasil menjalankan ibadah puasa selama sebulan penuh. Mudah-mudahan ibadah puasa yang telah kita kerjakan itu, sesuai dengan harapan Allah SWT dalam ayat al-Qur’an surat al-Baqarah 183, dapat menghantarkan kita menjadi orang yang taqwa (la`alakum tattaqun); yakni orang yang terpelihara dirinya dari segala sesuatu yang tidak baik, bukan hanya pada waktu menjalankan ibadah puasa dan ibadah-ibadah lainnya yang bersifat individual-personal, tetapi juga dalam kehidupan sosial-komunal. 

Dengan begitu, kita semua dapat mengaktualisasikan “kesalehan individual-personal” melalui ibadah-ibadah menjadi “kesalehan sosial”, sehingga pada gilirannya kita baik secara pribadi maupun sosial dapat terpelihara dari berbagai hal yang bertentangan dengan ajaran agama, dan tata kehidupan berbangsa dan bernegara.

Kita juga patut bersyukur, bahwa dengan telah selesainya menjalankan ibadah puasa, kita telah kembali kepada “fitrah”, kepada “kesucian”, sesuai dengan firman Allah dalam surat al-Rum (30), ayat 30:

Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah pada) fitrah Allah yang telah menjadikan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. Itulah agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”.

Fitrah atau kesucian asal manusia merupakan pemberian khusus Allah kepada manusia; fitrah merupakan unsur lahut (ketuhanan) yang diberikan kepada manusia. Tetapi dalam perjalanan hidupnya sehari-hari, unsur lahut yang maha suci itu terkotori berbagai perbuatan manusia itu sendiri yang tidak sesuai dengan ajaran Islam. Karena itu, ibadah puasa dan ibadah-ibadah lain, pada intinya bertujuan agar manusia Muslim suci kembali, sehingga pada hari raya `Id al-Fitri ini pantas merayakan kembalinya fitrah atau kesucian tersebut.

Kaum Muslimin dan Muslimat Rahimakumullah;

Pada kesempatan kembalinya kita sekalian kepada fitrah tersebut secara individual-personal, maka selayaknyalah setiap pribadi Muslimin dan Muslimat memperluas kesucian itu ke tingkat sosial kemasyarakatan. Dan ini dapat dilakukan dengan saling meminta dan memberi maaf satu sama lain, sehingga hubungan antar-manusia (habl min al-nas) juga menjadi penuh dengan kesucian. 

Saling meminta dan memberi maaf (pemaafan) merupakan kebutuhan yang mendesak bagi bangsa dan negara kita sekarang ini. Hal ini karena sejak munculnya era baru yang sering disebut sebagai era reformasi dan kebebasan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara pada 1998, konflik politik dan sosial di antara berbagai kalangan masyarakat kita terus berkelanjutan, sehingga memperpanjang krisis multi-dimensi yang kita hadapi hingga hari ini. 

Sesungguhnya terdapat ironi yang pahit di balik kebebasan yang baru ditemukan tersebut. Kini atas nama kebebasan dan demokrasi, berbagai kelompok masyarakat terlibat dalam hujat menghujat dan saling menyalahkan, saling berprasangka, dan saling mencari kesalahan satu sama lain. Padahal, al-Qur’an dengan tegas melarang perbuatan seperti itu, sebagaimana firmanNya:

Hai orang-orang yang beriman, janganlah satu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olok) lebih baik daripada mereka (yang mengolok-olok) dan jangan pula wanita-wanita (mengolok-olok) wanita lain (karena) boleh jadi wanita (yang diperolok-olokkan) lebih baik daripada wanita (yang mengolok-olok), dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri, dan janganlah kamu saling memanggil dengan julukan-julukan yang buruk. Seburuk-buruk julukan ialah (julukan) yang buruk sesudah iman, dan barangsiapa yang tidak bertaubat, maka mereka adalah orang-orang yang zalim. Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa, dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain, dan janganlah sebagian kamu menggunjing yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa kepadanya. Dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang” (al-Hujurat 49:11-12). 

Seperti sering kita saksikan sekarang, saling hujat dengan julukan-julukan yang merendahkan di antara berbagai kalangan masyarakat kita, sering pula diselimuti dengan perasaan kejengkelan dan dendam sejarah. Kejengkelan, kemarahan dan dendam sejarah telah mencabik-cabik “ingatan bersama” (collective memory) tentang kebersamaan, solidaritas, rasa senasib dan sepenanggungan yang telah membuat negara-bangsa Indonesia eksis dan bertahan. Jika kecenderungan ini terus berlanjut bukan tidak mungkin, negara-bangsa Indonesia nantinya akan tinggal nama, dan menjadi kenangan sejarah belaka.

Kumpulan Contoh Khutbah Idul Fitri Singkat


Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar wa lillahi l-hamd;

Mengingat bahaya besar yang dihadapi bangsa dan negara, maka sepatutnyalah kita tidak bosan-bosannya mengusahakan ishlah, perdamaian dan rekonsiliasi di antara berbagai kalangan anak-anak bangsa. Kemauan dan tindakan ishlah merupakan amal saleh yang mulia seperti dianjurkan Allah SWT dalam firmanNya:

Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertaqwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat” (al-Hujurat 49:10).

Kata ishlah atau shalah banyak sekali terdapat dalam al-Qur’an, yang mengacu tidak hanya kepada sikap rohaniah, tetapi lebih-lebih lagi kepada tindakan nyata untuk melakukan rekonsiliasi dan perdamaian yang pada gilirannya mendatangkan kebaikan bagi semua anggota masyarakat.

Memberi maaf atau pemaafan merupakan dasar bagi terwujudnya ishlah. Dalam konteks kehidupan sosial-politik, pemaafan mengandung empat dimensi dan langkah penting:

Pertama, pemaafan hendaknya dimulai dengan ingatan yang digayuti dengan penilaian moral. Dalam pengertian umum, pemaafan cenderung dipahami, bahwa memberi maaf berarti melupakan dan bahkan meninggalkan kepedulian terhadap kesalahan dan kejahatan yang pernah dilakukan seorang individu atau kelompok. Sebenarnya adalah bahwa pemaafan berarti “mengingat” dan sekaligus memaafkan. Jadi, pemaafan dimulai dengan mengingat hal-hal apa saja yang pernah terjadi untuk melakukan penilaian moral, baik atau buruk terhadap peristiwa-peristiwa yang pernah terjadi di masa silam.

Dalam Islam, proses ini disebut sebagai muhasabah, yakni saling “menghitung” atau “menimbang” peristiwa-peristiwa pahit yang telah melukai pihak-pihak tertentu. Melalui muhasabah, berbagai pihak melakukan introspeksi dan sekaligus penilaian moral terhadap kejadian-kejadian yang pernah berlaku yang mungkin merugikan perorangan maupun masyarakat banyak.

Kedua, memutuskan restitusi, kompensasi atau ganti rugi atau hukuman yang harus dijatuhkan kepada para pelaku kesalahan atau kejahatan di masa silam. Pemaafan dalam kehidupan sosial-politik atau dalam hubungan antar-manusia lainnya, tidak mesti menghapuskan segala bentuk hukuman. Meski masih terdapat hukuman, pemaafan mestilah menghentikan semangat pembalasan dendam. 

Dari perspektif Islam, hal ini mengandung makna bahwa pemaafan tidaklah berarti menghilangkan proses hukum. Menurut hukum Islam, keluarga korban pembunuhan misalnya memang dianjurkan memberi maaf kepada pelaku pembunuhan. Tetapi pemaafan bisa dilakukan hanya setelah si pelaku mengikuti proses hukum dan peradilan. 

Jika pelaku terbukti bersalah dan dijatuhi hukuman mati (qisas), maka keluarga korban dianjurkan memberi maaf, sehingga si pelaku terhindar dari hukuman mati. Dan jika pemaafan diberikan keluarga korban, si pelaku tetap harus memberi kompensasi (diyat). 

Ketiga, mengembangkan sikap empati terhadap realitas kemanusiaan pelaku kejahatan; bahwa ia bagaimanapun adalah manusia biasa yang dapat terjerumus ke dalam kesalahan-kesalahan yang merugikan masyarakat. 

Tidak ada seorangpun yang dapat menjamin dirinya tidak akan terjerumus ke dalam kesalahan atau kenistaan. Pengakuan tentang kelemahan kemanusiaan ini merupakan sikap empati yang membuka pintu pemaafan.

Dari perspektif Islam, sikap empati sangat dianjurkan. Meski dalam al-Qur’am dinyatakan bahwa manusia diciptakan dengan sebaik-baik bentuk (fi ahsan al-taqwim) dan menjadi khalifah di muka bumi, tetapi ia bisa terjerumus ke dalam asfal al-safilin, tempat yang paling nista karena perbuatannya sendiri. 

Karena kelemahannya inilah manusia diperintahkan senantiasa meningkatkan kualitas iman dan amal salehnya, serta selalu memohon ampun kepada Tuhan, dan meminta maaf kepada orang lain yang dilukainya. Dan sebaliknya, mereka yang disakiti juga dianjurkan memberi maaf.

Keempat, mengembangkan pemahaman bahwa pemaafan yang tulus mempunyai tujuan memperbaharui hubungan antar-manusia. Jadi, pemaafan bukan sekadar aktualisasi sikap moral bernilai tinggi yang berdiri sendiri, tetapi berkaitan dengan tujuan yang tak kurang mulianya, yakni perbaikan (ishlah) dalam hubungan antar-manusia yang sebelumnya diselimuti kebencian dan dendam. 

Dengan kandungan mulia ini, pemaafan secara implisit juga berarti menunjukkan kesiapan untuk kembali hidup berdampingan secara damai di antara manusia-manusia yang berbeda dengan segala kelemahan dan kekeliruan masing-masing.

Dalam perspektif Islam, hubungan antar-manusia (habl min al-nas) yang rukun dan damai sangat ditekankan. Bahkan adanya hubungan yang baik di antara manusia menjadi prasyarat bagi terciptanya hubungan yang baik dengan Allah SWT (habl min Allah). Setiap Muslim dalam amal dan tindakannya dalam kehidupan sehari-hari mestilah menjadikan manusia lain sebagai pertimbangan untuk mencapai kedekatan dengan Allah SWT.

Demikianlah, pemaafan yang telah menjadi bagian integral dari ibadah `Id al-Fitr sepatutnyalah tidak hanya sekedar saling berjabat tangan; tetapi lebih jauh lagi menjadi momentum bagi pemaafan yang tulus dari berbagai kalangan anak bangsa, sehingga ishlah, rekonsiliasi dan perdamaian kembali terwujud di bumi pertiwi ini. Wallahu a`lam bish-shawab; dan marilah kita akhiri khutbah ini dengan memanjatkan doa ke haribaan Allah SWT.

“Ya Allah, Engkaulah as-Salam, kedamaian; daripadaMu-lah bersumber as-Salam; dan kepadaMu pula kembali as-Salam; hidupkanlah kami, ya Allah, di dunia ini dengan as-Salam, dengan aman dan damai; dan masukkanlah kami kelak ke negeri as-Salam, surga yang penuh kedamaian. Maha Suci Engkau, Maha Mulia Engkau; ya za l-jalali wa l-ikram.


Khutbah idul Fitri Singkat Oleh Prof. Dr. H. Azyumardi Azra di Masjid Pondok Indah, Jakarta.


4 Responses to "Khutbah Idul Fitri Singkat: Fitrah dan Islah"

  1. trima kasih banyak ya,numpang ijin download buat di baca , di pelajari.

    ReplyDelete
  2. khutbah 'iedul fithri yang padant dan menarik.Mohon izin untuk mengutip sebagian. terima kasih. bahrul hasibuan

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya pak silahkan mudahan khutbah idul fitrinya bermanfaat.

      Delete

Berkomentarlah yang Bijak! Hanya komentar yang sopan yang Kami terbitkan di situs ini. Baca Kebijakan Situs

No Sara, No Spam!