Naskah Khutbah Idul Fitri Terbaik Manusia Pengemban Amanat Rahmat Semesta

Advertisement
Naskah Khutbah Idul Fitri Terbaik 1437 H
Manusia Pengemban Amanat Rahmat Semesta

(Khutbah Pertama)

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر ولله الحمد

الحمد لله لايزيد في ملكه حمد الحامدين ولاينقصه جحود الجاحدين. الحمد لله لاتنفعه طاعة من أطاع ولاتضره معصية من عصا. الحمد لله لايغنيه شكر من شكر ولايفقره كفر من كفر. فمن شكر فإنما يشكر لنفسه ومن كفر فإن الله هو الغني الحميد. أحمده سبحانه وأتوب إليه وأنيب إليه وأتوكل عليه، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لاشريك له خصنا بخير كتاب أنزل، وأكرمنا بخير نبي أرسل، ومنّ علينا بأعظم دين شرع وجعلنا به خير أمة أخرجت للناس ( اليوم أكملت لكم دينكم وأتممت عليكم نعمتي ورضيت لكم الإسلام دينا ) وأشهد أن محمدا عبد الله ورسوله، أدى الأمانة وبلغ الرسالة ونصح للأمة وجاهد في الله حق جهاده تركنا على المحجة البيضاء، على الطريقة الواضحة الغراء، ليلها كنهارها لايزيغ عنها إلا هالك، فمن يطع الله ورسوله فقد فاز فوزا عظيما ومن يعص الله ورسوله فقد ضل ضلالا مبينا. الله صل وسلم وبارك على هذا النبي الكريم وارض اللهم عن آله وصحابته ، وأحينا الله على سنته وأمتْنا على ملته واحشرنا في زمرته مع الذين أنعمت عليهم من النبيين والصديقين والشهداء والصالحين وحسن أولئك رفيقا. أما بعد : فيا عباد الله المسلمين المؤمنين، اتقوا الله حق التقوى واعلموا أن الله مع المتقين.

Ma'asyirol Muslimin Rahimakumullah.

Saat ini di hampir seluruh belahan bumi Gema Takbir terdengar berkumandang, serentak hamba-hamba Allah yang beriman mengagungkan asmaNya, mereka bersama mengumandangkan takbir, sebagai ungkapan rasa syukur yang mendalam kepadaNya yang telah melimpahkan karunia nikmat selesai menjalankan rangkaian ibadah Ramadhan.

ولتكبروا الله على ما هداكم ولعلكم تشكرون

dan agar mereka mengagungkan Allah atas petunjukNya kepada mereka, semoga mereka bersyukur.. (al-Baqarah: 185).

Takbir yang kita kumandangkan bersama nan kompak seirama sejak terbenam matahari hari terakhir Ramadhan sampai Imam berdiri untuk memimpin shalat Iedul Fitri dan dilanjutkan dengan pelaksanaan shalat Ied, hal itu mengandung makna dan nilai-nilai Rabbani, yakni sebagai indikasi taqarrub (kedekatan) kepada Allah swt. 

Karena itu, dengan usainya Ramadhan bukan berarti putus hubungan dengan Allah Ta’ala, dengan berakhirnya Ramadhan bukan berarti selesainya ikatan-ikatan kita dengan syariat, atau putusnya ikatan dengan mesjid, dengan shalat jama’ah, dengan amal-shaleh lainnya, seperti: Infak, mengasihi fakir miskin, belas kasih kepada anak yatim, kasih sayang sesama kaum muslimin dsb. 

Bukankah melestarikan amal-shaleh setelah Ramadhan, melanjutkan dan meningkatkan nilai taqwa setelah Ramadhan merupakan tanda bukti keberhasilan latihan taat, patuh dan disiplin selama Ramadhan, berhasil mencapai tujuan shaum yaitu: La’allakum Tattaqun (kalian diharapkan menjadi orang-orang bertakwa kepada Allah SWT).

Karenanya, kegembiraan dan suka cita umat Islam saat ini sebenarnya merupakan ungkapan rasa syukur atas nikmat berpuasa dan shalat Qiyamul-lail, yang disempurnakan dengan Iedul Fitri, bukan karena sekadar mengenakan pakaian baru, atau perhiasan fisik yang disandangnya, atau berbagai hidangan menu yang mereka santap pada hari ini, tetapi lebih merupakan ungkapan kesyukuran berkat taufik dan inayah dari Allah

قل بفضل الله وبرحمته فبذلك فليفرحوا هو خير مما يجمعون

Katakanlah karena karunia dan rahmat Allah- lah hendaknya mereka bergembira, yang demikian itu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan dari harta dunia (Q.S. Yunus: 58 ).

Allahu Akbar Wa lillahil-hamd
Kaum Muslimin Rahimakumullah

Tidak akan merasakan hasil Ramadhan dan manisnya hari ini selain mereka yang menjalankan pesan-pesan Ramadhan dengan baik, sebagai sikap aslama hanifa indikasi ketundukan dan kepatuhannya kepada Allah Rabb semesta alam. Itulah hakekat Iedul Fitri, kembali kepada fitrah, sikap lurus tidak menyimpang, yang merupakan sikap dasar manusia, hidup sesuai fitrah, sebelum ada intervensi eksternal dirinya yang mengganggu stabilitas kepribadiaannya yang fitri :

كل مولود يولد على الفطرة فأبواه يهودانه أو ينصرانه أو يمجسانه

"Setiap orang dilahirkan dalam keadaan fitrah (Islam), kedua orangtua nyalah yang menjadikannya Nasrani, Yahudi atau Majusi" 

Sebagaimana seluruh alam semesta yang lurus lagi tidak menyimpang dari aturan-aturan Ilahiah, sebagaimana firman-Nya :

أفغير دين الله يبغون وله أسلم من في السماوات والأرض طوعا وكرها وإليه ترجعون

"Adakah din (pedoman hidup) selain Dinullah yang mereka inginkan; padahal kepada-Nya menyerahkan diri mereka yang di langit dan di bumi secara terpaksa atau sukarela dan hanya kepadaNya kamu dikembalikan" (QS. AliImran: 83)

Maka Iedul Fitri yang kita rayakan hari ini adalah hari kembali ke Fitrah, kembali kepada al-Haq (kebenaran), kembali ke Islam dengan seluruh ajarannya secara utuh dan menyeluruh. Hari ini bukan hari raya untuk membebaskan nafsu dan mengumbar syahwat yang selama Ramadhan kaum muslimin dilatih mengendalikannya. 

Manusia fitri inilah yang dikehendaki Allah SWT wujudnya dari ‘Madrasah Ramadhan’ yaitu manusia berkualitas multi aspek kehidupan, sumber daya manusia bernilai ganda, cerdas nan indah; manusia yang disinyalir Allah SWT dalam sebuah satu kalimat “La’allakum Tattaqun”.

Naskah Khutbah Idul Fitri Pilihan


Allahu Akbar 3 x Wa lillahil-hamd
Hamba-hamba Allah Beriman, Rahimakumullah

Siapa golongan bertakwa ?

Orang bertakwa adalah yang hatinya tunduk dan patuh kepada hukum Allah dan RasulNya, tanpa reserve. Lisannya senantiasa penuh dengan membacakan ayat-ayat Allah. Hidupnya dihabiskan untuk menegakkan dakwah dan agama Allah. Sibuk beribadah dan beramal salih karena mengharap ridho Allah semata. Dan berjuang keras menjauhi diri dari segala larangan Allah dan RasulNya, karena takut kepada azab dan siksaNya.

Firman Allah swt :

 والذي جاء بالصدق وصدّق به أولئك هم المتقون

Dan orang yang membawa kebenaran dan membenarkannya, mereka itulah orang yang bertakwa (QS Az-Zumar: 33)

Syeikhul Islam Ibnu Taimiah merumuskan takwa dengan ungkapan: Seseorang melaksanakan perintah Allah karena mengharapkan ridhoNya dan menjauhi laranganNya karena takut kepada azabNya.

Mereka yang sukses menjalani Ramadhanya itulah yang mencapai derajat takwa, yang hari ini mencapai fitrahnya kembali. Suci ibarat bayi yang baru dilahirkan.

من صام رمضان إيمانا واحتسابا، ومن قام رمضان إيمانا واحتسابا خرج كيوم ولدته أمه

Semua manusia pada awalnya berada dalam fitrah Islami. Namun intervensi nilai jahiliyah serta ulah tingkah manusia itu sendiri, lama kelamaan merusak fitrah Islami seorang hamba. Akibatnya, aneka jenis kerusakan, kesesatan, kebodohan dan perilaku jahiliah lainnya terpampang dimana-mana. Di gedung-gedung, kantor-kantor, di terminal-terminal, di pasar-pasar, bahkan juga di tempat-tempat suci, yang semestinya membuat orang tunduk kepada Allah.

Ketika fitrah Islami manusia telah rusak atau dirusak, muncullah penguasa dan pemimpin yang zhalim. Kedudukan dan kekuasaan bukannya digunakan membela kaum yang lemah dan teraniaya, malahan sebaliknya. Mereka menjadikan kekuasaan dan kedudukan itu untuk memeras sesama, menipu yang bodoh atau yang dianggap bodoh, menindas yang miskin.

Pada saat fitrah Islami seorang hamba telah hancur, tampillah kaum agniya hartawan yang rakus dan tamak. Tidak peduli halal atau haram dalam meraih kekayaan. Tidak perhatian etis atau tidak etis. Tidak mau tahu tentang moral dan rasa kemanusiaan. Tidak peduli terhadap sesame. Mereka terus menguras harta kekayaan yang ada sebanyak-banyaknya, sementara mayoritas masyarakat hidup dalam kemiskinan dan kenestapaan.

Manakala manusia telah keluar dari bingkai fitrahnya, bisa saja muncul ulama-ulama su’ (jahat) para da’i ila abwabi jahannam yang menipu dan mengelabui rakyat dan ummat. Tempat-tempat ibadah tidak digunakan untuk taqarrub kepada Allah, Firman Allah dan Hadits Nabi yang suci berfungsi tidak lebih sekadar alat legitimasi kepentingan dirinya dan konco-konconya. Masyarakat seperti di atas diceritakan Allah dalam Al-Qur’an:

 وإذا أردنا أن نهلك قرية أمرنا مترفيها ففسقوا فيها فحق عليها القول فدمرناها تدميرا

Dan jika Kami ingin menghancurkan suatu negeri, Kami perintahkan orang-orang besar dan hidup mewah supaya taat kepada Allah. Tetapi mereka mendurhakaiNya (tidak menegakkan keadilan) di dalam negeri, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya ketentuan Kami. Kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya (QS Al-Isra': 16)

Kondisi masyarakat yang memprihatinkan dan menyedihkan itu pernah terjadi di zaman Nabi Musa a.s. Saat itu bercokol Fir’aun sebagai raja yang kejam dan zalim. Qarun sebagai hartawan yang tamak dan rakus serta bakhil. Serta Bal’am, pemuka agama yang jahat dan juru stempel program Fir’aun. Kongkalingkong dan persekongkolan kaum elite (politik, ekonomi dan cendiakiawan) tersebut membuat masyarakat jadi tertekan dan dihantui ketakutan. Sebab nilai-nilai rusak fitrah itu tidak lagi berskala individu, tapi sudah berubah jadi struktur/ tatanan sosial yang melembaga. Demikian bahaya bila manusia sudah lari dari fitrah dirinya yang hanif (lurus). Apa yang pernah terjadi dulu seperti kisah di atas, mungkin akan berulang sepanjang masa, bila manusia lari dari fitrahnya.

Malapetaka, kehancuran dan krisis yang kita alami sekarang bersumber dari faktor lari dan jauh dari fitrah. Jiwa masyarakat dan para pemimpin yang tidak bersih, menimbulkan jiwa yang kotor, menuruti hawa napsu, menghalalkan segala cara. Sebagaimana sabda Rasulullah saw “3 perkara yang merusak: Hawa nafsu yang dituruti, kikir yang ditaati, bangga pada diri sendiri (gurur)”.

Maka di hari yang berbahagia ini marilah kita kembali kepada fitrah, yang mengajak tunduk dan patuh kepada Allah, kepada agamaNya, hukum-hukum dan aturan hidup dariNya. Karena hanya dengan kembali kepada fitrah insaniah yang Islami itu, manusia akan selamat dari kesesatan dan kesengsaraan.

Allahu Akbar 3 x Wa lillahil-hamd…
Ibadallah Rahimakumullah

Manusia fitri nan takwa ini yang mampu menyelesaikan permasalah-permasalahan hdup menuju pulau kesejahteraan idaman setiap manusia. Merekalah yang bisa menghadapi berbagai bentuk aktifitas destruktif di muka bumi untuk selanjutnya menyelamatkan umat manusia dari jurang kenistaan. Mengapa …?

Karena tingkat kemajuan suatu bangsa ditentukan oleh keberhasilan bangsa itu sendiri dalam meningkatkan kualitas SDM ( Sumber Daya Manusia ). Kualitas SDM tersebut tidak hanya diukur dengan kehebatannya menguasai teknologi modern, tetapi juga diukur sejauhmana bangsa itu memiliki nilai-nilai kemanusiaan dan menghormati bangsa lain serta mencintai kehidupan damai. 

Karenanya seorang idiolog Barat mengungkapkan isi hati nuraninya, katanya: "Di masyarakat tempat berkembang IPTEK (ilmu pengetahuan dan teknologi) manusia tidak pernah dan tidak akan menemukan hakekat dirinya. Sungguh kami adalah bangsa yang sengsara, karena keterbelakangan dan krisis moral; Negara-negara industri yang kini nampak maju dalam segi materi, sesungguhnya secara perlahan sedang melangkah menuju kehancuran, kegelisahan dan kesengsaraan hidup". Demikian Maurice Buccaile dalam bukunya Manusia Makhluk Misterius.

Lalu, siapa yang dapat menjadi 'Juru Selamat' peradaban manusia yang kini sedang menghadapi permasalahan krusial. Siapa yang mampu menjadi 'Penentu Arah' kehidupan manusia. Siapa dan bagaimana umat manusia dapat mempertahankan eksistensi hidupnya agar lebih bermakna dan memiliki nilai bagi kemaslahatan bersama? Siapa dan siapa ……?

Seorang pemikir Barat lain berkebangsaan Perancis, Rene Dubos pernah mengungkap isi hati dan fikirannya dalam tulisannya berjudul "So Human An Animal" (diterjemahkan ke dalam bahasa Arab "Insaniyatul-Insan"): "Yang dapat menyelamatkan manusia dari kondisi gelisah dan krisis moral dalam kehidupan hanyalah hidup beragama".

Bagi umat Islam "Hidup Beragama" adalah beriman, berakhlak mulia, beribadah dan bertakwa kepada Allah SWT dalam arti seluas-luasnya. Allah SWT memberikan isyarat bahwa umat Islam pada hekekatnya adalah ummat yang layak mengusung peradaban umat manusia, firmanNya:

Dan demikianlah Kami jadikan kalian (umat Islam) umat yang wasath (berkeadilan dan terpilih) (QS. al-Baqarah: 143).

Allah menegaskan kembali, bahwa umat Islam adalah umat tertinggi dari umat-umat yang lain dikala mereka merelisasi keimanan yang merasuk dalam hati sanubari mereka, firmanNya: "Dan kalian adalah umat tertinggi jika kalian sebagai orang-orang yang mukmin" (QS ali Imran: ).

Peradaban yang dikehendaki Islam bukan peradaban yang hanya memperhatikan aspek materi, jasmani dan instink manusia atau kenikmatan dunia lainnya yang bersifat fana. Peradaban yang diusung Islam adalah peradaban yang menghubungkan manusia dengan Tuhannya, yang membina relasi antara bumi dengan langit.

Dunia dalam persepsi setiap muslim, diciptakan sebagai sarana hidup dan kehidupan menuju kehidupan abadi di akhirat; karenanya peradaban manusia yang dibangun Islam adalah peradaban yang menggabungkan unsure spiritual dengan material, sekaligus menyeimbangkan antara akal dengan hati, menyatukan ilmu dengan iman dan meningkatkan moral seiring dengan peningkatan material.

Untuk membangun peradaban yang dikehendaki Islam itu, Allah tidak membiarkan manusia terombang-ambing hanya mengandalkan kekuatan akal dan usaha kemanusiaannya saja. Tetapi Allah SWT membantu meringankan beban hidup manusia dalam menentukan arahan dan bimbingan agar mampu membangun peradabannya di muka bumi.

Karenanya Allah SWT dengan sifat ar-Rahman dan ar-RahimNya mengutus seorang rasul dengan ajaran yang sesuai dengan kriteria peradaban yang dikehendaki, ajaran yang perhatian kepada aspek spiritual dan material, aspek idealis dan realistis, ajaran yang robbani dan insani, moralis dan konstrukstif, juga yang peduli dengan aspek-aspek individual juga aspek social. Sehingga wujud peradaban yang seimbang dan moderat yang menjadi dasar munculnya ummatan wasathan yang menuntun umat manusia menuju hidup berkeadilan.

Pola bangunan masyarakat berdaya juga bisa dilihat dan dicermati pesan wahyu Allah SWT dalam surah Ibrahim sbb:

“Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezeki mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur” (QS. Ibrahim: 37).

Ayat di atas menegaskan pilar bangunan yang sesungguhnya, yakni kekuatan spiritual dan moralitas beragama. Nabi Ibrahim a.s saat menempatkan keluarganya di tempat yang sangat tandus (fi wadin ghairi dzi zar’in), iklim yag kurang akrab dengan manusia ‘modern’ karena kekeringan tanahnya, tempat yang sulit diperoleh sesuap nasi dan seteguk air. Dalam kondisi lapar yang sangat dan dahaga yang dahsyat, Nabi Ibrahim tidak memohon kepada Allah karunia berupa kebutuhan logistik, tetapi justru yang diminta adalah keberdayaan spiritual dan kesiapan moral.

Robbana liyuqimush-sholah, mendirikan shalat yang merupakan simbol komunikasi vertikal dengan Allah swt, karena dengan shalat seseorang dapat memiliki imunitas diri dari perbuatan buruk dan kejahatan, pelaksanaan shalat secara benar dan tepat guna akan menghasilkan muraqabah Allah (pengawasan Allah) yang merupakan faktor utama bagi kekuatan spiritual. Pembangunan kekuatan spiritual itu sendiri merupakan modal utama bagi proses kebangkitan.

Karenanya, Rasulullah saw melakukan pembangunan spiritual ini pada para shahabat beliau yang menjadi kader-kader inti dakwah, sebagaimana dilakukan pada masyarakat pada umumnya, sehingga munculnya umat yang berdaya spiritual. Tidak heran jika meskipun begitu sulitnya perjalanan hijrah, mereka tetap tegar dan siap melaksanakan hijrah yang sarat dengan nuansa pengorbanan jiwa raga dan nyawa.

Bukti nyata kekuatan spiritual bagi kebangkitan adalah kepahlawanan para muhajirin dalam peristiwa hijrah ke Madinah yang merupakan munthalaq (start-point) bagi kebangkitan umat. Dengan kekuatan spiritual yang tinggi, Abu Salamah rela meninggalkan anak istri yang tidak diperkenankan berangkat bersamanya ke Yatsrib (Madinah). Shuhaib seorang shahabat enterpreuner berhasil, sehingga menjadi seorang kaya dermawan di Mekkah, saat keberangkatan ke Yatsrib seluruh harta kekayaannya dicekal oleh kaum kuffar Mekkah, berangkatlah beliau ke Madinah dengan hampa tangan, namun bekal spiritual, gelora semangat membaja meneguhkan pendiriannya menuju tempat kebangkitan untuk membangun bangsa berperadaban. Figur kepahlawanan Abu Salamah dan Shuhaib hanya contoh dari sekian banyak deretan pahlawan-pahlawan kebangkitan umat pada generasi awal Islam.

Faj’al af’idatan-nas tahwi ilaihim (jadikanlah hati manusia condong kepada mereka), mereka suka kepada keturunannya karena keterpujian akhlak dan moralnya. Ketinggian moralitas ini sebenarnya hasil logis dari kekuatan spiritual, tetapi penyebutan aspek moral dalam ayat ini menjadi sangat penting, karena realitanya kekuatan spiritual yang memunculkan semangat menggelora kadang-kadang membuat seseorang lepas kendali moral dalam aplikasi aspek spiritual.

Karenanya, pemberdayaan akhlak dan pembangunan moral ini diperlukan bagi proses kebangkitan, sehingga wajah kebangkitan tidak hanya berseri dengan pancaran iman dan cahaya akidah, tetapi nampak indah dengan nilai-nilai akhlak dan rambu-rambu moralis.

Seringkali orang merasa ‘seram’ dengan wajah Islam, Islam nampak dengan wajah kurang manis, keindahan Islam tidak dilihat, kebaikannya tidak pula dirasakan. Hal ini terjadi karena ulah sebahagian para pengemban risalah Islam. Rahmatan lil alamin Islam tidak dikenal, padahal Islam –kata Rasulullah saw- ibarat air hujan yang menyuburkan tanah tandus, menyegarkan suasana kering, menyejukkan iklim dan cuaca panas: “Perumpamaan hidayah dan ilmu yang aku (Nabi Muhammad) diutus untuk menyebarkannya, ibarat air hujan yang menimpa tanah….-al-hadits).

Aspek spiritual dan moral sebagaimana dalam ayat sebagai pilar kebangkitan, bukan berarti aspek intelektual tidak diperlukan. Dalam ayat tidak disebutkan aspek intelektual secara tersurat, karena spiritualitas mukmin dengan landasan iman takwa akan berperan aktif dan produktif manakala diperkuat dengan aspek intelektual, karenanya pula Allah menegaskan, bahwa dasar prinsip kalimat tauhid (keimanan) sejatinya didasarkan pada ilmu pengetahuan (baca: QS. Muhammad: 19).

Betapapun pentingnya aspek spiritual, moral dan intelektual bagi kebangkitan umat, namun aspek material pun menempati posisi penting bagi kebangkitan itu sendiri. Asepek material bagi kebangkitan ibarat bensin pada kendaraan bermotor, yang keberadaannya yang memadai merupakan factor keberhasilan pembangunan bangsa. Untuk itu permohonan Nabi Ibrahim selanjutnya keberdayaan ekonomi yang disimbolkan dengan kecukupan sandang.

“war-zuqhum mints-tsamaroti” (anugrahkan mereka sebahagian buah-buahan). Kekuatan ekonomi, kecukupan sandang pangan dan papan yang dilandaskan pada nilai-nilai iman dan akhlak, akan melahirkan generasi yang pandai bersyukur, tidak sekadar mengucap kata syukur, tetapi sikap dan perilaku mengindikasikan syukur kepada Allah swt. 

Mereka itulah golongan orang-orang yang takwa sebenarnya. Orang-orang bertakwa, ia adalah orang-orang shalih secara pribadi, senantiasa menampilkan kebaikan dalam kehidupannya, baik akhlaknya, indah perangainya, karena akhlak dan perangai yang ditunjukkan adalah nilai-nilai Robbani dari ketinggian iman dan keluhuran akidahnya.

Namun orang bertakwa juga shalih secara sosial, luhur jiwanya, merasakan berat apa yang dirasakan oleh sesama, perhatian kepada kaum dhuafa, senantiasa termotivasi melakukan al-khoir (kebajikan) untuk orang lain. 

Karenanya Allah SWT serukan orang-orang beriman yang mendambakan kesejahteraan hidup dan kehidupan, untuk selalu berupaya merealisasi iman, dekatkan diri kepada Allah dan juga melakukan aktifitas kebajikan untuk sesama. firmanNya:

ياأيها الذين آمنوا اركعوا واسجدوا واعبدوا ربكم وافعلوا الخير لعلكم تفلحون

Wahai orang-orang beriman, ruku dan sujudlah, sembahlah Rabbmu, dan lakukan kebajikan, agar kamu memperoleh kemenangan (QS. Al-Hajj: 77).

بارك الله لي ولكم وتقبل مني ومنكم إنه سميع الدعاء واستغفروا الله يغفر لكم من ذنوبكم وهو الغفور الرحيم

Khutbah Kedua

الله أكبر، الله أكبر، الله أكبر، الله أكبر، الله أكبر، الله أكبر، الله أكبر الله أكبر كبيرا والحمد لله كثيرا وسبحان الله بكرة وأصيلا لا إله إلا الله وحده صدق وعده ونصر عبده وأعز جنده وهزم الأحزاب وحده لا إله إلا الله ولانعبد إلا إياه مخلصين له الدين ولو كره المشركون. الحمد لله نحمده ونستعينه ونستغفره ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا، من يهد الله فلا مضل له ومن يضلل فلا هادي له. أشهد أن لا إله إلا الله وحده لاشريك له وأشهد أن محمدا عبده ورسوله، صلوات الله وسلامه عليه، ورضي الله عن آله وأصحابه الذين آمنوا به وعزروه ونصروه واتبعوا النور الذي أنزل معه أولئك هم المفلحون. أما بعد فيا أيها المسلمون، أوصيكم وإياي نفسي بتقوى الله فقد فاز المتقون.

Ma’asyirol Mukminin Rahimakumullah.

Kita semua tentu yakin bahwa kehidupan ini akan berakhir dengan kematian yang pasti kan datang menjemput setiap jiwa dimana dan kapan saja. Setelah itu mulailah kehidupan hakikii, disana ada pengadilan Allah Yang Maha Agung, hanya ada dua alternatif: Kebahagiaan abadi atau kesengsaraan yang tiada terkira.

Jika kita yakin itu, akankah kita tetap dalam kelalaian yang berkepanjangan, akankah kita masih melestarikan keangkuhan sikap terhadap Allah Rabbul Izzah wal-jalalah, akankah kita terus dalam kemaksiatan kepada ajaran Allah Sang Pencipta alam semesta, akankah kita masih saja menganggap aturan dan perundang-undangan selain Allah lebih benar, lebih baik atau lebih diprioritaskan.

Pada saat umat manusia dilanda berbagai macam persoalan hidup, konflik antar negara, kesenjangan sosial ekonomi, kekacauan politik, bahkan dekadensi moral, krisis mental agama dan rohani; yang mengakibatkan manusia tak tahu harus berbuat apa, dilema, bingung, apatis bahkan ada juga yang depresi dan putus asa. Pada saat itu manusia butuh penuntun, perlu prinsip dalam menapaki langkah-langkah kehidupan ini; Kembali ke ajaran Islam secara jujur, benar dan konsekuen itulah solusinya. 

 فمن اتبع هداي فلا يضل ولايشقى ومن أعرض عن ذكري فإن له معيشة ضنكا ونحشره يوم القيامة أعمى 

“Siapa yang mengikuti petunjuk-Ku ia tidak akan sesat (dalam kehidupan dunia) dan tidak akan sengsara di akhirat kelak, siapa yang berpaling dari petunjuk-Ku ia akan mengalami kesempitan hidup dan di akhirat menjadi buta (sengsara karena melupakan ajaran Allah) (Q.S. Thaha: 123-124).

Marilah kita merendahkan diri, menyadari segala kelalaian kita selama ini, begitu banyak kesalahan kita, kepada diri sendiri, kepada kedua orang tua kita, kepada teman dan tetangga kita. Betapa banyak kewajiban-kewajiban agama yang merupakan hak Allah terhadap kita yang belum kita laksanakan, betapa banyak aturan dan undang-undang Allah yang sengaja atau tidak sengaja kita tinggalkan. Tidak mustahil ada makanan haram yang sempat kita telan tanpa perasaan salah dan dosa, mungkin saja ada saudara-saudara kita yang merasa sakit hati karena ulah dan sikap kita. Barangkali pula selama ini sepatah untaian do’apun belum pernah kita panjatkan ke hadirat Allah untuk saudara-saudara kita yang tengah berjuang di jalan Allah. Marilah kita panjatkan do’a untuk mereka semoga Allah berkenan mempersatukannya dan memberikan kemenangan.

Akhirnya, marilah kita merendahkan diri di hadapan Allah, berdo’a dan munajat ke haribaanNya dengan tulus hati :

إن الله وملائكته يصلون على النبي يا أيها الذين آمنوا صلوا عليه وسلموا تسليما. اللهم صل على سيدنا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين. قل اللهم مالك الملك تؤتي الملك من تشاء وتنزع الملك ممن تشاء وتعز من تشاء وتذل من تشاء بيدك الخير إنك على كل شيء قدير. تولج الليل في النهار وتولج النهار في الليل وتخرج الحي من الميت وتخرج الميت من الحي وترزق من تشاء بغير حساب.

Allahumma ya Allah Ya Rahman.

Kami yang hadir di sini adalah hamba-hambaMy yang lemah tanpa daya. Hamba-hambaMu yang banyak dosa dan kesalahan Karena itu ya Allah ampunkanlah dosa-dosa kami dan dosa orang tua kami.

Ya Allah, Engkau saksikan kami pada pagi ini menundukkan kepala dengan kepasrahan dan kerendahan hati dan mengingat-ingat kembali keadaan diri kami tentang apa yang telah kami perbuat selama ini baik untuk diri kami sendiri, untuk keluarga, masyarkat dan untuk agama Mu.

Seberapa besar rasa cinta kami kepadaMu dan kepada rasulMu Muhammad saw, seberapa jauh perubahan-perubahan berarti dalam diri kami yang telah sekian kali melalui Ramadhan. Seberapa andil kami dalam membantu orang-orang yang membutuhkan bantuan. Seberapa besar dari potensi dan kerja yang belum kami pertaruhkan, kontribusi dan pemikiran yang belum kami curahkan, atau keringat dan darah yang belum tumpah demi perjuangan Islam.

Ya Allah, kami menyadari sungguh telah datang kepada kami RasulMu yang menyeru kepada keIslaman, keimanan dan keistiqomahan, maka mudahkanlah bagi kami curahan hidayahMu sehingga kami mampu menjawab seruanMu dengan kata perbuatan dan perjuangan. 

Kami pun menyadari sesungguhnya Engkau telah menurunkan sebuah kitab suci untuk kami ikuti dan amalkan isi kandungannya. Betapapun kami meyakini akan kebenaran isi kitab suci al-Qur'an, tetapi secara jujur ya Allah kami akui kami belum mampu mengamalkan seluruh isi kandungan al-Qur'an, karenanya ya Allah anugrahkan kami kemampuan dan kesabaran untuk terus belajar membaca, meningkatakan kualitas bacaan dan pengamalan al-Qur'an secara benar dan baik.

Ya Allah teguhkan dan kuatkan hati kami, sehingga tak mudah tergoda oleh bisikan, was-was syetan yang menyebabkan goyahnya keimanan kami. Tunjukilah kami dan mudahkanlah datangnya petunjuk kepada kami, tolonglah kami terhadap siapa saja yang menganiaya kami. Robbana, jadikanlah kami orang yang pandai bersyukur, berzikir dan takut kepadaMu, taat, tunduk banyak mengadu dan kembali kepadaMu. Robbana, terimalah taubat kami, cucilah dosa kami, kabulkanlah do’a kami, luruskanlah lidah kami dan cabutlah kedengkian hati kami.

Ya Allah, kami menyadari bahwa kelemahan dan kealpaan kami di satu sisi dan keganasan gangguan syetan yang terus menyerang kami seringkali membuat kami lalai dan lesu dalam keimanan dan keIslaman. Karenanya ya Allah, jagalah diri kami dengan Islam dalam keadaan berdiri, duduk dan saat berbaring. Tanamkan rasa takut kepadaMu yang dapat menghalangi diri kami dari berbuat maksiat, berikan ketaatan kepadaMu yang mampu menghantar kami ke SyurgaMu, karuniakan kami keyakinan yang dengannya Engkau ringankan cobaan-cobaan hidup yang menimpa kami

Ya Allah, kami menyadari beratnya perjuangan menegakkan agamaMu, mengibarkan panjiMu, di saat umatMu terkoyak-koyak dan tercabik oleh tangan-tangan jahanam yang benci, tak suka Islam berkibar, tak senang Islam berjaya di muka bumi, mereka tak rela jika umatMu mampu memimpin dunia dengan tatananMu. Ya Allah ampuni kami, jika kami belum mampu menolong, membantu saudara-saudara kami yang nista dan menderita lantaran keterbatasan kami. Ya Robbana tolonglah saudara-saudara kami dari musuh-musuhMu dengan bantuan balatentara dari langit dan bumi, teguhkan hati mereka dalam agamaMu, hancurkan musuh-musuh mereka, cerai beraikan mereka, seranglah mereka dari berbagai arah, perlihatkan keajaiban kekuasaan dan kebesaranMu kepada mereka.

Ya Allah jangan Engkau tinggalkan dosa kami kecuali Engkau ampuni, jangan biarkan orang sakit diantara kami, kecuali Engkau sembuhkan. Jangan sisakan hutang kami kecuali Engkau bantu melunasinya, Jangan Engkau tinggalkan seorang dalam keadaan susah dan resah kecuali Engkau segerakan keselamatan mereka. Jangan Engkau jadikan dosa-dosa kami sebagai penghalang dari rahmat dan magfirahMu. Jangan jadikan dosa-dosa kami sebagai penghalang dari bantuan dan limpahan rizkiMu. Jangan jadikan dosa-dosa kami sebagai penghalang dari wujudnya persaudaraan diantara kami, pertautkan hati kami dalam rengkuhan berkah dan rahmatMu.

Ya Allah jadikan kami, orang-orang yang senantiasa mengabdi kepadaMu, berbakti kepada orang tua kami, agar kami dapat membalas jerih payah dan pengorbanan mereka sejak kami dalam kandungan hingga kami besar, dengan susah payah mereka mengasuh dan membesarkan kami serta membimbing kami dalam ajaranMu dengan penuh kasih dan belaian cinta, ampuni dosa-dosa mereka ya Allah, cucurkan rahmat kasihMu kepada mereka, lapangkan alam kuburnya, lipatgandakan amal kebaikan mereka, jadikan kubur mereka syurga dengan penuh nikmat dan jangan jadikan nereka penuh derita, pertemukan kami ya Allah dengan mereka saat Engkau beri keridhoan kepada kami.

Ya Allah, kami juga bersyukur atas karunia yang Engkau berikan berupa amanah pasangan hidup dan anak-anak. Namun secara jujur kami mengakui, belum banyak yang dapat kami tunaikan dalam mengemban tugas dan amanah ini. Untuk itu ya Allah bantulah kami dari kelemahan-kelemahan kami, jangan sampai pasangan hidup dan anak-anak kami menjadi fitnah bagi kami di dunia, terlebih di akhirat. Jadikan mereka perhiasan hidup dan penyejuk hati yang dapat mengokohkan iman kami. Himpunlah kami sekeluarga dalam kenikmatan syurgaMu.

Ya Allah, tunjukilah para pemimpin bangsa ini ke jalanMu yang lurus, berilah mereka kesabaran dalam memberikan yang terbaik untuk bangsa dan negara ini, sadarkan orang-orang yang zhalim diantara mereka, tampakkan orang-orang yang berhati buruk dan berniat makar terhadap kami, sibukkan orang-orang yang zhalim dengan kawan-kawan zhalim mereka, jangan Engkau beri kesempatan berkuasa bagi mereka yang tidak mampunyai rasa takut kepadaMu dan tidak menaruh belas kasih kepada kami.

Ya Allah, ampuni segala dosa saudara-saudara kami seiman dan seperjuangan dan ampuni dosa-dosa kaum muslimin dan muslimat. Jangan biarkan tumbuh dalam hati kami rasa hasad, dengki, dendam, permusuhan dan perselisihan. Jadikan jiwa dan hati kami berkumpul di atas mahabbah dan kecintaan kepadaMu, himpunlah jiwa kami dalam ketaatan kepadaMu, bersatu padu dalam dakwah dan perjuangan membela agamaMu. 

Ya Allah kokohkan iktan persaudaraan kami, kekalkan cinta diantara kami, tunjuki jalannya, penuhi dengan cahayaMu yang tak pernah pudar, lapangkan dada kami dengan gelora keimanan dan tawakkal kepadaMu, hidupi ia dengan makrifatMu, dan matikan dalam syahid di jalanMu.

Ya Allah dengan kerendahan diri dan ketundukan hati, kami memohon agar Engkau mengabulkan permohonan dan pinta kami.

ربنا آتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار سبحان ربك رب العزة عما يصفون وسلام على المرسلين وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

0 Response to "Naskah Khutbah Idul Fitri Terbaik Manusia Pengemban Amanat Rahmat Semesta"

Post a Comment

Berkomentarlah yang Bijak! Hanya komentar yang sopan yang Kami terbitkan di situs ini. Baca Kebijakan Situs

No Sara, No Spam!