Dasar Hukum Asuransi Syariah dalam Al-Qur'an dan Hadis

Advertisement
Tongkronganislami.net, Dasar Hukum Asuransi Syariah- Sejak awal asuransi syari’ah dimaknai sebagai wujud dari bisnis pertanggungan secara syar’i, yang didasarkan pada nilai-nilai yang ada dalam ajaran Islam yaitu al-Qur’an dan sunnah rasul (baca: Pengertian Asuransi Syariah). Menurut M. Syakir Sula at- ta’min diambil dari kata amana memiliki arti memberi perlindungan, ketenangan, rasa aman, dan bebas dari rasa takut.1

Menurut M. Hasan Ali landasan yang dipakai oleh sebagian ahli hukum Islam dalam memberi nilai legalisasi dalam praktek bisnis asuransi adalah al-Qur’an dan Sunnah Nabi.2

1. Asuransi Sya riah dalamAl-Qur’an

Apabila dilihat sepintas ke seluruh ayat al-Qur’an, tidak terdapat satu ayat pun yang menyebutkan istilah asuransi seperti yang dikenal sekarang ini. Walaupun tidak menyebutkan secara tegas, namun terdapat ayat yang menjelaskan tentang konsep asuransi dan yang mempunyai muatan nilai-nilai dasar yang ada dalam praktek asuransi.3 Di antara adalah:

a. Perintah Allah untuk mempersiapkan hari depan.

Allah SWT dalam al-Qur’an memerintahkan kepada hamba-Nya untuk senantiasa melakukan persiapan untuk menghadapi hari esok.4 Allah berfirman dalam surat al-Hasyr ayat 18:

Artinya: “Yusuf berkata, supaya kamu bertanam tujuh tahun (lamanya) sebagaimana biasa. Maka, apa yang kamu tuai, hendaklah kamu biarkan di bulirnya kecuali sedikit untuk kamu makan. Kemudian sesudah itu akan datang tujuh tahun yang amat sulit, yang menghabiskan apa yang kamu simpan untuk menghadapinya (tahun sulit), kecuali sedikit dari (bibit gandum) yang kamu simpan. Kemudian, akan datang tahun yang padanya manusia diberi hujan (dengan cukup) dan di masa itu mereka memeras anggur.” (QS. Yusuf:47-49)

b. Perintah Allah untuk saling menolong dan kerja sama. Allah berfirman dalam Surat al-Maidah ayat 2.5

Artinya: “…..dan tolong menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya”. (QS. al-Maidah :2)

Ayat ini memuat perintah tolong menolong antara sesama manusia. Dalam bisnis asuransi, nilai ini terlihat dalam praktek kerelaan anggota (nasabah) perusahaan asuransi untuk menyisihkan dananya agar digunakan sebagai dana sosial. 

c. Perintah Allah untuk saling melindungi dalam keadaan susah.

Allah SWT sangat concern dengan kepentingan keselamatan dan keamanan dari setiap umat-Nya. Karena itu, Allah memerintahkan untuk saling melindungi dalam keadaan susah satu sama lain.6 Sebagai mana firman Allah: 

Artinya: “Yang telah memberi makanan kepada mereka untuk menghilangkan lapar dan mengamankan mereka dari ketakutan. (QS. Quraisy: 4)

d. Perintah Allah untuk bertawakkal dan optimis berusaha Allah berfirman:

Artinya: “Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah…. “ (QS. at-Taaghabun:11).

Allah swt telah memberi penegasan dalam ayat diatas bahwa segala musibah atau peristiwa kerugian (peril) yang akan terjadi di masa mendatang tidaklah dapat diketahui kepastiannya oleh manusia.

Akan tetapi, terdapat nilai implisit dari ayat di atas, yaitu dorongan bagi manusia untuk selalu menghindari kerugian dan berusaha meminimalisasikannya sedikit mungkin. Salah satu metodenya adalah dengan memperbanyak do’a kepada Allah SWT sebagai pengatur kehidupan di alam, agar terhindar dari bencana serta kerugian ekonomi.7

2. Asuransi Syariah dalam Sunnah Nabi

Artinya: “Diriwayatkan dari Amir bin Sa’ad bin Abi Waqasy, telah bersabda rasulullah saw: “lebih baik jika engkau meninggalkan anak-anak kamu (ahli waris) dalam keadaan kaya raya, dari pada meninggalkan mereka dalam keadaan miskin (kelaparan) yang meminta-minta kepada manusia lainnya.” (H.R Bukhari).

Nabi Muhammad saw sangat memperhatikan kehidupan yang akan terjadi di masa mendatang, yaitu dengan cara mempersiapkan sejak dini bekal yang harus diperlukan untuk kehidupan di masa yang akan datang. Hal ini sejalan dengan pelaksanaan operasional dari asuransi, organisasi asuransi mempraktekkan nilai yang terkandung dalam hadits di atas dengan cara mewajibkan anggotanya untuk membayar uang iuran (premi) yang digunakan sebagai tabungan dan dapat dikembalikan ke ahli warisnya jika pada suatu saat terjadi peristiwa yang merugikan, baik dalam bentuk kematian nasabah atau kecelakaan diri.8

Selain itu Rasulullah saw juga memberikan tuntunan kepada manusia agar selalu bersikap waspada terhadap kerugian atau musibah yang akan terjadi, bukannya langsung menyerahkan segalanya (tawakal) kepada Allah swt.

Perintah Asuransi Syariah dalam Al-qur'an dan Hadis


Praktek asuransi adalah bisnis yang bertumpu pada bagaimana cara mengelola resiko itu dapat diminimalisasi pada tingkat yang sedikit (serendah) mungkin. Resiko kerugian tersebut akan terasa ringan jika ditanggung bersama-sama oleh semua anggota (nasabah) asuransi. Sebaliknya, jika resiko kerugian tersebut hanya ditanggung oleh pemiliknya, maka akan terasa berat bagi pemilik resiko tersebut.9 Dengan merujuk dalil-dalil di atas, maka dapat disimpulkan bahwa praktek asuransi syari’ah sama sekali tidak bertentangan ajaran agama Islam, bahkan kita dapat memetik beberapa manfaat darinya. Di antaranya:

a. Tumbuhnya rasa persaudaraan dan rasa sepenanggungan di antara anggota.

b. Implementasi dari anjuran Rasulullah saw agar umat Islam saling menolong.

c. Jauh dari bentuk-bentuk muamalah yang dilarang syari’at.

d. Secara umum dapat memberikan perlindungan-perlindungan dari resiko kerugian yang diderita satu pihak.

e. Meningkatkan efisiensi, karena tidak perlu secara khusus mengadakan pengamanan yang memakan banyak tenaga, waktu, dan biaya.

f. Pemerataan biaya, yaitu cukup hanya dengan mengeluarkan biaya yang jumlahnya tertentu, dan tidak perlu mengganti atau membayar sendiri kerugian yang timbul, yang jumlahnya tidak tertentu dan tidak pasti.

g. Sebagai tabungan, karena jumlah yang dibayar pada pihak asuransi akan dikembalikan saat terjadi peristiwa atau berhentinya akad.

h. Menutup loss of corning power seseorang atau badan usaha pada saat ia tidak dapat berfungsi (bekerja).10

Catatan Kaki

1. Muhammad Syakir Sula, AAIJ. FIIS, Asuransi Syariah, Jakarta: Gema Insani Press, hlm. 28 

2. A.M. Hasan Ali, Asuransi dalam Perspektif Hukum Islam: Suatu Tinjauan Analisis Historis, Teoritis dan Praktis, Cet. I, Jakarta: Kencana, 2004, hlm. 104-105 

3. Widyaningsih, et. all., Bank dan Asuransi Islam di Indonesia, Cet. I, Jakarta: Prenada Media, 2005, hlm. 236 

4. Muhammad Syakir Sula, AAIJ. FIIS, Asuransi Syariah... hlm. 86 

5. Departemen Agama RI, al-Qur’an dan Terjemahannya, Semarang: Kumudasmoro Grafindo, 1994, hlm. 156 

6. Muhammad Syakir Sula, AAIJ. FIIS, Asuransi Syariah... hlm. 90. 

7.  A.M. Hasan Ali, Asuransi dalam Perspektif.... hlm. 109 

8. Widyaningsih, et. all., Bank dan Asuransi Islam di Indonesia, Cet. I, Jakarta: Prenada Media, 2005. 239 

9.  A.M. Hasan Ali, Asuransi dalam Perspektif... hlm. 109 

10. Widyaningsih, et. all., Bank dan Asuransi Islam di Indonesia, Cet. I, Jakarta: Prenada Media, 2005, hlm. 239 


0 Response to "Dasar Hukum Asuransi Syariah dalam Al-Qur'an dan Hadis"

Post a Comment

Berkomentarlah yang Bijak! Hanya komentar yang sopan yang Kami terbitkan di situs ini. Baca Kebijakan Situs

No Sara, No Spam!