Tata Cara Mengerjakan Sholat Gerakan demi Gerakan

Advertisement
Tongkronganislami.net - Cara melaksanakan shalat telah ditetapkan aturannya sedemikian rupa dan tata caranya dicontohkan dengan jelas oleh nabi Muhammad saw. Tata cara Rasulullah melakukan shalat dapat diketahui melalui hadits-haditsnya.

Untuk itu hadits yang berkenaan dengan gerakan dan ucapan-ucapan dalam shalat sangat lengkap dan jelas.1 Adapun cara melaksanakan shalat adalah sebagai berikut:2 

1. Gerakan pertama. 

Berdiri dengan khusu’ dan fikiran tenang, menghadap ke arah Kiblat, lalu mengangkat kedua tangan ke dekat telinga. Setelah itu berniat kemudian membaca “Allahu Akbar” (Allah Maha Besar) kemudian melafatkan niat sesuai dengan shalat yang dikerjakan. Setelah itu tangan diturunkan, lalu dilipat di bawah dada dengan tangan kanan di atas. Dilanjutkan membaca do’a iftitah. 

2. Gerakan kedua. 

Dari sini mulailah membaca surat al-Fatihah, kemudian diteruskan membaca ayat-ayat al-Qur’an lainnya. Atau boleh juga membaca surat-surat pendek lainnya. 

3. Gerakan ketiga. 

Setelah membaca al-Fatihah dan ayat-ayat lain, maka dibacalah “Allahu Akbar” (Allah Maha Besar) tangan diangkat ke dekat telinga lalu ruku’ (menundukkan badan sampai mencapai bentuk tertentu) dan kedua tangan diletakkan di lutut, sambil membaca “subhana rabial ‘adzimi”, (Maha Suci Tuhan yang Maha Agung). Bacaan ini diulang tiga kali. Setelah itu kembali berdiri dengan mengucapkan: “sami’allahu liman hamidah, rabbana lakal hamdu ”. (Allah akan mendengar setiap hambanya yang mengucapkan puji kepada-Nya. Tuhanku bagi engkau segala puja dan puji). 

4. Gerakan keempat. 

Pada gerakan ini dibaca “Allahu Akbar” lalu turun ke lantai dengan meletakkan kedua kaki, lutut, tangan dan kepala ke lantai. Posisi ini disebut dengan sujud. Pada posisi ini dibaca: “subhana rabial a’la” (Maha Suci Allah yang Maha Tinggi). Dibaca ulang tiga kali. 

5. Gerakan kelima. 

Saat ini dibaca “Allahu Akbar“, lalu kembali duduk, merupakan duduk sejenak di antara dua sujud. Cara duduk ini adalah: bagian kaki luar kiri dan jari-jemari kaki kanan dicecahkan di lantai, badan diluruskan dan kedua tangan di atas lutut. 

Setelah itu kemudian sujud kembali seperti sujud pertama, dan dengan membaca bacaan yang sama pada sujud pertama tadi. Kini selesailah rakaat pertama. 

6. Gerakan keenam. 

Setelah selesai melakukan rakaat pertama, kemudian berdiri kembali sambil membaca “Allahu Akbar”. Untuk meneruskan shalat pada rakaat kedua, kali ini dibaca kembali al- Fatihah, yang kemudian diikuti pula dengan surat lain dari kitab suci al-Qur’an, sebagaimana dilakukan pada rakaat pertama tadi. 

7. Gerakan ketujuh. 

Bila selesai melakukan rakaat kedua sebagaimana rakaat pertama (sampai sujud kedua), maka kembalilah pada posisi duduk, dengan membaca Tasyahud. Tasyahud pertama pada rakaat kedua untuk shalat Maghrib, Isya,Dhuhur dan Asar. Tasyahut awal dan akhir untuk shalat subuh. 

8. Gerakan kedelapan 

Akhirnya dipalingkan muka ke kanan sambil membaca: “Assalamu ‘alaikum warahmatullahi“ (selamat atas kamu dan semoga Allah memberimu rahmat). Kemudian memalingkan muka ke kiri membaca pula bacaan salam di atas. Dengan demikian selesailah shalat dengan dua rakaat. Apabila rakaat shalat tiga (shalat  Maghrib) atau empat (shalat Isya), maka gerakan dan bacaan pada rakaat ketiga dan keempat sama dengan gerakan pada rakaat kedua. 

Gerakan Sholat/ummi-online.com


Hikmah Diperintahkannya Shalat 

Shalat diwajibkan Allah SWT. atas hamba-Nya untuk menjadi tanda kesyukurannya atas segala nikmat-Nya yang tidak terhitung banyaknya. Dan juga shalat mempunyai pengaruh positif yang bersifat pendidikan spiritual, baik bagi pribadi maupun masyarakat, antara lain adalah:3 

1. Yang bersifat pendidikan spiritual ialah: 

a) Shalat memperkokoh hubungan antara seorang hamba dengan Tuhannya. 
b) Shalat merupakan jalan mencapai kemenangan dan keuntungan serta menghapus dosa dan kesalahan. 

2. Yang bersifat pendidikan pribadi ialah: 

a) Shalat merupakan ibadah yang terbaik untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. sesuai dengan tujuan penciptaan manusia itu sendiri. 

b) Shalat mensucikan hati membersihkan jiwa, dan menguatkan kemauan untuk mencapai kemuliaan karena Allah dan melatih diri untuk mengalahkan pengaruh negatif dunia berupa harta benda, pangkat dan kedudukan. 
c) Shalat adalah penenang hati, dan penenteram jiwa, serta mencegah kelengahan yang sering memalingkan manusia dari tugasnya yang mulia dan utama. 
d) Shalat merupakan latihan untuk membudayakan sikap disiplin dalam segala tugas dan kewajiban di dalam kehidupan, dengan melaksanakannya tetap dalam waktu-waktu tertentu dengan teratur. 
e) Shalat mengandung pendidikan tentang kesopanan, ketenangan dan latihan mengkonsentrasikan pikiran terhadap hal-hal yang baik dan bermanfaat. 
f) Shalat merupakan pendidikan moral yang praktis, tentang keutamaan, kebenaran dan kejujuran serta menghindarkan diri dari perbuatan fasya’ dan mungkar. 

3. Yang bersifat pendidikan kemasyarakatan ialah: 

a) Shalat merupakan pernyataan aqidah yang universal bagi setiap anggota masyarakat, dan aqidah itu yang mendasari kehidupan sosial dalam perasaan ukhuwah islamiyah. 
b) Shalat berjamaah banyak mendatangkan manfaat yang di antaranya adalah: 

1) Menyadarkan perasaan dengan menunjukkan kenyataan persamaan derajat umat manusia. 
2) Melatih kedisiplinan dan ketaatan dalam perintah umum dengan mengikuti komando imam yang sesuai dengan perintah Allah SWT. 
3) Merupakan isyarat dalam sistem organisasi untuk memperkuat barisan perjuangan Islam dengan satu komando (pemimpin) yang menghadapi musuh. 
4) Membulatkan cita-cita, menuju suatu tujuan yang tunggal mulia, yaitu mencapai keridhaan Allah SWT. 

c) Dengan shalat jamaah kaum muslimin dapat bertemu untuk bersama-sama melaksanakan ibadah yang sama. Hal ini memberikan dampak positif antara lain: 

1) Saling mengenal lahir-batin sebagai muslim dan mukmin dan berbagai lapisan masyarakat, yang dapat menimbulkan rasa ukhuwah di antara mereka. 
2) Menimbulkan rasa solidaritas di antara mereka sehingga dapat saling membantu dan tolong-menolong dalam kebaikan di antara mereka. 
3) Menjadikan masjid sebagai pusat kegiatan ibadah, baik yang bersifat vertikal, maupun yang bersifat horisontal. 
d) Shalat merupakan garis pemisah antara orang-orang muslim dengan orang-orang non muslim (kafir ). 

Di samping itu, shalat wajib yang kita kerjakan menurut Syeikh Najmudin adalah sebagai ungkapan rasa syukur kita kepada Allah SWT. atas nikmat badan. Nikmat badan itu terletak pada indera yang lima, yaitu perabaan, penciuman, pendengaran, penglihatan dan perasaan. Dari tiap-tiap indera tersebut terdapat beberapa nikmat, yaitu sebagai berikut:4

a. Indera perabaan, nikmat perabaan ada dua, yaitu apabila anda meletakkan tangan di atas sesuatu dan merabanya tentu Anda akan mengetahui bahwa benda tersebut kasar atau lembut, nikmat tersebut disyukuri dengan melaksanakan shalat dua rakaat, yaitu shalat Subuh. 

b. Indera penciuman, Anda dapat mencium bau-bau dari empat sudut. Nikmat tersebut disyukuri dengan melaksanakan shalat empat rakaat (di waktu siang) yaitu shalat Dzuhur. 

c. Indera pendengaran, Anda dapat mendengar suara yang datang dari empat sudut. Nikmat tersebut disyukuri dengan melaksanakan shalat empat rakaat (menjelang sore), yaitu shalat Asar. 

d. Indera penglihatan, jika diam di suatu tempat Anda dapat melihat apa-apa yang ada di sebelah kanan, kiri dan di hadapan Anda. Nikmat tersebut disyukuri dengan melaksanakan shalat tiga rakaat, yaitu shalat Maghrib.

e. Indera perasaan, anda dapat mengetahui panas, dingin, manis dan asam. Nikmat tersebut disyukuri dengan melaksanakan shalat empat rakaat, yaitu shalat Isya.

Adapun hikmah menjalankan shalat sunah adalah sesuai dengan shalat sunah apa yang dikerjakan. Namun hikmah menjalankan shalat sunah secara umum adalah sebagai tambahan atau penyempurna shalat wajib yang lima. Meskipun kita telah melaksanakan semua shalat wajib (lima kali sehari semalam) tidak menutup kemungkinan shalat yang kita kerjakan terdapat cacat dan kekurangan. Di sinilah peran shalat sunah sebagai penyempurna shalat fardhu kita yang terdapat cacat dan kekurangan.

Catatan Kaki

1. A. Toto Suryana, Ibadah Praktis, (Bandung: Alfabeta, 1995), hlm. 40. 
2. Mahmudah Abdalati, Islam Suatu Kepastian, (Jakarta: Media Dakwah, 1983), hlm.143-147.  
3. Muhammadiyah Djafar, Pedoman Ibadah Muslim dalam Empat Mahzab Sunni dengan Dalil-dalilnya, Jilid II, (Pasuruan: Garuda Jaya Indah, 1995), hlm. 31-39. 
4. Maman Abdul Djaliel (ed), Menyingkap Rahasia Isra’ Mi’raj Rasulullah, (Bandung: Pustaka Setia, 2000), hlm. 563.

Edisi Khusus!



0 Response to "Tata Cara Mengerjakan Sholat Gerakan demi Gerakan"

Post a Comment

Berkomentarlah yang Bijak! Hanya komentar yang sopan yang Kami terbitkan di situs ini. Baca Kebijakan Situs

No Sara, No Spam!