Kisah Tabayyun Nabi Muhammad saat Mencari Kebenaran Bani Mushtolaq (Hati-hati dengan Berita Hoax)

Advertisement
ISLAM; AGAMA YANG MENGAJARKAN TABAYUN (Hindari Menebarkan Berita HOAX)
Oleh: Syamsul Wathani

Al-Qur’an yang ada dihampir setiap sudut rumah kita dan bahkan diantara kita mungkin saja ada yang memiliki al-Qur’an lebih dari satu. Hal ini seharurnya membuat kita semakin sadar, bahwa seiring gemarnya kita membacanya, maka seiring pula dalam pemehaman kita mengenainya. Namun yang terjadi malah sering terbalik, tak jarang bahkan kita sering menghina/menuduh sesama muslim, dimana kita sama-sama membaca kitab suci yang sama. Lantas ada apa dengan semua ini?

Pada poin inilah ajaran tabayun (meminta penjelasan / klarifikasi) kepada sesama Muslim ditekankan dalam al-Qur’an. Ada konteks ayat, yang secara naratif maupun substantif yang cukup kontekstual mensikapi isu agama dan cari maki yang ramai terjadi akhir-akhir ini. Surah yang menyuruh kita melakukan tabayyun adalah Q.S al-Hujarat [49] ayat 6. Berbunyi:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ
Gambar Tabayun Sebelum Menyebarkan Indormasi

Ibn Jarir ath-Thabari dalam tafsirnya menarasikan realitas yang melatar belakangi turunnya ayat ini. Ada banya versi asbab nuzulnya, namun versi yang paling lengkap kira kira begini. Ayat ini turun dalam konteks setelah perang (بعد الوقعة), mereka yang kalah -Bani Mushtolaq- kemudian memeluk Islam. Bisa dibilang mereka kemudian menjadi Warga Muslim Baru. Karena masih baru, Nabi mengutus seseorang bernama Walid bin ‘Uqbah bin Abi Mu’aith ke Bani Mushtholaq tersebut untuk mengambil sodaqoh. Setelah Bani Mushtholaq mendengar kabar bahwa akan ada seorang utusan Rasulullah yang akan datang kepada mereka, mereka merasa sangat gembira (فرحوا) dan beramai-ramai keluar untuk menyambut utusan baginda Rasulullah tersebut.

Namun, ketika Walid mendengar kabar bahwa masyarakat Bani Mushtholaq keluar untuk menemuinya, Walid lansung balik kembali kepada baginda Rasulullah, sembari melaporkan prasangka/dugaan dalam dirinya -Versi lain mengatakan, setan membisik ke telinga Walid bahwa mereka (Bani Mushtholaq) keluar untuk menyerangnya, namun versi ini lemah-. 

Ia berkata "Wahai Rasulullah, sesungguhnya Bani Mushtholaq telah menolak untuk mengeluarkan sodaqoh, dan mereka sungguh telah Murtad dari agama Islam (ارتدّوا عن الإسلام), mereka bahkan ingin keluar menyerangku ketika mendengar aku datang".

Mendengar laporan Walid ini, Rasulullah pun lansung marah dan geram. Ditengah kemarahan beliau, Walid menyarankan Rasulullah agar menyerang kembali bani Mushtolah tersebut (أن يغزوهم). Namun, tidak lansung menyerang, mendengar usulan Walid tersebut, Rasulullah terdiam sejenak. Ditengah dialog rasulullah dan Walid ini, kemudian datanglah seorang utusan dari bani Mushtholaq kepada Rasulullah dengan niat melporkan Walid. 

Ia berkata; “Ya Rasulullah, sesungguhnya kami ingin menyampaikan kepadamu bahwa utusanmu ini hanya setengah perjalanan (من نصف الطريق) menuju tempat kami, bahkan ia belum sampai ketempat kami, ia lansung balik untuk melapor kepadamu. Kami sangat khawatir ia berbohong dengan tidak menyampaikan pesanmu kepada kami, dan melaporkan hal lain kepadamu. Kami takut engkau akan memarahi kami sebab kami tidak melaksanakan pesanmu yang dia bawa. Kami berlindung kepada Allah dari kemarahnmu ya Rasulullah”.

Setelah kejadian lapor-melapor itu selesai, Riwayat Qatadah menjelaskan bahwa Rasulullah masih terus terdiam, sembari memikirkan laporan kedua orang tadi. Beliau akhirnya memanggil Khalid Bin Walid dan mengutusnya ke Bani Mushtolah untuk menginvestigasi akan kebenaran berita dari Walid bin Uqbah dengan melihat lansung realitas yang ada dimasyarakat bani Mushtholaq tersebut. Apa tujuan Khalid bin Walid diutus kesana oleh Rasulullah? Hanya dua saja, untuk memastikan kebenaran dan tidak tergesa-gesa dalam mengeambil tindakan (أن يتثبَّت ولا يعجل).

Kapan dua tugas ini dilakukan oleh Khalid?. Malam dan Subuh. Setelah melakukan inverstigasi di masyarakat Bani Mushtholaq, Khalid kemudian melaporkan hasilnya kepada baginda Rasulullah. Khalid berkata;  "ya Rasulullah, sesungguhnya mereka –Bani Mushtholaq- masih memeluk agam Islam (أنهم مستمسكون بالإسلام). Ketika saya datang di waktu malam hari, saya sendiri yang mendengar mereka azan dan menyaksikan salat mereka".

Begitu juga ketika saya datang diwaktu subuh, saya sendiri melihat mereka bangun -terjaga- dan melaksanakan salat subuh”. Mendengar laporan dari Khalid tersebut, Rasulullah kemudian memberikannya apresaisi, sembari beliau bersabda” tabayun itu dari Allah, terburu-buru/tergesa-gesa dan lansung bertindak tanpa mengetahui masalahnya itu dari syaitan. ( التَّبَيُّنُ مِنَ اللّهِ، والعَجَلَةُ مِنَ الشَّيْطان)”.
Baca Juga: Menempatkan Identitas Muslim pada Tempatnya
Demikianlah narasi ayat dan sejarah yang patut menjadi renungan akhir-akhir ini, dimana kita hidup dimasa yang penuh fitnah (zamanil fitani), sehingga melakukan tabayun antar sesama Muslim menjadi kebutuhan yang urgen. Jangan sampai ukhwah yang kita bangun lama, kini akan hancur hanya karena sikap kita yang tidak mau mendengarkan dan lebih banyak bicara.

Kesimpulan

Cara nabi melakukan tabayyun di atas perlu kita tanamkan di dalam diri kita, dimana di masa sekarang maraknya peredaran informasi hoax menuntut seseorang untuk melakukan hal serupa dengan yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW.

Tersirat dari persistiwa di atas, manfaat tabayyun tidak hanya dirasakan oleh penerima informasi (Nabi Muhammad) yang tidak serta merta melakukan tindakan saat mendapatkan laporan perilaku murtad Bani Mushtolah. Begitu juga dengan obyek yang diberitakan (Bani Mustholah) tidak hanya terhindari dari hukuman Nabi Muhammad, melaikan pesan yang dikirimkan tersampaikan.

loading...