Home Blog

Pengertian Hukum Taklifi dalam Ilmu Ushul Fiqhi

Pengertian Hukum Taklifi dalam Ilmu Ushul Fiqhi

Tongkrongan Islami – Hukum Taklifi adalah Seruan Allah yang berkaitan dengan perbuatan manusia, baik yang berkaitan dengan tuntutan (iqtidhâ’) maupun pilihan (takhyîr) adalah seruan yang menjelaskan hukum-hukum perbuatan manusia, dan itulah yang disebut dengan khithâb at-taklîf.

Sebelum menjelaskan tuntutan (iqtidhâ’) dan pilihan (takhyîr), karena keduanya merupakan bentuk perintah (al-amr), maka makna asal perintah (al-amr) tersebut harus dijelaskan. Disamping itu, karena keduanya juga berkaitan dengan perbuatan manusia, sementara perbuatan juga akan selalu terkait dengan benda, maka ketentuan dasar mengenai perbuatan dan benda tersebut juga harus diterangkan.

Mengenai makna asal perintah (al-amr), kalangan ulama’ ushul fiqih telah berbeda pendapat; ada yang mengatakan wajib, sunah dan mubah. Masing-masing kemudian mendukung pandangannya dengan dalil-dalil tertentu. Namun yang jelas, bahwa makna asal perintah (al-amr) harus dikembalikan kepada ketentuan bahasa, sebab syariat tidak pernah memberikan batasan dan deskripsi kepadanya, sehingga untuk memahami maknanya harus terikat dengan apa yang dikemukakan oleh bahasa.

Perintah (al-amr), sebagaimana yang digunakan dalam bahasa Arab, makna dasarnya adalah tuntutan (at-thalab). Indikator (qarînah)-lah yang menjelaskan ragam perintah (al-amr) tersebut, baik tegas (jazm), tidak tegas (ghayr jazm) atau pilihan (takhyîr).

Sementara hukum asal perbuatan manusia (ashl hukm al-fi’l) adalah terikat dengan hukum syara’. Sebab, bagi kaum Muslim standar perbuatannya adalah perintah dan larangan Allah.

Allah mewajibkan setiap Muslim untuk mengkaji setiap amal yang dilakukannya, dan mengetahui hukum syara’ tentang perbuatan yang hendak dilakukannya. Sebab, Allah SWT. akan meminta pertanggungjawabannya. Allah berfirman:

فَوَرَبِّكَ لَنَسْأَلَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ ~ عَمَّا كَانُوا يَعْمَلُونَ

Maka demi Tuhanmu, Kami pasti akan menanyai mereka semua, tentang apa yang telah mereka kerjakan dahulu (QS. al-Hijr [15]: 92-93).

وَمَا تَكُونُ فِي شَأْنٍ وَمَا تَتْلُو مِنْهُ مِنْ قُرْءَانٍ وَلاَ تَعْمَلُونَ مِنْ عَمَلٍ إِلاَّ كُنَّا عَلَيْكُمْ شُهُودًا إِذْ تُفِيضُونَ فِيهِ

Kamu tidak berada dalam suatu keadaan dan tidak membaca suatu ayat dari al- Qur’an dan kamu tidak mengerjakan suatu pekerjaan, melainkan Kami menjadi saksi atasmu di waktu kamu melakukannya. (QS. Yûnus [10]: 61).

Konotasi frasa: Kunnâ ‘alaykum syuhûd[an] adalah Allah akan menghitung dan meminta pertanggungjawaban seluruh perbuatan mereka. Rasulullah saw. juga telah menjelaskan kewajiban setiap perbuatan untuk terikat dengan hukum Allah. Sabda beliau:

مَنْ أَحْدَثَ فِيْ أَمْرِنَا هَذَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ

Siapa saja yang mengada-adakan dalam urusan (agama) kami ini, sesuatu yang tidak ada (tuntunan) darinya, maka pasti tertolak (HR. Bukhâri dan Muslim).

Disamping itu, Rasulullah saw. sering ditanya tentang hukum perbuatan tertentu, beliau selalu menunggu datangnya wahyu, dan tidak pernah langsung menjelaskan apa yang belum dijelaskan oleh wahyu.

Karena itu, bisa disimpulkan bahwa hukum asal perbuatan manusia adalah terikat dengan hukum syara’, dan karenanya setiap Muslim wajib mengetahui hukum syara’ mengenai setiap perbuatannya sebelum melakukannya, baik wajib, haram, sunah, makruh maupun mubah, seperti yang akan dijelaskan kemudian.[14]

Sementara hukum asal benda (ashl hukm al-asyyâ’) berbeda dengan hukum perbuatan. Benda (al-asyyâ’) adalah sesuatu yang digunakan oleh manusia untuk melakukan perbuatan, sedangkan perbuatan (al-af’âl) adalah apa yang dilakukan oleh manusia, seperti tasharruf (aktivitas timbal-balik) lisan maupun perbuatan, dalam rangka memenuhi kebutuhanya. Benda (al-asyyâ’) harus mempunyai hukum, sebagaimana perbuatan.

Hanya saja, nash-nash syara’ yang menjelaskan hukum benda (al-asyyâ’) berbeda dengan hukum perbuatan (al-af’âl). Siapa saja yang menganalisis nash-nash syara’ yang berkaitan dengan benda (al-asyyâ’), akan melihat bahwa syara’ hanya memberikan sifat halal dan haram kepada benda (al-asyyâ’), dan tidak memberikan hukum wajib, haram, sunah dan makruh.[15] Dari sini, bisa disimpulkan bahwa hukum asal benda adalah mubah (halal), selama tidak ada dalil yang mengharamkannya.

Baca Juga: Mengenal Hukum wadh’i dalam Ushul Fiqih

Adapun dalam konteks khithâb yang berkaitan dengan tuntutan (iqtidhâ’) dan pilihan (takhyîr), atau yang disebut dengan seruan taklîf, maka hukum syara’ bisa diklafisikasikan menjadi lima:

  1. Wajib atau Fardhu
  2. Sunnah atau Mandûb
  3. Haram
  4. Makruh
  5. Mubah

Pengertian Mubah dalam Islam

Pengertian Mubah dalam Islam

Pengertian Mubah dalam Islam – Mubah, secara etimologis, berarti menampilkan sesuatu, melepaskan, dan izin.[26] Sedangkan secara syar’i, mubah adalah khithâb pembuat syariat yang ditunjukkan oleh dalil sam’î yang di dalamnya berisi pilihan antara melaksanakan dan meninggalkan tanpa disertai badal (kompensasi).[27] Contohnya seperti firman Allah:

كُلُوا وَاشْرَبُوا مِنْ رِزْقِ اللَّهِ

Makan dan minumlah dari rizki Allah (QS. al-Baqarah [2]: 60).Perintah makan dan minum dalam ayat tersebut bisa dipilih, antara dikerjakan dan ditinggalkan, tanpa ada kompensasi pahala, dosa, atau sanksi bagi yang meninggalkannya.

Pengertian Makruh dalam Islam

Pengertian Makruh dalam Islam

Pengertian Makruh dalam Islam – Secara etimologis, Makrûh berarti sesuatu yang dibenci. Menurut syara’, Makrûh adalah apa yang dituntut untuk ditinggalkan dengan tuntutan yang tidak tegas, dimana pelakunya tidak akan disiksa, sementara meninggalkannya lebih baik, terpuji dan akan diganjar oleh Allah SWT.

Contoh makruh dalam islam seperti sabda Rasulullah yang berbunyi: Rasulullah saw. telah melarang tindakan membujang (HR. ad-Dârimi dari Aisyah).

Namun, larangan tersebut tidak tegas, karena ketika mengetahui sebagian sahabat yang mampu menikah (al-mûsir) tetapi tidak melakukannya, beliau diam. Maka, diamnya Nabi terhadap para sahabat yang “melanggar” larangannya ini membuktikan, bahwa larangan tersebut tidak tegas, atau haram, melainkan makrûh.[24]

Mengenai istilah Makrûh Tahrîm atau Tanzîh istilah yang mula-mula dikembangkan di kalangan mazhab Hanafi, merujuk pada pernyataan Abû Hanîfah. Yang pertama, sebagaimana yang diterangkan di atas, identik dengan haram, sedangkan yang kedua adalah makruh, sebagaimana umumnya. Namun, menurut mazhab Hanafi, yang pertama berlaku dalam kasus larangan yang jika dikerjakan, pelakunya akan dikenai sanksi di dunia atau adzab di akhirat, sedangkan yang kedua tidak.[25]

Pengertian Haram dalam Islam

Pengertian Haram dalam Islam

Pengertian Haram dalam Islam – Secara etimologis, Haram diambil dari al-hurmah, yang berarti sesuatu yang tidak boleh dilanggar.[20] Haram dan Mahzhûr adalah dua istilah untuk konotasi yang sama. Keduanya merupakan sinonim (mutarâdif). Menurut syara’ adalah apa yang dituntut untuk ditinggalkan dengan tuntutan yang tegas, dimana pelakunya akan dikecam, dikenai sanksi ketika di dunia dan adzab ketika di akhirat.

Menurut mazhab Hanafi, istilah haram hanya digunakan untuk larangan yang tegas disertai dalil qath’î, namun jika tidak disertai dalil qath’î, mereka sebut dengan Makrûh tahrîm.[21] Meskipun sebenarnya, dua-duanya maksudnya sama. Contohnya seperti firman Allah:

وَلاَ تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلاً

Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk. (QS. al-Isrâ’ [17]: 32).

الزَّانِيَةُ وَالزَّانِي فَاجْلِدُوا كُلَّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا مِائَةَ جَلْدَةٍ وَلاَ تَأْخُذْكُمْ بِهِمَا رَأْفَةٌ فِي دِينِ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ

Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus kali dera, dan janganlah belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan) agama Allah, jika kamu beriman kepada Allah, dan hari akhirat (QS. an-Nûr [24]: 2).

Larangan Allah: Walâ taqrabû az-zinâ (janganlah kamu mendekati zina) adalah tuntutan untuk meninggalkan zina dengan tuntutan yang tegas, atau haram. Sebab, ada indikator yang berupa celaan (dzamm), yaitu lafadz: fâkhisyah (keji) dan sâ’a sabîla (jalan yang buruk) (QS. al-Isrâ’ [17]: 32), kemudian disertai dengan sanksi di dunia bagi pelakunya: Fajlidû kulla wâhid[in] minhumâ miata jaldah (cambuklah masing-masing di antara mereka seratus kali) (QS. an-Nûr [24]: 2).

Haram, Hazhar atau Makrûh Tahrîm ini bisa diklasifikasikan menjadi dua, yaitu haram substantial (lidzâtihi) dan haram aksidental (lighayrihi):

1. Haram Lidzâtihi (substansial)

Haram jenis ini diartikan apa yang dituntut untuk ditinggalkan dengan tuntutan yang tegas, karena substansinya. Misalnya zina, riba, membunuh dan suap.

2. Haram Lighayrihi (aksidental)

Haram kedua ini diartikan apa yang dituntut untuk ditinggalkan dengan tuntutan yang tegas, bukan karena substansinya, namun karena faktor eksternal.

Misalnya menghina tuhan-tuhan para penganut agama lain, hukum asalnya dibolehkan, bahkan bisa jadi wajib. Namun, Allah melarangnya karena bisa menyebabkan mereka menghina Allah. Allah berfirman:

وَلاَ تَسُبُّوا الَّذِينَ يَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ فَيَسُبُّوا اللَّهَ عَدْوًا بِغَيْرِ عِلْمٍ

Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan (QS. al-An’âm [6]: 108).

Dari nash inilah, hukum syara’ kullî berikut ini digali:

« اَلْوَسِيْلَةُ إِلَى الْحَرَامِ مُحَرَّمَةٌ »

Sarana yang menyebabkan keharaman, hukumnya diharamkan.[22]

Contoh lain adalah berperang melawan orang kafir adalah wajib, tetapi jika peperangan tersebut di bawah seorang pemimpin yang fasik, dan peperangan tersebut merupakan skenarion atau konspirasi untuk menghancurkan Islam, ummat dan harta benda mereka, maka hukumnya menjadi haram.[23]

Pengertian Sunnah dalam Islam (Mandub)

Pengertian Sunnah dalam Islam

Pengertian Sunnah dalam Islam – Mandûb secara etimologis berasal dari lafadz an-nadb yang berarti ad-du’â’ ilâ amr muhimm (ajakan pada urusan yang penting). Menurut istilah syara’, mandûb adalah apa yang dituntut oleh pembuat syariat untuk dikerjakan dengan tuntutan yang tidak tegas. Ada yang mengatakan, apa yang pelakunya akan diganjar jika melakukan, dan tidak akan disiksa jika meninggalkannya. Dalam kasus ini bisa dicontohkan dengan hadits Nabi saw.:

« لَوْلاَ أَنْ أَشُقَّ عَلَى أُمَّتِي أَوْ عَلَى النَّاسِ لأَمَرْتُهُمْ بِالسِّوَاكِ مَعَ كُلِّ صَلاَةٍ »

Jika seandainya saya tidak akan memberatkan ummatku, niscaya akan saya perintahkan mereka untuk bersiwak (gosok gigi) (HR. Bukhâri dari Abû Hurayrah)

Pernyataan Nabi saw. yang menyatakan: Lawlâ an asyuqqa ‘alâ (jika seandainya saya tidak akan memberatkan) merupakan indikator (qarînah) yang menunjukkan bahwa hukum syiwâk (gosok gigi) ketika akan melakukan shalat adalah sunnah (mandûb). Sebab, jika wajib, Rasulullah tidak akan mengatakan: Lawlâ an asyuqqa ‘alâ (jika seandainya saya tidak akan memberatkan), karena berat atau tidak harus dilaksanakan. Bandingkan dengan firman Allah ketika mewajibkan perang:

انْفِرُوا خِفَافًا وَثِقَالاً وَجَاهِدُوا بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ

Berangkatlah kamu baik dalam keadaan merasa ringan ataupun merasa berat, dan berjihadlah dengan harta dan dirimu di jalan Allah. (QS. at-Taubah [9]: 41)

Frasa: Infirû khifâfa wa tsiqâla (berangkatlah kamu baik dalam keadaan merasa ringan ataupun berat) adalah indikator, bahwa perintah tersebut hukumnya wajib.

Mandûb kadangkala disebut Nâfilah, seperti shalat tahajud sebagaimana yang dinyatakan dalam al-Qur’an surat al-Isrâ’ [17]: 79.

Kadangkala disebut Sunnah, seperti sunnah shalat Subuh, Dhuhur, Ashar, Maghrib dan Isya’. Sunnah ini kadang-kadang bersifat Muakkad (yang dikuatkan), seperti sunnah shalat Subuh dan Id, baik Idul Fitri maupun Adhha.

Ada yang tidak Muakkad, seperti sunnah shalat Ashar. Kadangkala disebut Mustahabb (yang disukai) dan kadangkala Tathawwu’. Disebut Mandûb karena pembuat syariat telah menyeru orang-orang mukallaf untuk mengerjakannya, dan disebut Nâfilah karena aktivitas tersebut merupakan tambahan dari fardhu atau kewajiban yang dibebankan kepada ummat.

Sementara dikatakan Mustahabb karena pembuat syariat menyukai dan mengutamakannya. Adapun dikatakan Tathawwu’ adalah karena pelakunya melakukannya sebagai tabarru’ (aktivitas suka rela), tanpa paksaan. Namun, keempat-empatnya sama.[19]

Hukum ini memang jika dikerjakan, pelakunya akan mendapatkan pahala, dan jika ditinggalkan tidak mendapat apa-apa, namun adakalanya tidak baik jika ditinggalkan oleh ummat, seperti sunnah menikah. Karena jika ditinggalkan, ummat akan mengalami degenerasi, alias tidak mempunyai penerus.

Pengertian Wajib dalam Islam (Fardhu)

Pengertian Wajib dalam Islam

Tongkrongan Islami – Wajib dan fardhu adalah dua istilah dengan konotasi yang sama. Keduanya adalah bentuk sinonim (mutarâdif). Sementara apa yang dikatakan oleh sebagian mujtahid, di antaranya para pengikut mazhab Hanafi, bahwa fardhu adalah apa yang ditetapkan dengan dalil qath’î sedangkan wajib adalah apa yang ditetapkan dengan dalil zhannî,[16] sebenarnya secara syar’i dan kebahasaan, tidak ada bukti yang bisa menunjukkan perbedaan antarkeduanya.

Kenyataan yang sebenarnya adalah, bahwa wajib atau fardhu adalah apa yang dituntut oleh Allah secara tegas, baik yang ditetapkan berdasarkan dalil qath’î maupun dhannî. Sedangkan menurut Jumhur, wajib atau fardhu adalah apa yang dituntut oleh Allah untuk dikerjakan dengan tuntutan yang tegas, juga apa yang pelakunya akan diganjar dan dipuji, dan demikian sebalinya.[17] Contohnya, seperti kewajiban jihad. Dalil kasus tersebut adalah:

قَاتِلُوا الَّذِينَ لاَ يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَلاَ بِالْيَوْمِ الآخِرِ وَلاَ يُحَرِّمُونَ مَا حَرَّمَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَلاَ يَدِينُونَ دِينَ الْحَقِّ مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ حَتَّى يُعْطُوا الْجِزْيَةَ عَنْ يَدٍ وَهُمْ صَاغِرُونَ

Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak (pula) kepada hari kemudian dan mereka tidak mengharamkan apa yang telah diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya dan tidak beragama dengan agama yang benar (agama Allah), (yaitu orang-orang) yang diberikan al-Kitab kepada mereka, sampai mereka membayar jizyah dengan patuh sedang mereka dalam keadaan tunduk. (QS. at-Taubah [9]: 29).

Ayat ini memerintahkan jihad dengan lafadz: Qâtilû (perangilah). Perintah tersebut hukumnya wajib, karena ada indikator yang memastikan kewajibannya, yaitu: Illâ tanfirû yu’adzdzibkum ‘adzâb[an] alîm[an] (jika tidak berangkat, maka kalian akan diazab dengan adzab yang sangat pedih) (QS. 9: 39).

Wajib dan fardhu ini bisa diklasifikasikan berdasarkan beberapa aspek yang berbeda; ada yang berkaitan dengan pelaksanaannya, ukuran dan ketentuannya, ketertentuan dan ketidaktertentuannya, serta berkaitan dengan apa yang dibebankannya, sebagai berikut:

1. Dari aspek pelaksanaannya, hukum wajib dan fardhu tersebut bisa dibedakan menjadi:

1) Muthlaq (tidak terikat), yaitu apa yang dituntut oleh pembuat syariat agar dikerjakan dengan tuntutan yang tegas, tanpa harus terikat dengan waktu tertentu, seperti mengganti puasa Ramadhan bagi orang yang tidak berpuasa karena udzur yang dibenarkan oleh syariat, baik karena sakit maupun bepergian. Orang tersebut bisa mengganti kapan saja, sesukanya, tanpa harus terikat dengan tahun tertentu. Contoh lain, seperti kafarat dan nadzar secara mutlak, misalnya, bisa dibayar langsung atau ditangguhkan pada waktu yang dikehendakinya.

2) Muqayyad (terikat), yaitu apa yang dituntut oleh pembuat syariat agar dikerjakan dengan tuntutan yang tegas, sementara waktunya ditentukan. Misalnya, shalat lima waktu, puasa Ramadhan dan ibadah haji. Pelaksanaan ibadah tersebut masing-masing terikat dengan waktu, sehingga seorang mukallaf yang terkena kewajiban tersebut akan berdosa jika mengerjakannya di luar waktunya.

(1) Muwassa’ (longgar), yaitu kewajiban yang waktu pelaksanaannya longgar. Contohnya, shalat Isya’, bisa dikerjakan di awal maupun di pertengahan malam.

(2) Mudhayyaq (sempit), yaitu kewajiban yang waktu pelaksanaannya sempir, tidak bisa dipilih antara awal atau pertengahan. Misalnya, puasa Ramadhan, waktunya tetap mulai dari fajar hingga terbenamnya matahari. Waktunya tidak bisa digeser.

2. Dari aspek keterukurannya, wajib dan fardhu tersebut bisa diklasifikasikan menjadi:

1) Muhaddad al-Miqdâr (dengan ukuran tertentu), yaitu apa yang dituntut oleh pembuat syariat agar dikerjakan dengan tuntutan yang tegas, disertai dengan kadar tertentu, seperti membayat zakat, diyat dan jumlah rakaat shalat fardhu. Maka, seorang mukallaf tidak akan terbebas dari kewajiban tersebut kecuali dengan menunaikannya berdasarkan bentuk dan ukuran yang telah ditetapkan oleh pembuat syariat.

2) Ghayr Muhaddat al-Miqdâr (dengan tanpa ukuran tertentu), yaitu apa yang dituntut oleh pembuat syariat agar dikerjakan dengan tuntutan yang tegas, tanpa disertai kadar tertentu, seperti membelanjakan harta di jalan Allah, nafkah wajib kepada isteri dan anak. Dalam hal ini, syariat telah menyerahkan ukurannya kepada kemampuan seorang mukallaf, dan sesuai dengan ukuran kelayakan di tengah masyarakat.

3. Dari aspek substansi (ayniyyah)-nya, wajib dan fardhu tersebut bisa diklasifikasikan menjadi:

1) Mu’ayyan, yaitu apa yang dituntut oleh pembuat syariat agar ayn (substansi)-nya dikerjakan dengan tuntutan yang tegas, tanpa disertai pilihan yang bisa dipilih oleh seorang mukallaf, seperti shalat; shalat tidak akan gugur dari seorang mukallaf, kecuali zatnya dilaksanakan. Maka, membaca al-Qur’an atau berpuasa tidak akan bisa menggugurkan kewajiban tersebut.

2) Ghayr Mu’ayyan, yaitu apa yang dituntut oleh pembuat syariat agar dikerjakan dengan tuntutan yang tegas, disertai pilihan bagi seorang mukallaf untuk menentukan mana substansi kewajiban yang dikerjakannya. Misalnya, kafarat untuk sumpah, bagi orang yang wajib membayar kafarat, bisa memilih antara memberi makan 10 orang miskin, atau pakaian mereka, atau memerdekakan budak. Ini bagi yang mampu, sedangkan bagi yang tidak mampu, bisa melakukan puasa 3 hari.

4. Dari aspek subyek yang terkena tanggung jawab, wajib dan fardhu tersebut bisa diklasifikasikan menjadi:

1) ‘Ayn (perkepala), yaitu apa yang dituntut oleh pembuat syariat agar dikerjakan oleh setiap mukallaf dengan tuntutan yang tegas, karena itu apa yang dilakukan oleh seseorang tidak bisa menggugurkan kewajiban orang lain. Contohnya seperti shalat, puasa Ramadhan, menunaikan janji, zakat dan sebagainya.

2) Kifâyah (kolektif), yaitu apa yang dituntut oleh pembuat syariat agar dikerjakan oleh sejumlah orang mukallaf dengan tuntutan yang tegas; jika telah dikerjakan oleh sebagian, maka kewajiban tersebut gugur dari pundak yang lain, dan mereka sudah tidak berdosa. Kecuali jika kewajiban tersebut belum berhasil direalisasikan, maka dosanya akan menimpa semua orang mukallaf.

Contohnya jihad, mengemban dakwah Islam untuk mendirikan Khilafah Islam, mendirikan industri berat dan sains yang dibutuhkan oleh ummat, serta menyiapkan kekuatan yang dibutuhkan untuk menakut-nakuti musuh.

5. Dari aspek substantifnya, wajib dan fardhu tersebut juga bisa diklasifikasikan menjadi:

1) Wajib Lidzâtihi (substansial), yaitu apa yang dituntut untuk dikerjakan dengan tuntutan yang tegas, karena substansinya. Misalnya shalat, puasa, zakat, haji dan lain-lain.

2) Wajib Lighayrihi (aksidental), yaitu apa yang dituntut untuk dikerjakan dengan tuntutan yang tegas, bukan karena substansinya, namun karena faktor eksternal, ketika ia menjadi sarana yang bisa menyempurnakan kewajiban substantif. Misalnya firman Allah:

فَاغْسِلُوْا وُجُوْهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ

Maka basuhlah wajah kamu dan kedua tangan kamu hingga ke siku-siku (QS. al-Mâidah [5]: 6).Lafadz: Ilâ al-marâfiq (hingga ke siku-siku) mempunyai kontasi terbalik (mafhûm mukhâlafah), bahwa kurang dari siku-siku hukumnya tidak sah, berarti minimal sampai siku-siku. Tetapi karena itu tidak mungkin dilakukan kecuali dengan membasuh lebih dari batas siku-siku, sehingga sikunya terkena basuhan, maka hukum membasuh “lebih dari batas siku-siku” tersebut menjadi wajib. Dalam konteks ini, berlakulah hukum kullî berikut ini:

مَا لاَ يَتِمُّ الْوَاجِبُ إِلاَّ بِهِ فَهُوَ وَاجِبٌ

Suatu kewajiban tidak akan sempurna kecuali dengan sesuatu, maka sesuatu tadi menjadi wajib.[18]

Merenungi Hikmah Penciptaan Matahari dalam Sistem Tatasurya

Hikmah Penciptaan Matahari

Tongkrongan Islam – Pernahkah terbayangkan dalam pikiran kita jika alam semesta ini tidak ada matahari? Akankah ada kehidupan di bumi tempat kita bernaung saat ini?  Karena kuasa dan kebesaran Allah Subhanahu wa Ta’ala, matahari diciptakan dengan manfaat yang sangat luar biasa bagi kehidupan manusia.

Matahari menjadi sumber kehidupan dan sumber energi yang sangat dibutuhkan untuk kelangsungan hidup seluruh makhluk hidup di bumi. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:  “Dialah (Allah) yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya.  Dan Dialah yang menetapkan tempat-tempat peredarannya, agar kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu)”.  (QS.  Yunus:  5).

Jelas bahwa matahari memancarkan sinar yang berasal dari dirinya sendiri, berbeda dengan bulan yang mendapatkan cahanya dari sinar matahari. Inilah mengapa cahaya matahari lebih tajam dan panas sementara cahaya bulan lebih lembut.

Perbedaan antara matahari dan bulan juga terletak pada fungsinya. Dimana matahari berfungsi sebagai sumber energi dan kehidupan, serta berguna untuk menentukan waktu shalat. Sementara bulan sebagai penunjuk kehidupan berupa penentuan waktu untuk melaut bagi nelayan, penentuan hari raya dan juga pelita di waktu malam.

Penciptaan matahari menjadi bukti kecintaan Allah kepada manusia. Matahari seumpama bola api raksasa yang mampu memberikan panas dan cahaya yang begitu luar biasa sehingga alam semesta ini terang benderang di waktu siang. Tanpa matahari, alam semesta akan gelap gulita dengan cuaca yang selalu dingin karena tidak adanya panas matahari yang memancar.

Kebesaran Allah sangat jelas dengan pancaran sinar matahari yang hanya mencapai 0,2% saja ke bumi sehingga manusia merasa nyaman.  Perlu diketahui bahwa permukaan matahari memiliki temperatur yang sangat panas, yaitu sekitar 6.000 derajat Celsius, sementara pada bagian dalamnya memiliki temperatur hingga 12 juta derajat Celsius.  Dimana pada permukaan matahari selalu terjadi ledakan dahsyat setara jutaan bom atom dengan lidah api raksasa yang ukurannya 40-50 kali lebih besar dari bumi yang kita huni saat ini.  Masya Allah.

Allah telah menciptakan jarak yang sempurna antara matahari dan bumi sehingga manusia mendapatkan manfaat matahari secara maksimal. Bayangkan jika jarak matahari dekat dengan bumi, tentu semua isi bumi telah terbakar dan hangus. Demikian juga jika jarak matahari dan bumi sangat jauh, tentu bumi ini akan diselimuti salju abadi sehingga mustahil untuk suatu kehidupan.

Bukan hanya itu saja, paparan sinar matahari yang begitu minim di wilayah kutub secara permanen telah diselimuti oleh es. Sementara di wilayah ekuator, paparan sinar matahari lebih banyak dan konsisten. Namun ternyata, perbedaan suhu tersebut mampu menciptakan iklim moderat bagi bumi secara keseluruhan. Dan dengan iklim tersebut kehidupan bisa terwujud.

Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menciptakan bumi, matahari, bulan, bintang dan sistem tatasurya dengan sangat teliti dan teratur sehingga manusia dan makhluk hidup lainnya bisa hidup secara nyaman.

Dengan Kuasa dan Kebesaran-Nya pula, matahari dan bulan senantiasa bergerak sesuai perintah Allah, sebagaimana firman Allah berikut ini: “Dan Dia menundukkan malam dan siang, matahari dan bulan untukmu, dan bintang-bintang dikendalikan dengan perintah-Nya.  Sunggguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang mengerti.” (QS. An-Nahl [16]: 12).

Selain itu Allah juga berfirman: “Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas ‘Arsy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan dan bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya.   Ingatlah menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha Suci Allah Tuhan semesta alam.” (QS. Al-A’raf [7]: 54).

Tentang penciptaan alam semesta yang begitu menakjubkan karena Kebesaran dan Kuasa Allah semata, tentu membuat kita sebagai manusia senantiasa merasa bersyukur sekaligus takjub dengan alam semesta yang begitu tertata. Berbagai kejadian dan fenomena alam yang kita temui tak lain adalah bukti Kebesaran Allah, sebagai Pencipta alam semesta.

Baca Juga: Mengenal 7 Lapisan Langit dalam Islam beserta Penghuninya

Tak henti-hentinya kita untuk mengagumi semua ciptaan Allah, baik yang melekat pada diri kita sendiri, di sekitar kita maupun segala sesuatu yang ada di alam semesta termasuk matahari yang begitu menakjubkan. Wallahu a’lam Bish-shawab.  Semoga kita menjadi hamba yang senantiasa bertakwa dan bersyukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Su’ul Khotimah, Apa saja Penyebabnya dan Bagaimana Tanda-tandanya?

Su'ul Khotimah

Tongkronganislami – Berbeda dengan Khusnul khotimah yang memiliki arti akhir yang baik, maka kebalikannya Su’ul khotimah merupakan penutup atau akhir kehidupan yang buruk.  Dengan kata lain, seseorang meninggal dalam keadaan yang buruk.

Yaitu ketika ia durhaka kepada Allah dan berada dalam kemurkaan-Nya. Naudzubillahi min dzalik.

Lalu apa saja penyebab su’ul khotimah dan bagaimana tanda-tandanya? Berikut ini ulasan lengkapnya, semoga bisa menjadi bahan perenungan dan introspeksi diri bagi kita.

Penyebab Su’ul Khotimah

Agar terhindar dari Su’ul khotimah, sebaiknya kita patut mewaspadai beberapa penyebabnya seperti berikut:

Kerusakan dalam Aqidah

Pemahaman tentang aqidah yang keliru akan sangat membahayakan di kemudian hari, dimana zuhud dan keshalihan yang melekat dalam dirinya bisa menjadi sesuatu hal yang sia-sia.

Karena pada dasarnya aqidah yang benar senantiasa bersumber dari Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wa Sallam. Sehingga ketika seseorang bertahan dengan kekeliruan dalam aqidahnya hingga ajal menjemput maka dikhawtirkan akan meninggal dalam keadaan yang buruk atau su’ul khotimah.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Katakanlah:  ‘Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?’ Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka telah berbuat sebaik-baiknya.” (QS. Al-Kahfi:  103-104).

Banyak melakukan maksiat

Sesorang yang terlalu banyak melakukan maksiat selama hidupnya, maka hal itu akan sangat membahayakan karena ingatan itulah yang akan mendominasi ketika sakaratul maut menghampiri.

Banyaknya perbuatan dosa hingga menutup ketaatannya akan membuat seseorang terikat dengan kemaksiatan sehingga kemungkinan besar mengalami su’ul khotimah.

Dalam hal ini seseorang yang banyak berbuat maksiat akan merasa kesulitan mengucapkan kalimat tauhid “Laa ilaaha illallah” saat sakaratul maut, karena lidahnya memang tidak terbiasa melafalkan dizkir kepada Allah.

Tidak istiqomah

Seseorang yang pada awalnya istiqomah namun kemudian berubah dan menyimpang bisa menjadi penyebab mengalami su’ul khotimah. Kita bisa mengambil contoh bagaimana dahulu iblis begitu patuh dan taat kepada Allah namun berpaling dan durhaka ketika diperintahkan untuk bersujud kepada Adam karena kesombongannya. Hingga akhirnya iblis masuk dalam golongan kafir yang durhaka kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Iman yang lemah

Lemahnya iman bisa ditandai dengan lunturnya cinta kepada Allah dan cinta kepada dunia yang mendominasi. Lemahnya iman bisa membuat seseorang hanya memiliki sedikit kecintaan kepada Allah sehingga membuatnya tidak mampu melawan perbuatan maksiat dan menjerumuskannya dalam kemaksiatan.

Bertumpuknya dosa bisa menjadikan iman semakin melemah sehingga ketika kematian mulai mendekati ia akan merasa sangat takut untuk berpisah dengan dunia yang selama ini memberikan kesenangan kepadanya.

Akibatnya ia justru berburuk sangka kepada Allah dan jika ia mati dalam keadaan iman yang demikian lemah, maka kemungkinan ia akan mengalami su’ul khotimah.

Tanda-tanda kematian Su’ul Khotimah        

Setelah mengetahui apa saja penyebab kematian Su’ul Khotimah, ada baiknya kita juga mengetahui bagimana tanda-tanda kematian su’ul khotimah sehingga kita bisa menghindarinya dengan iman dan ketakwaan kita.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat; dan Allah menyesatkan orang-orang yang zalim dan memperbuat yang Dia kehendaki.” (QS.  Ibrahim: 27).

Salah satu tanda seseorang mengalami akhir kehidupan yang buruk atau Su’ul Khotimah adalah ketidakmampuan lisannya mengucapkan kalimat tauhid “Laa ilaaha illallah” sebagai persaksian bahwa Tidak ada Tuhan selain Allah ketika sakaratul maut menghampiri.

Ketidakmampuan untuk mengucapkan kalimat tauhid tidak lain disebabkan oleh banyaknya perbuatan dosa yang telah dilakukannya semasa hidup. Dimana pada saat seseorang sedang berada di ujung maut, maka saat itulah keadaan syaithan sangat kuat dan manusia dalam keadaan yang selemah-lemahnya.

Jika sudah begitu, bagaimana mungkin seseorang akan mendapatkan akhir kehidupan yang baik, sementara semasa hidupnya ia telah lalai dan durhaka kepada Allah. Oleh karena itu sudah sepatutnya kita untuk mulai menata diri, memperbaiki keimanan dan ketakwaan kita dengan aqidah yang benar sesuai tuntunan Al-Qur’an dan Al-Hadist.

Baca Juga: Meninggal di Bulan Ramadhan, Apakah pasti Khusnul Khotimah?

Semoga kita menjadi manusia yang lebih baik amal ibadah dan akhlaknya hingga akhir hayat untuk mencapai akhir kehidupan yang baik, Khusnul Khotimah.  Allahumma Aamin.

Alasan Mengapa Bersuci dengan Tanah Lebih Bagus dari Sabun dan Air

Alasan Mengapa Bersuci dengan Tanah Lebih Bagus dari Sabun dan Air

Tongkrongan Islami – Jika mengamati alam di sekeliling kita, pastilah kita akan sangat mengagumi Kebesaran Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah menciptakan bumi dan isinya dengan segala Kuasa-Nya.

Pernahkah kita berpikir, bagaimana Allah menciptakan alam semesta ini dengan berbagai hal di dalamnya yang mungkin di luar nalar kita sebagai manusia. Salah satu ciptaan Allah yang begitu istimewa adalah tanah, tempat kita berpijak hingga saat ini.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:  “Maka apakah mereka tidak memperhatikan unta bagaimana dia diciptakan?” Dan langit bagaimana ia ditinggikan?” Dan gunung-gunung bagaimana ia ditegakkan?” Dan bumi bagaimana ia dihamparkan?” (QS. Al-Ghasyiyah:  17-20).

Tanah merupakan pemberian langsung dari Allah

Tanah tempat kita berpijak adalah anugerah dari Allah kepada manusia, dimana sebagai manusia kita tinggal memanfaatkannya saja sesuai kebutuhan.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya bumi (ini) kepunyaan Allah; dipusakakan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya dari hamba-hamba-Nya. Dan kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al- A’raf: 128).

Manusia diciptakan dari tanah

Tanah begitu istimewa, karena dari tanah pula Allah telah menciptakan manusia. Berbagai penelitian ilmiah yang juga menyebutkan bahwa unsur-unsur yang ada pada tubuh manusia juga ditemukan dalam tanah.  Asal usul penciptaan manusia telah tertulis dalam Al-Qur’an secara lengkap dan sebagai manusia kita tidak boleh mengingkari atau bahkan meragukannya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:  “Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan kamu dari tanah..”  (QS.  Ar-Rum:  20).

Di dalam Al-Qur’an juga telah dijelaskan bahwa di dalam tubuh manusia terdiri dari dua pertiga kompenen air sebagai komponen utamanya, sementara sepertiganya terdiri dari unsur-unsur tanah.

Hal ini sesuai dengan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: “Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu (cairan) saripati (berasal) dari tanah.” (QS. Al-Mu’minun: 12). Selain itu dijelaskan pula penciptaan manusia dari air seperti dalam firman Allah berikut ini: “Dan Dia (pula) yang menciptakan manusia dari air..”  (QS. Al-Furqon: 54).

Tanah mengandung jutaan mikroorganisme yang beguna bagi kehidupan

Tidak dipungkiri bahwa tanah merupakan unsur terpenting bagi makhluk hidup setelah air.  Bahkan berdasarkan sejumlah penelitian, disebutkan bahwa dalam segenggam tanah terdapat ratusan juta spesies makhluk hidup termasuk bakteri bersel tunggal yang berfungsi sebagai pengurai.

Setidaknya ada lebih dari 100 juta mikroorganisme dalam setiap gram tanah. Dimana mikrooorganisme tersebut memiliki peran yang sangat penting bagi kehidupan.  Diantaranya adalah sebagai penghancur limbah organik, memperbaiki siklus hara pada tanaman, membantu merangsang pertumbuhan tanaman, dan memaksimalkan penyerapan unsur hara.

Berdasarkan sejumlah penelitian, tanah memiliki beberapa keistimewaan seperti berikut ini:

  • Tanah adalah materi steril yang terbaik dari alam. Dalam dunia kedokteran, tanah mengandung jenis materi yang efektif membasmi kuman, yaitu tetracycline dan tetarolite, dimana keduanya digunakan dalam proses sterilisasi kuman.

Dari Abu Huarirah Radhiyallahu ‘Anhu, Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:  “Bersihnya bejana salah seorang dari kamu sekalian apabila dijilati oleh anjing adalah dengan mencucinya tujuh kali, salah satunya menggunakan tanah.” (HR. Muslim). 

Secara ilmiah, anjing diketahui bisa menularkan berbagai penyakit karena adanya ulat-ulat dalam ususnya. Dimana hanya dengan media air liur saja, ulat-ulat tersebut dapat berpindah ke tubuh manusia. Namun dengan membasuh bekas jilatan anjing menggunakan air dan tanah saja, kuman penyakit tersebut bisa dihilangkan. Subhanallah. 

  • Tanah merupakan media terbaik untuk membersihkan air.
  • Tanah mampu menghilangkan bakteri yang tidak bisa dibasmi dengan bahan kimia.
  • Tanah merupakan bahan alami yang dimurnikan air.
  • Tanah merupakan zat yang tidak dapat meregenerasi dari waktu ke waktu.
  • Ruang di antara butiran tanah ternyata berukuran 50% dari ukurannya.
  • Antibiotik yang sering digunakan untuk keperluan pengobatan sebagian besar bersumber dari mikro organisme yang terdapat di dalam tanah.
  • Tanah merupakan materi yang sangat efektif untuk membersihkan pori-pori kulit.

Jika melihat dari berbagai penelitian yang telah dilakukan untuk menguji kandungan dan manfaat tanah, maka sebagai umat muslim tentu kita tidak menganggapnya sebagai sesuatu yang berlebihan.

Baca juga: Mengenal 7 Lapisan Langit dalam Islam beserta Penghuninya

Pasalnya sejak lebih dari 14 abad silam, Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wa Sallam sudah mengajarkan bahwa tanah adalah benda yang suci. Rasulullah SAW bersabda: “Bumi dijadikan untukku sebagai tempat sujud (masjid) dan alat bersuci.”  (HR.  Muslim). Itulah mengapa Rasulullah juga menganjurkan kita untuk bertayamum menggunakan debu tanah. Wallahu a’lam Bish-shawab.

Mengenal 7 Lapisan Langit dalam Islam beserta Penghuninya

7 Lapisan Langit dalam Islam beserta Penghuninya

Tongkrongan Islami – Menatap langit yang begitu luas sejauh mata memandang tentu akan membuat kita semakin mensyukuri dan mengagumi segala karya Sang Pencipta yang sangat luar biasa.

Berpikir dan merenungi bagaimana Allah menciptakan segala sesuatu dengan begitu sempurna bisa menjadi media bagi kita untuk mempertebal keimanan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Beberapa dalil menjelaskan bagaimana langit diciptakan dengan Kuasa Allah yang tanpa batas. Tentang penciptaan langit yang memiliki 7 lapis tentu sangat menarik untuk dipelajari. Untuk lebih jelasnya, kita bisa mengenal 7 lapisan langit dalam Islam yang akan kami sebutkan di bawah ini.

“Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis.  Kamu sekali-kali tidak dapat melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang.  Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang?”  (QS. Al Mulk [67]: 3).

Allah SWT juga berfirman:  “Allah-lah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi.”  (QS.  Ath-Thalaq [65]:  12).

Penyebutan kata ‘langit’ dalam Al-Qur’an diulang sebanyak 310 kali. Dalam Bahasa Arab, langit disebut sebagai ‘al-sama’ yang diambil dari kata jamak ‘al-samawat’. Adapun untuk kata ‘al-sama’ tersebar dalam beberapa surat sebanyak 120 kali, sementara untuk bentuk jamaknya ‘al-samawat’ diulang sebanyak 190 kali.

Berbicara tentang 7 lapisan langit, tentu tidak bisa dilepaskan dari peristiwa besar yang dialami oleh junjungan kita Nabi Muhammad Sallallahu ‘alaihi wa Sallam, yaitu Isra’ Mi’raj.  Karena dalam peristiwa tersebut, Rasulullah SAW dengan didampingi oleh Malaikat Jibril menempuh perjalanan yang luar biasa jauhnya hanya dalam waktu sekejap.

Dikisahkan pula bagaimana Rasulullah SAW melewati 7 langit dan bertemu dengan beberapa penghuninya sesuai hadist Nabi yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Anas bin Malik Al Anshary Radhiyallahu ‘Anhu.

Langit tingkat pertama

Pada tingkatan langit yang pertama, dikisahkan bagaimana Rasulullah SAW bertemu dengan Nabi Adam AS. Dalam pertemuan tersebut, Nabi Adam AS dan Rasulullah SAW saling bertegur sapa dan kemudian melajutkan perjalanannya kembali. Tidak lupa Nabi Adam AS membekali Rasulullah SAW dengan do’a agar beliau senantiasa diberikan kebaikan dalam setiap urusannya.

Langit tingkat ke dua

Pada langit tingkat kedua ini Rasulullah SAW bertemu dengan Nabi Isa AS dan Nabi Yahya AS, dimana keduanya juga bersikap ramah dan memberikan do’anya untuk kebaikan Rasulullah SAW sebalum beliau melanjutkan perjalanannya menuju ke langit tingkat ketiga.

Langit tingkat ke tiga

Di langit tingkat ketiga, Rasulullah SAW bertemu dengan Nabi Yusuf AS yang merupakan manusia tertampan ciptaan Allah SWT. Dalam pertemuan tersebut, Nabi Yusuf AS memberikan sebagain ketampanannya kepada Rasulullah SAW dan juga memberikan do’a untuk kebaikan Rasulullah SAW.

Langit tingkat ke empat

Pada langit tingkat ke empat ini Rasulullah SAW bertemu dengan Nabi Idris AS, seorang nabi yang diberikan banyak pengetahuan dan merupakan manusia pertama yang mengenal tulisan.

Sama halnya dengan pertemuan sebelumnya dengan para Nabi, Nabi Idris juga memberikan do’anya kepada Rasulullah SAW agar mendapatkan kebaikan dalam setiap urusannya.

Langit tingkat ke lima

Pada langit tingkat ke lima ini Rasulullah SAW bertemu dengan Nabi Harun AS yang tak lain adalah saudara dari Nabi Musa AS yang senantiasa mendamping Nabi Musa AS dalam berdakwah kepada kaum Bani Israil dan juga Raja Fir’aun untuk beriman kepada Allah SWT.  Dalam pertemuan tersebut, Nabi Harun AS juga memberikan do’anya kepada Rasulullah SAW agar beliau mendapatkan kebaikan.

Langit tingkat ke enam

Di langit ke enam, Rasulullah SAW disambut dengan hangat oleh Nabi Musa AS layaknya sahabat yang lama tidak bertemu. Nabi Musa AS yang dikenal penyabar ini pun memberikan do’anya kepada Rasulullah SAW agar mendapatkan kebaikan dalam setiap urusannya.

Langit tingkat ke tujuh

Di langit yang ke tujuh Rasulullah SAW bertemu dengan Bapaknya para Nabi, yaitu Nabi Ibrahim AS.  Kemudian Nabi Ibrahim AS mengajak Rasulullah SAW menuju ke Sidratul Muntaha sebelum bertemu dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Sidratul Muntaha digambarkan sebagai sebuah pohon dengan keindahan yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Di Sidratul Muntaha inilah Rasulullah SAW berdialog dengan Allah SWT dan menerima perintah menjalankan ibadah shalat wajib lima waktu.

Langit adalah sebuah misteri.  Allah SWT berfirman:  “Dan sesungguhnya telah Kami ciptakan langit dan bumi dan apa yang ada diantara keduanya dalam enam masa, dan Kami sedikitpun tidak ditimpa keletihan.”  (QS.  Qaaf [50]:  38).

Sejatinya semua ketentuan Allah SWT mengandung hikmah, dengan penciptaan langit, bumi dan seluruh alam semesta ini Allah telah menunjukkan Kebesaran dan Kuasa-Nya.  Wallahu a’lam Bish-shawab.

Tongkrongan Favorite

Pengertian Hukum Taklifi dalam Ilmu Ushul Fiqhi

Pengertian Hukum Taklifi dalam Ilmu Ushul Fiqhi

Tongkrongan Islami - Hukum Taklifi adalah Seruan Allah yang berkaitan dengan perbuatan manusia, baik yang berkaitan dengan tuntutan (iqtidhâ') maupun pilihan (takhyîr) adalah seruan...
Pengertian Mubah dalam Islam

Pengertian Mubah dalam Islam

Pengertian Mubah dalam Islam - Mubah, secara etimologis, berarti menampilkan sesuatu, melepaskan, dan izin. Sedangkan secara syar'i, mubah adalah khithâb pembuat syariat yang ditunjukkan oleh...
Pengertian Makruh dalam Islam

Pengertian Makruh dalam Islam

Pengertian Makruh dalam Islam - Secara etimologis, Makrûh berarti sesuatu yang dibenci. Menurut syara', Makrûh adalah apa yang dituntut untuk ditinggalkan dengan tuntutan yang...
Pengertian Haram dalam Islam

Pengertian Haram dalam Islam

Pengertian Haram dalam Islam - Secara etimologis, Haram diambil dari al-hurmah, yang berarti sesuatu yang tidak boleh dilanggar. Haram dan Mahzhûr adalah dua istilah...
Pengertian Sunnah dalam Islam

Pengertian Sunnah dalam Islam (Mandub)

Pengertian Sunnah dalam Islam - Mandûb secara etimologis berasal dari lafadz an-nadb yang berarti ad-du'â' ilâ amr muhimm (ajakan pada urusan yang penting). Menurut istilah...